Humaira adalah seorang gadis Sholehah dan baik hati. Namun, dunia dan segala impiannya seketika hancur disaat kesuciannya direnggut oleh lelaki yang tidak dikenalnya.
Sejak saat itu Humaira pergi meninggalkan semua impiannya dan sejak itu pula hatinya mati untuk menerima kehadiran seorang lelaki. Akan tetapi takdir kembali mempertemukannya dengan lelaki yang telah menodainya dan semuanya semakin rumit ketika lelaki itu hadir sebagai mempelai pengganti untuknya.
Faizan, lelaki tampan yang terjerat pada dendam masa lalu hingga tega merenggut kehormatan seorang wanita yang baru ia kenali. Rasa bersalah di masa lalu membawanya kembali untuk menebus dosanya.
Akankah Faizan mampu meluluhkan hati Humaira yang sudah lama mati itu?
Akankan ia mampu menggapai cinta Humaira dan menebus semua kesalahannya di masa lalu?
IG: @thewafiqhawa_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wafiq Hawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Usai menyelesaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, Humaira kembali mengedarkan pandangannya ke sisi luar rumah. Sesekali senyumannya terukir manis disudut bibirnya. Belakangan ini dengan bertambahnya usia kandungannya, Humaira lebih banyak tersenyum. Ia tak lagi terlihat seperti mayat hidup seperti pertama kali datang kesini. Kata-kata Bi Asih waktu itu seakan menampar dan menjadi motivasinya untuk bangkit dari keterpurukan.
“Bik, kayaknya Humaira kepengen rujak, deh,” ucapnya sambil mengelus-elus perutnya yang semakin membuncit.
Bik Asih mengerutkan keningnya. “Tapi ini masih pagi banget, Neng. Gimana kalau makan yang lain dulu, entar kalau makan rujak sekarang perut Neng Maira bisa sakit,” jawab Bik Asih sambil melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 05.40.
Wanita itu merasa ini masih terlalu pagi untuk Humaira mengonsumsi rujak. Dia tidak mau nantinya hal itu menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan pada Humaira dan kandungannya.
“Ya sudah, gak papa kok, Bik. Maira masih bisa nahannya kok, Bik,” balas Humaira sambil menyunggingkan senyumannya. Walaupun ia menginginkan itu, tapi menunggu sedikit lebih lama rasanya ia masih bisa menahannya. Ia juga tau ini masih terlalu pagi untuknya memakan itu.
Tangan kirinya tak henti-hentinya mengelus perut buncitnya itu, sementara tangan kanannya terus saja menggulir butiran tasbih yang ada di genggamannya. Bibir indah itu tak berhenti melafalkan asma-asma Allah. Pandangannya masih saja memandang takjub pada pemandangan yang tengah memanjakan matanya. Kini ia merasa sangat bersyukur, ternyata masih begitu banyak nikmat Allah yang tidak pernah ia anggap penting. Dirinya terlalu lama larut dalam kesedihannya hingga lupa cara bersyukur dengan apa yang ia miliki.
Sambil menunggu waktu yang pas untuk dirinya memakan rujak, Humaira memutuskan untuk bersantai di teras rumah sambil menikmati sarapan paginya. Benar kata Bi Asih waktu itu, tidak akan ada yang bisa menghina ataupun menganggap rendah Humaira selama ia masih ada di samping Humaira saat ini. Bisa dilihat oleh Humaira sendiri betapa ramahnya orang-orang disini terhadap dirinya.
“Masyaallah. Bumil yang satu ini memang beda yan, Bu. Pagi-pagi udah duduk sambil dzikiran,” ucap salah satu dari ibu-ibu yang melintas di depan rumahnya.
“Bu Asma bisa aja,” jawab Humaira tersenyum dengan malu-malu. Ia mulai beranjak dari kursi yang ia duduki agar lebih sopan untuk menyapa kembali para ibu-ibu itu.
“Semoga lancar sampai lahiran ya, Nak Maira. Salut banget ibu ngeliat kamu.” Sambung ibu-ibu yang lainnya. Begitu ramah dan penuh kehangatan itulah yang dia rasakan selama menetap di desa ini.
“Aamiin. Terima kasih untuk doanya ya ibu-ibu.” Humaira terus saja melebarkan senyumnya kepada para ibu-ibu itu.
Berjarak beberapa kilometer dengan dirinya, kini Faizan tengah menatap kosong pada gelas yang ada dihadapannya. Faizan menghela napasnya sejenak. Ia benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana dan dimana ia bisa mencari wanita itu.
“Nar, lo beneran gak tau khalisha ada dimana?” tanya Faizan kembali memastikan. Kali ini dia merasa sudah benar-benar kehilangan jejak dari wanita yang dicarinya selama ini.
“Sejak satu bulan setelah perta ulang tahun Dinar itu, khalisha menghilang gak tau kemana, Bang. Dinar udah nyoba buat datang ke rumahnya tapi tetap gak ada. Keluarganya juga udah gak tinggal disitu lagi.”
