Berpostur tinggi 175cm dengan kulit kuning langsat, garis wajah yang tegas dan tatapan mata tajam. Anlon pemuda di SMA Tesla termasuk cowok pujaan banyak wanita terlebih predikat kapten basket. Tapi siapa sangka, dibalik sepak terjang di lapangan basket yang tampak maskulin, Anlon sangat tertarik pada dunia culinary & mutuskan untuk berakhir sebagai chef.
Renata, si kutu buku yang tidak pernah absen untuk mengunjungi perpustakaan bersekolah di SMK Sakura, kutu buku yang nampak tidak pandai bergaul.
Dari setiap perbedaan yang ada, Anlon bertemu dengan Renata. Mereka menciptakan cerita versi mereka yang segar & penuh dengan informasi fakta seputar culinary & kesehatan.
Karena suatu alasan hubungan Anlon dan Renata harus berakhir. Anlon memutuskan untuk melakukan perjanjian Kekasih Kontrak dengan seorang gadis demi menarik perhatian Renata. Akankah Anlon berhasil menarik Renata kembali atau justru berakhir jatuh cinta pada kekasih kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dear_y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sup Ayam Herbal
"Rena.. I still loving you... " bisik pelan Anlon yang tidak dapat dipungkiri memiliki kekuatan untuk menggetarkan hati dan jiwa Renata.
Ingin rasanya menghindar dan berlari tapi pria disampingnya menggenggam jemarinya erat seperti ada perekat kuat tak terpisahkan.
Mencoba untuk tetap menata keterkejutannya dan hati yang sudah sembuh dari rasa sakitnya, Renata memilih untuk mencoba mengalihkan perhatian tapi ternyata pertahanannya terasa runtuh dengan gejolak emosi tersulut dengan ucapan cinta dari Anlon yang terkesan enteng untuk diucapkan seolah melupakan tindakannya yang pergi tanpa kabar.
Hembusan angin lembab dari kipas angin uap yang ada di luar ballroom tak dapat mendinginkan hatinya yang mulai memanas, mengingat kepedihan yang coba diredam selama empat tahun ini.
"But you leave me alone Kak... for fourth years without any communication. Everything was change and including you... I think."
Sia-sia usaha Renata berusaha melepaskan diri dari jangkauan Anlon dan berjalan menjauh karena Anlon dengan sigap menangkap lengannya dan tetap tak beralih dari sisi Renata meminta untuk tetap bersama-sama hari ini.
Gerutuan tak tertahan keluar dari bibir Renata dengan leluasa,"Fix kau benar-benar berubah Kak... empat tahun tak ada kabar, meninggalkanku begitu saja tanpa kejelasan dan sekarang kenapa tanpa canggung kau menempel terus seperti ini..." bola mata Renata memutar lelah yang hanya ditanggapi senyuman dari Anlon.
Mereka masih berjalan menuju ke arah Ayah dan Ibu yang sedang menyaksikan Ubay dan Kiralee melanjutkan kegiatan dengan berfoto di dalam ballroom acara,
"Lebih baik berfoto sekarang selagi ruangan tidak ramai dan pengantin masih segar. Kita masih punya waktu dua jam sebelum lunch kan ya? Betul kan bro?" tanya photographer meminta persetujuan leader wedding organizer yang hanya di jawab anggukan dan mode dua jempol.
Anlon masih menggandeng Renata menuju tempat dimana Abraham Mulia, ayah Renata, dan istrinya duduk di kursi pijat yang ditempatkan di ruang transit khusus keluarga.
Tak menunggu lama Ibu berdiri dan menyambut kedatangan Anlon, "Haiii Anloon... sudah lama kita tidak ketemu, kapan datang?"
Sambutan hangat Ibu Renata membuat hati Anlon menghangat merindukan kasih sayang ibunya yang sudah lama tiada. Melihat kedekatan mereka pastinya orang yang tak mengenal akan mengira bahwa Anlon adalah kerabat dekat karena Ny Abraham Mulia memeluk Anlon tanpa canggung.
Tuan Abraham yang melihatnya hanya melirik sekilas dan matanya terpejam menikmati pijatan kursi. Lain dengan Renata yang ada rasa tak terima karea Ibu seolah menerima Anlon dengan tangan terbuka berbeda dengan dirinya.
"Selamat pagi Om," sapa Anlon ramah pada pria yang seolah mengacuhkannya dan hanya mengangguk.
"Rena, kau duduk di sini saja dari pada berkeliaran jangan sampai kau kecapekan dan pingsan di hari besar Abangmu," ucap Tuan Abraham yang secara implisit ingin Renata menjauh dari Anlon dan hal itu tertangkap oleh Anlon yang merasa pedih karena mengalami penolakan yang masih berlanjut meskipun waktu sudah berlalu.
Di dalam ruangan transit selain tersedia dua kursi pijat juga tersedia sofabed yang nyaman untuk meletakkan pinggul sejenak. Renata duduk di tengah sofabed menghadap Anlon yang masih berdiri di tengah ruangan membelakangi meja yang berisikan kudapan dan beberapa pilihan minuman.
