Indonesia
NovelToon NovelToon
Pesawat Kertas

Pesawat Kertas

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Tamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Lucyani Nabila

Pesawat kertas masih terbang, mengikuti alur udara yang membawanya, meski ia tak tau akhir dari perjalanannya, tetapi ia hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan ikhlas.

Seorang gadis berumur 17 tahun yang pantang menyerah mengejar cintanya, Aqila. meski sudah dijatuhkan berkali kali dia tetap bangkit untuk menggapai cintanya.

Aqila hanya diberi 2 pilihan, memilih pergi untuk menyembuhkan luka atau bertahan demi menuntaskan rasa.

"Bisa nggak lo cinta sama gue sekali lagi?" - Hafi

"Aku ingin menjadi bumi. biarpun tak bersinar, bumi akan selalu jadi tempatmu bernaung, melindungimu ketika kamu sibuk menggapai bintang" - Nata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucyani Nabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ditolak

Setelah menstalking semua akun sosial media Hafi, Aqila makin dibuat sakit hati, dia melihat banyaknya foto foto cowo itu bersama kekasihnya.

Seminggu kemudian.

Setelah mengikuti saran dari Nata, Aqila kembali mendatangi Malioboro, didepannya sudah ada lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta secepat itu. Sepertinya, malam ini, Jogja akan menjadi saksi bahwa gadis ini akan mengungkapkan perasaannya pada lelaki dihadapannya.

"Hafiiii!!!" teriak Aqila, hingga semua orang menoleh ke arahnya.

"Lo ngapain teriak teriak gitu!" Hafi membekap mulut Aqila.

Aqila mengulum senyum dan menatap Hafi dengan pandangan penuh cinta, setelah Hafi melepas tangannya dari mulut Aqila.

"Kak Hafi, aku suka sama kamu... aku pingin deket sama kamu, tau ngga sih meskipun kita sering ketemu di sekolah bawaannya aku terus kangen sama kamu" kesambet setan apa si Aqila, bisa sweet seperti itu, apalagi penampilannya berubah drastis menjadi feminim dengan make up tipis diwajahnya.

Hafi berjalan mendahui Aqila, membiarkan gadis itu mengoceh sendirian.

"Kak Hafi, tunggu!" Aqila terus mengejar Hafi yang semakin berjalan cepat.

"Lo kan udah tau sendiri kalo gue udah punya pacar, jadi... lo pasti udah tau jawabannya kan? kalo gue ngga suka sama lo!" sebuah penolakan, ini salah Aqila juga, ia pastinya sudah tau jawabannya tetapi kenapa dia masih nekat mengungkapkannya pada Hafi.

Aqila menatap wajah Hafi, hingga keduanya saling tatap.

"Gue kurang apa sih! lagian gue ngga kalah cantik dari Sunny kok, ya minusnya aja gue bukan artis"

"Ngaca! jangan pikir lo bisa jadi pacar gue, ngga mungkin! percuma lo rayu gue, percuma lo paksa gue, percuma! semua percuma, cukup malam ini kita ketemu disini, selebihnya lo jauhi gue! jangan ganggu gue lagi!" perkataan Hafi sungguh kasar.

Aqila meneteskan air matanya, meski ia sudah tau jawabannya, tetapi ternyata lebih sakit jika Hafi yang memberikan jawabannya secara langsung, seakan menutup jalan Aqila untuk bersanding dengannya.

Gadis itu mengendarkan pandangannya ke segala arah, banyak tatapan orang orang yang menuju ke arahnya, rasanya sangat malu ditolak dihadapan umum, ia hanya bisa menunduk tanpa bergerak sedikitpun, sepertinya keputusannya mengikuti saran Nata itu salah.

"Hafi itu milik Sunny, kok lo masih nekat sih deketin dia!" ucap gadis yang tiba tiba datang seolah memberi tamparan secara tidak langsung Aqila.

"Lo diem!" ancam seseorang sembari menunjuk ke arah gadis itu, cowok itupun menarik pergelangan tangan Aqila untuk menjauhi gadis tadi.

Aqila masih terus menangis. "Gara gara lo!"

"Kan yang gue maksud bukan gitu, elo terlalu gegabah buat langsung ungkapin ke dia, harusnya secara perlahan, elo pasti bisa qil... elo harus berusaha lagi oke?" Nata menggenggam tangan Aqila dengan lembut.

"Harus usaha gimana lagi?" Aqila masih terus menunduk, membiarkan tangisnya turun dengan deras.

