Demi bertemu sang ibu, Liya berlari ke portal. Akan tetapi, jiwanya malah berpindah ke dunia hewan. Di sana, dia terkejut mendapati tubuh yang dia tempati sangat gendut berbeda dengan tubuh aslinya. Tabiatnya buruk dan malah mendapatkan empat suami hewan yang ingin membunuhnya karena perjodohan dewa monster. Dengan kematian, maka perceraian bisa terjadi.
"Tidaaaaaaaaak!" Liya menjerit keras, yang dia inginkan bertemu ibunya atau kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Mengikat Loki
"Loki! Apa yang kau lakukan, kau bisa membunuh Liya!" Pidi mencengkram kuat pundak pria itu dan menarinya ke belakang.
"Diam, biar saja betina jelek ini mati! Menjijikkan!" Dia mencekik semakin erat.
Bugh! Pidi meninju wajah Loki. "Kau gila ya! Kalau kau mau mati dan menanggung kesakitan, sakit saja sendiri, jangan bawa-bawa kami. Putus saja urat nadi di pergelangan tanganmu, atau sembelih lehermu. Betina jangan kau sakiti." Dia berkata dengan tatapan tajam, telinga harimaunya tegak, buku ekornya berdiri.
"Kau membela dia!" Cengkraman di leher Liya di lepas. Tubuh gendut Liya ambruk, dia mengambil nafas panjang setelah bisa bernafas. Hampir saja tadi dia pingsan karena kekurangan oksigen, untung ada Pidi, dia bisa bernafas lagi.
Loki memutar tubuhnya menghadap Pidi, menantang. Wajahnya kacau, taringnya keluar panjang dua, bulu rubahnya mulai muncul di punggung, berdiri. Jelas memberi perlawanan balik pada Pidi.
"Tentu. Kau menyakiti dia, juga akan menyakiti tiga jantan lainnnya, bukan kau seorang saja yang merasa sakit!" jawab Pidi. Suaranya mengeram tajam.
"Cuih!" Loki meludah marah ke samping. "Baru di sogok makanan, kau sudah menjilat!" serunya.
"Aku tidak pernah menjilat, aku bicara yang sebenarnya. Apa hal yang membuat kau ingin mencekik dia?" Kuku harimau Pidi mulai keluar panjang berwarna hitam menekuk.
"Kau masih bertanya? Kau tak mencium aroma di tubuhku? Lihat, di sana yang meringkuk. Itu Abyssal si suku duyung, betina kotor nan menjijikan ini bukan hanya memberi aku saja obat perangsang, tapi Abyssal juga!" Loki menunjuk suami Liya yang lain di sudut sana.
"Liya siang dan malam bersama kami, tidak kemana-mana, kapan dia akan memberikan obat di makananmu, di rumahmu, atau pakaian kamu?" jelas Pidi.
"Si4lan! Kau masih membelanya, hah!" Loki mengepalkan tinju dengan energi bertumpu di tinju itu, melayangkan ke arah Pidi. Pidi mengelak dan menangkis serangan lanjutan. Saat hendak membalas, Loki sudah menghilang dari pandangan Pidi.
Bayu baru datang mendengar keributan, dia meletakkan batu di tumpukan batu lainnya. Tanpa berkata, siluman ular itu merubah bentuk tubuhnya ke hewan, beberapa kali lipat lebih besar dari ukuran manusia. Langsung menuju ke arah Abyssal yang tampak kesakitan menahan sesuatu, melilitkan ekornya di tubuh Abyssal. Kemudian, menarik Loki yang hendak saling pukul bersama Pidi.
"Aaah, kau mau ikut campur juga? Kau juga akan membela betina itu?" Loki mencakar tubuh ular Bayu. Memberontak!
"Liya, dua orang gila ini menurut kamu bagaimana?" Bayu bertanya.
"Ikat saja dua-duanya di pohon mangga itu, beri jarak dengan ikatan sampul mati, agar tidak lepas dan tidak berbicara aneh-aneh, aku mana sempat memberi orang obat, terlalu percaya diri aku ingin kawin dengan mereka!" Liya meraba leher berlipatnya. Perih sekali.
Pidi mendekat. "Boleh aku lihat, mungkin aku bisa menyembuhkan memar merah di leher kamu Liya."
Liya mengangguk, dengan elemen tanah level tinggi yang dimiliki oleh Pidi, hanya dengan menyentuh tipis dan pelan, leher itu sudah terasa lebih baik.
Dan, Ting! Notifikasi ruang penyimpanan Liya kembali memberikan informasi. Ruang dimensi elemen tanah level satu terbuka!
