Luvena Nama yang memiliki arti cinta, gadis itu tumbuh dengan penuh cinta di kehidupan nya.
Tidak pernah terbayangkan bahwa Luve akan kehilangan semua yang ia miliki. Selama Hidupnya Luve selalu merasa bahagia hingga orang-orang masalalu dari kakak-kakak nya hadir, mengacaukan segalanya.
Kepergian mereka membuat Luve membenci dirinya sendiri bahkan cita-cita yang ia impikan harus ikut dikorbankan.
Setelah bertahun-tahun berpisah dengan kedua kakaknya, Luve kembali di pertemukan dengan mereka. Kembali dengan versi diri masing-masing yang jauh berbeda.
Luka Luve yang di sebabkan kedua kakaknya akankah ia memaafkannya? dan bagaimana janji Heyden kepada sang ayah untuk selalu menjaga Luve? bagaimana cinta mereka berjalan lancar jika mereka sama-sama memiliki luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxcyera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Penculikan tahun 1998 (A)
Luve menatap kosong makam yang masih basa di depannya. Makan yang bertuliskan 'Vernon Bramasta Abigail.'
Vernon dinyatakan meninggal usai menjalani operasi, karena pendarahan pada kepalanya yang berkali-kali ditendang.
Luve berpikir, bagaimana bisa ada orang sekeji itu yang tega membunuh sesama nya?
"Kenapa lo gak tepati janji lo, ke gue Ver?"
"Gak seharusnya gue percaya sama janji lo disaat situasi yang bener-bener gak memungkinkan untuk orang kembali dengan selamat."
"Gue bener-bener nyesel kenapa kita gak kabur bareng aja ya? Dan lo malah sok-sokan jadi perisai buat gue." Pandangan Luve jatuh pada foto Vernon yang sengaja di letakkan di depan nisan.
"Asal lo tau, lo berhasil bikin gue jadi orang yang paling jahat dan egois karena mentingin diri sendiri."
"Katanya kalo kita ketemu lagi, lo mau jadi bestie gue, tapi gimana?"
Luve semakin terisak, ia memeluk nisan Vernon, "gue udah baca sesuatu yang lo maksud itu, lucu ya? Di detik-detik terakhir, lo masih bisa nyatain perasaan lo buat gue."
"Gue bener-bener nyesel karena sempat berdoa sama tuhan supaya gue selamat waktu kejadian, sayangnya gue lupa berdoa sama tuhan supaya lo juga ikut selamat."
Luve menyeka air matanya, "sampe ketemu disana ya? Nanti gue ceritain perjalanan hidup gue, kan kita udah jadi beastie, ah bukan!"
"Selamat jalan, mantan pacar." Sambungnya.
Ya, Luve menyetujui pernyataan perasaan Vernon saat di ruang operasi, tapi Tuhan berkata lain.
...***...
Usai hari kejadian itu, kehidupan mereka kembali seperti semula. Nafis tengah mencari tau mengenai siapa sosok yang ada dibalik kejadian ini.
Luve juga tengah berusaha melupakan semua kejadian itu, hingga ia terpaksa meminta izin beberapa hari karena masih syok.
Disinilah Dylan, Heyden, Lintang dan Luve berada. Di atas rooftop sebuah mall yang habis mereka kunjungi.
Mereka telah menghabiskan waktu seharian bermain Timezone, bahkan banyak hadiah yang mereka hasilkan, dari mulai Snack, minuman, mainan dan boneka.
"Kak?"
"Hm?" Sahut Heyden dan Dylan bersamaan.
"Kalo suatu saat kalian ninggalin Luve—"
"Mana mungkin," sela Dylan.
"Kenapa kamu berfikir sejauh itu?"
Luve tersenyum kecut, "entah kenapa, Luve ngerasa kalo keadaan hidup kita semakin sulit, mungkin orang lain akan berfikir semuanya akan berlalu."
"Memang benar semuanya akan berlalu, kesedihan dan rasa sakit akan hilang seiring berjalannya waktu. Kata itu terdengar dapat menenangkan, tapi kalo diliat dari sisi sebaliknya kata itu justru menyedihkan."
"Yang artinya, kebahagiaan dan orang-orang yang kita sayang akan pergi. Mama, Vernon, mereka udah pergi, itu artinya ayah, kak Dylan, kak Lintang sama kak Ai juga bisa pergi kapan aja," lanjut Luve.
"Tidak ada yang abadi di dunia ini Luve, bahkan cahaya bintang yang telah berteman akrab dengan langit malam, akan menghilang seiring berjalannya waktu," ujar Dylan menatap langit yang tengah bertabur bintang.
"Hidup itu terus berlanjut, kakak akan terus sama kamu, selama yang kakak mampu."
"Luve gak tau, akan sesepi apa hidup Luve kalo gak ada kalian."
"Gak ada yang lebih penting di dunia ini selain kamu dan ayah Luve." Celetuk Lintang melangkah pergi.
Luve menatap punggung Lintang yang terus menjauh, ia menoleh saat merasakan usapan lembut di kepalanya, ia tersenyum lembut saat ia melihat siapa pelakunya.
"Jangan di ulangi lagi. Apapun keadaannya tunggu kakak jemput kamu." Luve mengangguk patuh dengan apa yang Heyden katakan.
*Flashback Tahun1998
Semenjak Nafis mengangkat Dylan dan Heyden menjadi anaknya. Lintang menjadi sering mengurung dirinya di kamar.
