Mesha Khumaira Sharma, atau biasa dipanggil Aira. gadis jelita yang bekerja sebagai perawat disalah satu rumah sakit besar di Jakarta. Ia ditempatkan di bangsal anak, alasannya? Sederhana. Karena dia menyukai anak kecil. Hidupnya damai dan lengkap, dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Bekerja, bersenang-senang dengan teman-temannya.
Sampai takdir mempertemukannya dengan seorang pangeran kecil bernama, Leonal Azzuri Sadewa. Anak dari seorang pengusaha muda, Elhan Atharwa Sadewa. Anak kecil yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan bunda, yang tiba-tiba membuat Aira masuk ke dalam kehidupannya dan sang daddy, yang tiba-tiba mewarnai hari-hari Aira dengan senyuman dan tawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fauu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimana?
POV AIRA
...~♥♥♥♥♥~...
Aku menatap kesal ponselku yang menampilkan roomchat ku dan Elhan. Pria itu seolah menghilang tanpa kabar setelah kepulangan kami dari Bali, dua hari lalu. Seolah-olah dia menghilang ditelan bumi tanpa jejak sedikit pun. Bahkan beberapa pesan yang aku kirim belum juga dibaca olehnya sejak tadi malam.
...Kak Elhan...
Aku udah sampai dirumah
Jangan begadang Khumaira
Sweet dream, baby girl.
^^^Maaf kak, semalam aku ketiduran^^^
Pasti kecapean
Kamu masuk hari ini?
^^^Iya, shift sore. Masih bisa istirahat.^^^
^^^Kakak hari ini kerja?^^^
Iya, ini sudah dikantor.
Sudah dulu ya, Khumaira.
Kakak ada rapat.
^^^Iya, semangat kerja kak Elhan😊^^^
Thankyou, baby❤
^^^Kak^^^
^^^Kak El^^^
^^^Kakak^^^
^^^Akhir pekan ini jadi ke rumah?^^^
^^^Aku udah bilang sama ayah.^^^
^^^Kakak ditunggu dirumah.^^^
Hufft.
Aku kembali menghembuskan nafasku lelah. Belum dibalas juga. Ke mana perginya orang ini? Aku sudah bertanya pada Kinara tentang Elhan, kenapa pria itu sulit sekali dihubungi. Katanya, dia sedang banyak pekerjaan. Aku tahu, Elhan memang workaholic, tapi aku tidak tahu sampai sesibuk itu. Aku hanya khawatir dengan kesehatannya, jika dia terlalu memaksakan diri.
Bagaimana jika dia sampai jatuh pingsan saat rapat? Atau parahnya sampai kekurangan darah, karena sedikit makanan yang masuk ke dalam perutnya. Atau—arghg! Aku khawatir setengah mati padanya.
Semoga malam nanti dia datang ke rumah. Detik itu juga, aku akan langsung mengomelinya. Karena, sudah membuatku uring-uringan dua hari ini. Lihat saja nanti.
"Lo kenapa sih, Ra? Dari tadi muka lo kusut banget." aku diam tidak berniat menjawab pertanyaan Vika. Tiba-tiba gadis itu menjentikkan jarinya. "Gue tau. Pasti lo lagi kangen sama ayang, kan? Iya, kan?" ck! Lagi sewot-sewot begini, dia malah menggodaku.
"Enggak. Siapa juga yang kangen?" aku membuang muka ke arah lain, menghindari tatapan Vika. Vika itu, seperti cenayang dia tahu semua isi hati dan pikiranku.
"Yuhuu, my bestie. Nih, pesenan lo berdua." Aura datang bersama mbak Ani, dia membawa kopi pesananku dan Vika juga beberapa cookies dan cake. Aura, entah bagaimana ceritanya dia berpindah jadwal sehingga saat ini kami mendapat jam kerja yang sama.
"Angga mana?" tanya Vika.
"Ciee—nyariin Angga."
"Apaan sih! Gue cuma nanya, yah. Kan, tadi lo pergi bareng dia."
"Ngeles mulu lo. Tinggal ngaku nyariin Angga aja susah banget, Vik." ucapku sembari mengambil kopi pesananku dari tangan Aura.
