“Ajudan , cepat penggal kepala wanita itu. Ahahah” perintah Singkasa sambil memutar gelas yang berisi darah segar.
Suara tebasan leher yang dia sukai, darah mengalir deras di dalam kolam raksasa. Ratu Singkasa membenamkan diri menikmatinya. Kecantikan abadi berasal dari darah perawan yang telah dia tumbalkan. Setiap bulan purnama merah, dia tidak pernah berhenti mencari korban. Berita kehilangan para gadis yang di laporkan warga diabaikan oleh para petugas. Hingga pada suatu hari, seorang pendekar wanita berani melawan sampai meruntuhkan kerajaannya.
Siapakah wanita misterius itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSY AL FAZZA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelap gulita
Hotel Kalangga yang sebenarnya sudah tidak beroperasi lagi membuat banyak pandangan silap mata bagi orang-orang sering tertipu dengan bangunannya yang megah. Terkena kabut pekat putih bagai bencana malapetaka di hidup mereka yang kini terjebak di dalam alam lain. Tanpa mereka tau, kota Gersan memiliki desas desus penampakan kerajaan ghaib yang sesekali terlihat pada malam-malam tertentu.
Supir hantu yang setiap hari sebagai supir antar jemput Toton pergi bekerja. Penjaga resepsionis berwujud manusia yang sebenarnya adalah pengawal jin si ratu Singkasa. Penampakan berbagai macam boneka yang sering masuk dan berpindah sendiri itu adalah para arwah-arwah penasaran gadis-gadis yang di tumbalkan. Terlebih lagi penampakan sosok lain yang sering tertangkap dari CCTV.
...💀💀💀💀💀💀💀💀💀...
“Nyonya bisakah engkau sedikit tenang, tidak ada hewan yang kau maksud itu” ucap si penjaga hotel.
“Tapi___”
Empuni kesal berlari menuju lift. Dia masih ketakutan menelepon Toton namun panggilan tidak terjawab. Dia terus menerus menelepon hingga panggilannya terangkat.
“Halo Toton cepat jemput aku sekarang. Aku tidak betah disini sendirian!"
“Empuni ayolah, aku ada rapat penting hari ini. Setelah selesai aku akan langsung pulang. Okey.”
Tuuttt.
Panggilan terputus, Toton menonaktifkan layar ponselnya sambil bernafas panjang. Setelah pertemuannya dengan Singkasa tampak sosok wanita itu selalu terbayang di pikirannya. Wajah cantik Jelita yang kini menjadi sebuah angan pada Toton ingin bertemu dengannya lagi.
“Kenapa aku tidak meminta nomor telponnya ya” gumam Toton.
Supir hantu yang kembali berwujud manusia itu melengos tajam menatapnya. Angan Toton di sepanjang perjalanan tidak terlepas dari wajah Singkasa. Dia seolah terpengaruh hipnotis si ratu mematikan atau terjebak di dalam hawa nafsunya sendiri.
Panggilan nomor ponsel Toton tampak di reject. Empuni kesal membanting handphonenya hingga pecah di atas lantai. Dia sangat stress menatap ruangan yang semakin angker. Melihat sebuah figura arab dan mukenah yang tergantung di dekat lemari, dia menuju ke kamar mandi hendak mengambil air wudhu. Setan yang bergentayangan di atas langit-langit ruangan memperhatikannya. Mereka mnegeluarkan suara-suara aneh. Empuni membentangkan sajadah, dia sudah siap memakai mukenah dan mengangkat takbiratul ihram.
“Allahu Akbar…..”
Angin berhembus kencang, pintu kamar tebanting di sertai suara jeritan. Lampu berkedip, kaca terdengar seperti di cakar oleh kuku yang sangat tajam. Empuni merasa seperti ada sosok hitam besar berdiri di belakangnya. Mukenahnya di tarik paksa oleh sosok setan hingga dia terbentur lantai.
“Arghhh!”
......................
Ting tong_
Ting tong___
Tok, tok.
“Empuni, aku pulang sayang.”
Toton menyentuh gagang pintu yang langsung terbuka. Pintu yang tidak terkunci, lampu padam, suara aneh meringkik keras di salah satu ruangan yang tidak tau dari mana asalnya. Suara Empuni yang di lihat Toton sedang menangis ketakutan di sudut ruangan.
“Hei, ada apa dengan mu?”
Empuni seperti orang kesurupan, dia masih mengenakan mukenah. Bola mata memutih ada garis-garis urat merah menonjol di bagian wajahnya. Dia menyerang Toton, mencekik lehernya hingga Toton menghindar menutup paksa pintu. Tenaga dalam Empuni berhasil mendobrak hingga Toton keluar ruangan. Pria itu berlari mengetuk pintu kamar Singkasa, wanita yang di dalam seperti sudah mengetahui kedatangannya itu memperhatikan wajahnya yang ketakutan.
“Singkasa tolong! Istri ku kesurupan.”
Empuni berhenti melihat Singkasa yang mengeluarkan mata setan melototinya. Seketika Empuni pingsan dengan rahang mengeluarkan cacing yang menggeliat.
“Apa yang terjadi dengannya? Aku menemukannya bertingkah tidak wajar.”
“Tuan Toton tenang lah. Nona Empuni hanya butuh istirahat.”
Empuni ke dapur membuat segelas kopi yang dia panaskan langsung dari kobaran mata iblisnya. Dia menumpahkan muntahan darah dari mulutnya ke dalam gelas.
“Habiskan minuman ini supaya perasaan tuan sedikit tenang” ucap Singkasa bernada manja.
“Terimakasih nona, engkau sangat baik pada ku. Andai waktu bisa di putar kembali__” perkataannya terhenti melihat Empuni mulai membuka mata.
“Di minum dulu selagi masih hangat” Singkasa mendorong tangannya.