Indonesia
NovelToon NovelToon
Forbidden Love

Forbidden Love

Status: tamat
Genre:Cerai / Selingkuh / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Vivin Febry

Anya yang merupakan seorang gadis cerdas dan merupakan alpha girl tiba-tiba rela menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karirnya demi mengurus suami dan anaknya di rumah. Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa bahwa sikap suaminya mulai berubah tak semanis dulu. Awalnya ia tetap berusaha untuk menjalani kehidupan rumah tangganya seperti pasangan normal pada umumnya. Namun, semakin ia mengalah, semakin semena-mena pula perlakuan suaminya terhadapnya. Ia mulai merasakan pahitnya kehidupan berumah tangga. Ia mulai sadar bahwa cintanya seolah telah layu. Namun, demi anak yang sedang tumbuh besar bersamanya, ia berusaha untuk terus mempertahankan keutuhan rumah tangganya meskipun saat itu cintanya pada sang suami telah mulai sirna. Di saat yang tak terduga, ia bertemu seorang laki-laki yang mampu membalut luka di hatinya. Akankah ia mempertahankan rumah tangganya yang tanpa cinta? Ataukah ia harus memilih si lelaki baru dan mengorbankan rumah tangga yang dibangunnya betahun-tahun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vivin Febry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pagi itu Anya bangun lebih pagi dari biasanya. Ia sengaja bangun lebih awal untuk memasak lebih awal sebab nanti jam setengah 7 ia harus segera berangkat. Ini hari pertamanya bekerja, ia jangan sampai terlambat. Jam 5 pagi ia sudah selesai memasak. Ia melanjutkan beres-beres rumah. Ibunya seperti biasa akan jalan-jalan pagi. Ibunya hari itu masih menginap di sana karena ia akan menemani Azriel selama Anya masih pergi bekerja. Ayah Anya sudah pulag ke rumahnya sejak kemarin. Anya tidak memberitahu ibunya tentang pertengkarannya dengan Davin semalam. Ibunya tidak tahu bahwa Davin melarangnya bekerja. Pag itu ibunya tampak bersemangat juga mengingat hari itu Anya akan pergi bekerja lagi. Dulu Anya adalah seorang wanita yang aktif dan terbiasa melakukan banyak hal di luar rumah, pikir ibunya dalam hati seraya mengingat seperti apa Anya dulu sebelum menikah. Kini ibunya seolah kembali menemukan sosok Anya yang penuh semangat dan aktif.

Jam setengah 7 Anya berpamitan kepada ibunya. Davin seperti biasa masih ngorok di sofa. Perjalanan menuju ke tempat kerjanya membutuhkan waktu 15 menit dengan naik motor. Sesampainya di sana, ada Haris yang berdiri menunggunya di depan. Ia menyambut Anya dengan senyum ramahnya. Mereka berdua memasuki kantor bersama. Hari itu Anya langsung bekerja. Karena ia adalah perempuan cerdas, ia cepat beradaptasi dengan tugas-tugasnya. Tak terasa ia sudah setengah hari bekerja. Jam istirahat siang pun telah tiba. Haris mengajak Anya untuk makan siang bersama di sebuah rumah makan yang jaraknya sekitar 5 menit berjalan kaki dari kantornya. Anya menyetujuinya. Sesampainya di sana mereka memesan makan siang dan kopi. Sambil menikmati makan siangnya, mereka bertukar cerita tentang kehidupannya. Entah kenapa belakangan ini mereka merasa nyambung ketika saling bertukar cerita. Mereka bercerita tentang masalah rumah tangganya. Ternyata seolah mereka memiliki nasib yang sama . Mereka merasa bahwa mereka berdua sama-sama memiliki rumah tangga yang tidak sehat. Tak terasa mereka berdua telah menghabiskan waktu selama 45 menit. Mereka segera bergegas untuk kembali ke kantor. Bersama Haris, Anya merasa nyaman. Ia merasa untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ada seseorang yang memahami dirinya. Ia kembali bekerja. Beberapa menit kemudian, ada suara gaduh yang berasal dari depan kantor. Beberapa orang yang ada di ruangan itu tampak penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Anya secara naluriah melongok melewati komputernya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia melotot ketika orang yang ada di depan adalah Davin. Tampak Davin sedang memarahi seorang satpam di sana. Mereka berdebat hebat. Davin menerobos ruangan itu dan mencari-cari Anya. Setelah melihat Anya, ia segera menarik tangannya dan memaksanya pulang. Anya melepaskan tangannya. “Kan aku sudah bilang, kamu nggak boleh kerja.” Ujar Davin lirih tapi nadanya penuh ancaman. Anya memandang Davin dengan tatapan menantang. “Sana pulang.” Ucap Anya perlahan. Davin bergeming. Ia kembali berusaha menarik lengan Anya untuk mengajaknya pulang. Tiba-tiba ada sebuah lengan kuat yang melepaskan cengkraman tangan Davin di lengan Anya. Anya terkejut seraya menoleh ke arahnya. Haris berdiri di sana. “Ini masih belum jam pulang.” Ujarnya pada Davin. Anya terdiam. “Heh, ini istriku dan aku berhak membawanya pulang kapan saja.” Bentak Davin. Semua orang di ruangan itu menoleh ke arahnya. Wajah Anya menghangat dan memerah menahan malu. Kali ini Davin sudah keterlaluan pikirnya. “Kalau Anda tidak segera pergi, saya akan memanggilkan satpam untuk memaksa Anda pergi. Keamanan semua karyawan di sini adalah hal yang terpenting.” Jelas Haris. Davin mendengus seraya menatap tajam Anya. “Urusan kita berlanjut di rumah nanti.” Ancamnya. Ia segera berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

