Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahlah Denganku

Menikahlah Denganku

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:33.1k
Nilai: 5
Nama Author: lely oktaviani

Venita, gadis 20 tahun yang harus menderita dikejar beberapa rentenir akibat utang judi ibu sambungnya.

Bukan hanya dikejar dan dipaksa melunasi. Tak sekali dua kali dia hampir dijual agar mereka mendapatkan uang darinya lebih cepat.

Pekerjaannya sebagai kasir mini market dan juga buruh kasar tak bisa menyicil bahkan bunga dari gunungan hutang itu.

Gadis itu tak tahan lagi dengan hidupnya. Lagipula dia sudah tak punya siapa-siapa lagi. Jalan terakhir yang dia pikirkan hanyalah mengakhiri hidup dan menghentikan semua penderitaan ini.

Namun rencananya gagal. Seorang duda anak 1 telah menyelamatkan hidupnya. Tak hanya menyelamatkan, pria itu juga memintanya untuk menikah dan berjanji akan melunasi semua hutang-hutangnya.

Setelah bernegosiasi akhirnya Venita setuju, tanpa mencari tahu alasan apa yang membuat pria itu mau menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lely oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mangantar Sekolah

Ini adalah kali pertama Venita mengantar Stevan pergi ke taman kanak-kanak. Tentu saja dia pergi dengan sopir dan juga suster.

Karena hanya mengantar ke sekolah, Venita memutuskan untuk berdandan seperti dia biasa keluar rumah. Namun siapa sangka disana semua ibu berdandan seperti akan pergi ke pesta.

Venita jadi merasa salah kostum sekarang. Meskipun dia hanya pergi untuk mengantar anaknya ke sekolah.

"Oh, siapa ini? Apa ini suster barunya Stevan?" Tanya seorang wanita ramah dengan dress selutut dan bahu terbuka. Bibirnya semerah buah stroberi dengan bulu mata lentik luar biasa.

Dia baru saja keluar dari mobil yang terparkir bersebelahan dengan mobil mereka. Tampaknya dia juga sedang mengantar anak perempuannya ke sekolah.

Terlihat anak perempuan itu menyapa Stevan ramah, tapi Stevan tampak tak tertarik dengan sapaannya.

"Ini mama Stevan, Tante." Jawab Stevan dengan nada tak suka.

"Oh astaga, maafkan aku," ujarnya sambil menutup mulut merasa terkejut, "jadi ini mama tiri kamu? Maaf karena tante kurang sopan. Soalnya dengan pakaian seperti ini.." wanita itu menatap menilai penampilan Venita dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Tante jadi tidak bisa membedakannya dengan sustermu." Ucapnya tersenyum ke arah Stevan.

"Tante, kalau mau minta maaf harusnya sama Mama bukan sama Stevan."

"Oh benar, tentu saja. Maaf, biasanya penilaianku selalu benar. Mungkin kali ini kurang beruntung." Ujarnya meminta maaf pada Venita. Walaupun Venita tidak mendengar adanya nada penyesalan disana.

"Bukan masalah. Mungkin pakaian saya yang kurang sopan saat ini. Saya mengerti."

"Tidak, sama sekali tidak. Semua orang punya selera berpakaian masing-masing. Tentu saja tidak semua orang memiliki selera yang bagus. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri." Wanita itu masih berucap sambil tersenyum yang semakin lama membuat Venita muak melihatnya.

Merasa jika meladeni orang di depannya tidak akan ada habisnya, Venita memilih untuk segera pergi dari sana.

"Sayang, kamu segera ke kelas ya. Mama pulang dulu. Nanti pulang sekolah Mama jemput." Ucap Venita sambil berjongkok menyetarakan tinggi dengan putranya.

"Iya, Ma." Stevan mencium pipi mamanya seperti biasa. "Stevan masuk kelas dulu." Ujarnya sambil berlari masuk.

"Stevan tunggu aku." Bocah perempuan yang tadi juga ikut berlari mengejar Stevan.

