Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Berita Duka
Ada hal yang tidak Zahra katakan kepada Rindu. Alasan yang sebenarnya ia pulang ke Indonesia, yaitu untuk check_up penyakit jantungnya di rumah sakit jantung Harapan Kita. Zahra harus check_up ke rumah sakit jantung Harapan Kita sebulan sekali. Ia tidak check-up ke dokter spesialis jantung selama empat bulan, karena ia berada di Singapura untuk menemani Rindu,
Waktu terus berlalu. Seminggu sudah Zahra pulang ke Indonesia, namun tidak ada kabar berita sama sekali. Rindu tidak berani menelepon Zahra karena takut mengganggu Zahra. Hingga dua minggu berlalu masih belum ada telepon maupun pesan dari Zahra. Akhirnya Rindu terpaksa menghubungi Zahra. Ketika Rindu mengirim pesan, pesannya tidak dibaca oleh Zahra. Kemudian Rindu menelepon Zahra, tapi teleponnya tidak dijawab oleh Zahra. Sampai akhirnya sebulan berlalu Zahra tidak ada kabar berita. Rindu hendak minta tolong ke pamannya untuk menghubungi Pak Haidar papah Nizam. Tapi Rindu takut akan membuat pamannya menjadi cemas. Akhirnya Rindu memutuskan untuk menunggu sampai Zahra datang atau menghubunginya.
Kandungan Rindu sudah memasuki usia lima bulan, sudah waktunya Rindu untuk check-up ke dokter kandungan. Untung sebelum pergi Zahra membayar upah termin kedua, sehingga ia memiliki uang untuk ke dokter kandungan. Sedangkan gaji pembantu dan supir ditransfer langsung oleh Nizam. Tapi untuk biaya dokter dan kebutuhan Rindu sehari-hari, Nizam tidak memberikan uang satu rupiahpun.
“Bayinya dalam keadaan sehat ya, Bu. Berat dan panjangnya badannya sudah cukup,” kata dokter ketika sedang USG kandungan Rindu.
“Alhamdullilah,” ucap Rindu.
Setelah selesai USG, dokter kembali ke meja kerjanya. Rindu bangun dari tempat tidur dan kembali ke tempat duduknya. Dokter memberikan resep obat kepada Rindu.
“Kembali check-up setelah sebulan,” kata dokter.
“Baik, Dok,” jawab Rindu.
Rindu keluar dari kamar periksa, ia berjalan menuju ke apotik untuk menebus resep obat. Setelah membeli obat ia pulang ke rumah.
Ketika dalam perjalanan pulang ia teringat ingin membelikan peralatan sholat untuk paman dan bibinya. Selama tidak ada Zahra, Rindu hanya pergi ke supermarket dan pasar. Itupun ditemani oleh bibi dan supir, karena ia tidak berani pergi sendiri. Tapi kali ini ia ingin membelikan sesuatu untuk keluarganya, jadi ia memberanikan diri pergi ke tempat lain.
“Pak, kita ke Arab street dulu,” kata Rindu.
“Baik, Non,” jawab. Supir memutar arah menuju Arab street.
Rindu berjalan menyusuri pertokoan di Arab street. Ia mencari toko yang menjual pakaian muslim. Akhirnya ia menemukan toko tersebut. Ia membeli baju koko, kopeyah, sarung, mukenah dan gamis untuk paman dan bibinya. Setelah berbelanja pakaian muslim. Rindu mencari toko yang menjual pakaian untuk anak muda. Ia hendak membelikan pakaian untuk adik dan sepupu-sepupunya. Akhirnya Rindu menemukan toko tersebut, ia membeli beberapa pakaian untuk saudara-saudaranya. Setelah selesai berbelanja Rindu kembali ke apartement.
Ketika masuk ke dalam partement Rindu mencium bau masakan. Rindu menghampiri bibi di dapur.
“Sudah matang belum masakannya, Bi?” tanya Rindu.
“Sebentar lagi, Non,” jawab bibi sambil mencucu peralatan masak.
“Saya ke kamar dulu, Bi. Nanti kalau sudah matang panggil saya, ya,” kata Rindu.
“Baik, Non,” jawab Bibi.
Rindu meninggalkan dapur dan menuju ke kamarnya. Ketika Rindu masuk ke kamarnya tiba-tiba ponselnya berdering. Di layar ponselnya tertulis nama Lena. Rindu menjawab panggilan itu.
“Assalamualaikum, Len,” ucap Rindu.
“Waalaikumsalam,” jawab Lena.
“Rindu, apa kabar? Kemana saja? Tidak pernah menghubungi aku lagi,” kata Lena.
“Aku kerja, Len. Jadi tenaga kerja wanita di Singapura,” jawab Rindu.
