Indonesia
NovelToon NovelToon
Ellia Kanaira

Ellia Kanaira

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alfian Syafa

Bahagia?

Apa itu bahagia? bagi Ellia bahagia atau sedih itu sama saja. Hidup Ellia sudah tidak baik-baik saja. Mentalnya dibabat habis-habisan ketika menginjak usia dua puluh delapan tahun.

Hingga kini dia sudah tidak peduli lagi dengan lingkungan sekitar. Hati dan perasaannya telah mati.

Ellia semakin down ketika hasil dari pemeriksaan keluar.

Apakah dia akan bisa bertahan lagi dan lagi? ketika ujian kembali datang menerpanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfian Syafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Kebahagiaan yang nyata

"Kau tahu, Ellia? Aku selalu berharap kita akan bertemu kembali lalu hidup bersama dan aku akan menebus semua kesalahanku."

Wajah Artha terlihat penuh penyesalan, selama hidupnya dia terus merasa bersalah kepada Ellia. Apa yang telah terjadi dengan Ellia adalah ulahnya.

Perundungan yang membuat Ellia trauma secara tidak langsung Artha penyebabnya. Jika saja Ellia ingat, mungkin sekarang dia sangat membenci Artha.

"Jangan pernah pergi lagi ya, sayang."

Air mata Ellia tak lagi bisa di bendung. Pertemuan pertama lewat video call ini sangat mengharukan. Ellia seperti sedang bertemu dengan rumahnya. Tempat dia bersandar.

"Jangan nangis, nanti wajahmu jadi jelek," sambung Artha. Mengusap layar gawainya. Seolah sedang mengusap air mata Ellia yang telah membasahi wajah cantik itu.

Ellia terkekeh sambil terisak. "Bagaimana bisa, Artha? Kita telah memiliki pasangan masing-masing."

Tidak akan pernah mungkin dan tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Artha dan Ellia tetap bersama. Meski mereka menjalani hubungan ini secara diam-diam, pasti suatu hari nanti akan ada masa dimana mereka harus berpisah.

"Jangan katakan itu, dalam hubungan ini aku hanya ingin ada aku dan kamu."

"Aku ... Belum mengatakan iya," kata Ellia.

"Aku tahu, tapi aku yakin kau masih memiliki perasaan yang sama. Perasaan seperti dulu saat kita masih bersama-sama," tebak Artha.

Benar ucapan Artha. Ellia memang sangat mencintai Artha. Perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu. Laki-laki itu selalu menemani Ellia dengan bercerita tentang kisah hidupnya. Ellia jadi merasa tidak sendiri dalam kesepian.

Introvert memang menyukai kesendirian dan kesunyian, tapi bukan berarti seseorang yang memiliki kepribadian introvert ini tidak butuh teman. Dia juga butuh teman hanya saja tidak bisa jika harus memiliki banyak teman dan berinteraksi secara langsung dalam keramaian. Jadi, ketika Artha hadir seakan telah mengisi kekosongan dalam hidup Ellia.

"Sok tahu," kata Ellia.

Artha tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapih dan lesung pipi yang menambah kesan manis. Ah, senyum itu mampu menghipnotis Ellia.

"Tahu lah. Kalau kamu benci aku, sejak tadi aku memanggil kamu sayang pasti kamu akan marah!"

"Iya juga ya?" ucap Ellia dengan wajah polosnya.

"Astaga! Kenapa kamu menggemaskan sekali! Pengen cubit deh!"

Ellia mengerucutkan bibirnya. "Ya sakit lah, Tha!"

"Cium ya?"

Kedua mata Ellia melotot. Bahkan dengan ucapan Artha saja sudah membuat jantungnya semakin berdebar.

"Udah ya, sebentar lagi Khai pulang," ucap Ellia.

Tanpa terasa mereka telah mengobrol selama tiga jam dan rasanya itu baru sebentar. Maklum lah ya kalau orang sedang kasmaran tuh waktu cepat sekali berlalu.

"Cepat sekali. Ya udah nanti aku telepon lagi ya."