"Heh, ngaca kutil kebo. Ngaku kangen sama Elhan aja susah banget sih, Ra." cibir Vika, mengikuti perkataanku tadi.
"Siapa yang kangen?"
"Noh, mimi peri yang kangen. Kesel banget gue." aku dan Aura terkekeh geli melihat Vika yang emosi.
"Girang amat. Ada apaan sih?" nah orangnya datang pas banget.
"Itu, ada yang nyariin lo." ucapku menjawab pertanyaan Angga.
"Siapa?"
"Orangnya malu-malu monyet, Ngga." ucap Aura mengikuti alurku.
"Kangen tapi enggak mau ngaku."
"Eh! Itu lo ya, bukan gue." Vika benar-benar terpancing olehku dan Aura. Dia bangkit dari duduknya, dengan wajah memerah sambil menunjuk padaku.
"Gue enggak ada nyebut nama lo padahal, Vik. Kok, lo yang sewot?" aku bertanya tanpa dosanya kepada Vika, yang kini wajahnya bertambah merona. Sudah mirip tomat.
"Vika." Suara rendah Angga mengalun, memanggil Vika yang seketika membuat wanita itu terdiam kaku di tempatnya.
Aku hampir tidak bisa menahan tawaku yang siap menyembur kapan saja. Jika Aura tidak memperingatiku melalui tatapan matanya.
"B-bukan g-gue, Ngga." Vika perlahan mengarahkan tatapannya pada Angga. Ah, lucunya temanku satu ini. Cewek bar-bar model Vika saja, kalau lagi jatuh cinta tetap saja malu-malu kucing, ya.
"Bisa ikut gue sebentar?"
"Ke mana?"
"KUA." itu suaraku dan Aura yang berbicara dengan serempak.
Vika menoleh menatapku tajam, yang aku balas cengiran tak berdosa. Lalu, dia kembali menatap Angga. "Di taman rumah sakit aja." ucap Angga, lalu keduanya berlalu pergi meninggalkan kami.
Selepas kepergian Angga dan Vika, aku kembali mengerjakan tugasku dengan sesekali mengobrol bersama Aura dan mbak Ani. Aku sedang menunggu kedatangan Dokter Raka sebenarnya. Karena, sebelumnya dia memintaku untuk menemaninya visit. Agak heran sih, kenapa Dokter Raka suka memintaku untuk menemaninya. Padahal ada mbak Ani yang lebih senior dari aku.
"Aaa—Aira." tiba-tiba Aura merengek memanggil namaku. Aku segera menatap gadis itu, yang sedang menatap layar ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa?"
"Song Joong Ki dating, Ra." hadeh, bocah ini. Aku kira apaan, eh ternyata. Aura memang tidak beda jauh dengan Vika, sama-sama penggila oppa-oppa Korea. "Masa katanya, pacarnya itu bule noseleb lagi. Cantik sih, tapi kek—askdbhdkkd."
"Ya, namanya makhluk hidup pasti butuh pasangan, kan? Doain aja yang terbaik buat idola lo, itu yang namanya fans. Bukan malah ngehujat." ucapku sambil membaca kembali data pasien yang sedang kupegang.
"Iya, sih. Tapi rasanya tuh nyesek loh, Ra."
Huh, aku memutar kursiku ke samping agar bisa berhadapan dengan Aura. "Sekarang gini, dia siapa lo?"
"Bias gue." jawabnya dengan santai
"Nah, itu lo tau. Dia cuma seorang publik figur yang lo suka, bukan juga orang yang kenal sama lo, bahkan dia tau lo idup aja enggak. Dia punya kehidupannya sendiri, dia cuma pelakon di drama yang lo tonton. Selepas itu, dia orang yang berbeda dari yang lo liat di media. Inget itu, jadilah fans yang baik." aku berhenti sejenak, haus juga ngomong panjang lebar. Ngasoh sit.
"Kalo lo ngefans sama dia. Dukung setiap karyanya, dekati panggungnya bukan kehidupan pribadinya."
"Lo mirip mama dedeh ya, sekarang." dia terkekeh ringan setelah aku menyelesaikan ucapanku.