"Gue pasti bantu lo pelan pelan, jangan jadi pengecut! ngga perlu gegabah buat dapetin keinginan. Sekarang liat gue.... senyum ya? jangan nangis lagi, gue ngga suka liat orang cengeng" Nata menghapus air mata Aqila dengan kedua tangannya.

Sepertinya ucapan Nata benar, dia terlalu gegabah dalam bertindak, dia tidak sepenuhnya mengikuti ucapan Nata. Dia pasti bisa mendapatkan Hafi, dan dia yakin pasti bisa, asal dengan usaha yang perlahan nan halus.

****

Disaat bel pulang berbunyi, Aqila buru buru mengemasi barang barangnya dan menunggu Hafi keluar dari kelasnya, karena kelas Hafi tepat bersebelahan dengan kelasnya.

Dia tidak peduli dengan Sunny jika tiba tiba dia muncul untuk menunggu Hafi juga.

"Kak Hafi" panggilnya lembut.

Hafi mengacuhkannya dengan melewati Aqila begitu saja, tetapi Aqila berlari mengejar Hafi dan menahan tangannya.

"Aku minta maaf" ucapnya.

Hafi menghentikan langkahnya namun tidak berbalik badan sedikit pun. Cowok itu menautkan satu alisnya.

"Maaf kalo selama ini kamu risih sama sikap aku, maaf selama ini kalo aku ganggu ganggu kamu, dan maaf untuk yang semalam"

Hafi tetap diam, cowok itu kembali melanjutkan langkahnya, namun lagi lagi Aqila menahan tangannya.

"Selamat ya ganteng, semoga langgeng hubungan kamu sama Sunny, semoga kalian bahagia selalu, aku ngga akan ganggu kamu lagi, aku cuma mau jadi temen kamu boleh kan?" Aqila tersenyum getir.

Namun Hafi bersikap acuh, cowok itu menghempas tangan Aqila dan berjalan meninggalkan Aqila, gadis itu menatap tangannya dengan nanar, rasanya sakit.

Aqila menghela nafas, mencoba sabar, ia kembali mengingat ucapan Nata.

'Sabar, jangan gegabah. Coba jadilah temannya, buat dia nyaman, bersikaplah seolah teman biasa, sampe dia lupa kalo lo pernah ngungkapin perasaan lo ke dia, rebut hati dia perlahan, secara pelan dan santai'

Aqila membiarkan Hafi pergi, ia menatap langit yang mulai mendung, tampak murung seperti dirinya saat ini. Sekarang ia melihat langsung didepan matanya, saat Hafi berboncengan dengan Sunny.

Sebuah adegan yang seharusnya tidak ia lihat, sebuah adegan yang sangat membuat hatinya sakit, adegan ini sama seperti adegan beberapa tahun lalu, dimana ia tak sengaja melihat Jenandra bersama perempuan lain berboncengan saat pulang sekolah.

Aqila semakin sadar, cintanya begitu rumit, sepertinya kisahnya akan tetap sama seperti dulu, mendapatkan Hafi tak semudah itu.

"Nata, cara yang lo kasih bener bener sulit, gue ngga bisa! gue ngga bisa jadi orang yang sabar" gumam Aqila pelan.

"Jangan terlalu agresif dan posesif, pelan tapi pasti" balas Nata dari arah belakang. Aqila hanya menghela nafas berat.

"Lo pingin kayak gitu juga?" tanya Nata, namun Aqila hanya menggeleng, diam seribu kata.

Aqila berjalan mendahului Nata yang sedang mengambil motornya di parkiran, sedangkan gadis itu, menunggu taxi dipinggir jalan.

Tin! Tin!

Senyumnya begitu manis, seseorang dengan motor Vespa putih itu berhenti dihadapannya.

"Gue anterin lo pulang, daripada nunggu taxi, lama"

Aqila hanya menggeleng, namun Nata tetap memaksa, cowok itu menarik tangan Aqila hingga gadis itu naik keatas jok motornya, akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah Aqila.

Mencintainya bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah pencarian obat penenang bagi diri yang telah terluka terlalu dalam, namun ternyata salah, seseorang yang ku kira penawar ternyata adalah sebuah racun yang kembali membuat lukaku semakin parah - diary Aqila.

~•~

1
falea sezi
ma bian aja
falea sezi
nangis deh q/Sob//Sob//Scowl//Frown/
falea sezi
masih meraba alurnya klo bagus q kasih bunga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!