BAB 15

Hampir pukul dua belas malam ketika Jena akhirnya sampai di rumah. Begitu turun dari taksi, ia langsung memanggil satpam untuk membukakan gerbang.

Ia berjalan menuju rumah. Lampu teras masih menyala karena tak pernah dimatikan saat malam. Untung ia punya kunci rumah, jadi pulang jam berapa pun, tak takut di kunciin. Ruang tamu gelap, begitu pun dengan ruangan lain.

Tidak ada suara Papa. Tidak ada Mama yang menunggu dengan wajah penuh pertanyaan.

Jena mengembuskan napas lega. "Syukurlah..." Ia naik ke lantai atas, lalu masuk ke kamarnya.

Malam ini ia benar-benar tidak ingin mendengar satu kata pun tentang Angga, tentang makan malam, apalagi pernikahan.

Begitu sampai di kamar, Jena langsung menjatuhkan tubuh ke kasur. Entah kenapa, pikirannya malah kembali pada obrolannya dengan Budi di angkringan.

Tawa mereka, candaan receh, dan suasana sederhana yang justru membuatnya merasa nyaman. Jena tersenyum kecil sebelum akhirnya tertidur.

Pagi harinya, suara pintu kamarnya dibuka dengan keras.

"Jena!"

Jena yang masih setengah sadar langsung terbangun.

"Apaan sih, Pa?"

Papa berdiri di ambang pintu dengan wajah merah menahan emosi.

"Kamu pikir perbuatan kamu semalam itu lucu?"

Jena langsung duduk. "Maksud Papa?"

"Masih nanya! Kamu meninggalkan acara makan malam begitu saja!"

"Oh, itu." Jena menguap. Tak ada ekspresi menyesal apalagi bersalah di wajahnya. "Dari awalkan aku sudah bilang, aku gak mau."

Suara Papa meninggi, ia masuk ke dalam. "Kamu bikin Papa malu!"

"Aku gak suka sama Angga, Pah. Aku juga gak nyaman disana."

"Kalau nggak nyaman, kamu bisa bicara baik-baik. Bukan malah kabur seperti anak kecil!"

Jena mulai kesal. "Emang kalau aku ngomong baik-baik, bakalan diizinin pulang sama Papa? Enggak kan? Aku sudah bilang dari awal, aku nggak mau dikenalin!"

"Tapi kamu tetap datang."

"Karena Mama maksa!"

"Jadi karena dipaksa, kamu boleh mempermalukan Papa?"

Jena terdiam.

Papa menunjuknya dengan wajah kecewa. "Papa sudah bertahun-tahun membangun hubungan baik dengan keluarga P…

Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya

Download aplikasi
Terpopuler

Comments

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ

Bagussss jen bagusss , nyalakan api nya nanti aku bantuin siramm bensin , biar tambah menyalaa 🤣🤣 laki2 modelan bapak elu! emang harus di kasih pelajaran. kelakuannya saja tak bisa di contoh! mau ngatur2 kehidupan anak. jangan mau di atur2 jen..lebih baik di coret dari kartu KK daripada ngikuti aturan Gilaa bapak elu.

2026-08-25

7

Shee_👚

Shee_👚

salah sendiri, sono pulang ke istri muda mu.
sebel kalau ada laki begitu pengin aku potong aja🤣🤣

2026-08-25

1

Kar Genjreng

Kar Genjreng

CERDAS Jen harus seperti itu karena Papa Mu egois mempunyai istri satu tidak cukup padahall satu saja ga habis,,, itulah Pria merasa mapan sandang pangan. bikin susah sendiri,,,,harus pusing sana sini bukan mau melawan orang tua nya ya Jena. tetapi kalau tidak sependapat protes lah ya ga Jena ,,,,pagi mengkhayal ngobrol sama Budiman. cerita sederhana rece tapi asik makan sate ,,,ngopi susu dan pokonya ngangenin ya Jena,,,,nah seandainya. bisa mendapatkan suami seperti Budiman pulang kerja bisa ngobrol ga harus mikirin bisnis terus ,,,bisnis roti bakar tetapi punya lapak besar dan kopi wah kayanya seru tempat bagus makanan nya harga ekonomis ,,, namanya Jen. Man,,kafe,,,Jena Budiman,,Jena Kantoran Budiman kafe lah dah

2026-08-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!