"Dih, bocah." cibirku padanya.
"Bercanda elah, gue juga udah enggak terlalu menggilai aktor-aktor itu kok. Kalo lupa, gue bukan anak SMA lagi yang masih memuja-muja oppa-oppa Korea kayak dulu."
"Baguslah, tapi kayaknya Vika masih stuck aja." ucapku mengingat Vika yang masih jingkrak-jingkrak ketika melihat foto-foto biasanya itu.
"Agak susah sih, kalo bias lo modelan Oh Sehun. Secara enggak ada celah." dia menyentuh dagunya seolah sedang berpikir keras.
•
»
•
"Setelah ini langsung pulang, Sus?"
"Iya. Kalo Dokter?"
Aku sedang berjalan beriringan bersama Dokter Raka di lorong rumah sakit. Kami baru saja selesai visit di ruangan terakhir. Sesekali kami menyapa beberapa pasien, yang kebetulan berpapasan dengan kami. Aku sedikit melirik Dokter Raka, kadang aku heran kenapa dia masih single sampai sekarang. Padahal dia tampan, berpendidikan, punya pekerjaan tetap yang gajinya tidak juga sedikit. Pasti banyak wanita yang ingin bersanding dengannya kan?
"Masih harus ngerekap beberapa catatan, Sus."
Sudah, tidak ada lagi percakapan di antara aku dan Dokter Raka. Kami sama-sama memilih untuk menutup mulut dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dokter Raka. Kalau, aku sendiri sedang memikirkan agenda nanti malam. Di mana Elhan akan datang ke rumahku untuk menemui ayah. Apakah semuanya akan berjalan lancar? Ish! Kamu ini mikir apa sih, Ra? Ini kan cuma acara ketemu biasa, bukan Elhan mau ngelamar kamu. Tapi, aku benar-benar segugup itu.
"Sus, suster Aira?" tepukan pada bahuku menyadarkanku dari lamunan tentang Elhan. Aku menoleh ke arah Dokter Raka yang sedang menatapku juga. "Ngelamunin apa sih, sus? Sampai enggak fokus gitu jalannya, tadi suster hampir nabrak tembok loh."
Mendengar perkataan Dokter Raka, aku beralih menatap ke arah depan. Benar saja, aku hampir menabrak tembok. Dan baru aku sadari tangan Dokter Raka yang menyentuh dahiku, untuk melindungi kepalaku agar tidak menghantam tembok. Aku terkejut dan refleks menarik tangannya untuk kuperiksa, jika saja ada luka di sana.
"Enggak luka kok, sus. Tenang aja." dia berkata dengan santainya, mana dia juga tersenyum kepadaku. Kan, aku jadi semakin merasa bersalah. "Enggak papa, sus. Asal suster baik-baik aja. Ayo, kembali ke bangsal. Hati-hati jalannya, jangan sampai nabrak lagi." ucapnya seolah mengerti kekhawatiranku.
Tanpa berkata, aku mengikuti langkah panjang Dokter Raka. Aku sempat melihat sekilas tangannya yang memerah. Pasti terasa sakit. Apa dia benar-benar baik-baik saja?
Sesampainya di depan bangsal, aku segera menahan langkah Dokter Raka yang berniat pergi. Tanganku menarik ujung jas dokternya, membuat dia berbalik menatapku. Aku angkat wajahku, agar bisa menatapnya. "Maaf dan terima kasih, Dokter Raka." ucapku lirih hampir berbisik.
Aku rasakan usapan lembut pada kepalaku. "Sudah tidak perlu dipikirkan. Saya senang bisa menolong, suster. Saya pamit, ya." setelahnya dia melangkah pergi memasuki ruangannya.
Tiba-tiba aku merasa bulu kudukku berdiri. Secara perlahan aku menoleh ke arah samping. Di sana ada Vika dan Aura yang tengah menatapku horor, membuatku tanpa sadar menelan air liurku dengan kasar. Mereka kenapa lagi, sih? Kenapa temanku berbeda?
"K-kenapa?"
Mereka tidak menjawab pertanyaanku, tapi menyuruhku untuk mendekat pada mereka. "Ada apa di antara lo sama Dokter Raka?" Vika yang lebih dulu bertanya saat aku sudah berdiri di hadapan mereka.
