<<Hiatus>>
"Aku mau menikah denganmu, asalkan kau bisa balaskan dendamku." (Rania)
Setelah bercerai, Rania (28 tahun) bertekad tidak akan menikah lagi dengan laki-laki mana pun. Hatinya sudah terlanjur sakit oleh mantan suaminya. Ia memutuskan untuk pergi ke kota baru demi mendapatkan ketenangan batin bersama kedua buah hatinya yang kembar --Kisha (5 tahun) dan Lisha (5 tahun)
Namun, di tengah perjuangannya mencari ketenangan di kota perantauan, tiba-tiba saja Rania bertemu dengan Bowo dalam sebuah pertemuan perjodohan menggantikan temannya.
"Akan aku penuhi semua dendammu, asal kamu bisa melahirkan keturunan dariku!" (Bowo)
Tri Putra Wibowo (35 tahun) adalah seorang duda yang memiliki jabatan cukup tinggi di daerah tersebut. Ia menawarkan perjanjian pernikahan. Ia menginginkan Rania bisa melahirkan keturunan darinya.
Ada apa dengan Bowo hingga menawarkan perjanjian demi mendapatkan seorang anak?
Bagaimana kisah mereka? Ikuti ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras dan rasa sakit.
Jika itu benar, aku sudah melampaui rasa sakit, maka sukseskan aku, Tuhan!
***
Senin pagi, sesuai rencana, Ramia berniat untuk melamar pekerjaan. Semalam, Rania mengatakan pada Dewi akan melamar di beberapa tempat yang ia ketahui lokasinya dari ponsel.
"Wi, aku berterima kasih banget, kamu mau menemani anak-anakku di rumah. Beneran, kamu gak apa-apa bolos kerja?"
Sekali lagi Rania memastikan Dewi, bahwa keputusan hari ini tidak memberatkan Dewi.
"Gak apa-apa. Kamu tenang saja. Seminggu ini aku minta ijin cuti. Lagipula, dua bulan lagi aku akan pindah tugas ke Kota Bawang."
Dewi adalah pengajar di sekolah TK swasta. Sejak suaminya pindah tugas kembali ke Kota kelahirannya yakni Kota Bawang, Dewi pun bersiap untuk mutasi. Ia diminta oleh suaminya untuk berkumpul kembali di Kota Bawang.
Namun, Dewi meminta waktu pada suaminya hingga dua bulan untuk menyelesaikan beberapa urusan di sekolah. Tak hanya itu, deni membantu Rania, Dewi rela mengundur kepindahannya sebulan lagi, jadi Dewi akan pindah setelah tiga bulan Rania tinggal di rumahnya. Ia berharap Rania segera mendapatkan pekerjaan agar bisa menopang kehidupan si kembar.
"Ayo, habiskan sarapannya, Lili!"
Menu sarapan kali ini adalah telur mata sapi untuk Lisha dan telur dadar untuk Kisha.
Kisha makan dengan lahap sedangkan Lisha nampak bermalas-malasan.
"Lili, ayo makannya jangan diasuk-aduk gitu. Cepat selesaikan makanmu, nak!"
"Lili udah kenyang, bunda."
Lisha mendorong piring nasinya ke tengah meja makan. Ia nampak tak bersemangat.
"Kamu kenapa gak mau makan, Li?" tanya Dewi.
"Gak enak! Nasinya pahit!"
Mendengar ucapan Lisha, Dewi lantas menyentuh dahi Lisha.
"Astaghfirullah, badanmu panas Li! Ran, Lili kayaknya demam."
Tanpa menunggu lama, Rania bangkit lantas mendekati Lisha.
"Iya, badannya panas. Padahal tadi pagi dia gak apa-apa," ujar Rania sambil menyentuh dahi Lisha.
"Sayang, minum dulu."
Rania menyodorkan minum lantas menggendong Lisha.
"Wi, kayaknya aku gak jadi melamar kerja. Lili demam," ujar Rania
"Hissh... kamu berangkat saja gak apa-apa. Lili biar aku saja yang menjaga. Tapi, sebelum kamu pergi, aku ke warung depan dulu beli obat untuk Lili. Setelah aku beli obat, kamu bisa pergi mencari pekerjaan."
Rania sudah menolak ide Dewi, tapi lagi-lagi ia kalah. Ia tak bisa menolak keinginan Dewi menjaga Lili.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan pergi mencari pekerjaan hari ini."
Setelah menyelesaikan sarapan, Dewi lantas pergi ke warung depan rumahnya untuk membeli obat penurun panas.
"Sayang, jangan rewel ya di rumah. Bunda pergi sebentar mencari pekerjaan. Bunda gak akan lama kok."
Rania berpesan pada kedua putrinya terutama Lisha yang tengah berbaring di atas kasur buda depan televisi. Rania sengaja memilih membaringkan Lisha di depan televisi agar ia tidak merasa kesepian.
