Andini Putri, gadis yang begitu mencintai kekasih yang ia perjuangkan hingga rela kehilangan banyak uang untuk kemajuan Alfin.
Membiayai kulian S2 Alfin selama 2 tahun di lakukan oleh Andini tanpa protes dan komentar hingga akhirnya Alfin sukses mendapatkan jabatan tinggi di kantornya.
Saat Andini sedang bersama sang bos di sebuah restoran. Tanpa sengaja ia bertemu sang kekasih yang sedang bermesraan dengan gadis lain yang merupakan mantan kekasih Alfin dahulu.
Hancur hati Andini melihat hal itu, apa lagi saat itu juga Alfin memutuskan dirinya dan menghinanya.
Bagaimana cara Andini membalas semua perlakuan Alfin dan selingkuhannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuyuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sore saat waktu pulang kerja tiba, Andini yang sedang bersiap di hampiri oleh Varel yang sudah keluar dari ruangannya.
"Ayo, kita harus cari cincin."
Andini mengangkat pandangannya ke arah Varel lalu melihat jam di tangannya.
"Apa gak bisa lain waktu? Aku ada urusan penting setelah ini sama Dinda," ujar Andini yang merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan uangnya kembali.
"Kapan lagi? Beberapa hari lagi acara sudah akan di langsungkan. Dan hanya cincin yang belum ada."
"Bagaimana kalau besok?" Andini memberi tawaran pada Varel yang menolak dengan segera.
"Nanti malam, jam 7 aku datang."
Andini hanya bisa mengangguk setuju saja dari pada rencananya gagal. Setelah perbincangan singkat itu, keduanya turun bersama ke lantai bawah.
Andini dan Dinda langsung pergi menuju restoran tempat janjian mereka dengan Alfin. Sedangkan Varel yang melihat kepergian mobil milik Andini hanya bisa diam saja.
Bukannya pemuda itu tidak penasaran dengan urusan yang ingin di lakukan Andini dengan Dinda hingga menunda waktu mereka mencair cincin. Varel hanya tidak mau mencampuri urusan Andini sebelum mereka resmi menikah.
Saat ini Andini juga masih belum bisa mengatakan secara pasti kemana dan hendak apa ia pergi ke pada Varel. Meski sebenarnya bisa saja pemuda itu bertanya. Namun saat ini biarlah seperti ini, nanti setelah bertunangan baru Varel akan meminta kesediaan Andini agar terbuka dengannya.
Varel pergi meninggalkan gedung perusahaannya menuju rumah. Sedangkan Andini bersama Dinda sedang membahas apa yang mungkin terjadi nantinya.
"Aku kok kurang yakin kalau si Alfin bisa bayar lunas semua uang kamu," ucap Dinda.
"Entah mampu atau gak dia itu urusannya, yang penting uangku kembali. Tadinya aku gak mau perhitungan atau permasalahin uang yang aku kasih sama dia karena aku ikhlas. Tapi kalau konteksnya udah di hianati dan di hina. Rasa ikhlasnya kok tiba-tiba hilang, apa lagi terang-terangan dia gak ngakuin aku sebagai kekasihnya di hadapan umum dan perempuan itu," kata Andini.
"Jadi kalau misalnya dia gak hianati kamu, uang itu kamu relakan gitu aja?"
"Kapau memang kami jadi sampai jenjang pernikahan, gak mungkin aku ungkit uang itu. Apa lagi kalau dia memang kerja keras buat bahagiain aku."
"Apa selama ini dia gak bahagiain kamu?"
"Entah gimana konsep bahagiain pasangan yang sebenarnya. Karena selama ini yang selalu ku dengar darinya cuma sekedar omongan doang. Janji mau kasih ini itu, mau jalan ke sana atau ke sini, mau beliin ini atau itu. Semua cuma pepesan kosong, gak ada yang jadi nyata, bahkan setiap udah janji gak pernah di tepati. Kalaupun di tepati pasti molor waktunya sampai capek nungguin dia," kata Andini.
"Itu sih namanya dia bukan beneran cinta sama kamu, Din. Tapi dia cuma manfaatin kamu doang untuk segala kebutuhan keuangannya, modal mulut manis dapat duit. Siapa yang gak mau coba?"
"Hah, sekarang aku sangsi kalau dia bakalan datang. Kalau pun datang mungkin beberapa jam kemudian." Andini menatap Dinda sebentar lalu fokus lagi ke jalanan.
"Kalau dia ingkar atau molor waktunya kita viralin aja langsung. Biar tahu rasa dia, supaya gak kebiasaan juga ingkar janji," geram Dinda yang baru mendengar kalau Alfin seirng ingkar janji.
Apa lagi Andini yang selama ini selalu di PHP in sama Alfin. Apa lagi kalau sampai menunggu berjam-jam tapi gak jelas. Bisa kaku kalau Dinda.
