wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.
usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?
semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 02 - Pembaptisan Sihir
Sejak dilahirkan kembali di dunia ini, aku belum pernah mengetahui kemampuan sihir yang diberikan Veri kepadaku. Di dunia ini, kurasa warna rambut seseorang biasanya mencerminkan elemen sihir yang dimilikinya. Rambut merah melambangkan api, biru melambangkan air, hijau melambangkan angin, cokelat melambangkan tanah, pirang melambangkan cahaya, dan ungu melambangkan kegelapan,mungkin begitu.
Lalu... bagaimana dengan rambutku? Rambutku berwarna perak berkilau. Warna yang belum pernah kutemukan di buku mana pun. Setiap kali melihat pantulan diriku di cermin, pertanyaan yang sama selalu muncul di dalam benakku. Sihir... apa sebenarnya yang kumiliki? Pertanyaan itu terus menghantuiku selama bertahun-tahun.
Hingga akhirnya, hari yang telah lama kutunggu pun tiba. Hari Pembaptisan Sihir. Di dunia ini, setiap anak bangsawan yang telah menginjak usia lima tahun wajib menjalani Pembaptisan Sihir di Gereja Suci. Upacara tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah ritual sakral untuk membangkitkan sekaligus memastikan potensi sihir yang dimiliki seseorang.
Pagi itu, sebuah kereta kuda berhiaskan lambang keluarga Celesthior melaju menuju ibu kota Kerajaan Silveth. Aku duduk di samping ibuku, Velisarah Stralith Celesthior, sementara ayahku, Nytherion Steris Celesthior, berada tepat di hadapan kami. Entah mengapa, sejak tadi jantungku terus berdebar. "Kenapa? Gugup?" tanya ibuku sembari mengusap lembut kepalaku. "Sedikit." Beliau tersenyum hangat. "Tak perlu khawatir. Apa pun hasilnya, kau tetap putri kebanggaan kami." Aku hanya mengangguk pelan. Meskipun begitu, bukan hasil pembaptisan yang membuatku gugup.
Melainkan...
Rahasia yang diberikan Veri.
Tak lama kemudian, kereta berhenti di halaman Gereja Suci. Bangunan megah itu berdiri menjulang dengan dominasi marmer putih yang berkilauan diterpa sinar matahari. Pilar-pilar raksasa menopang atap yang menjulang tinggi, sementara jendela kaca patri memancarkan cahaya berwarna yang memenuhi ruangan dengan nuansa sakral.
Begitu memasuki aula utama, seorang pendeta segera menyambut kedatangan keluarga kami. "Selamat datang, Viscount Celesthior." Ayah menganggukkan kepala sebagai balasan. "Nona akan segera kami antar menuju Ruang Pembaptisan." Aku menarik napas panjang sebelum mengikuti langkah sang pendeta. Sementara itu, ayah, dan ibu menunggu di aula utama.
Semakin jauh aku berjalan, suasana di dalam gereja terasa semakin sunyi. Hingga akhirnya, aku tiba di sebuah ruangan bundar yang jauh lebih luas daripada yang kubayangkan. Dindingnya dipenuhi ukiran kuno serta lukisan yang menggambarkan sejarah para dewi.
Namun...
Perhatianku langsung tertuju pada sebuah patung raksasa yang berdiri megah tepat di tengah ruangan. Aku mengenal wajah itu. Veri. Aku tersenyum tipis. "Jadi... kamu memang benar-benar dipuja sebagai dewi, ya." Tanpa sadar, aku melangkahkan kaki mendekati patung tersebut. Aku lalu berlutut dan memejamkan mata.
Dalam sekejap...
Seluruh dunia seakan berhenti. Suara langkah kaki menghilang. Hembusan angin lenyap. Bahkan cahaya di sekelilingku ikut membeku. Saat kembali membuka mata, aku sudah berada di tempat yang sangat kukenal. Hamparan langit yang dipenuhi cahaya. Pulau-pulau yang melayang di udara. Dan lautan awan tanpa batas.
"Selamat datang kembali." Suara itu terdengar sangat familiar. Aku menoleh. Veri berdiri beberapa langkah dariku sambil tersenyum lebar."Sudah kuduga... pasti ulahmu." "Hehe..." Veri hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Ada apa?" tanyaku. "Kenapa kamu membawaku ke sini?" Veri tersenyum jahil. "Aku hanya ingin melihat keadaanmu vio... Atau sekarang aku harus memanggilmu... Putri Celestia Lunastella Celesthior?" Aku memutar bola mataku malas. "Kamu terasa jauh lebih santai dibanding saat pertama kali kita bertemu." "Itu hanya perasaanmu." "Benarkah?" "Benar." Aku hanya tersenyum kecil. "Baiklah, kalau begitu aku akan langsung bertanya."
Veri menganggukkan kepala. "Apa sebenarnya kekuatan sihir yang kamu berikan kepadaku?" "Oh, itu?" Veri menjawab seolah sedang membicarakan hal yang sangat biasa. "Aku memberimu seluruh elemen sihir." Aku terdiam. "Cahaya." Aku masih diam. "Kegelapan." "...". "Api." "...". "Air." "...". "Angin." "...". "Tanah." "...". "Dan semuanya berada di tingkat Bintang Sepuluh."
Aku terdiam cukup lama. "...Veri." "Hm?" "Kalau tidak salah... manusia normal hanya memiliki satu elemen sihir seumur hidup, kan?" "Benar." "Dan batas tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah hanyalah Bintang Lima?" "Benar juga." Aku menatapnya datar. "Lalu kenapa kamu memberiku semuanya?" Veri tersenyum polos. "Karena aku bisa."
"..." Aku menghela napas. "Kalau begitu... bagaimana kalau status sihirku saja yang dipalsukan?" usulku setelah berpikir sejenak. Veri menatapku beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Statusmu dipalsukan?" "Iya. Kekuatanku tetap seperti sekarang, tetapi status yang muncul saat Pembaptisan Sihir dibuat berbeda. Dengan begitu, orang lain tidak akan mengetahui kekuatanku yang sebenarnya."
Veri mengangguk pelan. "Itu bisa kulakukan." Aku mengembuskan napas lega. "Syukurlah..." Namun, Veri kembali bertanya, "Kenapa kau bersikeras menyembunyikan kekuatanmu?" Aku menatapnya dengan serius. "Karena aku ingin menjalani kehidupan yang tenang. Aku tidak ingin dijadikan senjata kerajaan ataupun alat politik hanya karena memiliki kekuatan yang berada di luar akal sehat manusia."
Veri terdiam sejenak. "Baiklah." Senyumnya kembali mengembang. "Kalau itu memang keinginanmu, status yang muncul nanti akan kubuat menjadi setengah dari kekuatanmu yg sebenarnya." "Terima kasih."
Cahaya putih kembali menyelimuti tubuhku. "Sampaikan salamku kepada Aurel, ya." "Tentu." Tubuhku perlahan mulai memudar. "Huh... akhirnya semua masala—"
"APAA!!"
Suara teriakan yang menggema dari luar Ruang Pembaptisan memotong ucapanku.