"Enggak ada apa-apa." jawabku seadanya.
"Enggak mungkin, kalo enggak ada apa-apa kenapa pake acara ngelus-elus kepala segala?" Vika kembali mencecarku dengan pertanyaan, sedangkan Aura hanya mengangguk-angguk saja.
"Ya, emang kenapa? Ada debu kali di rambut gue, makanya dibersihin sama dia."
"Alasan lo enggak bisa diterima."
"Betul."
"Ya, terus?" aku pasrah.
"Kita temenan bukan setaun atau dua taun, yah. Gue apal banget kelakuan lo."
"Betul." aku menatap aneh Aura. Sedari awal dia hanya membetul-betulkan ucapan Vika.
"Hufft—fine." aku menghembuskan nafasku pelan. "Tadi, Dokter Raka nolongin gue. Dia nga-" ucapku memulai awal cerita.
"Lo kenapa?" ck! Suka banget motong omongan orang.
"Diem, biar gue selesain ceritanya dulu. Baru lo ngomong." keduanya mengangguk bersamaan. Setelahnya aku mulai bercerita, dari aku yang sedang melamun memikirkan Elhan, hingga saat Dokter Raka merelakan tangannya agar dahiku tidak luka. Dan berimbas tangan Dokter Raka yang menjadi korbannya.
"Udah?" kuberikan anggukkan kepala pada mereka berdua.
"Gue makin yakin sih, Ra. kalo Dokter Raka itu ada feel sama lo." Vika mulai berpendapat atas ceritaku tadi.
"Gue sepaham sama Vika. Selain itu, dia juga selalu minta ditemenin visit sama lo. Ya, wajar sih. Tapi, kan enggak harus setiap hari juga. Mana demen banget nyamperin duluan." Aura ikut menambahkan.
"Tapi, kan bisa juga cuma sebatas nolong. Kalian tau lah, gimana baiknya dia. Ya, mungkin emang niat nolong doang. Udah deh, enggak usah dipikirin. Nanti juga lupa." aku membereskan beberapa barangku yang tergeletak di atas meja. Bersiap untuk pulang ke rumah karena, jam kerjaku sudah selesai. "Kalian enggak balik?" aku bertanya pada dua manusia itu.
"Oh, iya. Ayo bareng ke lokernya." Aura merangkul tanganku dan Vika untuk diajak untuk berjalan bersamanya.
"Eh, Vik. Tadi gimana sama Angga?" aku baru ingat jika, Vika dan Angga sempat pergi bersama untuk mengobrol. Bukannya menjawabku, dia malah menundukkan kepalanya. Samar-samar aku melihat pipinya yang putih itu bersemu merah. Ada apa? "Lo utang cerita sama gue." ucapku pada akhirnya.
•
»
•
"Assalammu'alaikum, Aira yang cantik jelita kaya bidadari pulang." ucapku saat memasuki rumah. Aku menutup kembali pintu utama dengan perlahan. Lalu melangkah semakin dalam ke area tengah.
Kok sepi?
"Ibu? Ayah?" aku memanggil kedua orang tuaku, sambil sesekali mengamati sekitar yang tampak sunyi. Ke mana perginya semua orang?
"Neng Aira? Udah pulang, neng?" aku terlonjak mendengar seseorang menyapaku dari arah dapur. Ternyata itu, bi Ijah. Rewangan ibu, sedari aku kecil sudah ikut dengan ibu. Jadi, bisa dibilang dia adalah ibu keduaku. Karena, bila ibu tidak ada maka bi Ijah lah yang akan menjagaku.
"Iya, bi. Ayah sama ibu ke mana, ya?" aku menduduki kursi bar, sambil memperhatikan kegiatan bi Ijah yang tengah membersihkan dapur.
"Bapak belum pulang, kalo ibu tadi pergi arisan katanya." aku mengangguk-angguk mengerti. "Mau minum, neng?" bi Ijah menawariku.