"Bunda, pulang jam berapa?" tanya Lisha masih tak rela melepas Ramia pergi hari ini.
"Mmm... mungkin kalau wawancara pekerjaan bunda berhasil, bunda bisa pulang sebelum solat dhuhur."
Dalam hati Rania ragu. Ia tak tahu apakah akan mendapat pekerjaan atau tidak hari ini. Semalam, ia sudah mengirimkan CV melalui email. Tapi, tetap saja ia merasa cemas.
Tak lama kemudian, Dewi datang membawa satu plastik berisi obat dan camilan.
"Nah, tante sudah bawa obat. Ayo, Lili minum obat dulu lalu tidur. Semoga saat Lili bangun tidur, panasnya sudah turun dan sehat kembali."
Dewi mengambil gelas berisi air putih. Obat yang ia beli di warung berbentuk tablet. Hanya watung biasa, jadi ia tidak bisa membelikan obat sirup seperti yang ada di apotik.
"Gak mau! Pahit!"
Lisha menampik obat yang disodorkan oleh Rania. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Gak akan pahit sayang. Ayo buka mulutmu!"
"Gak mau!" Lisha bersikeras tak mau membuka mulutnya.
"Sudah, Ran. Jangan dipaksa. Kita pakai cara lain. Obatnya ditumbuk saja lalu dilarutkan di dalam minumannya," bisik Dewi agar siasatnya tak terdengar oleh Lisha.
Rania setuju. Ia lantas menyerahkan obat tersebut pada Dewi, lalu Dewi membawa obat tersebut ke dapur. Ia melarutkan obat tersebut di dapur agar tak terlihat oleh Lisha ataupun Kisha.
Setelah beberapa menit, Dewi pun muncul kembali sambil membawa cangkir yang di dalamnya adalah larutan obat penurun panas.
"Ya sudah, kalau Lisha gak mau minum obat, gak apa-apa, tapi minum yang banyak, supaya panasnya bisa keluar dari air kencing. Ayo, minum dulu!"
Lisha patuh. Ia mengangguk dan mau meminum air tersebut.
Rania membantu Lisha meminum larutan obat tersebut.
Saat awal air itu menyentuh lidah Lisha, seketika ia menghentikan meneguk minum.
"Bunda, kok rasa airnya gak enak," keluh Lisha.
"Bukan airnya yang gak enak. Tapi, lidah Lisha yang sedang tidak enak. Ayo, langsung telan saja. Gak udah diicip-icip lagi," jawab Rania beralasan.
Dengan terpaksa, Lisha pun meneguk habis air di dalam cangkir tersebut.
"Nah, sekarang Lisha tiduran di sini ditemani tante, ya? Bunda mau berangkat sekarang. Jangan rewel sama tante, ya?"
Rania kembali berpesan pada kedua putrinya lantas mencium pipi mereka.
"Wi, maaf ya aku merepotkanmu lagi. Aku titip anak-anak, ya?"
"Gak usah sungkan! Kamu fokus saja mencari pekerjaan. Anak-anak aman bersamaku di rumah. Kudoakan semoga hari ini kamu langsung dapat pekerjaan."
Setelah mengucap salam, Rania keluar dari rumah. Ia cukup berjalan hingga depan komplek sambil memesan ojek online.
Tak lama kemudian, ojek pesanannya pun datang, tanpa menunggu lama, Rania langsung naik ke atas motor tersebut.
Perjalanan menuju perusahaan yang dituju tak terlalu jauh, hanya sepuluh menit dengan kecepatan sedang, Rania sudah berada di PT. Jelly Pelangi.
Sebuah perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman. Rania melihat iklan di laman online bahwa PT tersebut sedang membuka lowongan pekerjaan di bagian administrasi. Sesuai dengan ijazah milik Rania.
"Permisi pak, saya mau melamar pekerjaan. Semalam, saya sudah mengirim CV melalui email. Saya ke sini ingin mengirimkan bukti fisik dari CV saya."
Rania berbicara pada pak satpam yang berjaga di gerbang utama.
Perusahaan tersebut tak seperti bayangan dalam angan orang-orang. Gedung bertingkat nan mewah, melainkan sebuah gudang besar dengan banyak mobil besar keluar masuk mengangkut barang.
Bagian administrasi yang dimaksud oleh PT tersebut bukan sebagai admin yang bekerja di depan komputer dengan ruangan ber-AC, melainkan seseorang yang bekerja di dalam gudang tersebut untuk mengatur surat-surat keluar masuk mobil barang dan juga memeriksa jadwal pengiriman dari luar kota.
"Ah iya, silakan masuk mba! Saya antarkan mba ke bagian personalia."
Pak satpam membukakan pintu kecil pada gerbang besi. Luas gerbang tersebut Lebih dari lima meter dengan tinggi sekitar tujuh meter, di bagian ujung ada pintu berukuran layaknya pintu rumah untuk dilewati oleh orang.
mungkin yg datang pake mobil Bowo