Ellia mengangguk.

"I love you, sayang."

Wajah Ellia merona dan bukannya menjawab Ellia malah mematikan sambungan telepon itu. Hingga membuat Artha kesal.

[Ish nggak jawab!]

Artha pun langsung mengirimkan Ellia pesan. Protes karena Ellia tidak menjawab ungkapan perasaannya tadi.

[Love you too, Artha.]

Akhirnya Ellia berani menjawab.

Ellia ingin menikmati hubungan ini. Bolehkah Ellia egois untuk sekarang? Demi sebuah kebahagiaan yang baru saja Ellia rasakan secara nyata.

Tok

Tok

Tok

Suara ketukan pintu membuat Ellia tersadar dari segala lamunan tentang Artha. Dia segera keluar dari kamar dan membuka pintu. Rupanya Khai sudah pulang di antar Rhea dan juga Rasya.

"Khai pulang!" ucap Khai.

Ellia sedikit membungkuk dan Khai langsung mencium pipinya.

"Ganti baju dulu gih," titah Khai.

Anak itu langsung masuk ke dalam.

"Ayo masuk," ucap Ellia. Kemudian memberikan selembar uang dua puluh ribu kepada Rasya.

"Buat jajan!" bisik Ellia.

"Apaan sih, El! Lo pikir gue nggak lihat?" kesal Rhea. Kemudian wanita itu menatap ke arah Rasya.

"Balikin ke Tante."

Ellia menggeleng sebagai kode jangan dikembalikan.

"Rejeki jangan ditolak, Rhe!" ucap Ellia.

Rhea memutar kedua bola mata.

"Lo mah gitu. Gue nggak ngojek loh!"

"Gue minta tolong!"

"Iya tapi nggak perlu kasih duit!"

"Ya buat jajan Rasya!"

"Nggak gitu, El! Gue ngga___"

Ellia meletakkan jari telunjuknya ke bibir. "Ssst berisik banget sih. Udah mendingan sekarang kita makan. Lo mau makan apa? Gue traktir!"

"Ha? Seriusan?"

Kalau soal makan Rhea nomor satu dan langsung berbinar. Rasya memilih masuk ke dalam kamar Khai karena pusing melihat perdebatan kedua emak-emak itu.

"Rasya, mau ganti baju?" tawar Khai yang sudah berganti pakaian.

"Nggak ah, aku pakai baju ini saja."

"Kenapa? Kok suntuk? Kita main yuk!"

Rasya mengangguk, tapi dia menahan Khai agar tidak keluar dari kamar.

"Di sini aja. Mama kita lagi debat!" bisik Rasya.

Khai tertawa mendengar ucapan Rasya yang lucu. Ada saja tingkah dua anak berusia enam tahun ini.

"Khai, Rasya kalian lagi ngobrolin apa?" tanya Rhea yang berdiri di dekat pintu.

Khai menggeleng, "Kita main di depan ya, Tante. Aku mau ajak Rasya main di tanah," ucap Khai. Meminta izin.

Rhea mengangguk, "Ya udah sana."

Rhea kembali ke dapur untuk membantu Ellia membuat minuman. Sebenarnya Rhea merasa tidak enak karena setiap harinya dia bermain ke rumah Ellia. Rhea suntuk saja di rumah dan lagi Rasya juga jarang main. Selalu ingin pergi ke rumah Ellia. Rhea takut jika mengganggu istirahat Ellia. Meski wanita itu bilang tidak apa-apa.

Rhea menatap Ellia yang sedang sibuk dengan gawainya. Sementara air yang sedang dia rebus sudah mendidih. Rhea pikir, Ellia sedang sibuk karena ada pesan penting sampai tidak dengar suara dari teko yang menandakan air sudah mendidih.

Rhea mematikan kompor dan segera menuang air panas ke dalam gelas berisi kopi juga susu untuk anak-anak.

"Rhea?" Ellia tersentak ketika melihat Rhea berada di belakangnya.

