Indonesia
NovelToon NovelToon
Guruku Berubah Jadi ... Bocah

Guruku Berubah Jadi ... Bocah

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggrek

Anak yang tak tahu siapa orang tuanya
Budak yang dianiaya dan diperjualbelikan
Hanya bertahan hidup dengan bernapas dan memakan makanan sisa
Setiap hari selalu ada luka dan luka lain yang bertambah

Hingga merasa dunia tak adil, lebih baik mati dari pada terus dipukuli
Di tengah keputusasaan, dia mengulurkan tangannya padaku. Sosok yang berjanji akan melindungiku, memberikanku senyum hangat untuk yang pertama kalinya.

Mungkin, mungkin aku bisa mempercayai meski hanya sekali, toh aku juga sudah berniat untuk mati. Jadi tak ada salahnya mencoba jalur baru bersama dengannya.

Bahagia datang, aku bisa tertawa tanpa beban sekarang. Guruku memberikan banyak cinta dan perhatian. Kupikir itu akan berlangsung selamanya, sampai kejadian itu terjadi ...

Guru ..., aku akan mencari keberadaan mu meski harus membolak-balikkan dunia ini!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Jim berhasil mengobati Rena, adiknya Ian. Gadis kecil itu sudah lebih sering sadar dari pada terus tertidur seperti sebelumnya. Seminggu menjalani pengobatan, Rena sudah mulai banyak berbicara. Yah, walau pun gadis itu lebih sering berhenti sebentar saat merasa sedikit lelah karena terus berbicara.

Julius menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan untuk terus mengecek kondisi Rena. Bocah itu diminta melihat Rena satu jam sekali selama Ian dan gurunya tak ada. Karena terlalu sering bertemu, keduanya cukup akrab untuk saling mengejek dan bercanda. Hal itu kadang membuat Ian merasa kesal karena dia tak bisa bercanda seperti itu bersama adiknya, anggap saja dirinya seorang kakak yang pencemburu. Ian tak peduli sama sekali. Tentu saja remaja itu berterimakasih, tapi kekesalannya itu sudah lain cerita lagi.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Sebulan berlalu, rona wajah Rena sudah menunjukkan kalau gadis itu sudah sangat sehat. Bahkan Rena sudah dari beberapa hari lalu diperbolehkan meninggalkan kamar dan berjalan-jalan di halaman rumah. Tapi tentu saja gadis kecil itu masih dilarang keras melakukan aktivitas berat lainnya, dia hanya boleh duduk atau membaca selama beberapa saat saja. Meski kesal dan tak puas, tapi Rena sudah bersyukur dia bisa menghirup udara segar di luar, bukannya malah terjebak di tempat tidur seharian tanpa bisa mengerjakan apa-apa.

Selesai makan malam, Jim pun menyampaikan niatnya dengan wajah serius. "Aku akan melanjutkan perjalanan sebentar lagi!" katanya mengejutkan semua yang mendengar, bahkan Julius saja kaget dibuatnya. Pasalnya bocah itu tak tahu apa pun sama sekali tentang hal ini.

"Ya?" tukas Ian dengan cepat. "Mungkin aku yang salah dengar, kan?" katanya tak siap berpisah dengan Jim dan Julius.

"Tak bisakah paman di sini saja?" tanya Rena yang sudah merasa kesepian kalau harus di rumah sendirian saat kakaknya pergi bekerja.

"Kamu mendengarnya dengan baik, Ian!" timpal Jim dengan nada suara yang terdengar tenang. "Sayangnya tak bisa, nona cantik. Paman sudah terlalu lama menetap di sini," lanjutnya seraya tersenyum menatap Rena.

"Aku tak keberatan sama sekali, Jim!" Ian menepuk dadanya beberapa kali, memperlihatkan betapa seriusnya dirinya saat ini.

"Aku tahu, hanya saja, dunia yang luas sudah menanti untuk aku jelajahi. Banyak tempat-tempat lain yang belum aku lihat," balas Jim.

Hening, Ian menundukkan kepalanya. Dia tak punya hak mencegah kepergian Jim, tapi entah mengapa dirinya merasa sedih kalau harus berpisah secepat ini. "Ini terlalu cepat," gumam remaja itu dengan suara lirih.

Di sisi lain, mata Rena terlihat berkaca-kaca. Gadis itu siap menumpahkan air matanya kapan saja. "Apa paman pergi karena aku sudah sembuh? Apa aku hanya perlu sakit lagi?" isakan tangis gadis itu terdengar meski sudah berusaha ditahannya.

"Hei, nona cantik. Apa bagusnya menangis untuk pria tua ini?" kata Jim tersenyum tipis. "Juga jangan gampang mengatakan hal seperti itu! Kasihan kakakmu, nanti dia sedih mendengarnya?!" lanjutnya.

"Maaf, kak. Aku tak bermaksud untuk sakit lagi. Aku hanya asal mengatakannya agar paman tak pergi," cicit Rena menyesal.