Mata Liya melotot kaget, ruang penyimpanannya aneh sekali. 'Jangan-jangan, jika aku saling bersentuhan dengan suami hewanku, kekuatan bertambah? Bagaimana kalau aku coba!'
Liya memegang tangan Pidi. "Terimakasih banyak."
Ting! Ruang dimensi energi level satu terbuka!
'Eh, energi? Bukan elemen lagi? Apa itu, beda ya?' Liya menyentuh tangan Pidi sekali lagi, tapi tidak ada notifikasi. 'Eh, kok nggak bisa?' Liya kembali menyentuh yang lain, sekarang lengan. Sama, tetap tak ada bunyi notifikasi ruang penyimpanan.
Hahahaha! Liya tertawa dalam hati, 'sepertinya sentuhan ini tidak bisa sembarang juga, harus ada tujuan dan makna, baru bisa menaikkan level.'
Pidi yang disentuh Liya tersenyum kecil, tidak marah. "Kamu mau menyentuh yang lain?" tanyanya. Memamerkan otot perut. Waduh, Liya langsung cuci mata.
Liya menggeleng cepat setelah beberapa detik melihat otot perut yang bagus. "Hehehe, maaf ya, aku hanya merasakan otot tangan dan lengan kamu Pidi, soalnya bisa mengalahkan dia. Aku padahal tadi sudah melawan cengkraman nya, tapi tak bisa."
'Aku juga kuat, kenapa tidak merasakan tangan dan lenganku juga?' gumam Bayu dalam hati, iri, dia juga kuat, bukan Pidi saja.
"Tenaga jantan dan betina itu berbeda, Liya."
"Hm, begitu ya. Mereka berdua aneh sekali, suka menuduh aku, padahal aku tidak berbuat apa-apa, kemarin juga begitu, menyebalkan!" Liya sambil mengomel, tangannya dengan cekatan menyajikan makanan di atas tikar rumput.
"Ayo kemari kita makan Bayu, Pidi!" ajak Liya.
Mata Pidi dan Bayu berbinar. Suka sekali.
"Bayu, Pidi, kalian sudah gila ya, demi makanan memperlakukan aku dan Abyssal seperti ini!" teriak Loki yang di ikat dengan Abyssal di pohon mangga. Ikatan ini dengan akar kayu berlapis energi Bayu, energi ular, jadi kuat, erat dan tak bisa di lepaskan! Loki benar-benar tidak terima.
"Liya, ini enak sekali!" Bayu benar-benar rakus, memasukkan bermacam-macam makanan ke dalam mulut, sisi pipi kanan dan kirinya penuh sekali. "Nyanyanya!" Entah apa selanjutnya yang dia katakan dengan mulut penuhnya, tangannya memberikan kode jempol dengan kepala mengangguk-angguk, ekor ularnya menari-nari, melilit membuat simpulan bergelombang.
Plak! "Habiskan dulu makanan dimulut kamu, baru bicara lagi. Dasar ular rakus!" Pidi memarahi sambil menepuk tangan Bayu yang hendak mencomot jatah belut bakarnya.
Belut goreng saat di kunyah kriuk-kriuk membuat Abyssal yang setengah sadar akibat dosis obat perangsang menitikkan air liur, itu terlihat enak sekali. Di tambah Liya kembali membakar kulit rusa yang berlemak, berdesis saat minyaknya menetes ke arang menyala. Harum sekali.
Malam ini, bukan hanya tetangga suku angsa yang terpikat aroma makanan, tapi tetangga suku tupai, suku landak dan suku ular, mereka mendekat dan mendapati tatapan tajam dari Bayu dan Pidi.
"Pidi, Bayu, lepaskan ikatanku! Kalian gila, demi makanan rela menjatuhkan harga diri!" Loki kembali berteriak dan meronta-ronta. "Aaah!" Nafasnya semakin panas dan memburu.
"Sebaiknya, siram dia dengan air sungai sampai dingin, atau jika ada obat penenang, beri mereka berdua obat itu!" Liya menatap Pidi dan Bayu.
"Sudah aku periksa, obat ini dosis tinggi, tidak bisa terobati hanya dengan berendam, ini menghancurkan level kultivasi jika tidak bertahan. Mereka berdua akan merasakan kesakitan, hanya bisa menahan dan menekan dengan tenaga dalam mereka masing-masing atau dengan berkawin," jelas Bayu.
"Itu tidak mungkin!" jawab Loki, Abyysal dan Liya serempak.
"Cih, jangan sok tarik ulur, padahal kamu senang Bayu mengusulkan itu, kamu sangat ingin kawin dengan kamu sampai memberikan kamu obat hampir tiap malam!"