"Hati-hati sayang jangan berlari." Ucap Venita khawatir melihat Stevan berlari sekuat tenaga.

"Iya, Ma." Teriaknya dari kejauhan.

Venita tersenyum sekilas menatap ke arah wanita yang mengajaknya berbicara tadi sebelum masuk ke dalam mobil.

#

Venita meletakan tasnya kasar ke tempat tidur. Benar-benar menyebalkan. Wanita tadi lagi-lagi menilainya dengan seenaknya.

Apa katanya? Sepertinya memang selera Anda kurang cocok untuk ditunjukkan di sekolah. Memangnya apa salahnya memakai celana jeans dan kaos dengan make-up tipis untuk mengantar anak ke sekolah?

Lagipula bukan dia juga yang sedang bersekolah. Kenapa tidak sekalian wanita itu menyuruh Venita memakai seragam sekolah sekalian?

Apa semua wanita kaya selalu seperti itu? Merendahkan seseorang dengan santai seperti halnya tak terjadi apapun.

Bahkan saking menyebalkannya Venita tak bisa marah padanya. Dia hanya bisa menahan kekesalannya. Karena jika sampai dia marah disana, mungkin semua orang berpikir dialah yang bermasalah.

Padahal wali murid lain seperti tak masalah dengan penampilannya. Kenapa dia usil sekali dan sangat tertarik pada Venita.

"Mama kesal ya?" Tanya Stevan saat melihat mamanya terus saja diam sejak pulang dari sekolah.

Mendengar suara anaknya membuat Venita kembali merubah raut wajahnya. Dia tersenyum kemudian membantu Stevan untuk berganti pakaian.

"Kenapa Mama harus kesal?"

"Mungkin karena ucapan Tante tadi. Tenang saja, Ma. Stevan juga tidak suka sama Tante itu. Dia seperti penyihir jahat di dongeng."

"Stevan.. kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Tidak baik."

"Tapi Stevan benar, Ma. Tante itu seperti nenek sihir."

"Sayang..."

"Iya, iya Stevan tahu. Stevan minta maaf." Sesalnya.

"Anak baik, anak pinter tidak boleh menilai orang dengan sisi buruknya. Bagaimana kalau kita menilai orang lain dari sisi baiknya?"

"Bagaimana caranya, Ma?"

"Em.. bagaimana kalau seperti ini? Tante tadi cantik. Punya selera berpakaian yang bagus. Juga punya putri yang manis.."

"Tapi Emily tidak manis." Jujur Stevan yang membuat Venita menahan tawanya. Astaga ada apa dengannya. Dia tidak boleh mengajari Stevan bertingkah buruk.

"Lalu apa yang Stevan suka dari Emily?"

Stevan tampak berpikir keras. Setelah beberapa waktu akhirnya Stevan menggeleng kecil. "Stevan tidak suka Emily. Tidak ada yang disuka."

"Em.. tapi Emily terlihat sangat ceria. Bagaimana menurut Stevan? Apa Stevan juga berpikiran sama seperti Mama?"

Stevan kembali berpikir. Lalu kemudian dia mengangguk setuju. "Karena dia sangat berisik di kelas, tentu saja dia sangat ceria."

"Berarti itu sisi baiknya Emily. Dia anak yang ceria dan penuh energi. Pasti dia juga memiliki teman yang banyak?"

"Iya, Ma. Teman Emily banyak banget." Stevan memperagakan tangannya dengan membuat lingkaran besar.

"Kalau begitu Emily juga banyak memiliki sisi baiknya. Apa Stevan juga punya teman di sekolah."

"Tentu saja. Teman Stevan juga banyak."

"Bagus. Siapa nama teman dekat Stevan? Apa Mama boleh tahu namanya."

"Ada Jordi dan Enggar. Mama tahu? Jordi itu jago sekali olahraga. Hampir semua permainan dijam olahraga dia selalu mendapat posisi pertama."

