Saskia, seorang perempuan muda biasa yang berambisi untuk menapaki karir yang cemerlang. Namun, dia tak akan pernah menyangka bahwa masa mudanya akan berubah menjadi sebuah perjalanan yang menakutkan. Satu per satu keanehan menimpanya, mulai dari teror telepon misterius, tetangga kos yang terlihat seperti psikopat, mawar merah yang selalu menghantuinya, hingga sekte sesat yang ternyata mengincar dirinya.
Dengan kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan, Saskia harus membuka tabir misteri yang selama ini mengikutinya. Sebuah jawaban yang hanya bisa ditelusuri oleh dirinya sendiri, hanya jika ia tidak melarikan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Waku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror Malam Hari
Aku yang sedang menunggu kepulangan Tiwi di rumahnya melihat Tiwi berjalan dari kejauhan. Syukurlah dia terlihat baik-baik saja. Aku bisa mati berdiri jika Tiwi tidak pulang dengan selamat karena ikut terlibat dalam sekte sesat itu.
“Tiwi, syukurlah kamu sudah pulang.”Sapaku padanya.
Tiwi menatapku dengan kurang bersemangat. Terpancar jelas kekesalan di wajahnya yang ditujukan kepadaku.
“Aku berharap penjelasan darimu, Sas. Apa yang sebenarnya terjadi?” Balas Tiwi tanpa basa-basi.
Aku sadar aku sudah merepotkannya dan membuatnya bingung atas apa yang terjadi hari ini. Bagaimana pun juga, aku berhutang penjelasan kepadanya. Sekalipun aku tidak mau membuatnya cemas, tapi Tiwi harus tahu tentang apa yang menimpaku. Biar dia yang memutuskan apakah tetap akan menjadi temanku atau menjauh dariku dan semua kejadian aneh yang bisa saja menimpanya juga.
“Baiklah, aku akan menceritakannya di dalam.” Jawabku sambil mengantar Tiwi masuk ke dalam rumahnya.
***
Tiwi menatapku serius setelah aku menceritakan semua yang terjadi padaku, termasuk keberadaan sekte Red Roses.
“Sas, bisa-bisanya hal seperti ini tidak kamu ceritakan!” Keluh Tiwi kesal.
Aku heran melihat reaksinya. Aku kira dia tidak akan percaya kepadaku.
“Kamu percaya, Wi?” Tanyaku memastikan.
“Apakah harus ada alasan untuk tidak mempercayai sahabatku sendiri? Yang kamu alami ini bukan hal sederhana! Kamu tidak berencana untuk menghadapi ini sendirian ‘kan?” Tanyanya memastikan.
Aku terdiam karena shock dengan respon Tiwi yang ternyata mempercayaiku. Di lain sisi aku sedikit lega karena dia tidak menganggapku gila dan membawaku ke rumah sakit jiwa.
“Kamu boleh tinggal di sini lebih lama sampai semuanya membaik. Tidak aman jika kamu sendirian tinggal di kos tanpa ada yang menemani.” Katanya cemas, “Supaya kamu lebih rileks, aku buatkan teh hangat untukmu, ya. Tunggu sebentar!” Sambungnya seraya bergegas ke dapur.
Tiwi ini sungguh sahabat sejatiku. Dia tidak pernah ragu sedikitpun terhadapku dan persahabatan kita. Sebenarnya aku tidak enak meminta bantuannya mengingat dia sebatang kara sejak SMA. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil saat mereka mudik lebaran ke Cirebon. Hanya Tiwi yang selamat dalam kecelakaan tersebut. Pasti sangat sulit baginya menghidupi diri sendiri sejak masih remaja. Harusnya aku tak perlu menjadi beban baginya karena masalah ini.
Aku yang menunggu Tiwi kembali dengan tehnya tidak menyadari apa yang sedang terjadi di dapur.
***
Tiwi yang sedang menyeduh teh dengan termos air panasnya merasa sedang diawasi dari jendela dapur yang tirainya tersibak. Tiwi mengarahkan pandangannya ke jendela karena penasaran. Dia merasa tidak nyaman tapi dia berusaha untuk mengacuhkannya.
Tek. Suara ranting pohon terdengar membentur jendela dapur seakan dilempar dengan sengaja.
Tiwi menghentikan kegiatan menyeduh tehnya. Dia menghampiri jendela dan melongo keluar. Sayangnya saat itu hari sudah gelap dan minim penerangan di komplek rumahnya. Karena tidak menemukan satu orang pun, dia menutup tirai jendelanya yang tersibak dan kembali melanjutkan kegiatannya.`
Tek tek. Tiwi dikagetkan lagi oleh gangguan suara benturan di jendelanya. Dia terdiam sebentar dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan dapur karena rasa tidak nyamannya.
Tiba-tiba lampu di ruangan tersebut berkedip. Tiwi yakin bahwa terakhir kali dia mengganti bohlam lampu di dapurnya sekitar seminggu lalu. Tidak mungkin rasanya jika bohlam tersebut bermasalah secepat ini.
Lampunya terus berkedip hingga akhirnya benar-benar padam.
Tiwi yang saat itu baru saja mendengar cerita Saskia dan benci dengan kisah misteri makin tidak nyaman dengan situasi saat itu. Karena keadaan benar-benar gelap gulita, dia berteriak memanggil Saskia.
