Kisah perjalanan cinta pria asal Tiongkok, Xu Changyi Leonardo dengan seorang gadis biasa, Chika Arabella. Negeri Matahari Terbit, Jepang menjadi saksi perjalanan kisah mereka menuju dalam ikatan pernikahan.
Namun siapa sangka ternyata kisah asmara mereka justru membawa pada misteri. Yang membuat Leo harus mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi selama beberapa tahun yang lalu. Dia harus berhadapan dengan musuh sang Ayah demi menyelamatkan Chika yang menjadi tawanan seorang Mafia.
Mampukah Leo melewati tantangan yang diberikan dalam upaya menyelamatkan Chika? Simak kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayun Tangahu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Malam ini Leo berencana akan mengajak Chika makan di restoran Tokyo Light Blue. Sudah beberapa hari ini gadis itu ingin makan Mie Udon. Setelah bersiap-siap, Leo segera pergi menjemput sang kekasih yang sudah menunggunya. Pria itu menggunakan kaos berwarna hitam yang dimasukkan ke dalam celana berwarna khaki.
Tak disangka gadis itu sudah menunggunya di pos keamanan karena tak sabar ingin makan Mie Udon . Setelah berpamitan kepada para Security, Chika langsung masuk ke dalam mobil Leo.
Lagi-lagi, Leo terpanah dengan kecantikan Chika. Meskipun gadis itu hanya menggunakan pakaian yang oversize tapi mampu memikat hati Leo. Jika saja kuliah mereka sudah selesai, Leo ingin segera menikahi gadis itu. Tak sanggup membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi. Rasanya saat ini Leo ingin berguling-guling karena sudah meleleh.
"Seperti biasa, selalu saja luar biasa." ucapnya yang membuat Chika menoleh.
"Apa yang begitu luar biasa?".
"Tentu saja dirimu!" sahut Leo seraya mencubit pipi Chika dengan gemas.
"Kau menyakitiku!" Chika mencibirkan bibirnya.
"Siapa suruh kau begitu menggemaskan!" timpal Leo.
...----------------...
Leo menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran kemudian mencari tempat parkir yang kosong. Setelah itu mereka turun dan langsung menuju ke dalam restoran. Tempat itu sangat ramai, sampai membuat Chika terkagum-kagum. Itu artinya makanan disitu memang enak, lihat saja berapa banyak orang-orang yang datang dan rela mengantri.
Leo segera memesankan dua mangkok Mie Udon dan dua gelas es teh. Mereka memilih meja yang dipojok agar jauh dari suara bising kendaraan. Restoran itu tak mewah tapi lebih dari cukup sebagai tempat untuk mengisi perut yang kosong.
"Tempat ini memang selalu ramai." ucap Leo melihat ke sekeliling.
Chika pun ikut melihat sekeliling, "Apa kau sering kemari?" tanya Chika.
Leo menjawab, "Ya, ini tempat favoritku."
Chika berbisik, "Apa itu mahal?". Gadis itu melihat ke dalam dompetnya.
"Lumayan, tapi rasanya sangat lezat! Kau tidak akan melupakan rasanya." jawab Leo lagi.
Kemudian seorang pelayan laki-laki yang berusia tak jauh dari mereka datang membawakan pesanan lalu menghidangkannya di atas meja.
"Pesanan Anda! Selamat menikmati." Pelayan itu berlalu meninggalkan mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Woah.. Oishii ! Itadakimasu." ucap Chika.
"Makan perlahan-lahan." Leo mengusap sisa makanan di mulut Chika.
"Apa aku makan berantakan? Sangat memalukan." keluhnya.
"Tidak! Kau makan dengan lahap, aku suka melihatnya." Leo tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Entah mengapa, Leo suka melihat Chika saat makan. Gadis itu sangat mengerti bagaimana cara menghargai makanan. Dia tak pernah membuang-buang makanan. Bukan karena pelit tapi dia sudah pernah merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa makan.
Dia sudah pernah mengalami begitu banyak lika-liku kehidupan yang pahit setelah di tanah rantau. Bahkan tak jarang dia memasak sebungkus mie instan untuk dimakan selama beberapa hari saat keuangannya menipis.
...----------------...
Setelah menyelesaikan makan malam, Leo dan Chika segera kembali. Gerbang Apato akan ditutup jam 10 malam. Namun, ditengah perjalanan, Leo menepikan mobilnya, pria itu lekas membukakan pintu mobil untuk Chika.
"Pemandangannya sangat indah malam ini." ucap Leo sembari menunjuk bintang-bintang di langit.
Chika terkagum-kagum. Gadis itu berjalan hingga ke tepi pagar pembatas jalan. Dia menatap langit dengan hening sesaat. Kemudian berbisik, "Aku merindukan mereka." seketika, Chika menundukkan kepalanya.
