Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah yang Kosong

Raka mengetuk gerbang besi rumah Adit berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Naya mengintip dari celah pagar, mencoba mencari tanda-tanda kehidupan di dalam rumah yang tampak sepi total.

"Coba telepon lagi," kata Naya, suaranya mulai panik.

Raka menekan tombol panggil untuk kesekian kalinya, namun ponsel Adit tetap tidak aktif. Keduanya berdiri mematung di depan gerbang, tidak tahu harus berbuat apa, ketika seorang tetangga yang kebetulan lewat menghampiri mereka.

"Nyari siapa, Dek?" tanya ibu-ibu paruh baya itu, membawa keranjang belanja di tangannya.

"Adit, Bu. Temen sekelas kami," jawab Raka. "Rumahnya kosong banget, ada mobil diisi barang juga di halaman."

Ibu itu mengangguk paham, wajahnya menunjukkan simpati. "Oh, itu... tadi pagi Ibunya Adit sama Adit pergi buru-buru, katanya mau ke rumah neneknya di Wonorejo. Kalau nggak salah denger, Bapaknya juga udah pindah semalam, bawa barang-barangnya sendiri."

Naya dan Raka saling pandang, hati mereka semakin cemas mendengar kabar itu. Wonorejo adalah kota kecil yang berjarak cukup jauh dari Ciandara, tempat yang belum pernah mereka dengar disebut Adit sebelumnya kecuali sesekali sebagai kampung halaman neneknya.

"Makasih infonya, Bu," kata Naya, tersenyum meski hatinya penuh kekhawatiran.

Sepanjang perjalanan pulang, keduanya nyaris tidak bicara, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Raka terus memikirkan kata-kata terakhir Adit di bawah pohon beringin malam itu—firasat buruk yang ternyata benar-benar terjadi secepat ini.

"Menurutmu Adit bakal pindah beneran ke Wonorejo?" tanya Naya akhirnya, memecah keheningan.

"Aku nggak tau," jawab Raka jujur. "Tapi kalau iya... gimana sama janji kita?"

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban, menyisakan kekhawatiran yang sama di hati keduanya sepanjang sisa perjalanan.

Tiga hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Adit. Raka dan Naya mulai kehilangan harapan, hingga pada hari keempat, sebuah pesan singkat akhirnya masuk ke grup obrolan mereka bertiga—pesan pertama sejak Adit menghilang.

Adit: Maaf ngilang. Aku di Wonorejo, rumah Nenek. Ibu sama Ayah resmi pisah. Aku... aku nggak tau kapan balik ke Ciandara.

Naya langsung membalas secepat mungkin, jarinya gemetar mengetik. Naya: Kamu oke? Kita kangen banget!

Raka: Butuh apa aja, bilang aja. Kita bakal bantu semampu kita.

Balasan dari Adit datang beberapa menit kemudian, kali ini lebih panjang dari biasanya.

Adit: Aku cuma butuh waktu sendiri dulu. Semuanya berantakan banget di kepalaku. Tapi makasih ya, kalian selalu ada. Aku janji bakal balik, cuma nggak tau kapan.

Membaca pesan itu, Naya merasakan dadanya sesak, campuran antara lega karena akhirnya mendapat kabar, namun juga sedih membayangkan sahabatnya sedang berjuang sendirian jauh dari mereka berdua.

"Kita harus nyusul ke sana," kata Naya tiba-tiba, tekadnya bulat. "Nggak peduli sejauh apa Wonorejo, Adit butuh kita di dekatnya sekarang."

Raka menatap sahabatnya, memikirkan kemungkinan itu sejenak. "Tapi kita berdua anak SMP, Naya. Orang tua kita pasti nggak akan ngizinin ke luar kota sendirian, apalagi ke tempat yang bahkan kita nggak tau persis alamatnya."

"Terus kita diem aja gitu?" Naya membalas, matanya mulai berkaca-kaca. "Adit selalu ada buat kita. Pas aku nangis-nangis soal orang tuaku, dia yang pertama meluk aku. Sekarang giliran dia butuh kita, masa kita cuma bisa kirim pesan doang?"

Raka terdiam, menyadari kebenaran di balik kata-kata Naya, namun juga menyadari keterbatasan mereka sebagai anak-anak yang belum bisa bepergian sendiri tanpa restu orang dewasa.

"Aku ada ide," katanya akhirnya, matanya berbinar penuh keyakinan. "Ibuku kenal sama Neneknya Adit, soalnya dulu mereka pernah satu arisan. Mungkin Ibu bisa bantu kita cari cara buat ke sana—dengan cara yang benar, dan diizinin."

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!