Jena mengantar Budi sampai ke halaman, ke dekat laki-laki itu memarkir motornya.
“Maaf, ya, Bud. Kamu jadi ikut terseret ke drama keluarga aku.”
Budi menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”
“Nanti bayaran kamu aku transfer.”
“Gak usah.” Budi mengambil helm lalu mengenakannya.
Jena mengernyit. “Hah?”
“Kali ini gratis.”
Jena menatapnya tak percaya, kemudian terkekeh pelan. “Kamu itu terlalu baik, Bud. Terlalu sering ngasih gratis. Makanya, gak kaya-kaya.”
Budi tertawa kecil. “Kebiasaan kamu, Jen."
“Apa?"
“Orang yang habis dibantu, bukannya terima kasih, malah menghina.”
Jena tertawa cekikikan, namun seketika meringis saat merasa pipinya sakit.
Senyum Budi perlahan menghilang, tatapannya tertuju pada pipi Jena yang masih kemerahan. Ia menatapnya beberapa detik.
“Pipimu masih sakit?”
Jena refleks menyentuh pipinya. “Sedikit.”
“Nanti dikompres pakai air dingin, biar besok nggak bengkak.”
Jena mengangguk.
Budi naik ke atas motor, lalu menyalakan mesin. "Aku pulang dulu."
“Hati-hati.”
Budi hanya mengangkat tangan, kemudian bersama motornya, meninggalkan halaman rumah Jena.
Jena menarik napas panjang lalu kembali masuk ke rumah.
Ruang tamu masih sama. Kedua orang tuanya masih duduk di sana dengan wajah tegang, terutama Papanya.
Jena memilih tidak mengatakan apa-apa. Matanya justru tertuju pada kantong roti bakar yang tadi dibawa Budi. Ia mengambil kantong itu. Daripada mubazir, ia membawa keluar untuk diberikan pada satpam.
“Pak.”
Satpam itu mendekat. “Iya, Non?”
“Ini buat Bapak sama teman di pos, daripada nggak ada yang makan.”
“Wah, terima kasih, Non.”
Jena menyerahkan kantong tersebut. “Dimakan, ya. Orang rumah kayaknya nggak ada yang mau.”
Setelah itu, Jena kembali masuk. Ia berjalan melewati kedua orang tuanya begitu saja tanpa menoleh. Naik ke kamar, menutup pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
Ia memang dapat tamparan tadi, tapi rencananya bisa dibilang sukses. Dari awal, ia sudah menduga jika Papanya tak akan mau menerima Budi. Semoga saja setelah ini, tak ada…
Takut Nikah
BAB 23
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 46 Episodes
Comments
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Laki2 akan tetap memilih wanita baik2 untuk di jadikan istrinya, ibu yang baik untuk anak2nya. tapi laki2 akan tetap selingkuhhh dengan wanita sesuai Seleranya...ingatt sekali lagi sesuai seleranya dan enggak perlu cantik, yang penting menggatalllll dan pandai goyangg. laki2 seperti andika enggak bakal sadarrr, kalau belum dapat kurmanya. kalau sudah jadi kembange ambenn pasti baru sadarr 😤
2026-08-30
2
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Aku suka orang seperti jena ini, dia mah kalau ngomong suka nyablakk, apa adanya, enggak waferann, selalu ceria, banyak ketawa...tapi itu yang orang lain lihat. padahal orang seperti jena, dia banyak menyimpan luka batin karena orang terdekat nya sendiri, jena selalu menutupi segala lukanya dengan sifat ceria nya, dengan mulutt yablaknya. Jena hanya akan baik sama orang yang baik sama dia, dan jena akan berubah jahatt sama orang yang sudah membuatnya sakitt. Dan di sini hanya budi yang bisa memahami jena, Budi yang selalu bisa mengerti kondisi jena.
2026-08-30
2
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
jen...namanya seorang ibu dialah yang paling mengenal karakter anaknya, apapun kesukaan anaknya dan apapun yang tidak di sukai anaknya, ibu pasti tahu. jadi kamu mau bohong pun, pasti ibu yang paling tahu. mending jujur saja lah jen sama ibu kamu. Dan jangan main2 sama perasaan...kamu menganggap budi cuma sebatas pacar bayarann, tapi tanpa kamu ketahui, sebenarnya Budi suka lho sama kamu . malah rasa suka nya sudah sedari lama 😁
2026-08-30
1