Petualangan Misa, seorang anak yang terlahir di dunia sihir dengan kemampuan yang dia dapatkan dari kehidupan sebelumnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anwas jabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Sihir Pembangkit Tidak Ada Gunanya Lagi
Ketika Misa sudah sampai di halaman rumahnya. Dia perlahan melangkah menuju pintu masuk rumahnya, membuka pintu rumahnya dan melihat ayahnya yang terkapar. Dia berjalan perlahan ke jasad ayahnya. Misa menunduk dan tidak mengucapkan apa-apa.
" Misa, kamu sudah pulang. Maaf karena tidak bisa mencegah kejadian ini. Dan membuat ayahmu jadi begini. " Eliza, ibu Misa memeluk Misa yang sedari tadi hanya diam saja.
" Ini sudah lebih dari limabelas menit sejak ayah tidak ada. Sihir pembangkit tidak akan bisa membuatnya kembali lagi. Apa yang harus kulakukan? " Misa merenung sendiri dalam hatinya.
Tiba-tiba Dengara berkomunikasi dengan telepati kepada Misa. " Maaf Mi chan, menyampaikan ini tidak diwaktu yang tepat. Tapi, aku ingin menyampaikan ini kepadamu. " Dengara yang tidak enak mengganggu Misa yang sedang sedih.
" Oh Dengara. Tidak apa-apa. Sampaikan saja apa yang ingin kau sampaikan. " Misa sudah tidak memikirkan apapun saat ini.
" Dalam dunia iblis. Ada sebuah sihir yang bisa mengundurkan waktu. Dan mungkin aku bisa melakukannya. Tapi, sihir tersebut memerlukan pengorbanan yang banyak. " Dengara menyampaikan sebuah harapan bagi Misa.
" Hah, pengorbanan ya? Apa yang kau maksud pengorbanan adalah jiwa manusia? Mungkin ini akan sulit dilakukan. " Misa kembali mengalami jalan buntu dari masalahnya. Tiba-tiba ada seorang prajurit yang datang.
" Maaf menyela disaat seperti ini. Maaf sekali lagi. Dua orang dari tiga orang yang telah melakukan tindakan pembunuhan kepada Felix telah ditangkap dan sekarang mereka diintrogasi. Mereka kemungkinan dari Kerajaan Mixide dan mereka sendiri memang menargetkan Felix karena baginya dia merupakan penghambat untuk penyerangan ke Kerajaan Belgets yang akan mereka lakukan. Sekarang kita sedang bersiap atas serangan yang akan dilakukan oleh kerajaan Mixide. Ternyata mereka telah merencanakan ini sejak jauh hari. Dan mereka bilang. Setelah salah satu dari mereka yang lolos telah mengabarkan kematian Felix, maka akan langsung diadakan penyerangan. Dan salah satu dari mereka sudah lolos dan sedang memberitahukan ini pada Raja Mixide. " Sebelum prajurit itu menyelesaikan penjelasan situasi yang terjadi. Misa menyelanya.
" Ada berapa banyak pasukan Mixide yang sedang mengarah kesini? " Misa menatap dengan mata yang sangat marah.
" Hah, baiklah. tidak begitu penting menyampaikan berapa jumlah mereka tapi, akan kuberitahukan. Mereka sedang mengarah kesini membawa tigapuluh ribu pasukannya. Tapi, ada yang aneh dari pasukan mereka. Tapi, kami belum bisa memastikannya. " Penjelasan dari prajurit yang mengabarkan situasi saat ini sangat genting.
" Hei, Dengara. Apa jumlah itu cukup untuk bisa mengaktifkan sihirmu? " Misa bertelepati ke Dengara.
" Jelas itu jumlah yang cukup untuk melakukan sihir itu. " Dengara tahu apa rencana yang akan dilakukan Misa.
" Baiklah, kita akan melakukan bersih-bersih. Aku memberimu tugas untuk datang langsung saja kepada raja mereka. Dan sisanya aku yang akan mengurusnya. " Misa selesai memberi perintah kepada Dengara. Dan dia melihat lagi Ayahnya. Kemudian melihat ibunya. Dan ibunya tidak tahu apa yang akan dilakukan Misa. Dia hanya membiarkan Misa mau kemana setelah melihat ayahnya seperti itu.
Eliza tidak akan membebani Misa untuk terus berada di sekitar ayahnya sampai diadakan pemakaman. Misa lalu pergi dengan melihat ibunya seolah dia pamit untuk melaksanakan sesuatu. Dan ibunya pun seolah memahaminya dan mempersilahkan Misa untuk pergi.