Anya kembali duduk di depan komputernya dengan tangan gemetar. Sementara karyawan yang lain kembali ke tempatnya masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya. Anya menatap layar komputernya dengan tatapan nanar. Ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia melirik pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkraman Davin tadi. Sentuhan ringan di bahunya menenangkannya. Bahkan tanpa menoleh pun Anya tahu tangan itu milik siapa. Ia kembali bekerja. Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Jam kerjanya sudah berakhir. Ia mengemasi barang-barang di mejanya dan meraih tasnya. Ia berjalan hendak pulang namun suara yang memanggilnya menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Haris berlari kecil menuju ke arahnya. “Kita ngopi dulu yuk bentar.” Ajak Haris. Anya mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan ke arah kantin.

Sesampainya di kantin, Haris memesankan kopi untuknya. Setelahnya ia membawa dua cangkir kopi hitam kesukaan Anya. Mereka duduk berdua di kantin itu. Sore itu tampak lengang. Mungkin karena bukan akhir pekan jadi tidak ada pekerja yang lembur. Semuanya tampak sudah pulang. Hanya ada beberapa office boy yang masih terlihat mengerjakan tugasnya. Penjaga kantin pun sepertinya juga sudah hampir Bersiap-siap untuk tutup. Namun Haris sengaja ingin menghabiskan waktu beberapa menit dengan Anya untuk menyampaikan sesuatu yang baginya sangat penting. Anya segera menyesap kopinya. “Sepertinya sebentar lagi mau tutup.” Ujar Anya seraya memberi kode supaya Haris segera meminum kopinya. Haris mengangguk dan meneguk kopinya. Anya melihat ke arahnya. Haris menarik nafas panjang seolah menyiapkan diri untuk menyampaikan sesuatu yang penting. “Aku sedang mengurus surat cerai dengan Dania.” Ujarnya dengan wajah serius. Mendengarnya, Anya hampir saja tersedak kopinya. Anya hanya terdiam menunggu Haris melanjutkan ucapannya. Kenapa dia bercerita tentang hal ini padaku, pikir Anya. Setelah menunggu beberapa saat, Haris masih tetap diam tak melanjutkan kalimatnya. Ia malah meminum kopinya sambil seolah begitu menikmati minuman itu. Haris menoleh ke arahnya, “Kok aku nggak dapat respon apa-apa?” cengirnya seraya mengangkat sebelah alisnya. “hmmmm….aku bingung mau jawab apa.” Jawab Anya. Haris menghembuskan nafas perlahan mendengar jawaban singkat itu. Anya memandangnya sekilas. Tatapan Haris menatap ke depan ke kejauhan seolah ia sedang berpikir. “Kalau kamu nggak tertarik sama ceritaku, aku nggak jadi cerita.” Cengirnya.

“Aku bukannya nggak tertarik, tapi aku bingung harus menjawab apa.” Jelas Anya.

Haris mengangguk mendengar jawaban Anya. Ia kembali menarik nafas panjang untuk bercerita . namun ketika ia membuka mulutnya, penjaga kantin itu memanggilnya. “Mas, kami mau tutup, hehe.” Ujarnya sambil tertawa. “Ah, oke oke. “ Balas Haris. Ia menghabiskan kopinya. Anya melakukan hal yang sama. Mereka berjalan keluar bersama menuju parkiran. Sepanjang perjalanan itu mereka berdua sama-sama terdiam seolah mereka hanya menikmati kebersamaan itu. Setelah Anya menemukan motornya, Haris menepuk pundaknya, “Nanti aku

cerita ya,” ucapnya sambil tersenyum. Anya mengangguk mengiyakan. Merekapun pulang.

Sesampainya di rumahnya, Davin sudah menunggunya di ruang tamu. Ia menatap Anya dengan tatapan yang tajam. Anya berjalan kea rah kamarnya dan tak mempedulikan Davin. Ia ingin segera menemui Azriel dan ibunya. Seharian itu rasanya melelahkan. Ia ingin beristirahat. Namun tampaknya Davin tak akan

mengizinkannya untuk beristirahat. Ia ditarik paksa ke dalam kamarnya dan Davin mengunci kamar itu.

1
Chandra Dollores
nunggu Scarlett di sini.....
Vivin Febry: thank youuuuuuu
total 1 replies
Tetik Saputri
semangat kak
Vivin Febry: Makasi banyak dukungannya kak 🤗🙏
total 1 replies
Intan Haryanti
Jangan mumet-mumet thor. Aku bakal tetep dukung author!
Vivin Febry: makasi banyak atas dukungannya kakak 😁
total 1 replies
SoftMambo
Tuh kan bersambung :( aku nungguinnya kaya nunggu doi yang turun dari langit #Ea sehari berasa seribu tahun~
Vivin Febry: Hihihi.... sengaja biar reader penasaran , 😁 terus ikuti ceritanya ya kak 🤗
total 1 replies
canvie
ceritanya keren. narasinya oke banget malah. bisa dirapikan dikit mungkin, biar bacanya plek ketiplek..
Vivin Febry: Makasi masukannya kakak 😁
total 1 replies
canvie
separah itu kah? sampai cerai jadi satu-satunya jalan?
Vivin Febry: ikuti terus karyaku ya kak 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!