Indonesia
NovelToon NovelToon
Rian & Ranu: Cinta Di Bangku Sekolah

Rian & Ranu: Cinta Di Bangku Sekolah

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Anak Genius / Obsesi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Suans Kalhira

"Cinta itu datang tanpa aba-aba. Seperti Ranu, yang hadir di hidup Rian lewat sebuah tabrakan kecil di lorong sekolah."

Rian Prasetyo, ketua kelas yang ceria dan sederhana, menjalani hari-harinya seperti biasa di SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Sampai akhirnya, muncul Ranu Nabila Anggraeni—siswi pindahan dari Bogor yang datang bersama sikap dingin dan sorot mata tajam.

Awalnya mereka seperti dua kutub yang saling bertolak belakang. Tapi takdir justru terus mempertemukan mereka. Dari obrolan singkat di kantin hingga pertukaran puisi yang menggetarkan hati, Rian mulai merasakan bahwa Ranu bukan gadis biasa.

Di balik sifat juteknya, Ranu menyimpan kelembutan, luka, dan harapan. Dan Rian? Ia belajar bahwa mencintai bukan soal memiliki, tapi tentang menemani... tanpa pamrih.

Mampukah Rian dan Ranu bertahan dalam cinta yang tumbuh di bangku sekolah? Ataukah semua akan berakhir menjadi kenangan pertama yang tak terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suans Kalhira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Manis dari Ranu

Hari itu aku bangun agak siang, karena malamnya begadang ngerjain tugas Matematika yang entah kenapa makin ke sini makin susah dipahami. Tapi ada yang aneh. Sejak pagi, HP-ku gak ada notifikasi dari Ranu sama sekali.

Biasanya, tiap pagi pasti ada chat, minimal satu stiker lucu buat nyemangatin aku bangun. Tapi ini... kosong. Aku cek beberapa kali, tetap gak ada.

“Jangan-jangan dia marah gara-gara aku ngetawain suara ngoroknya waktu voice call kemarin malam?” pikirku.

Tapi aku coba tenangin diri. Aku yakin Ranu gak akan marah cuma karena hal kecil begitu.

Siang hari aku masih gak dapat kabar. Makin bingung, makin penasaran.

Sampai akhirnya, sekitar pukul 3 sore, tiba-tiba ada suara motor berhenti di depan rumah. Aku intip dari jendela, dan... loh? Itu Ranu!

Dia turun dari motor ojek online sambil nenteng kantong kertas besar. Aku buru-buru keluar rumah.

“Ran? Kok kamu...”

Belum sempat selesai ngomong, dia nyodorin kantong itu ke aku. “Selamat hari spesial, Kak Rian.”

Aku ngedip. “Hari spesial?”

“Iya... hari ini tepat 30 hari kita jadian.”

Aku tercengang. “Seriusan? Kamu inget?”

“Iya dong,” katanya sambil nyengir manis. “Dan ini buat kamu. Coba buka.”

Aku buka perlahan. Isinya... kaus couple warna biru laut bertuliskan: "You’re My Favorite Hello, and Hardest Goodbye.” Dan satu lagi, botol kaca kecil yang diisi kertas-kertas warna-warni, berisi potongan kata manis dari Ranu.

Aku baca satu kertas:

> "Kamu adalah alasan kenapa aku selalu senyum sendiri di kelas."

Aku senyum. Ranu... cewek ini bener-bener gak pernah kehabisan cara buat bikin aku jatuh cinta terus-terusan.

“Ran... ini terlalu manis. Aku sampe bingung harus ngomong apa.”

“Gak usah ngomong,” katanya sambil narik tanganku pelan. “Tapi nanti pas kita pake baju ini bareng... foto ya. Buat kenang-kenangan.”

Aku mengangguk. “Deal.”

Kami duduk sebentar di teras, ngobrol santai sambil minum es teh buatan ibuku. Ranu cerita soal gimana dia nyiapin kejutan itu diam-diam, bahkan minta tolong ke Susi buat nge-distract aku biar gak curiga.

Dan sore itu, bukan cuma kejutan yang aku terima. Tapi juga rasa syukur dalam hati: ternyata punya pacar yang perhatian dan tulus kayak Ranu... adalah hadiah terbaik buatku.

Setelah duduk santai di teras rumah sambil ngobrol dan minum es teh, aku dan Ranu larut dalam suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Senja mulai turun pelan, langit berwarna jingga keemasan. Suasana jadi makin romantis.

“Ran, kamu tau gak…” ucapku sambil memutar botol kecil berisi pesan-pesan manis darinya.

“Apa?” tanyanya sambil menyeruput es teh.

“Ini tuh... lebih dari sekadar kejutan. Rasanya kayak kamu lagi ngajarin aku gimana cara mencintai dengan sederhana tapi dalam.”

