"Aku tidak tahu, dan tidak peduli." ucap Max dingin, namun kemarahan jelas terlihat di wajahnya.
"Masalahnya..." Jonathan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya.
Sebuah kartu yang bertuliskan "Undangan Pernikahan"
Jonathan meletakkan kartu itu di atas meja, tepat dihadapan Maxime. Di bagian kolom nama tamu, tertulis nama Maxime di sana.
Maxime tertawa sinis, menatap undangan itu. "Ia baik hati sekali mengundang ku untuk menghadiri pesta pernikahannya yang bahagia." ucapnya dingin, dengan nada tajam yang terdengar memilukan.
Suasana hening seketika, penuh sesak. Lukanya bahkan belum sepenuhnya mengering, namun wanita itu kembali menaburkan garam di atasnya. Membuat luka itu kembali terbuka.
"Apa kau akan hadir?" tanya Jonathan ragu, seolah ingin memastikan.
Maxime menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Jonathan. "Menurutmu, apa aku harus hadir?"
Pria itu bukan sedang bertanya, namun ia sedang menegaskan sikapnya.
🌺🌺🌺
Siang itu, Alya sedang membersihkan halaman di kebun belakang mansion. Ia sedang bersama dengan pak Herman, si tukang kebun.
"Alya, bisa bantu Bapak, memindahkan pot-pot tanaman ini ke sebelah sana." tunjuk Herman ke sudut ruangan yang terlihat lebih teduh.
"Oh, oke, Pak."
Ia memindahkan pot-pot kecil itu satu persatu. Langkahnya terlihat tenang dan teratur. Ia tampak cekatan melakukannya, seolah ia sudah terbiasa dengan hal tersebut.
"Oh, iya. Bagaimana kabar ibumu, Nak? Bapak belum sempat berkunjung dan melihatnya." ucap pria paruh baya itu, di sela-sela pekerjaannya.
"Keadaan tidak begitu sehat. Ia masih terlihat lemah, efek setelah menjalani kemoterapi." jelas Alya tampak tegar.
"Kapan ibumu akan menjalani operasi?"
"Hmm... jika sesuai dengan perkiraan dokter, mungkin operasinya akan di lakukan pertengahan bulan depan."
"Oh, iya. Kau... pasti membutuhkan banyak uang, kan?" ucap Herman pelan, tampak ragu. "Hmm... Bapak punya sedikit tabungan. Memang tidak banyak, tapi mungkin bisa sedikit meringankan beban mu." lanjutnya tampak tulus.
"Tidak usah, Pak. Bapak simpan saja uang itu untuk keperluan mendesak. Aku masih punya tabungan, kok. Jangan cemas." Alya menolak bantuannya secara halus.
Pria itu hidup sebatang kara. Istrinya meninggal karena sakit beberapa tahun yang lalu. Hidupnya juga tidaklah mudah. Ia masih harus membayar sisa hutang pinjaman ke bank yang ia gunakan untuk membayar biaya rumah sakit istrinya saat itu.
Sebenarnya kata kepala pelayan, tuan muda bersedia untuk menanggung semua hutangnya saat itu, namun ia menolak bantuannya.
Katanya tuan muda sudah sering sekali membantunya, dia merasa sungkan menerima bantuan darinya lagi.
Ia sudah lama bekerja di sini. Bahkan sebelum Maxime lahir.
"Terima saja, Alya. Bapak hanya hidup seorang diri, jadi Bapak tidak memerlukan banyak uang. Ya." ucap pria itu terdengar begitu tulus.
Walaupun merasa berat, akhirnya ia terpaksa merima bantuannya.
"Nanti akan Bapak berikan uangnya padamu sepulang bekerja."
"Terima kasih, Pak." ucap Alya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ternyata masih banyak orang yang peduli padanya.
Namun, tanpa sepengatahuan mereka, seseorang mencuri dengar pembicaraan mereka.
Ia bersembunyi di balik pohon besar tepat di belakang mereka. Bibirnya seketika menyunggingkan seulas senyum tipis yang penuh makna.
Menatap Alya dengan sorot mata yang tajam, seolah menyimpan maksud tersembunyi yang tampak aneh.
🌺🌺🌺
Maxime pulang ke mansion dengan suasana hati yang buruk. Tadinya ia ingin menghabiskan semalaman di bar dengan minum-minum, namun Jonathan terus menerus mengomelinya dan menyuruhnya pulang ke rumah agar bisa beristirahat.
Daripada mendengar ocehan Jonathan yang terdengar seperti ibu-ibu, ia terpaksa pulang ke rumahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kepala pelayan seperti biasa, datang untuk menyambutnya. Senyumnya yang hangat dan penuh rasa hormat, selalu ia tunjukkan setiap kali melihatnya. Seakan itu sudah menjadi suatu keharusan bagi dirinya.