“Saskia!” Teriaknya. Namun, Saskia tidak merespon.
“Saskia!” Teriaknya sekali lagi memanggil sahabatnya itu.
Tak menerima balasan, Tiwi merasa terancam. Dia terbayang kejadian aneh yang diceritakan Saskia mengenai Red Roses. Bayangan buruk menghantui pikirannya, seolah-olah dialah sasaran sekte sesat itu berikutnya.
Tek tek tek.
Tek tek tek tek tek tek tek. Suara benturan di jendelanya semakin terdengar cepat dan jelas sehingga menimbulkan ketakutan dalam diri Tiwi.
Tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek tek. Suara yang sama datang bertubi-tubi dari jendela.
“Sas!! Kamu dengar aku?!” Tiwi kembali memanggil sahabatnya dengan nyaring.
Tiba-tiba suara mengganggu tersebut menghilang, menimbulkan keheningan sekaligus kengerian yang tak bisa digambarkan. Tiwi melihat ke segala arah untuk memastikan dirinya baik-baik saja, namun yang ia lihat hanya kegelapan.
Karena diselimuti rasa takut, Tiwi berjalan mundur perlahan menjauhi meja dapur sambil merentangkan kedua tangannya berusaha untuk meraba dinding di sekitarnya yang tidak terlihat.
Bruk. Tiwi menabrak sesuatu dengan punggungnya. Dia terdiam dan menelan ludah. Dia tahu bahwa bukanlah dinding yang dia tabrak, tapi seperti badan seorang manusia yang berdiri di belakangnya. Dia merasakan panas tubuh memancar dari badan tersebut yang perlahan seperti merembet ke permukaan punggungnya.
Kedua tangannya mendadak dicengkeram oleh manusia tidak terlihat itu. Sekuat tenaga Tiwi ingin berteriak meminta pertolongan namun tak satu suara pun bisa dikeluarkan olehnya. Tenggorokannya seperti kering dan terkunci.
“hhhhhhhhh…” Suara napas orang misterius itu terdengar panjang di telinganya.
Tiba-tiba lampu kembali menyala. Tiwi memejamkan matanya segera setelah cahaya lampu yang silau menerangi ruangan. Di saat itu pula dia merasakan perih di pergelangan tangan kirinya. Sebuah tanda cengkeraman yang kuat membiru di tangannya.
Tiwi yang sudah lemas akhirnya menggunakan energi terakhirnya untuk lari meninggalkan dapur dan menuju kamar Saskia.
***
Brak! Pintu kamarku tiba-tiba dibuka dengan kasar oleh Tiwi.
“Tiwi, kamu kenapa?” Tanyaku pada Tiwi yang terlihat ketakutan dengan keringat dingin bercucuran di lehernya.
Tiwi bergegas menuju tempat tidurku dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut tanpa berbicara.
“Wi, kamu baik-baik saja?”Aku bertanya lagi sambil memegang badan Tiwi yang terselimuti rapat oleh selimut. Aku merasakan tubuh Tiwi gemetar tak beraturan.
“Tiwi! Ada apa denganmu?” Tanyaku cemas sambil menyibakkan selimut dari badannya.
Wajah Tiwi terlihat pucat dengan ekspresi takut yang luar biasa. Badannya meringkuk seolah ingin melindungi tubuhnya dari sesuatu. Tangannya menutup telinganya dengan erat. Sebuah lebam biru berbentuk cengkeraman tangan manusia terlihat jelas di tangannya.
“Tanganmu kenapa, Wi? Siapa yang melakukan ini padamu?” Aku kembali bertanya dengan rasa khawatir yang luar biasa.
“Sas…,”Tiwi mulai membuka mulutnya. “Ada orang lain…. Ada orang lain di rumah ini. Dia… dia ingin mencelakaiku.” Suara Tiwi gemetar dengan lirih.
Aku hanya terdiam melihat reaksi Tiwi yang ketakutan, berusaha mencerna setiap perkataan Tiwi.
“Wi, kamu tunggu di sini.” Kataku menenangkan sembari berjalan menuju dapur.
Sesampainya di dapur, aku hanya melihat cangkir teh dan termos air yang ditelantarkan bersebelahan di atas meja. Aku berputar memeriksa seisi ruangan itu dan tidak ada kejanggalan yang aku temukan.
Aku berhenti di depan jendela dapur dengan tirai yang tertutup. Aku menggeser tirai tersebut untuk memeriksa keluar jendela apakah ada orang lain yang sedang mengawasi rumah Tiwi. Aku melebarkan kelopak mataku untuk memperhatikan setiap sudut yang ada di luar jendela berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang bisa menjelaskan perkataan Tiwi.
Mataku tertuju pada pohon beringin yang berdiri kokoh di luar. Aku melihat seseorang berkerudung hitam sedang berdiri mengawasi dari kejauhan di balik pohon tersebut. Terlihat samar, tapi dia memakai kalung berbentuk segitiga dengan ukiran bara api di tengahnya. Sepertinya aku pernah melihat bandul tersebut di suatu tempat.
Aku bergegas menuju pintu keluar berusaha untuk menangkap orang tersebut. Namun apa daya, orang berkerudung hitam itu sudah menghilang tak terlihat, hanya pohon beringin besar yang tersisa.
kunjungin karyaku juga