Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf Azalea
Alea menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melanjutkan.
“Waktu itu… aku terlalu pengecut untuk berkata jujur?”
Agam masih terdiam, tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alea dalam diam.
“Aku benar-benar minta maaf.” lanjut Alea dengan suara semakin pelan.
Agam menghembuskan nafas perlahan. Sebenarnya, ia sudah tidak mau mengingat kejadian itu. Namun, Alea tiba-tiba membahasnya yang membuat dia ingat kembali dengan kejadian malam itu. Sepuluh tahun yang lalu.
“Tidak, Al. Jangan minta maaf. Semua itu bukan sepenuhnya salah kamu.” jawab Agam dengan suara yang berat.
“Harusnya, akulah yang disalahkan karena pada saat itu, aku terlalu memaksakan untuk masuk ke dalam hidup kamu tanpa bertanya terlebih dahulu. Apakah kamu berkenan atau tidak. Maafkan aku, ya. Aku janji, tidak akan mengulangi hal yang sama.”
Alea terdiam. Kalimat terakhir yang diucapkan Agam membuat dadanya kembali terasa sesak. Ia menatap pria di hadapannya.
Sepuluh tahun ternyata sudah mengubah banyak hal. Termasuk Agam yang sekarang terlihat jauh lebih dewasa dan lebih tenang.
“Maksudnya?” tanya Alea bingung.
Agam tidak menjawab, pria itu hanya tersenyum, lalu menghela nafas panjang.
“Sudah. Jangan dipikirkan. Bukan apa-apa kok.”
“Baiklah.”
Alea menundukkan kepalanya. Entah kenapa, jawaban Agam justru membuat pikirannya semakin dipenuhi banyak pertanyaan.
Meski begitu, Alea memilih untuk diam dan menghormati keputusan Agam yang tidak mau bercerita lebih jauh tentang pembahasan mereka barusan.
Mungkin, kisah sepuluh tahun yang lalu sebaiknya memang tidak mereka bahas lagi karena sudah menjadi kisah masa lalu.
Suasa kembali hening. Hanya suara kendaraan yang sesekali terdengar dari ken jauhan, bercampur dengan suara angin malam yang berhembus pelan.
Alea memainkan jemarinya sendiri, berusaha mencari topik pembicaraan lain agar suasana tidak semakin canggung.
“Kak…”
“Hm?”
“Kamu… nggak membenciku, kan?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Agam yang semula menatap ke depan perlahan menoleh. Tatapannya jatuh tepat pada wajah Alea.
“Membencimu? Kenapa aku harus membencimu?”
“Karena...”
“Sudah. Jangan bahas masa lalu terus. Aku sudah melupakan semuanya.” jawab Agam tersenyum tipis, lalu kembali mengalihkan pandangannya.
Deg.
Alea tertegun. Entah kenapa jawaban itu terasa begitu menyesakkan dada. Padahal, itu adalah hal yang normal. Dia menolak Agam dengan cara yang sangat memalukan, jadi wajar kalau Agam ingin melupakannya.
“Melupakan semuanya.” gumam Alea. Nyaris tak terdengar, bahkan sama Agam sekalipun.
Suasana kembali hening, kedua muda mudi itu terlihat asik menikmati suasana yang sunyi dan sepi.
Hingga tiba-tiba, suara lembut dari seorang wanita menyapa, mengusik kesunyian.
“Mas Agam!”
Suara itu terdengar semakin dekat. Agam yang semula duduk bersandar santai langsung menoleh. Begitu melihat siapa yang datang, ekspresi wajahnya sedikit berubah.
Seorang wanita berjalan mendekat dengan langkah ringan. Wanita itu mengenakan dress berwarna hitam panjang.
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi, sementara wajah cantiknya semakin sempurna dengan senyum manisnya.
“Akhirnya ketemu juga,” katanya begitu sampai di hadapan Agam.
Agam langsung berdiri dari tempat duduknya begitu wanita itu berhenti tepat di hadapan Agam.
“Sania?” ucap Agam dengan sedikit kaget.
“Kenapa kaget sih? Bukankah, seharusnya kita datang bersama.” jawabnya, tersenyum semakin lebar.
Alea yang masih duduk di tempatnya hanya bisa memperhatikan keduanya dalam diam.
Setelah beberapa saat, Sania pun mulai menyadari jika saat ini, Agam tidaklah sendirian.
“Ngomong-ngomong. Ini… siapa?” tanyanya pelan, melirik ke arah Alea.
Meski sangat pelan, namun, Alea masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Agam kemudian menoleh kepada Alea, lalu memperkenalkan kedua wanita itu.
“Kenalin, ini Azalea. Azalea, kenalin Ini Sania.”
Alea bergegas bangkit dari duduknya, mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan wanita yang bernama Sania itu.
“Azalea.”
“Sania. Teman dekatnya Mas Agam.”
Deg.
Alea tersentak, Entah kenapa, pernyataan itu membuat jantung Alea berdetak kencang.
“Kalian lagi ngobrolin apa sih? Kayaknya asik banget.” tanya Sania penasaran.
“Hanya berbincang. Tidak ada yang penting.” jawab Agam.
Alea terdiam. Entah kenapa, jawaban Agam membuatnya kecewa dan menimbulkan rasa sesak.
“Tidak ada yang penting.” gumam Alea dalam hati.
Benar juga. Diantara mereka memang tidak ada kenangan indah, jadi wajar jika pembicaraan beberapa waktu yang lalu dianggap tidak penting oleh Agam.
Sania yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Alea dan Agam akhirnya tersenyum kecil. Ia kemudian melirik ke arah pintu ballroom yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Oh iya, Mas. Aku hampir lupa.”
“Apa?” tanya Agam.
“Papa nyariin kamu.”
“Ada apa?” tanya Agam lagi sembari mengernyitkan keningnya.
“Nggak tahu. Papa cuma bilang mau bicara sesuatu sama kamu. Katanya penting.”
Agam menghela nafas kecil. Ia kemudian melirik ke arah Alea yang masih berdiri di sampingnya.
Agam terlihat enggan pergi, namun, ia juga harus menghormati Pak Surya yang selama ini menjadi rekan bisnisnya.
“Kalau begitu, kita kembali saja.” jawab Agam akhirnya. Membuat Sania mengangguk, lalu tersenyum senang.
Agam kembali melirik Alea, lalu mengajak wanita itu untuk masuk bersamanya.
“Ayo, Al. Kita masuk.” ajak Agam.
“Kalian duluan saja. Aku….”
“Tidak.”
Agam langsung menyela dengan sangat cepat. Bahkan, sebelum Alea menyelesaikan ucapannya. Membuat Alea dan Sania menatapnya secara bersamaan.
“Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendirian di tempat seperti ini. Ayo, kita masuk bersama.” ucapnya penuh penekanan.
Kalimat sederhana itu membuat Alea terdiam. Sania yang berdiri di samping Agam memperhatikan keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kemudian, ia tersenyum, lalu mengajak Alea untuk ikut masuk bersama dengannya dan juga Agam.
“Ya sudah. Ayo, Azalea. Kita masuk.”