"Apa perlu saya siapkan makan malam untuk Anda, Tuan?" tanyanya dengan sikap tenang dan profesionalisme yang kaku.
"Iya, Tolong. Buatkan makan malam yang sederhana dan tidak terlalu berat." pesan Maxime, memberi arahan untuknya.
"Baik, Tuan." ucapnya tegas. Lalu melangkah pergi meninggalkan Max.
Pria itu lalu naik ke atas, menuju kamarnya.
Ketika ia hendak memegang gagang pintu, pintu itu malah terbuka dengan sendirinya. Seorang gadis muda berdiri tepat di hadapannya, nyaris menabraknya.
"Oh, Anda sudah pulang, Tuan. Maafkan saya. Saya tidak tahu jika Anda sudah pulang." Gadis itu tampak canggung dan menundukkan kepalanya.
Bukannya marah, Maxime malah tersenyum. Entah kenapa setiap kali ia melihat gadis itu, ia selalu merasa tenang dan nyaman. Seolah kemarahan yang sejak tadi ia tahan, lenyap begitu saja tanpa sisa.
"Siapa namamu?" tanya Maxime, pelan.
"Alya, Tuan." jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar. Entah karena gugup, atau merasa takut padanya.
"Apa kau sudah menyiapkan pakaian ku?" tanya Max .
"Sudah, Tuan. Saya menyiapkan setelan kemeja dan jas di ruang ganti."
Maxime berdiri tegak di hadapannya sambil bersedekap dada. Entah kenapa, dorongan untuk menggodanya muncul begitu saja.
"Aku baru aja pulang, tapi kau malah menyuruh ku untuk pergi lagi. Apa aku tidak boleh beristirahat di rumah sejenak?" tanya Max, sengaja merendahkan suaranya, terdengar kasihan.
"Maafkan saya, Tuan. Saya kira Anda akan pergi... seperti kemarin, jadi saya... hmm...." ia menggaruk kepalanya yang bahkan tidak terasa gatal.
"Jadi ... pakaian apa yang harus saya siapkan, Tuan?" lanjutnya bertanya, tampak bingung.
"Siapkan saja kaos dan celana tidur ku." ucap Maxime santai.
"Baik, Tuan."
Alya membalikkan tubuhnya, kembali berjalan ke arah walk-ing closet. Maxime menyusul di belakangnya.
Ia membuka lemari dan mengambil sehelai kaos lengan pendek juga celana panjang dari dalamnya.
Ia meletakkannya di atas meja.
Pakaian yang sebelumnya sudah di keluarkan, ia masukkan kembali ke dalam lemari.
"Celana dalamnya?" tanya Maxime santai.
"Oh, iya. " Dengan penuh kecanggungan ia mengambil sebuah celana dari dalam laci, dan meletakkannya di atas meja.
Jujur, Alya merasa sedikit tidak nyaman dengan tugas barunya ini. Rasanya terlalu aneh baginya, untuk menyiapkan segala keperluan Maxime dengan tangannya sendiri.
Kenapa ia tidak menugaskan pelayan pria atau kepala pelayan saja untuk melakukan tugas seperti ini.
"Apa ada lagi yang harus saya siapkan, Tuan?" tanya Alya, memastikan.
"Tidak ada. Kau boleh pergi sekarang dan bantu kepala pelayan menyiapkan makan malam untukku." jawab Max, sambil tersenyum ramah padanya.
"Baik, Tuan." sahut Alya patuh.
Ia lalu keluar dari ruangan itu dan meninggalkan kamar Max.
"Gadis yang menarik." ucap Maxime dengan senyum tipis yang penuh makna.
🌺🌺🌺
Hai... Jangan lupa mampir dan beri dukungan pada karya ku ini ya.
Tinggalkan lik dan komentar kamu di akhir bab. Jangan lupa juga Subscribe ❤️ biar nggak ketinggalan lanjutan ceritanya.
Sampai ketemu lagi di bab selanjutnya.🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Tulisan__mawar
Bukannya di jawab malah nanya balik. pak Herman hidupnya juga nggak mudah yah, baik banget. hei max, celana dalam kamu pun di suruh ambilin. aku yang malu max🤣🙏
Kata-kata andalan menarik😁🙏
2026-07-15
0
Sarifah_Aini97
Mulut boleh bilang gak peduli ya Mas Max, tapi muka gak bisa bohong! Keliatan banget itu kemarahannya udah di ubun-ubun. Gengsi amat sih jadi cowok, wkwk 😂
2026-07-03
0
Filan
apa orang kaya ga bisa ambil bajunya sendiri dari lemari? 😌
2026-05-14
0