Leo menjadi merasa bersalah. Leo tahu dengan benar, Chika kehilangan orangtuanya saat masih kecil dalam kecelakaan tunggal waktu itu. Pria itu berjalan mendekati kekasihnya dan memeluknya. "Maaf, jika aku telah menyinggung perasaanmu."
"Kau tidak perlu meminta maaf! Aku memang sedang merindukanmu mereka." Chika kembali menatap langit.
"Paman, Bibi, beristirahatlah dengan tenang ! Aku akan senantiasa menjaga putrimu di sini." ucap Leo yang masih menatap langit.
"Ayo ! Malam sudah mulai larut." Chika melepaskan tangan Leo perlahan. Leo hanya mengangguk dan mengikuti Chika dari belakang.
...----------------...
Para petugas keamanan sudah bersiap-siap untuk menutup pintu gerbang Apato. Untung saja Chika datang tepat waktu, kalau tidak, dia akan kesulitan masuk.
"Terima kasih sudah mengantarku." Chika tersenyum.
"My pleasure!" balas Leo.
Leo hanya bisa mengantarkan Chika di depan pintu gerbang. Karena waktu bertamu sudah habis, pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia membuka jendela setengah untuk melihat Chika yang sedang melambaikan tangan padanya sebagai salam perpisahan. Chika pun segera masuk ke dalam begitu Leo sudah pergi.
Sesampainya di kamar, gadis itu memandang foto keluarga kecilnya yang sedang terpajang di atas meja lampu. Kemudian meraih benda pipih itu dan memeluknya dengan sangat erat. Dia begitu merindukan Ayah dan Ibunya. Sudah beberapa tahun berlalu, dia belum mengunjungi makam orangtuanya.
Uangnya belum cukup. Selain itu, keadaan tak memungkinkan baginya untuk pergi ke sana. Ada banyak hal yang harus dia pertimbangkan. Sampai saat ini, pamannya belum mengirimkan sinyal untuk membiarkannya datang. Cepat atau lambat Chika pasti akan ke sana lagi.
"Ayah, Ibu, jangan khawatir! Aku baik-baik saja disini, Leo menjagaku dengan baik. Kini, aku tidak sendirian lagi disini."
"Aku bahkan sudah punya tempat yang bagus. Lihat ! Aku benar-benar bahagia. Leo memperlakukanku dengan baik. Ayah tahu? Dia sungguh sepertimu!" lanjutnya.
"Perlahan-lahan, mimpiku mulai terwujud. Doakan aku dari sana agar selalu menjadi gadis yang bahagia. Aku sungguh merindukan kalian. Seandainya aku bisa memeluk kalian sebentar saja. Hati ini sudah terlanjur menyimpan rindu yang mendalam."
Gadis itu menangis untuk meluapkan emosinya. Menangis sejadi-jadinya, gadis pemalu itu takkan berani menangis seperti ini di depan kekasihnya. Setelah selesai menangis, Chika pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
...----------------...
Sementara itu, di apartemen Leo. Terdengar suara telepon yang berbunyi. Leo masih di kamar mandi, pria itu menghidupkan shower lalu berdiri di bawahnya. Badannya terasa lengket, akan sangat tidak nyaman jika tidak mandi. Suara telepon ini masih tetap terdengar, setelah menyelesaikan mandinya, Leo segera mengangkat telepon.
"Halo Ma? Ada apa?" tanya Leo begitu menempelkan telepon di telinganya.
"Kapan kau akan datang kemari?" tanya suara di seberang sana yang tak lain adalah Mamanya, Xiao Bao Yu.
"Secepatnya, jika tugasku sudah selesai!".
Sudah sekian lama sehingga Bao Yu begitu merindukan putra satu-satunya itu. "Papa juga sering menanyakan tentangmu." kata Bao Yu.
"Katakan padanya untuk bersabar! Aku pasti akan mengunjungi kalian. Bagaimana kabarmu?" tanya Leo.
"Aku baik-baik saja, begitupun dengan yang lain. Sudah larut! Jaga kesehatanmu. Aku akan menutup teleponnya!".
Tut.. Tut.. Tut..
Bunyi panggilan yang diputuskan.
Kemudian Leo mengirimkan pesan di WeChat pada Chika. "Mama baru saja meneleponku. Dia menanyakan kapan aku akan datang kesana."
"Libur belum diumumkan. Semoga sesuai harapanmu. Mengapa belum tidur?" balas Chika.
"Aku baru saja mandi, malam ini sangat gerah. Aku merasa tidak nyaman jika tidur tanpa mandi. Apa yang kau lakukan?". Bunyi notifikasi yang membuat Chika meletakkan bukunya sejenak.
"Aku sedang memeriksa tugasku." balas Chika.
Baru saja dibalas, pesan kembali masuk, "Segera tidur dan jangan bergadang!".
Chika tak membalas pesan lagi, dia kembali fokus memeriksa tugasnya. Setelah semuanya selesai dan yakin, gadis itu menutup bukunya. Kemudian masuk ke dalam selimut dan mematikan lampu lalu tidur.