"Om, Tante, dan Renata sudah sarapan?"
Ketiganya spontan menggeleng kompak tanpa suara dan terlihat gurat lelah. Anlon berbalik dan mengambil termos sup besar yang berada di dekat deretan pilihan makanan di dessert table.
Tak sia-sia Anlon sudah siapkan sup ayam obat untuk diberikan pada keluarga mempelai terutama Renata yang dia ketahui tak boleh terlambat untuk makan.
"Saya sudah siapkan sup ayam obat, mungkin Om, Tante, dan Renata bisa meminumnya dulu supaya lebih berenergi."
Tak perlu mendengar tawaran ke dua, Renata sudah bangkit dari sofabed dan menghampiri Anlon yang tengah mengambil mangkuk dan akan menuangkan sup ayam obat spesial buatannya.
"Sudah tak marah?" goda Anlon pelan saat melihat Renata sigap menghampiri.
"Urusan perut nomer satu, lupakan dulu soal emosi dan gengsi... aku tak minat dengan dessert di meja tapi naga diperutku sudah mulai bergeliat marah."
Anlon hanya tersenyum mendengar pemaparan Renata dan merasakan aura gadisnya sudah mulai kembali seperti dulu, berharap benteng pertahanan yang tadinya terasa kokoh dapat runtuh dan mengijinkannya masuk kembali.
Renata mengambil satu mangkuk berisi sup yang hanya berisi sari dengan sendok dan melangkah menuju ke Ibu yang menunjukkan wajah berbinar siap menerima.
Sempat ragu nampun Anlon melangkah mendekat pada Tuan Abraham Mulia dan menawarkan sup yang dia buat dengan sepenuh hati dan bahan-bahan pilihan.
Abraham Mulia hanya melirik ke dalam mangkok yang disodorkan, "Sup apa itu hanya kuah cokelat dan biji apa itu?"
"Itu kurma China atau Angco Om, yang pink goji beri dan yang putih adalah teratai, untuk daging dan isian lain sengaja sudah saya haluskan supaya lebih mudah menyantapnya."
Semula enggan dan merasa asing dengan hidangan dihadapannya ditambah lagi rasa gengsi masih kuat menerima pemberian dari seseorang yang pernah dan masih berusaha dia jauhkan dari anak gadis tersayangnya.
"Kalau Ayah tidak mau ya sudah sini Kak buat Rena saja," tanpa persetujuan Renata mengambil mangkuk yang ada di tangan Anlon, menyisakan Ayah yang menelan saliva melihat Renata dan istrinya makan dengan lahap sesekali terdengar bunyi seruput nikmat yang membuatnya semakin merasa menyesal karena tak segera menerima pemberian Anlon.
Belum selesai Anlon mempersiapkan sup yang akan diberikan untuk mempelai, Renata sudah datang menghampiri dengan dua mangkuk kosong, "Apa masih cukup untuk Bang Ubay dan Kira eh Kak Kiralee, kalau aku dan Ibu tambah lagi?"
Anggukan Anlon membuat senang Renata dan Ibu yang memang sangat menikmati sup yang mudah dicerna oleh tubuh mereka yang terasa kurang istirahat dan mulai mual, sementara Abraham hanya melihat istrinya dan Renata yang mulai menyuapkan mangkok ke dua mereka.
"Serius Mas tidak mau coba? enak lho..seger gurih."
Dari sudut mata Anlon melihat Tuan Abraham memperhatikan istri dan anaknya makan, tak perlu diminta ulang, Anlon menyodorkan sup kembali seolah memaksa Tuan Abraham untuk makan demi kesehatan. Cara Anlon ampuh menutupi gengsi Abraham Mulia yang menerima sup dengan senang hati dan habis seketika.
"Mau tambah lagi Om?"
Agak mau namun sudah terlanjur basah, "Apa masih ada?"
Anlon mengangguk dan mengambil mangkuk dan mengisinya kembali.
Bagi seorang Chef kesuksesan terbesarnya bukan sekedar tampilan plating yang indah tapi bagaimana respon orang saat mencicipi dan untuk Anlon itu saja tak cukup karena baginya selain enak makanan harus memberikan gizi yang baik bagi mereka yang menyantapnya.
Renata menatap Anlon dengan senyum tersembunyi, "Sepertinya kau sudah berhasil mencapai mimpimu untuk menjadi Chef Kak..aku bangga meski harus merasakan derita."
[Sup ayam obat atau sup herbal atau cia po merupakan jenis makanan peranakan dari orang Tionghoa yang berguna untuk memulihkan kesehatan. Makanan ini berisikan racikan herbal yang biasanya terdiri dari angco/ kurma Cina, goji berry, biji teratau, ginseng kering, ginko biloba, dan beberapa rempah lain dengan paduan daging ayam kampung yang biasa dimasak secara tim atau slow cooker untuk lebih baik dalam menjaga nutrisi masakan]
mampir juga di cerita ku ya
kalo ada waktu luang mampir yuk ke novel aku makasih