Maaf ya yeorobun kalau aku sering menghapus cerita yang baru-baru aku update.
itu karena aku lagi nggak ada ide ceritanya.
Dan ini aku kembali mempunyai ide untuk bikin cerita lagi dan sketsa ceritanya
Semoga tidak mengecewakan kalian semua.
.
.
.
. (*˘︶˘*)~。.:*♡
.
.
. 。・:*:・(✿◕3◕)❤
.
.
. (❁´◡`❁)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yong_Aereum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Suasana rumah Rinni masih ramai, sudah hampir 2 jam warga berada disana sejak kejadian tadi.
hingga seorang telah melakukan tugas yang sesuai permintaan warga setempat.
" Baiklah mulai sekarang kalian sudah menjadi pasangan suami istri. " ucap pendeta Robby.
" Baiklah Bu terimakasih sudah mau mengerti dan memahami keinginan kami.
kalau begitu selamat atas pernikahan dan saya pamit pulang dulu. " ucap Pak Rt yang meminta membubarkan diri .
Beberapa warga pun bersorak dan ada beberapa orang juga memberi ucapan selamat pada Rinni yang masih terisak.
terlihat beberapa orang sudah membubarkan diri mereka masing-masing.
" Maafkan Mami ya sayang, Mami terpaksa melakukannya" Ucap Indri pada Devan yang memainkan wajahnya.
Davan yang coba menenangkan Rinni yang masih menangis dengan matanya yang sudah benar-benar bengkak dan dengan hidung yang merah.
" Maaf ya Rinn... maafkan mamiku yang sudah mengambil keputusan sepihak." Davan terus megelus punggung Rinni.
" Aku mau kembali ke rumah sakit, Jessy sudah menungguku. " ucap Devan dingin yang langsung berjalan ke mobilnya.
Terdengar suara mesin mobil yang semakin jauh dari rumah Rinni.
Davan yang mendengar langsung keluar untuk melihat.
" Bang Devan mau kemana Mih? " tanya Davan yang melihat mobil Devan sudah jauh
" Katanya mau kerumah sakit" jawab Mamih Indri.
" Mana Rinni?" tanya Indri
" Didalam. " jawab Davan.
" Rinn... " Panggil Indri yang sudah duduk disamping Rinni
" Maafkan mami ya sayang, " ucap Indri.
lagi lagii Rinni pun kembali menangis, Indri yang melihatnya pun tidak bisa menahan diri untuk memberikannya pelukan.
sedangkan duduk di teras, dia berpikir apa yang terjadi kepada adik kelasnya tadi kini menjadi kakak iparnya.
Davan sangat menyayangkan sikap warga setempat yang langsung mengatakan Rinni dan Devan berzinah tanpa memastikannya.
30 menit juga Davan duduk diluar dan kemudian dia masuk kedalam rumah.
jam menunjukkan pukul 3 pagi sedari tadi dia tidak mengantuk.
dilihatnya ruang tamu tampak sepi.
Davan pelan pelan membuka pintu kamar, terlihat Rinni yang sudah tertidur pulas bersama Indri.
melihat mereka tidur Davan pun merebahkan tubuhnya di kursi bambu panjang.
Craang!....
Indri dan Davan terbangun lalu kedua berhamburan ke dapur dimana asal suara kaca.
" Rin... kau tidak apa apa? " Tanya Indri.
" Aku tidak apa-apa Nyonya, aku kurang hati-hati hingga cangkirnya bisa terjatuh." Rinni tersenyum
" Maaf telah membangunkan kalian. " sambung nya sambil melanjutkan cuci piring.
Davan merasa iba melihat Rinni yang sepertinya masih belum bisa terima keadaan dirinya sekarang.
"Rin.. jangan panggil aku Nyonya, sekarang ini aku mertua mu. " ucap Indri.
Rinni yang mencuci piring sejenak berhenti lalu ia kembali menggosok piringnya.
" Kamu yakin tidak mau di antar? " Indri mencoba meyakinkan dirinya lagi untuk ikut mobilnya.
" Tidak apa-apa Nyonya, aku bisa sendiri dan aku ingin pergi ke satu tempat dulu. " ucap Rinni.
" Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya. " ucap Indri kembali masuk kedalam mobil.
" Kami pulang dulu , kamu hati-hati ya." ucap Davan dan dibalas Rinni dengan anggukan kepala.
Setelah mobil yang dikendarai Davan sudah menjauh Rinni pun mendorong sepedanya keluar, namun saat ia mengunci pintu ada dua orang ibu-ibu sedang lewat sambil membicarakan dirinya.
" Tuh Bu orangnya , disini semalam terjadi penggerebekan seorang wanita kedapatan berbuat mesum sama laki-laki" ucap ibu-ibu yang melintasi rumahnya.
lagi-lagi Rinni hanya bisa mendiamkan saja, bukan hanya ini kali saja yang ia dengar.
tadi pagi pagi buta Rinni sedang keluar menyapu teras ia pun kembali diceritakan oleh tetangganya yang kebetulan sedang olahraga pagi.
" Baru nikah sudah ditinggalkan. " sindir tetangganya.
Ia pun hanya mendiamkan sindiran tetangganya dan kembali melanjutkan Perkerjaan nya.
mungkin Rinni harus terbiasa dengan omongan tetangganya atau sindiran lainnya.