Semenjak kedatangan Heyden dan Dylan dirumahnya, keadaan berubah. Perhatian Nafis dan Luve hanya terfokus pada mereka berdua.
Lintang menghela nafas panjang, ia berjalan mencari keberadaan sang ayah. "Luve mana Yah?"
"Luve? Belum pulang." Ujar Nafis bersiap hendak pergi ke kampus.
Netra Lintang beralih menatap jam didinding, "Tapi ini udah lewat dari jam pulang dia."
Nafis mendongak menatap jam dinding, benar ini sudah lewat.
"Ayah?" Mereka menoleh menatap kehadiran sosok Heyden.
"Ai? Luve mana?" Dahi Heyden mengerinyit bingung.
"Aku gak bareng dia," Jawabnya.
Lintang mengepalkan tangannya, "kamu tinggalin Luve ya? Kamu sengaja kan gak pulang bareng dia?" Marah Lintang.
"Sudah! Sudah! Kenapa kalian berkelahi!" Ujar Nafis menjauhkan Lintang.
"Ayah! Ayah! Ayah!"
Terdengar suara gaduh dari depan membuat mereka berdua berlari ke asal suara.
"Huwaaa...Ayah." Netra Nafis terbelalak saat melihat penampilan Dylan yang datang dalam keadaan kacau.
"Kamu kenapa Nak?" Panik Nafis langsung mengendong Dylan.
"Tadi...tadi Dylan berdua..Luve dibawa orang jahat...Dylan bisa kabur..Luve di bawa orang jahat..."Ujar Dylan sesenggukan.
Lintang mengeram kecil, ia menatap Heyden marah, lalu mendorongnya.
"INI GARA-GARA KAMU! KARENA KAMU LUVE DI CULIK!" Marah Lintang dengan derai air mata nya.
Sedangkan Heyden hanya mampu terdiam.
"Sudah Lintang! Lebih baik kita ke kantor polisi." Ujar Nafis melangkah pergi di ikuti oleh Lintang, meninggalkan Heyden seorang diri.
Hingga malam tiba, Nafis, Lintang dan Dylan belum juga pulang ke rumah.
Ceklek...
Heyden menoleh saat mendengar suara pintu terbuka yang ia kira itu adalah Nafis. Ia berlari dengan kaki kecilnya berharap sang ayah membawa pulang Luve dengan utuh.
"AYAh?" Teriak Heyden melemah saat dugaannya salah.
Melainkan sosok Caesar lah yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, "ini memang Ayah." Ujarnya menyeringai.
Caesar melangkah menuju kamarnya entah mengambil apa, namun sebelum itu ia berhenti menatap Heyden sejenak.
"Apa kamu baru saja kehilangan salah satu saudara mu?" Heyden mengerutkan keningnya heran, bagaimana Caesar bisa tau.
"Hiduplah dengan baik, jangan menjadi sampah seperti ayah mu ini!" Ujar Caesar tertawa.
Heyden menoleh menatap jendela, entah kenapa feeling-nya mengatakan bahwa ia harus mengikuti Caesar.
Ia bisa melihat sebuah mobil tua yang terparkir menyala di depan rumahnya. Ia yakin itu adalah mobil yang datang bersama ayahnya.
Tanpa banyak berfikir, Heyden melangkah mendekati mobil itu, yang ternyata ada seseorang di tempat kemudi.
Heyden mencoba membuka pintu mobil se-pelan mungkin tanpa menimbulkan suara dan menyembunyikan dirinya di belakang tepatnya di tumpukkan tas.
Hingga terdengarlah suara Caesar yang baru saja masuk ke dalam mobil dengan posisi menyamping sambil berbaring setengah badan.
"Kenapa lama banget sih lo?" Tanya sang supir yang diyakini adalah teman ayahnya.
"Yaelah, gue nyari sertifikat rumah susah tau! Lagi pula buat nambah nambah duit gue lah!" Ujar Caesar mendengus.
"Sertifikat?" Batin Heyden.
Ia menunduk saat merasakan sesuatu yang mengenai kakinya.
"Surat?" Netranya membelalakkan saat melihat apa isi surat tersebut dan ada sebuah foto yang menampilkan sosok Luve yang pingsan di lantai kumuh.
"Ini? Surat jual anak ilegal? Ayah? Ayah orang jahat?" Inner Heyden sangat tidak menyangka jika Caesar melakukan hal keji seperti ini.
Itu artinya Luve, adiknya di culik untuk di jual oleh ayahnya?
"Ini kita langsung ke pelabuhan?"
Heyden kembali mendengarkan percakapan kedua orang itu.
"Kita balik dulu, rencana penjualan anak itu akan di lakukan besok."
Hingga mobil ini berhenti, di tempat yang tidak Heyden ketahui.
"Lo cek anak itu dulu, masih pingsang apa nggak, gue mau parkir mobil." Ujar si sopir.
Heyden mencoba mengintip dengan hati-hati melihat kemana Caesar melangkah.
"Tunggu kakak Luve." Inner Heyden, ia mencoba turun dari mobil dengan hati-hati. Itu sebabnya ia tidak menutup pintu belakang mobil terlalu rapat. Tak lupa Heyden membawa sebuah tas yang berisi surat surat yang bisa menjadi barang bukti.
Si supir yang baru saja memarkirkan mobil, heran saat melihat pintu mobil yang tidak tertutup rapat.
"Ih si bangsat itu kalo apa-apa nggak becus banget, cuma nutup mobil aja kaga rapet."