Indah pada waktunya.
Menceritakan tentang kisah hidup seorang gadis muda bernama Berlian. Berlian adalah anak dari pasangan Dewi dan Hendra.
Keadaan menuntutnya untuk tetap kuat dan tegar dengan pijakan kakinya sendiri. Serta menjadikannya gadis yg mandiri.
Semua kesulitan telah Ia lalui, mulai dari di tinggal oleh ayahnya, kekejaman ibu tirinya, di tinggal oleh ibunya hingga saudara yg tak sedarah tapi memiliki arti penting dalam hidupnya.
Hingga akhirnya Ia menemukan seseorang tempatnya untuk berlindung.. Meski begitu tak semudah itu menaklukkan hati seorang pria yg telah begitu mencintai wanita lain..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Any Har, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Mentari Part 2
Gadis kecil yg polos itu kini telah tumbuh remaja. Seiring berjalannya waktu Iapun mengerti tentang keadaan orang tuanya, dan alasan mengapa Ia berada disini, di panti asuhan.
Meski akhirnya Ia tahu jika Sebenarnya Ia telah di buang oleh Bibi dan Pamannya. Sedikitpun Ia tak pernah merasa dendam atau marah pada paman dan bibinya. Dihatinya tetap tersimpan rasa kasih dan sayang untuk kedua orang yg telah membuangnya itu.
Kini Mentari sudah duduk di bangku SMP. Hari demi hari Ia lewati di panti asuhan dengan penuh suka dan cita. Tak pernah sekalipun Ia menyesali hidupnya yg harus tumbuh di panti asuhan, terlebih lagi ada seorang wanita baik hati yg selalu ada untuknya.
Kini tak hanya wanita baik itu saja, Iapun memiliki adik perempuan yg cantik, Berlian dan Mutiara.
"Ka Tari"
Berlian dan Mutiara,berlari memeluk Mentari ketika mereka datang berkunjung ke panti asuhan bersama ibunya.
Saat itu Mutiara memang masih menjadi gadis kecil yg baik.
"Kalian sudah datang. Ayah gak ikut?" Tari melihat ke arah Ibu.
"Ayah ada penerbangan ke Mala**ia, mungkin Lusa baru pulang" Dewi menjelaskan.
"Oh begitu. Ayo ka Tari punya sesuatu untuk kalian"
Tari mengangguk2 lalu mengajak Berlian Dan Mutiara untuk masuk, karena Ia baru saja membuat kue. Ia sengaja membuatnya untuk menyambut kedatangan Berlian dan Mutiara yg hampir setiap akhir pekan mengunjunginya.
Sedangkan Dewi terlihat masih sedang berbincang2 ria bersama ibu panti.
"Ka Tari makin pintar ya buat kuenya, kuenya makin enak" Mutiara memuji kue Tari saat mulai memakannya.
"Iya dong, kan ka Tari di ajarin sama ibu" Dewi yg saat itu sudah bersama merekapun tersenyum.
"Nanti Ian dan Ara juga bisa buat kue seenak ka Tari, yg penting mau belajar" Dewi bersuara ketika mendengar anak2nya sedang asik memuji kue buatan Tari.
Berlian dan Mutiara mengangguk antusias besamaan seraya melanjutkan kegiatannya melahap kue buatan Tari.
Tari memang sangat senang memasak, karena di panti dia merupakan anak tertua, maka Iapun suka membantu ibu panti untuk mengurus panti dan memasak.
Teman2 seusianya semua telah meninggalkan panti saat mereka bertemu dengan orang tua yg mengadopsi mereka. sedangkan Tari sendiri selalu menolak saat ada yg ingin mengadopsinya.
"Tari" panggil Dewi
"Iya buk" Tari menoleh pada Dewi yg memanggilnya.
"Apa paman dan bibimu pernah mengunjungimu kemari?" Tari hanya menggelengkan kepalanya.
Memang tak sekalipun Paman dan bibinya datang mengunjunginya setelah menitipkannya di panti asuhan.
Entah bagaimana keadaan mereka, dan alasan mereka tak pernah datang melihat ponakannya itu. Tetapi Tari selalu mendoakan mereka dan berharap paman dan bibinya baik2 saja.
Dewi memeluk Tari. "Kami adalah keluargamu, jangan pernah merasa kesepian karena kami akan selalu ada untuk kamu" Ucap Dewi seraya memeluk Tari dengan erat.
Seketika Berlian dan Mutiarapun ikut memeluknya.
"Sungguh aku sangat beruntung mengenal orang2 sebaik kalian. terima kasih Tuhan kau sudah mengirimkan keluarga baru untukku, sebagai pengganti keluargaku yg telah engkau ambil" Tari
Seketika Taripun menangis karena haru.
"Kak Tari ko nangis? nanti cantiknya luntur loh" Berlian mengusap pipi Mentari untuk menghapus air matanya.
Tari hanya tersenyum mendengar ucapan Berlian.
"Kamu pasti meluknya terlalu kuat, makanya ka Tari nangis karena gak bisa nafas" ucap polos Mutiara pada Berlian, Berlian memanyunkan bibirnya karena kesal.
Seketika merekapun tertawa bersama, kecuali Berlian yg masih manyun.
"Enggak kok. Ka Tari nangis bukan karena sakit atau sedih, tapi karena ka Tari sangat bahagia memiliki keluarga seperti kalian" Berlianpun kembali tersenyum dan memeluk Tari dengan erat.
Bersambung......
author jgn biarkan Sekar dan anaknya hidup bahagia.
sm kayak gw,hiatusnya panjang banget,hehe.
jangan lupa mampir yah ke crita gw👉Golden Bride👌makasih🙇♀️