Rhea terkekeh, "Biasa aja, gue bukan setan!" ledek Rhea.

Ellia meringis, "Maaf ya aku tadi lagi bales chat dari temen," kata Ellia.

Ellia memang tidak berbohong. Jika dirinya sedang membalas pesan dari teman Ellia yang sedang curhat. Juga membalas pesan dari ....

Artha.

"Ngapain minta maaf sih, El. Udah yuk kita ke depan," ajak Rhea. Membawa nampan berisi dua gelas kopi hitam dan dua gelas susu hangat untuk Khai juga Rasya.

Wajah Ellia terlihat berseri ketika membaca kembali chat dari Artha. Ellia mulai terbiasa dengan panggilan dari Artha. Ellia tahu ini salah, tapi Ellia ingin menikmati ini semua. Ellia sudah terlanjur memiliki perasaan yang dalam. Meski Ellia tahu jika dimasa lalu Artha telah menyakitinya.

Hal yang membuat Ellia dilema. Jika mengingat kembali ucapan Artha tadi tentang masa lalu Ellia, rasanya Ellia ingin pergi. Namun, lagi dan lagi Ellia kalah dengan perasaannya kepada Artha.

Padahal mereka belum ada sebulan berkomunikasi.

"Susunya diminum dulu," ucap Rhea.

Membuat Ellia tersadar dari lamunan.

"El, gue perhatiin dari tadi lo tuh bengong mulu. Ada apa?" tanya Rhea. Membuka kotak berisi pisang goreng yang tadi dia pesan. Tempatnya tidak jauh dari rumah Ellia.

Ellia menatap Khai dan Rasya yang sedang duduk di lantai teras sambil meminum susu. Rasanya Ellia merasa bersalah jika harus meneruskan hubungan dengan Artha. Bagaimana nanti kalau Kellan tahu?

Ellia ingin menyerah saja. Meski baru hari ini Ellia menikmati perlakuan lembut Artha.

"Nggak ada apa-apa kok," kilah Ellia.

Mana mungkin Ellia bercerita kepada Rhea tentang masalah yang dia hadapi. Bisa-bisa Rhea akan menjauhinya nanti. Ellia tidak peduli Rhea akan menjauh karena dia sudah terbiasa mendapatkan teman yang hanya penasaran saja. Namun, Ellia kasihan dengan Khai, pasti tidak memiliki teman bermain lagi.

"Lo ... Bakal jauhin gue nggak sih nanti? Kalau lo tahu tentang gue!" tanya Ellia.

Sudah hampir satu tahun dekat dengan Rhea, Ellia tetap ragu untuk terbuka dengan wanita itu. Meski Rhea selalu terbuka kepada Ellia tentang semua masalahnya. Ellia hanya bisa membantu dengan membiarkan Rhea main ke rumahnya. Membiarkan Rasya makan camilan karena Rhea bilang Rasya jarang jajan.

Rhea selalu kesulitan ekonomi karena gaji sang suami harus berbagi dengan mertuanya yang pelit. Ellia bukan orang kaya, dia tidak bisa membantu dengan uang. Kellan bekerja di sebuah pabrik pengolah makanan dengan gaji UMR. Ya, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan mencicil rumah minimalis mereka. Ellia selalu bersyukur dengan semua yang Ellia dapatkan. Itu sebab rejeki Ellia selalu mengalir.

Ellia sering membantu meski pun dibalas dengan air tuba. Ellia tidak pernah masalah dengan hal itu. Ellia berniat membantu saja, terserah orang mau membalas seperti apa.

Toh dimata para tetangga Ellia, wanita itu selalu salah dan selalu menjadi bahan gunjingan. Ellia sudah tidak peduli dan tidak lagi berusaha baik kepada mereka yang telah memporak-porandakan kehidupan Ellia.

"Gak akan, El. Gue beruntung malah bisa kenal lo. Gue bisa cerita semua masalah gue ke elo dan yang lebih bikin gue bahagia tuh ya sekarang ini. Gue punya alasan buat main setelah Rasya sekolah. Malah gue takut lo yang jauh karena pasti bosen gue main terus ke sini."