Misa mengganti pakaiannya dengan pakain yang terlihat lebih elegan. dengan jubah hitam dan tidak lupa topeng iblis dua tanduknya. Dia mengeluarkan sayap iblis yang dia pinjam dari kekuatan Dengara.
Misa melesat kearah pasukan yang sedang bersiap menyerang itu. Sampai disana. Dia berada di atas langit dan berhenti di tengah-tengah jarak antara pasukan Mixide yang siap menyerang dan pasukan Belgets yang juga siap untuk menyerang. Dengan perlahan Misa turun dari langit.
" Hah, siapa itu yang berada ditengah-tengah medan yang akan menjadi medan pertempuran. Apakah dia musuh atau kawan? " Seorang komandan ksatria dari kerajaan Belgets bertanya-tanya.
" Hem, siapa orang yang turun kemedan ini sendirian. Apa dia akan melakukan bunuh diri disini? Hahaha. Sungguh orang yang tidak menghargai nyawanya sendiri. " Raja Xuhae tertawa melihat misa yang sendirian di tengah-tengah medan pertempuran.
" Hem, baiklah. Sekarang aku akan mengeluarkan wadah untuk jiwa-jiwa yang akan terkumpul. " Misa membuat sihir yang berbentuk sebuah pusaran hitam dan kemudian mengambang keatas. Ini adalah wadah untuk jiwa-jiwa yang akan terserap nantinya.
" Sebaiknya aku mulai dari mana ya. Hah, aku sudah tidak akan berfikir lagi. Aku sudah tidak akan menyisakan satupun orang yang ada didepanku sekarang ini. " Misa menarik pedang Amaterasunya dari sarung pedang. Misa membuat kobaran api yang besar dengan tebasan pedangnya.
... [ Slash ... bruemm ... .]...
Api hitam menyala dengan hebatnya membuat semua orang yang melihatnya kaget. Lalu Misa membuat Sihir tingkat dunia yang daya hancurnya setingkat bencana alam. Tanah berpijak dari semua pasukan Mixide terbelah dan menciptakan ngarai yang dalam. Kemudian dari dalam ngarai itu sebuah api hitam dengan cepat menyembur ke atas. membuat langit yang begitu cerah menjadi dipenuhi asap yang pekat dari api hitam tersebut.
" Kurasa akan lebih baik lagi kalau suasana disini hujan deras. " Misa membuat sihir lagi dan menjadikan awan hitam berkumpul di atas langit. Hujan deras dengan sambaran petir yang tidak kian berhenti dari langit dan turun menyambar pasukan Mixide tanpa ada satupun yang bisa melawannya.
" Untung dia bukan menyerang pasukan kita. Akan berbahaya jika dia berada dipihak musuh. Untuk sekarang kita tahu dia tidak menyerang kita. Tapi, tidak ada kemungkinan bahwa dia berada di pihak kita. " Bolemo, Komandan Ksatria yang memimpin para prajurit Kerajaan Belgets.
" Maaf Komandan tertinggi. Tapi, menurutku dia berada dipihak kita. Apa kau lihat topengnya? " Seorang komandan pleton penjaga gerbang perbatasan mencoba memberitahu Komandan tertinggi Bolemo.
" Hah, apa maksudmu dengan topengnya? Dia memakai topeng iblis dua tanduk dari yang bisa kuamati. Hah, tunggu dulu. Topeng iblis dua tanduk? Apakah dia orang yang sama dengan dihari pemberontakan ******* itu? Hah, tidak kusangka itu dia. Dan dia sedang melawan musuh kita seorang diri. Kita berhutang budi padanya. " Bolemo terduduk tak berdaya karena dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya melihat saja.
Sementata itu di tempat persembunyian Raja Mixide yang juga ada dimedan pertempuran. Dia kaget saat semua prajuritnya tak berdaya menghadapi satu orang musuhnya. " Hah, kenapa ini bisa terjadi? Tidak ada yang memberitahuku kalau Kerajaan Belgets memiliki monster seperti itu. Dan hah, apakah dia akan melakukan penyerangan juga ke kerajaanku? Kerajaanku bisa porak poranda nanti. Hah, apa yang harus kulakukan? "
Sementara Raja Xuhae mondar mandir tidak karuan. Disitu Dengara muncul dan mengagetkan Raja Xuhae. " Lama tidak bertemu orang yang semena-mena. "
Raja Xuhae kaget melihat keberadaan Dengara tepat ada dihadapannya. Karena dia mengira Dengara sudah mati.
btw semangat thor 😁