“Masa sarjana jadi tenaga kerja wanita? Kamu bohong, ya?” tanya Lena.
“Masa aku bohong? Aku kerja di butik,” jawab Rindu.
“Aku kira kamu di sana kerja jadi pembantu atau buruh di pabrik,” kata Lena.
“Oh iya, Rin. Aku mau kasih tau kalau Ibu Zahra sudah meninggal dunia,” kata Lena.
Rindu kaget mendengar perkataan Lena. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas dan dadanya terasa sesak. Rindu duduk di atas tempat tidur. Ingin rasanya ia menangis dengan kencang. Ia hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara.
“Innalillahi wa innailahi rojiun,” ucap Zahra dengan suara yang tidak bisa keluar.
“Hallo, Rin,” kata Lena di telepon.
Namun Rindu tidak menjawab panggilan Lena, ia terus saja menangis.
“Rin, hallo,” kata Lena sekali.
Rindu baru sadar kalau ponselnya masih terhubung dengan Lena. Rindu menarik nafas agar merasa tenang, lalu ia melanjutkan pembicaraannya.
“Hallo, Len,” kata Rindu dengan suara bindeng ciri khas orang menangis.
“Kamu habis menangis ya, Rin?” tanya Lena.
“Jariku terjepit laci meja, sakit sekali,” jawab Rindu berbohong.
“Len, kapan Ibu Zahra meninggal?” tanya Rindu.
“Tadi malam. Meninggalnya di Jakarta di rumah sakit jantung Harapan Kita di Jakarta. Kami semua baru pulang dari pemakaman Ibu Zahra,” jawab Lena.
“Ibu Zahra sudah lama tidak pernah datang ke butik. Pak Nizam yang sering datang ke butik. Menurut informasi yang kami dengar Ibu Zahra ada di Singapura. Katanya berobat di Singapura, tapi kenyataannya Ibu Zahra meninggal di rumah sakit di Jakarta,” kata Lena.
“Eh, tadi sepertinya aku lihat paman dan bibi kamu serta sepupu kamu yang laki-laki di pemakaman Ibu Zahra,” kata Lena.
“Siapa nama sepupu kamu yang laki-laki?” tanya Lena.
“Haikal,” jawab Rindu.
“Kenapa paman dan bibi kamu ada di sana? Apa mereka kenal dengan Ibu Zahra?” tanya Lena.
“Mungkin Haikal sedang dekat dengan keluarga Ibu Zahra,” jawab Rindu berbohong.
“Oh begitu, ya?” tanya Lena.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
“Len, sudah dulu. Aku dipanggil sama bos,” kata Rindu, “kapan-kapan kita bicara lagi.”
“Aku juga mau makan baso dulu, karena nanti harus kembali ke butik. Kapan-kapan kita bicara lagi. Assalamualaikum,” ucap Lena.
“Waalaikumsalam,” jawab Rindu.
Rindu meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian ia membuka pintu kamar. Bibi berdiri di depan pintu. Rindu langsung memeluk bibi, Rindu pun menangis.
“Bibi, Ibu Zahra sudah meninggal. Dia meninggalkan Rindu,” ujar Rindu sambil menangis.
Bibi mengusap punggung Rindu.
“Maafkan Bibi kalau Bibi tidak memberitahu Non Rindu. Sebenarnya Bibi sudah tau kalau Nyonya Zahra meninggal dunia, tapi Bibi dilarang memberitahu Non Rindu. Takut Non Rindu jadi shock,” kata bibi.
Rindu melepaskan pelukannya.
“Siapa yang memberitahu Bibi?” tanya Rindu.
“Saudara Bibi yang kerja di rumah Tuan Haidar. Tadi malam dia menelepon Bibi untuk memberitahu kalau Nyonya Zahra meninggal dunia,” jawab bibi.
Rindu duduk di tempat tidur lalu menghela nafas.
“Jadi semua orang tau kalau Ibu Zahra meninggal. Bahkan paman dan bibi saya juga tahu. Mereka hadir di pemakaman Ibu Zahra. Hanya saya yang tidak tau mengenai berita itu,” kata Rindu dengan kecewa.
“Siapa yang memberitahu Non?” tanya bibi.
“Teman saya yang bekerja di butik Ibu Zahra,” jawab Rindu.
Bibi mendekati Rindu lalu mengusap punggung Rindu.
“Sudahlah, Non. Ikhlaskan kepergian Nyonya Zahra,” kata bibi sambil mengusap punggung Rindu.
“Lalu bagaimana dengan saya dan bayi-bayi ini?” tanya Rindu.
“Non berdoa saja. Minta diberi jalan keluar dari masalah ini. Bibi yakin pasti akan ada jalan keluarnya,” jawab bibi.
.
.
.