Ellia mengambil satu pisang goreng yang masih hangat lalu menikmatinya dengan secangkir kopi. Menatap Rasya yang senang karena bisa minum susu. Bahkan Rasya terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.

Rasya hanya bisa berteman dengan Khai. Sementara Khai mudah bergaul dengan siapapun, tapi Khai selalu menghargai Rasya dan tetap mau mengajak Rasya bermain. Khai tidak pernah pilih-pilih dalam berteman.

"Susunya enak, Mama jarang beli susu." Mendengar ucapan Rasya membuat hati Rhea sakit.

Ellia mengusap lengan Rhea, "Susu Khai masih banyak. Nanti bawa saja ya buat Rasya."

Rhea dengan cepat melambaikan kedua tangannya, "Iiih enggak-enggak! Apaan sih, El. Gue ke sini mau main aja. Nggak mau minta apapun." Rhea kemudian beralih menatap Rasya. "Rasya, malu-maluin aja!" ucap Rhea.

Membuat Rasya menjadi menundukkan kepala. Beruntung Khai cepat tanggap dan langsung mengalihkan bermain. Ellia tersenyum menatap Khai yang selalu bisa membaca kondisi.

"Jangan dimarahi, wajar anak-anak bicara seperti itu, Rhe."

"Gue nggak pernah bosen kok lo main kesini. Gue jadi punya teman ngobrol," sambung Ellia.

Jika ditanya berapa teman dekat Ellia? Jawabannya hanya dua. Sebab Ellia tidak suka memiliki banyak teman. Meski sedikit tapi berkualitas dan membuat hati Ellia nyaman.

"Lo kenapa sih, El? Jujur gue sebenernya bingung sama lo," tanya Rhea ragu.

Takut kalau Ellia akan marah.

"Kenapa apanya?" Ellia justru kembali bertanya tanya menjawab pertanyaan Rhea.

"Kebiasaan ih, kalau jawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi," gerutu Rhea. Menyeruput kopi hitamnya.

Siang ini sangat terik, sebelum makan siang mereka menikmati camilan terlebih dahulu sambil menunggu pesanan datang. Ellia baru saja mendapatkan rejeki dari Kellan. Jadi dia gunakan untuk memesan makanan saja. Lagipula masakan Ellia sudah habis tadi pagi. Ellia hanya memasak sedikit. Untuk bekal Kellan dan sarapan Ellia sepulang mengantarkan Khai sekolah.

"Ya lo aneh, nanya gue kenapa kan bingung jawabnya."

Rhea menggaruk pipinya yang gatal, "Iya ya. Maksud gue ... Lo kenapa sih suka tiba-tiba termor dan mual. Terus waktu acara lomba di mall. Ada apa?"

Ellia terdiam. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Rhea. Apakah Rhea akan tahu jika Ellia memang tidak baik-baik saja sebab kebanyakan orang tidak paham dengan apa itu gangguan mental.

Bersambung....

Hay, salam kenal dari Ala yaaa. Buat kalian yang baca novel ini, jangan lupa kasih Ala like, komen dan subscribe yaaa. Biar Ala semangat nulisnya. Terima kasih. ☺️☺️

1
Nani Naya
ga boleh gitu ah,tar kalau ketahuan pasangan masing2 baru nyesel
Alaish Karenina: selingkuh itu indah bukan? 🙄
total 1 replies
Agatha cute📴
saling support yuk kak...
mampir di cerita ku ya..
Alaish Karenina: siap kakak. terima kasih sudah mampir.
total 1 replies
Nani Naya
El jangan selingkuh
Alaish Karenina: terlanjur 😁
total 1 replies
Nani Naya
jangan selingkuh El 😂
Alaish Karenina: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nani Naya
mantap 👍
Alaish Karenina: terima kasih 🤗
total 1 replies
Nani Naya
karya baru ya kk, semangat ya 💪💪
Alaish Karenina: iya bener. makasih support nya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!