Langkah kaki mereka terdengar berat seiring berjalan keluar dari gedung kantor polisi yang dingin itu. Begitu sampai di luar, udara malam yang sejuk menyapa wajah mereka, namun tidak bisa mendinginkan amarah yang masih berkobar di dada masing-masing.
Celio yang sedari tadi menahan diri, akhirnya tidak tahan lagi. Ia menendang keras kerikil di depannya hingga melayang jauh, lalu menggerutu dengan nada tinggi yang bercampur kesal dan marah.
"Dasar pengecut! Apa gunanya jadi polisi kalau cuma bisa tunduk sama orang berkuasa?! Bayangin aja, bukti udah jelas banget di depan mata, tapi malah nggak berani bergerak! Kalau gini caranya, apa bedanya mereka sama orang yang nutup-nutupin kejahatan itu?! Sama aja nggak berguna!" Celio berjalan mondar-mandir dengan tangan dikepal erat, wajahnya memerah karena emosi yang belum juga reda.
Rafael menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Celio pelan, berusaha menenangkan sahabatnya itu meski hatinya pun sama kesalnya.
"Udahlah, Lio... gak ada gunanya dibahas lagi. Marah-marah juga nggak bakal mengubah kenyataan, nggak bakal bikin mereka tiba-tiba berani bantuin kita juga. Kita sudah lihat sendiri, mereka nggak mau ambil risiko. Jadi mau ngomong apa lagi?"
Keisha yang sejak tadi berjalan diam dengan mata sembab, tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap teman-temannya. Suaranya bergetar, campuran antara sedih dan marah yang masih membara.
"Aku masih gak habis pikir... Mereka itu orang yang seharusnya lindungin kita, seharusnya yang cariin keadilan. Tapi pas kita butuh, malah lari takut duluan. Terus siapa lagi yang bisa kita harapin? Dinda mati sia-sia dong... namanya bakal terus dicap buruk, dan orang yang bikin dia mati bakal hidup enak-enak aja?" Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan air mata kesedihan semata, melainkan air mata rasa tidak adil.
Suasana kembali hening. Tidak ada yang bisa membantah ucapan Keisha, karena itu memang kenyataan pahit yang baru saja mereka alami. Mereka berjalan pelan men…
Misteri Sekolah Warisan
Bab 22-Kami Akan mengungkapnya!
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 22 Episodes
Comments