Alena Aulia berhasil masuk ke Dirgantara Tv, berkat rekomendasi Doni, sang produser utama, setelah kejadian tabrakan tidak sengaja di kedai kopi.
Namun, keberuntungan itu berubah menjadi ancaman saat Devano Dirgantara, CEO yang perfeksionis namun humoris, menemukan kejanggalan dalam prosedur rekrutmen Alena.
Alih-alih memecatnya, Devano yang terkesan dengan kinerja brilian Alena memutuskan untuk mengawasinya secara langsung. Interaksi intens di kantor menciptakan percikan cinta yang unik, Devano yang dominan seringkali luluh oleh kecerdasan sekaligus kecerobohan Alena. Mereka pun terjebak dalam hubungan rahasia demi menjaga profesionalisme di tengah ketatnya aturan korporat.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Devano dipaksa menjalani perjodohan dengan artis papan atas demi kepentingan bisnis perusahaan, bagaimana kelanjutan hubungan Devano dan Alena? mampukah cinta mereka bertahan?
Follow Me:
IG: author.ayuni
TT: author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Senyum yang sempat tersungging di bibir Vano mendadak luntur. Ia berdehem pelan, berusaha mengembalikan raut wajah profesionalnya dalam sekejap. Sosok pria paruh baya berdiri tegak di hadapannya. Pak Wiguna tidak pernah datang tanpa alasan, dan kehadirannya di depan pintu lift pribadi Vano biasanya membawa sebuah informasi yang besar.
"Papa sudah menunggu sepuluh menit di dalam," ujar Pak Wiguna.
"Ada apa, Pa? Tumben gak ngabari dulu," jawab Vano sambil melangkah keluar dari lift, mempersilakan ayahnya masuk kembali ke dalam ruang kerjanya yang luas.
Vano duduk di kursi kebesarannya, namun kali ini ia merasa tidak senyaman biasanya. Pak Wiguna duduk di sofa kulit, meletakkan sebuah majalah bisnis dan beberapa lembar profil artis di atas meja kaca. Di sana, wajah Chintya terpampang nyata cantik, glamor, dan sedang berada di puncak kariernya.
"Rating Dirgantara TV memang stabil, tapi kita butuh daya dorong lebih besar untuk ekspansi ke pasar internasional. Aliansi strategis itu perlu, Vano. Bukan cuma soal bisnis, tapi soal citra keluarga," buka Pak Wiguna tanpa basa-basi.
Vano sudah menduga arah pembicaraan ini. "Kalau soal program, kita sudah ada kontrak dengan Chintya untuk beberapa acara besar, Pa. Tidak perlu ada tambahan aliansi lain."
"Ini bukan soal kontrak kerja," potong Pak Wiguna.
"Keluarga besar kita dan keluarga Chintya sudah bertemu semalam. Kamu tahu posisi ayah dan ibunya yang memegang kendali atas beberapa agensi iklan terbesar. Pertunangan kamu dengan Chintya akan membuat saham Dirgantara TV melambung tinggi dalam semalam."
"Aku gak bisa, Pa. Aku punya standar sendiri untuk urusan pribadi," ucap Vano dengan nada rendah namun tegas.
"Standar?" Pak Wiguna tertawa sinis. "Standar kamu itu harusnya setinggi gedung ini, Vano... Chintya adalah wanita yang selevel dengan kamu, Dirgantara TV akan sangat aman jika kamu menikahinya."
Pak Wiguna berdiri, "Pikirkan matang-matang, Vano. Jabatan CEO ini bukan cuma soal kecerdasan kamu, tapi soal dukungan relasi yang Papa bangun. Jangan hancurkan semuanya demi keegoisan kamu."
Setelah ayahnya keluar dan pintu tertutup rapat, Vano menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kulitnya yang tinggi, memejamkan mata rapat-rapat. Ruangan yang baru saja terasa penuh energi positif setelah ia melihat wajah Alena, kini mendadak terasa dingin dan asing.
Siapa yang tidak mengenal Chintya? Wajahnya menghiasi papan reklame di sepanjang jalan protokol ibu kota. Dia adalah standar kecantikan nasional saat ini, elegan, berpendidikan tinggi, dan memiliki jutaan penggemar yang memujanya. Secara kasat mata, Chintya adalah tujuan bagi setiap pria sukses.
Menikahinya berarti mengamankan takhta, memperkuat saham, dan menjadi pusat perhatian media secara positif.
