Sesak...
Setelah semua perjuangan dan keringat kami...
Namun, seseorang mengacaukan semuanya hanya karena kedatangannya...
Inilah Awal mula kami menyimpan dendam kepada seseorang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aden Nur Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan (7)
“Ga..”
“Tyaga..”
“TYAGA!!”
BYURR!
Astaga! “Apa-apaan kamu Iliyya!?” Aku terkejut disiram dengan ember berisi air. Refleks melompat, memasang kuda-kuda.
Sekarang malam hari. Aku terbangun karena disiram Iliyya. Gostaf dan si Pemarah memegang lentera ditangannya. Angin sepoi-sepoi lembut menerpa rambutku, awan-awan menggumpal menutupi bulan. Menyisakan langit berwarna biru tua.
Gostaf menggandeng tas sembari memegang lentera menahan tawa menyaksikan aku di siram Iliyya si Pemarah itu.
“Tidak ada musuh di sini Tyaga.” Gostaf balik badan menahan tawa.
Wajahku memerah, segera berdiri tegak.
“Ayo, bawa barangmu. Kita akan melanjutkan perjalanan.” Iliyya melempar baju baru dan meletakkan lentera di sebelahku.
Aku menggaruk-garuk rambut, memasang muka masam. “Ini kan baru malam. Kenapa tiba-tiba kita harus jalan sih?”
“Lebih cepat lebih baik.” Gostaf menimpali.
Aku melepas bajuku yang basah, dan dengan cepat memakai baju yang diberi Iliyya, mengambil lentera di sebelahku. Dan melempar baju basah itu ke muka Iliyya.
SROOM!
Baju itu beku menjadi es, dan dengan cepat mencair. Gostaf melepas jaketnya, berjalan menghampiriku dan memberikannya.
“Dingin.” Senyum Gostaf.
***
Aku menengok sekeliling, berlari-lari kecil menyusul mereka berdua.
“Memangnya kenapa sih kita harus melanjutkan perjalanannya malam ini? Kan pagi nanti juga bisa.” Aku menutupi kepalaku dengan tutup jaket.
Iliyya tetap awas dengan sekeliling, “Jangan banyak tanya. Kau mau kejadian seperti tadi siang? Kita melawan habis-habisan anjing hutan tapi mereka bukannya berkurang, malah semakin banyak.”
“Bukannya predator malam juga ada?” Aku menimpali.
Iliyya tidak menjawabnya. Antara malas menjawab atau memang dia tidak bisa membantah?
Suara burung hantu dan kunang-kunang mengisi lengangnya perjalanan kami. Sesekali terdengar suara katak.
Angin seketika mendadak menjadi kencang, petir bergemuruh membahana bak mengisi keheningan malam.
Aku menarik bahu Gostaf,
“Kenapa? Takut?” Gostaf melihatku, tersenyum tipis.
“Takut? Aku tidak pernah takut ya! Seorang Tyaga takut? Hah! Mimpi!”
“Iya.. Iya..” Jawab Gostaf sekilas.
BLARRR!
Petir secara tiba-tiba menggelegar membuatku refleks meraih apa saja, menutupi wajahku.
“Ekhem..”
“Tidak pernah takut ya..”
Aku melepaskan dekapanku. Mendongak ke depan.. GOSTAF?! Aku segera menjauh, wajahku menghangat. Iliyya melihat sekilas dan hanya bergumam manja. Hei! Siapa yang manja? Aku hanya terkejut!
Lima belas menit berlalu. Rintik-rintik membasahi kami, petir sesekali menggelegar membuat kami lebih awas terhadap sekitar. Tanah menjadi becek, langit semula biru tua menjadi hitam, gelap. Hanya lentera ini satu-satunya sumber penerangan kami.
Gostaf menggantikan Iliyya yang memimpin di depan, berjalan hati-hati, beberapa kali celingak-celinguk melihat pepohonan.
Malam terasa panjang dengan semakin derasnya hujan, tanah menjadi seperti bukan tanah, pakaian basah kuyup, dan petir yang semakin lama semakin membahana memenuhi seisi hutan.
***
Hujan reda. Awan yang seakan menggumpal kembali beredar seperti biasanya, bulan mulai tampak jelas kembali menjadi penambah sumber pencahayaan kami bertiga.
Aku meraih camilan di tas, Gostaf melompat ke dahan pepohonan, memeriksa seberapa jauh dan bahaya apa lagi yang akan datang.
“Berapa lama lagi kita sampai?” Aku mengambil botol minum di tas.
Iliyya menatapku sekejap, kemudian menggeleng, mengangkat bahu.
“Mana aku tahu.”
Tiga menit berlalu, Gostaf datang melompat dari satu dahan ke dahan lain, berjalan di sampingku. Iliyya kembali memimpin jalan.
“Bagaimana keadaannya Gostaf?” Iliyya memulai topik.