"Wah.. hebat sekali. Kalau Stevan bagaimana?"

"Kalau Stevan? Stevan juga hebat, tapi tidak sebaik Jordi. Biasanya Stevan ada di nomer 2 atau 3."

"Wah anak Mama keren banget bisa masuk tiga besar. Apa Stevan juga mau jadi juara satu seperti Jordi?"

"Tentu saja. Stevan juga mau juara 1 seperti Jordi. Stevan sudah bilang ke Jordi kalau di permainan minggu depan pasti Stevan yang juara satu."

"Lalu apa kata Jordi?"

"Dia bilang 'siapa takut' begitu."

"Kalian pasti berteman dengan baik. Lalu bagaimana dengan Enggar?"

"Enggar? Kalau Enggar itu suka makan, Ma. Makanya perutnya buncit. Dia tidak suka bermain di jam olahraga. Dia paling suka kalau ada acara bawa bekal. Di sekolah kan seminggu sekali bawa bekal. Dia paling suka saat itu."

"Benar juga. Stevan bawa bekal setiap hari Jum'at, kan? Stevan mau bawa bekal apa?"

"Em apa ya? Terserah Mama deh. Tapi Stevan mau ada telur mata sapinya. Stevan suka telur mata sapi."

"Oke siap. Mama akan buatkan bekal paling cantik untuk Stevan."

"Horeeee..."

#

"Stevan, bagaimana sekolahnya hari ini? Tumben Stevan tidak cerita sama Papa?" Tanya Ergo saat mereka di meja makan.

"Tadi siang Stevan sudah cerita semuanya ke Mama, Pa." Ucap Stevan penuh semangat.

Ergo tersenyum ke arah Venita untuk berterima kasih.

"Jadi kalau sudah cerita ke Mama, Papa dilupakan begitu? Sedihnya."

"Bukan begitu, Pa. Sebenarnya ada yang ingin Ergo minta ke Papa, apa boleh?"

"Apa itu?"

"Apa boleh besok sehari saja Papa ikut mengantar Stevan ke sekolah? Please... Sekali aja, ya, Pa? Stevan mau Mama dan Papa antar Stevan ke sekolah sekali aja."

"Hanya itu? Tentu saja bisa."

"Serius? Asyik... Kalau begitu Stevan mau pergi ke kamar. Nanti biar cepat besoknya."

Stevan buru-buru turun dari kursi setelah menyelesaikan makannya.

"Jangan langsung tidur setelah makan sayang. Nanti perutnya sakit. Ayo kita baca cerita dulu." Ucap Venita mengantar Stevan ke kamarnya.

Ergo hanya bisa tersenyum melihat putranya gembira. Walaupun biasanya Stevan juga selalu bersemangat dan tersenyum. Tapi sejak ada Venita senyumnya terlihat lebih tulus.

#

1
Baya Azka
ternyata anak mantu dan ayah mertua selingkuh sampai menghasilkan anak bahkan sampai istri sendiri meregang nyawa' semoga ada karma untuk mereka' lanjut thor💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷
Okta
💜😌😌
Baya Azka
lanjut thor' apa ada rahasia antara inggit dan papanya ergo💪💪💪❤❤❤❤
Baya Azka
lanjut thor💪💪💪💪🌷🌷🌷🌷
Baya Azka
lanjut lg thor👍👍👍❤❤❤❤
Baya Azka
lanjut thor' spakah ergo mulai menyukai venita❤❤❤❤🌷🌷🌷🌷
Okta: sama-sama 🥰🥰🥰
total 3 replies
Baya Azka
lanjut thor❤❤❤🌷🌷🌷🌷
Ana Gendis
cerita nya bagus lho.....tp ko nda ada yg komen yaaa.....
semangaaatt thoor.......... next......
Okta: makasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Saskia Ramadhani
luar biasa
Indah Batam
Seru Thor,, semangat ya 💪.. salam dari Gairah Ayah Tiriku
sonyaaaa
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!