Ya, sejak memutuskan menyembunyikan Humaira ke Bogor, keluarga itu pun memutuskan untuk pindah. Mereka tidak ingin tetap merasa nyaman di rumah yang penuh dengan kenangan bersama Humaira itu sedang Humaira tengah melalui sesuatu yang sangat berat seorang diri.
“Emangnya ada masalah apa sih, Bang?” sambung Dinar.
Ia semakin penasaran sebab Faizan dan abangnya selalu saja menyuruhnya untuk mencari tau dimana keberadaan Humaira saat ini. Tanpa di suruh oleh kedua laki-laki itu pun Dinar sudah pasti akan mencarinya, karena bagaimanapun Humaira adalah sahabatnya. Dinar pun tidak tau kemana perginya Humaira dan keluarganya. Mereka seakan hilang di telan bumi. Dihubungi pun tak bisa sama sekali.
“Lo masih kecil, gak usah kepo,” potong Radit sebelum membiarkan Faizan menjawabnya. Ia tak ingin adiknya ini tau apa yang terjadi sebelumnya pada sahabatnya itu.
“Udah, Iz. Kita ke tempat biasa aja,” sambung Radit mengajak Faizan untuk meninggalkan rumahnya dan mereka berdua bergegas meninggalkan Dinar.
Selama di perjalanan, mereka berdua lebih banyak berdiam diri. Sesekali Faizan mengusap kasar wajahnya. Penampilannya saat ini benar-benar jauh dari kata penampilan Faizan yang biasanya. Ia tak lagi memperdulikan bagaimana penampilannya dan bagaimana orang-orang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Faizan yang dulunya sangat rapi dan terkenal dengan ketampanannya sekarang seakan sudah mati dan berganti dengan sosok Faizan yang urak-urakan.
Hingga akhirnya decitan ban mobil yang mereka bawa terdengar menggesek jalanan pertanda mereka sudah sampai. Mereka memutuskan untuk masuk ke dalam restoran. Sembari menunggu teman-teman mereka yang lain sampai, Faizan masih saja tampak berfikir tentang apa yang akan ia katakan. Ya, mereka berdua sebelumnya sudah memiliki janji untuk berkumpul seperti dulu lagi di tempat ini. Tapi ternyata mereka sampai lebih dulu dari pada yang lain.
“Dit, sekarang gue harus gimana?” tanya Faizan dengan suara yang bergetar. Kini ia benar-benar terlihat begitu lemah.
Sambil menunggu kedatangan yang lain Faizan dan Radit mencoba untuk mencari solusi untuk masalah yang dialami Faizan. Sejujurnya ia juga ikut merasakan kegusaran Faizan dalam menyelesaikan masalah ini. Menjadi satu-satunya sahabat Faizan yang mengetahui persoalan ini, dia berusaha untuk membantu sebisa yang dia bisa.
“Gue benar-benar nyesal udah ngerusak dia, Dit. Tapi gue gak tau kemana lagi gua harus nyari dia,” sambung Faizan mengaca-acak rambutnya.
"Iz, Lo gak boleh nyerah kayak gini. Gua bakal tetap ngebantuin Lo buat nyari dia. Gua gak akan biarin Lo ngelewatin ini semua sendiri. Karena awalnya gua juga ikut salah dalam hal ini. Seharusnya gua ngehentiin Lo waktu itu. Tapi bodohnya gue, gue gak ngelakuin itu." Radit pun ikut larut dalam penyesalannya. Tanpa disadarinya hal kecil yang seharusnya ia lalukan dulu bisa mencegah hal beruk ini terjadi.
"Menurut Lo gue masih ada kesempatan buat ketemu dia dan minta maaf sama dia? Gue benar-benar gila, kenapa bisa-bisanya gue merusak dia tanpa gue mikirin dampaknya."
“Maksud lo apa, Iz? Apa yang udah lo rusak?” Belum sempat Radit menjawab ucapan Faizan, Reza lebih dulu masuk ke dalam pembicaraan.
“Siapa?” tanya Reza kembali dengan suara yang sudah meninggi. Diantara mereka semua, Reza lah yang selalu mengingat mereka untuk tetap mendekatkan diri pada Allah. Dia juga yang paling menentang hubungan Faizan dengan wanita dimasa lalu Faizan itu.
agar bs jd pembelajaran, buat anty..
kenangan u.lanjutan bikin nt. jd originalitas awal dpt menjadi pengingat kedepanya.
cha yo
hadist
surah quran
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
syurgamu..tunggu disurga
sama kyk q, kl mudik, ga pernah bawa apa2. krn mikir ntar kl ga ada pinjam puny mama🤣😂😘😍😉😆😅😄😃😁😂
krn always diulang setengahnya.
sbtlnya ga masalah bl chapter pendek, tp isiny berbobot
ttp semangat berkarya
kt mah..oke bae
krn tau bin paham reality shownya so crawded lah..
menulus sbg healing otak
tetap semangat berkarya thoooor