Ian mengangguk paham, dia juga merasakan hal yang sama. Tak ingin Jim pergi dari rumahnya, tapi apa yang bisa dia lakukan, mereka tak terikat janji untuk terus tinggal bersama selamanya. "Aku akan menyiapkan beberapa keperluan untuk bekal di perjalanan," kata remaja itu mencoba menerima keputusan Jim.

"Terima kasih, Ian," balas Jim tersenyum penuh kehangatan.

"Ingat untuk kembali kalau kamu meras kelelahan, Jim. Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian berdua!" kata Ian berharap suatu hari Jim bakal kembali setelah bosan melakukan perjalanan. Tapi sepertinya itu mustahil bukan.

"Akan kulakukan!" timpal Jim berdiri dari duduknya. "Bocah, kemasi barangmu!" kata Jim menatap Julius. Julius hanya mengangguk, dia mengikuti apa yang gurunya katakan tanpa bersuara sama sekali.

Saat sedang berbenah, Julius pun membuka mulutnya. "Guru, kita akan ke mana setelah ini?" tanyanya asal, yang penting dia bisa mengusir keheningan yang menggantung di antara mereka secepatnya.

"Ke mana pun!" balas Jim cepat. "Melewati hutan yang rimbun, mendaki gunung yang tinggi, dan menyebrangi lautan yang luas. Kita bisa mencoba naik kapal nanti, mungkin," lanjut pria itu tak yakin akan arah tujuan yang akan mereka datangi nanti. "Kenapa? Kamu tak mau pergi dari sini?" giliran Jim yang bertanya.

Julius menggelengkan kepalanya pelan. "Aku suka tinggal di sini, tapi aku akan tetap mengikuti ke mana pun guru pergi. Saat guru mengatakan tinggal, aku akan menetap. Saat guru mengatakan pergi, aku akan ikut!" jawab Julius dengan tampang serius.

"Tak salah aku mengajakmu untuk menjadi rekan perjalananku!" Jim mengusak gemas rambut Julius. Meski terlihat kesal, tapi sebenarnya Julius suka kalau Jim melakukan hal seperti itu. Dia bisa merasakan kehangatan tangan gurunya saat sang guru mengusak rambutnya seperti sekarang. Dia merasa dicintai dan disayangi.

"Kapan kita pergi, guru?" tanya Julius seraya memejamkan mata, menikmati elisan tangan gurunya di kepalanya.

"Kalau tidak besok, ya besoknya lagi," kata Jim belum memutuskan.

Julius mengangguk paham, dia tak lagi bertanya dan fokus mengemas barang mereka.

...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

Dua hari kemudian, Jim sudah siap berangkat. Tinggal menunggu Julius yang katanya sedang berpamitan pada Rena. Jim dan Ian berdiri berdampingan. "Terima kasih untuk semuanya, Jim!" Ian membungkuk berkali-kali, menyampaikan rasa terima kasihnya sebanyak yang dia bisa.

"Ya, bocah! Di saat seperti ini seharusnya jangan membungkuk, tapi saling berpelukan mengucapkan selamat tinggal!" kata Jim menegur.

Ian mengangguk, memeluk Jim dengan cepat. "Sampai bertemu lagi, Jim!" katanya penuh harap. Alih-alih mengucapkan salam perpisahan, Ian malah berharap untuk bertemu lagi di kemudian hari.

Jim mengangguk, dia menepuk-nepuk punggung Ian yang sedikit bergetar, mungkin saja bocah ini sedang menahan tangisnya sekarang. "Baiklah, aku akan kembali kalau ada waktu!" kata Jim menaruh janji. "Aku tak akan pernah melupakan kehangatan rumah yang kamu berikan, bocah!" lanjutnya lagi.

"Guru, aku sudah selesai," sela Julius yang baru saja tiba.

"Ayo, berangkat kalau begitu!" kata Jim melepas pelukannya. "Jangan bekerja terlalu keras, perhatikan Rena, dan jangan tertipu obat yang aneh-aneh lagi!" Ian mengangguk mendengar pesan-pesan dari Jim sebelum pria yang sudah seperti kakak dan ayah itu pergi. "Kalau sakit, buat obat seperti yang aku ajarkan. Tak perlu membeli obat tak jelas yang hanya berisi banyak obat penahan sakit dan obat tidur," bisik Jim lagi.

"Akan kuingat!" kata Ian membalas.

Jim pun melanjutkan perjalanannya yang tertunda terlalu lama di desa ini. Meski begitu, Jim tak menyesal sama sekali. Dia bisa mendapat kenalan dan menolong seorang nona kecil yang cantik.

"Hati-hati di jalan, Jim, Julius!" teriak Ian cukup nyaring.

Jim melambaikan tangannya, keduanya semakin lama semakin menjauh dan tak terlihat lagi setelahnya. "Mari Kita jelajahi dunia ini dengan sesuka hati!" kata Jim pelan.Julius mengangguk ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!