Sesampainya di kafe yang di janjikan Alfin untuk mereka bertemu. Andini dan Dinda menatap seluruh sudut dan meja cafe. Mencari dimana kira-kira pemuda yang berjanji pada mereka itu berada.
"Apa dia belum datang ya, Din? Atau dia memang mau php in kamu lagi?" Bisik Dinda pada Andini.
"Entahlah, kita duduk di sini aja dulu. Kalau dalam waktu stau jam dia gak dateng, lihat saja dia," geram Andini pula.
Keduanya duduk di kursi yang sangat terlihat jelas dari pintu masuk. Keduanya memesan minuman dan kue untuk cemilannya supaya tidak bosan.
Hingga beberapa menit kemudian, orang yang di tunggu akhirnya datang juga. Alfin duduk di kursi yang masih kosong dan berhadapan langsung dengan Andini.
"Ini yang kamu minta, jangan ganggu aku lagi meski kamu belum move on," ucap Alfin dengan pedenya sembari menyodorkan sebuah cek berisikan angka sesuai permintaan Andini.
"Aku gak terima cek, aku mau uang dalam bentuk transfer atau cash," tolak Andini yang hanya melirik saja pada cek di hadapannya.
"Tapi itu yang kamu inginkan bukan? Kamu mintanya cuma uang kamu di kembalikan, jadi bagaimanapun caraku mengembalikannya tentu bukan masalah dong," kata Alfin tidak terima karena cek nya di tolak.
"Aku minta uangku kembali seperti bagaimana kamu memintanya padaku dulu. Trasfer segera ya." Andini mengikuti cara Alfin bicara dulu saat minta trasfer uang padanya.
Pemuda di hadapan Andini menghela napas panjang dengan kesal. Bagaimana tidak kesal kalau ternyata cek palsu yang di sodorkannta di tolak. Iya palsu, cek itu tidak asli karena kertasnya di dapatkan Alfin dari hasil mengeprint di perusahaan tempatnya bekerja.
Alfin menggunakan tanda tangan palsu yang di buatnya. Cek yang juga ia ambil dari internet lalu di cetak itu tentu tidak ada nilainya sama sekali. Hanya coretan kertas biasa saja dengan tanda tangan.
"Banyak banget sih permintaan kamu? Tinggal terima saja cek itu apa susahnya sih," kesal Alfin akhirnya.
"Aku terima cek itu tapi iamu harus cairkan saat ini juga. Aku gak mau cairkan sendiri karena kamu yang harus tanggung jawab atas semua uangku yang sudah kamu gunakan." Andini menantang Alfin untuk mencairkan sendiri cek pemberiannya.
Andini bukannya gadis kudet atau kuper yang tidak tahu bentukan dari kertas cek. Kalau hanya untuk membedakan mana cek yang asli dan palsu, tentu sangat mudha bagi Andini.
Apa lagi ia yang selalu melihat dan memegang cek asli milik perusahaan Varel. Di kertas yang di sodorkan Alfin juga alamat pemilik cek tidak jelas. Entah dari lembaga mana dan entah siapa nama orang yang sah.
"Ya gak bisa aku juga dong, masa harus aku lagi sih yang cairkan. Yang butuh uangnya kan kamu bukan aku," kilah Alfin menolak.
"Tapi sepertinya kamu yang lebih butuh uang itu, karena kalau sampai kamu ketahuan memberikan cek yang palsu. Maka kasus kamu akan bertambah menjadi pemalsuan cek dengan jumlah uang yang fantastis. Apa lagi di kertas itu masih ada jelas sidik jari kamu."
Alfin bungkam seketika mendengar ucapan Andini. Dengan berdecak kesal, Alfin menarik kembali cek di meja dan merobek kertas itu lalu membuangnya.
Alfin juga mengeluarkan ponselnya dan mengetik di sana hingga beberapa saat kemudian.
"Sudah," ucap Alfin dengan suara yang tidak bersahabat sama sekali.
Andini yang mendengar suara notifikasi di ponselnya segera melihat. Di sana ada sms pemberitahuan uang masuk dari m-banking nya. Jumlah uang yang sudah sesuai membuat Andini tersenyum tipis.
"Nah, kalau beginikan lebih mudah urusannya. Gak usah pake drama kasih cek palsu segala, tinggal trasfer aja gampang dan cepat selesai kan urusan kita," kata Andini melirik Alfin yang mendengus sembari melihat ke arah lain.
"Oke lah, karena urusan kita sudah selesai, aku pergi dulu. Dan ngomong-ngomong soal move on, sory banget, laki-laki gak modal seperti kamu sangat mudah untuk membuangnya," lanjut Andini yang membuat Alfin dongkol.