Gostaf mengangguk-angguk walaupun tidak di lihat Iliyya, “Sejauh ini aman. Hewan yang lain masih mengungsi ke Gua-gua di dekat mereka.”
“Seberapa aman?” Tanyaku yang masih kebingungan.
“Sampai kita keluar dari hutan.” Gostaf tersenyum, sembari menutup matanya.
Oh... Berarti aman. Tidak perlu khawatir.
Iliyya mengulurkan salah satu tangannya dan menandai beberapa pohon dengan huruf “z” menggunakan kekuatan es nya. “Memangnya ada berbagai macam jenis hewan bisa mengungsi di satu atau dua Gua tanpa memangsa satu sama lain?”
Gostaf mengusap rambutnya, “Aku juga tidak tahu pasti. Tapi menurutku, ada sesuatu yang membuat mereka akur satu sama lain. Mungkin ada sang ‘penunggu’ juga di sini.”
Aku mengangguk pelan, ya walaupun tidak terlalu paham sih.
***
Malam yang panjang terasa singkat jika ada bulan. Akhirnya kami sudah keluar dari hutan “terkutuk” ini. Lalu apa?
Aku menoleh kepada Iliyya, “Lalu, kita ke mana sekarang?”
Iliyya terkekeh menahan tawanya itu, “Lalu kita ke mana? Kau bersemangat sekali Tyaga. Ya istirahatlah. Kita cari permukiman, biasanya ada di dekat sini.”
“Bagaimana kau tahu?” Aku memiringkan kepala.
“Kau lihat pohon-pohon yang besar tadi?”
Aku mengangguk.
“Kau lihat banyak buah lebat?”
Aku mengangguk lagi.
“Mudahnya, di mana ada sumber makanan, di sekitar itulah ada kehidupan. Entah itu hewan kah atau manusia.”
Aku mengangguk sekali lagi.
“Ayo, sekarang kita menuju ke perkotaan,” Mata Gostaf tertuju ke depan.
“Permukiman.” Aku menimpali.
“Ya pokoknya itulah.”
Gostaf melihatku ke samping, “Kau lelah Tyaga?” Gostaf mendadak menggendong tubuhku.
“Arrgghh! Aku tidak lelah Gostaf!” Balasku teriak.
Gostaf menyeringai mengambil lenteraku, “Hehe... Tenang kok, aku masih kuat. Nih, badanku saja bagus kan..”
Arrgghh! Badannya memang bagus, tapi kalau dia menggendongku begini, aku jadi terlihat pendek. Yah... Walaupun aku memang pendek sih, setidaknya sedikit lebih pendek dari Gostaf itu.
Aku memukul-mukul punggung Gostaf, “Hei, ini penghinaan! Aku terlihat seperti anak kecil! Ini penghinaan!”
“Ini adalah dosamu anak kecil. Terimalah penghinaan dari seorang malaikat penyiksa ini.” Gostaf menyeringai sangat lebar.
Gostaf mengeratkan gendongannya, membuatku tak bisa bernapas. “A.. Aku ti.. dak bisa ber.. napas. Goo..”
“Tahan sebentar ya. Tidak lama kok. Ayo Iliyya.”
Mereka melompat-lompat dari satu dahan ke dahan pepohonan lainnya. Iliyya membuat jalur es di tanah dan sepatu es, yang memudahkannya berjalan dengan cepat menyusul Gostaf dari bawah sana. Aku tidak tahan lagi. Hampir muntah. Gostaf terlalu cepat melompat, membuat perutku mual.
Aduh.. Bisa nggak sih lompatnya biasa saja? Seperti sedang di kejar anjing hutan saja...
***
Lima menit lewat sudah.
Iliyya kembali membuat jalan yang dilewatinya sedikit demi sedikit mencair seperti sedia kala, sepatu es nya juga mencair diterpa matahari pagi. Gostaf melompat membelakangi Iliyya. Aku di taruh di atas tanah. Begitu kakiku persis mendarat di tanah, mual sudah tidak tertahankan lagi. Aku muntah sepuasnya tepat di atas tanah yang kupijak.
Iliyya membekukan muntahku, membentuknya menjadi balok, lalu di buang sejauh mungkin. Sisanya, di bersihkan dengan air mengalir.
Iliyya memandangiku tajam, “Dasar manja.”
“Biarin.” Aku menutup mata dan menjulurkan lidahku ke Iliyya.
Begitu aku membuka mataku, BUM senjata berbentuk jarum diarahkan tepat mengenai leherku. Aku terkejut dan refleks melompat kecil mundur satu langkah.
“Jangan baperan lah jadi orang, Iliyya!” Aku kaget setengah mampus tiba-tiba melihat benda tajam ditodongkan persis mengenai leherku. Untung saja tidak ada luka goresan, fiuhh...
puas deh