Ranu menatapku, matanya berkaca-kaca tapi ia masih tetap tersenyum. “Aku gak bisa ngasih hal mewah, Kak. Tapi aku pengen kamu tau... aku bener-bener sayang sama kamu. Dari cara kamu ngobrol, cara kamu ngejaga aku, sampai caramu bikin aku ketawa tiap hari.”

Aku terdiam. Dalam hati, aku gak pernah nyangka bisa dapet cewek yang bisa ngomong sejujur dan seindah itu. Rasanya seperti... aku lagi mimpi.

“Dan satu lagi,” lanjut Ranu. “Mulai besok, kita harus pake baju ini bareng ke sekolah, ya!”

Aku ketawa. “Siap laksanakan, Bos!”

“Tapi jangan diledekin temen-temen, ya!” katanya sambil mencubit pelan lenganku.

“Kalau ada yang ledekin, aku tinggal bilang aja: ‘Daripada iri gak punya pacar.’” balasku sambil nyengir lebar.

Ranu tertawa lepas. Dan tawa itu... entah kenapa jadi lagu paling indah sore itu.

Matahari mulai tenggelam, dan aku nganterin Ranu pulang naik motorku. Di perjalanan, angin sore membelai wajah kami berdua. Ranu memeluk pinggangku dari belakang, erat, dan aku bisa rasakan kehangatan itu bahkan tanpa kata.

Sebelum turun dari motor, Ranu berbisik pelan di dekat telingaku, “Makasih ya... udah nerima aku, sepenuhnya.”

Aku menoleh dan menatap matanya. “Kamu bukan cuma aku terima, Ran... kamu aku simpan di hati.”

Dia tersenyum, menatapku dalam, lalu berjalan masuk ke rumahnya.

Dan malam itu, aku tidur dengan senyum yang gak hilang-hilang. Pelan-pelan aku sadar… kisah ini bukan cuma cinta biasa. Tapi perjalanan kecil yang terus tumbuh, dengan kejutan-kejutan manis yang membuatku makin yakin: Ranu bukan cuma cinta pertamaku, dia rumahku.

Malam mulai turun perlahan. Langit di atas kota kami tampak bersih, bertabur bintang yang malu-malu muncul satu per satu. Setelah aku mengantar Ranu pulang, aku masih belum bisa berhenti tersenyum. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku cuma dipenuhi suara tawa dan ucapan manisnya tadi.

Begitu sampai rumah, aku gak langsung masuk. Aku duduk di teras, masih dengan botol kaca kecil pemberiannya di tangan. Aku putar pelan-pelan, memperhatikan setiap gulungan kertas kecil di dalamnya seakan itu benda paling berharga di dunia.

Pelan-pelan aku buka satu lagi kertas, kali ini tulisannya begini:

> "Rian, kalau kamu baca ini... berarti kamu beneran penasaran. Hehehe. Tapi serius, aku cuma pengen kamu tahu: aku gak butuh hal besar untuk bahagia, aku cuma butuh kamu tetap jadi kamu. Tetap lucu, tetap perhatian, tetap jadi orang yang selalu ada buat aku."

Aku senyum sendiri, bahkan sampai gak sadar Mama muncul dari dalam rumah.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Yan?” tanya Mama sambil bawa gelas teh hangat.

Aku langsung simpan botol kecil itu di balik jaket. “Enggak, Ma. Cuma lagi mikir aja... betapa beruntungnya aku.”

Mama duduk di sebelahku. “Lagi jatuh cinta, ya?”

Aku nyengir. “Kelihatan banget, ya?”

Mama cuma tertawa kecil. “Cinta itu indah, Rian. Tapi jaga baik-baik. Jangan mainin perasaan orang, dan jangan biarkan dia merasa sendirian.”

Aku mengangguk pelan. “Tenang Ma... aku gak akan sia-siakan dia.”

Malam itu aku masuk kamar dengan hati penuh. Setelah ganti baju dan rebahan di kasur, aku buka satu kertas lagi. Kali ini tulisannya pendek, tapi dalam:

> "Jangan lupa tidur yang cukup ya. Aku mau kamu sehat, karena aku pengen cerita-cerita sama kamu terus tiap hari."

Mataku mulai berat. Tapi hatiku? Rasanya hangat banget. Di antara gelapnya malam dan sunyi nya kamar, aku cuma bisa tersenyum sebelum benar-benar tertidur sambil berkata pelan,

"Terima kasih, Ranu... untuk semua perasaan ini."

1
Duniaku membaca
kocak kocak sih Rian ini
Suans Kalhira: hehehe 😂😂 emang boleh sekocak itu
total 1 replies
Duniaku membaca
lucu juga kisah Rian ranu
Suans Kalhira: terimakasih kak ☺️☺️
total 1 replies
Nani Septi Ani
bagus nian
Nani Septi Ani
lumayan bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!