" Loh!!.. Rin.. kamu kenapa? kenapa matamu bengkak sekali?! " tanya Mila saat mereka bertemu di ruang ganti.
" Biasalah habis maraton Korea drama. " jawab Rinni simpel.
" Ya ampun kamu ini , aku kirain kamu habis nangis karena berantem dengan pacarmu" ucap Mila lalu melenggang pergi.
Rinni pun memoles wajahnya dengan cream wajah dan liptint.
sesederhana itu saja baginya sudah lebih dari cukup.
Saat Rinni membersihkan kaca pintu masuk banyak orang melihatnya dengan tanda tanya dan entah apa yang mereka bisikkan.
Rinni melihat seorang laki-laki berjalan masuk dengan tas ditangannya.
dengan pelan-pelan ia berbalik agar terhindar dari beberapa pertanyaan dari orang tersebut.
" Rinn... " panggil Herman.
"Iya Pak. " jawab Rinni.
" Kamu kenapa?! " tanya Herman yang langsung
" Saya tidak apa-apa Pak. " ucap Rinni gugup karena beberapa orang yang lewat melihat mereka.
" Hmm.. nanti antarkan kopi ke ruangan saya. " ucap Herman lalu pergi.
Herman sebenarnya ingin berbicara dengan Rinni tapi karena lirikan matanya membuat Herman mengerti.
Rinni menghela nafasnya karena Herman yang secara menyapanya dan langsung berbicara padanya akrab padanya.
selama 1 bulan ini ia berkerja disini tidak ada satupun yang mau berbicara dengannya seperti itu kecuali sesama OB /OG.
Tokk... tokk..
" Masuk." Jawab Herman.
" Ini Pak kopi pesanan anda." Rinni meletakkan di atas meja kerja Herman.
" Terimakasih Rin... "
" Sama-sama Pak, permisi. "
" Tunggu Rinn.., hari ini kamu jam berapa makan siangnya? " tanya Herman
" Belum tahu Pak, kerjaan saya hari ini cukup banyak karena Toni tidak masuk hari ini. " jawab Rinni.
" Oh.. begitu, ya sudah kalau begitu." Herman menganggukkan kepalanya.
" iya Pak, permisi. "
Herman hanya melihat Rinni sampai pintu ruangannya tertutup.
entah kenapa dia bisa begitu gampang memberi perhatiannya pada Rinni.
padahal Herman itu orang yang bersikap dingin, apalagi selama ia kerja di perusahaan Devan 5 tahun ini tidak ada satupun wanita yang bisa menarik perhatiannya.
*
*
*
- Kediaman Wijaya.
Indri merasa tidak enak badan saat pulang dari rumah Rinni.
Davan yang mengetahuinya langsung memanggil dokter yang tinggal berdekatan dengan mereka untuk datang memeriksa Indri.
" Bagaimana Dokter Sonny , Mami kenapa?. " tanya Davan.
" Bu Indri hanya kecapekan, dan sepertinya beliau juga sedang ada masalah yang dipikirkan hingga membuatnya kurang sehat." ucap Dokter Sonny.
" Nanti akan ku tanyakan, "
" Baiklah, ini resepnya yang harus Bu Indri minum. "
" Baiklah Dok, terimakasih kalau begitu sudah mau datang kerumah ku. "
" Sama-sama, tidak apa-apa namanya juga tetanggaan.,kalau begitu saya pamit dulu. "
" Semoga Bu Indri lekas sembuh, " Sonny pun pergi dan diantar oleh Mbok Yuyun.
Davan benar-benar dibuat pusing dengan permasalahan Devan dan Rinni yang menikah karena dituduh berbuat zinah.
dia sedang memikirkan bagaimana mengatakan hal ini pada Papinya.
" Bang... bang... masalah ku dengan papi aja sedang ribet di tambah lagi masalah abang. " Davan menatap langit yang biru dan awan awan yang sedang bergumpal.
Mendapatkan kabar istrinya yang sedang sakit Danny pun memutuskan pulang lebih cepat dari jadwalnya.
dia mengambil penerbangan pertama untuk bisa segera menemui istrinya.
Davan dan Dian yang sedang duduk menemani Mamih nya di kolam ikan belakang tidak mengetahui kepulangan sang kepala rumah tangga.
" Dav... apakah Bang Devan sudah bisa dihubungi? " tanya Indri.
" Belum diangkatlah juga Mih. " Jawab Davan.
" Dian benar-benar bingung dan juga kasihan sama Rinni, bisa dibayangkan bagaimana bisa dinikahi secara tiba-tiba. " Dian telah mengetahui hal pernikahan Devan dan Rinni.
" Mih... " sela Danny yang sudah sampai rumah
" Papih. " Indri terkejut melihat suaminya yang sudah tiba dirumah.
" Sakit apa, hmm.., bukankah Papih bilang jangan banyak mikir. lihatlah dirimu sudah terlihat kurus. " Danny mengamati wajah istrinya.
" Dek, emangnya mamih terlihat kurus? , perasaan baru 1hari ini mamih sakitnya." bisik Dian
" Husst... Kak Dian tidak pernah diperlakukan sama Juan seperti itu ya. "
" Aww... " Davan memegang perutnya yang di sikut Dian.
Keduanya saling mengejek walaupun Dian menikah dan jarang datang berkunjung tapi setiap berjumpa keduanya tidak pernah akur.
bahkan didepan Juan suaminya Dian pun masih tetap tidak mau mengalah pada adik bungsunya.