Namun, bagi Vano, Chintya hanyalah seorang artis yang biasa menghiasi layar kaca, tidak lebih. Tidak ada getaran, tidak ada rasa penasaran, dan tidak ada kehangatan yang ia rasakan setiap kali mereka bertemu dalam beberapa acara media.
Pikirannya justru melayang kembali ke lantai bawah, ke meja nomor dua dari pojok ruang produksi. Ia teringat bagaimana Alena tampak begitu fokus hingga tidak menyadari kehadirannya. Ia teringat jemari Alena yang lincah menyusun kalimat. Ada sesuatu yang jauh lebih menarik pada cara Alena mengernyitkan dahi saat berpikir, dibandingkan dengan senyum Chintya yang selalu terjaga di depan kamera.
Kenapa harus dia? batin Vano gelisah.
Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia, seorang Devano Dirgantara, bisa merasa berdebar hanya karena melihat seorang asisten produser cekatan yang ia miliki. Ketertarikannya pada Alena terasa nyata, namun... berbahaya.
"Papa benar-benar tahu cara merusak suasana," gumamnya sinis sambil menatap profil Chintya di atas meja.
***
Kembali ke lantai produksi, Alena sedang berbicara dengan kru memastikan program selanjutnya kembali lancar. Kia mencolek Alena.
"Makan siang dimana, Len?" tanya Kia sedikit berbisik.
"Kantin ayo.. Mau pesan juga ayo"
"Kantin aja deh.."
Alena langsung mengangkat dua jempol tangannya sekaligus. Dan kembali fokus dengan kru siaran. Program kali ini adalah siaran berita siang, seorang pembaca berita sudah siap akan masuk studio.
"Mbak..mbak.. Sebentar.. " panggil Alena kepada seorang pembawa acara berita.
"Oh ya" pembawa acara berita yang bernama Mega menghentikan langkahnya.
"Bisa di cek Clip On nya, Mbak?"
Mega langsung mencoba dan berbicara.
"Oke.. Sudah aman ya.."
"Oke siip Mbak.." Mega kembali berjalan menuju studio untuk melanjutkan siaran.
Dari balik ruang kontrol yang dibatasi kaca kedap suara, Doni berdiri sambil menyesap kopi hitamnya. Matanya tidak lepas dari monitor yang menampilkan Alena. Ia memperhatikan bagaimana Alena dengan cekatan berkoordinasi lewat handy-talky dengan tim lapangan, lalu dalam hitungan detik kembali ke monitor untuk merevisi naskah yang dirasa kurang pas, lalu berkoordinasi dengan kru dan host.
Doni tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka bagi seorang produser utama yang biasanya hanya tahu cara berteriak menuntut rating.
Gila ini anak. Gue nggak salah pilih, puji Doni dalam hatinya.
Kehadiran Alena telah mengubah banyak hal di timnya. Tekanan yang biasanya membuat Doni darah tinggi seperti naskah yang berantakan, ego artis yang tak terkendali, atau jadwal yang meleset, perlahan-lahan mulai berkurang sejak Alena memegang kendali sebagai asisten produser.
Dulu, Doni harus memeriksa langsung setiap kata dalam naskah sebelum masuk ke meja news anchor atau host. Tapi sekarang, ia cukup membaca sekilas draf dari Alena dan seringkali langsung memberikan jempol tanpa perlu revisi.
"Mas Doni, segmen tiga sudah aman. Artisnya sudah setuju dengan perubahan durasi, dan naskah sudah di-upload ke prompter," ujar Alena melalui interkom, membuyarkan lamunan Doni.
"Oke, Len. Bagus. Lo langsung standby di samping panggung ya buat segmen penutup nanti," jawab Doni dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Doni menghela napas lega. Ia menyadari bahwa separuh dari beban stresnya di Dirgantara TV seolah terangkat sejak Alena bekerja bersamanya. Alena bukan tipe karyawan yang hanya menunggu perintah, dia adalah tipe yang menyelesaikan masalah bahkan sebelum masalah itu sampai ke telinga Doni.
"Lo pantes buat naik langsung jadi produser Al, tapi.. Tunggu dulu deh, Vano gak mungkin setuju sama ide gila gue yang gini, yang jelas sebagai atasan lo langsung, dan selama gue masih kerja di Dirgantara TV, gue bakal pertahanin lo disini, Len" guman Doni dalam hati.
...💘💘💘...
Jangan lupa untuk selalu dukung karyaku yang ini ya.. Dengan cara vote, like dan komennya ya... ❤️
cintamu gk bertepuk sebelah tangan🤭
lanjut up kak🙏🏻