"Eh–enggak usah, bi. Aira bisa ambil sendiri nanti." ucapku menahannya yang berniat mengambilkan air dingin dari dalam kulkas. "Kalo gitu, Aira ke kamar dulu ya, bi." pamitku, lalu kembali melangkah menaiki anak tangga menuju kamarku.
Setelah menutup rapat pintu kamarku. Aku langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur. Huh, capek banget hari ini. Aku merogoh tasku, mencari keberadaan ponsel milikku. Setelah mendapatkannya aku segera membuka salah satu aplikasi pesan. Masih belum dibaca. Dia ke mana, sih? Kenapa enggak ada kabar? Sekedar dibaca saja tidak.
Elhan, kamu dimana? Lagi apa? Arghh! Daripada pusing memikirkan yang tidak-tidak lebih baik aku membersihkan diriku. Mungkin dengan berendam beberapa menit bisa membuatku rileks.
•
»
•
Ayah dan ibu baru tiba di rumah saat adzan maghrib. Aku yang memang sedang halangan jadi hanya menunggu mereka di ruang keluarga. Ditemani animasi si bocah kembar botak atau ketika bosan aku akan menggonta-ganti asal channel TV. Sesekali aku melirik ponselku yang tergeletak di atas meja. Sama sekali tidak ada pesan masuk. Sekalinya ada, dari tukang pemberi pinjaman atau operator. Kok, jadinya kayak punya pacar tapi rasa jomblo ya.
"Aira, ayo makan dulu." ibu memanggilku dari arah meja makan.
Aku segera menghampiri wanita itu, dan ikut membantunya menata meja makan sebelum ayah datang. Tidak berselang lama, ayah turun dari lantai dua. Dia duduk di kursinya dengan aku dan ibu yang berada di kanan-kirinya.
Ibu menyiapkan piring untuk ayah. Menyendokkan nasi dan memilihkan lauk yang akan disantap oleh ayah. Aku tersenyum melihat kegiatan mereka. Sederhana tapi, lebih berharga. Pernikahan seperti merekalah yang aku impikan. Semoga saja.
"Elhan jadi kesini, Ra?" ayah bertanya sebelum memulai acara makannya. Karena, ayah tidak suka berbicara saat makan.
"Enggak tau." Jawabku seadanya.
"Kok, enggak tau?" ibu ikut bertanya, menanggapi jawabanku yang terkesan bodo amat.
"Dia ngilang, enggak ada kabar. Enggak bisa dihubungin juga." aku melampiaskan kekesalanku pada makanan di hadapanku.
"Aira, makanannya jangan diacak-acak begitu. Enggak baik." ucap ayah mengingatkanku.
"Maaf." ucapku lirih.
"Mungkin, dia banyak kerjaan yang harus di handle."
"Masa iya sih, bu. Sampai enggak bisa sekedar buat baca chat dari Aira?"
"Sudah, sudah kita makan dulu. Kalo dia berniat serius denganmu, dia akan datang. Kita tunggu saja." ucap ayah menghentikan pembicaraanku dengan ibu.
Setelahnya sekeliling kami hanya diisi oleh suara dentingan alat makan yang saling beradu. Sebenarnya aku bisa memaklumi kesibukan Elhan tapi, aku khawatir. Aku khawatir dia tidak benar-benar serius denganku. Bisa jadi kejadian beberapa hari lalu itu hanya candaannya saja. Makanya dia tiba-tiba menghilang seperti ini. Tapi..
Arghh! Astaughfirullahal 'adzim, istighfar Aira. Kamu harus percaya sama Elhan. Ingat kepercayaan adalah kunci utama sebuah hubungan. Tenangkan dirimu, percaya dengannya.
Aku terus mencoba menenangkan diri ku. Sampai acara makan malam selesai dan ayah memilih untuk menonton TV sembari menunggu kedatangan Elhan. Dan kini waktu sudah mendekati pukul 11 malam, dan pria itu masih belum menampakkan batang hidungnya. Habis sudah kesabaranku. Mana ucapannya yang akan dibuktikan? Tidak ada!
"Aira, ayo masuk sudah malam sayang." ibu mengajakku masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa menit lamanya aku berdiam diri di ayunan, yang berada di halaman depan rumah. Untuk apa? Tentu saja menunggu pria sialan, menyebalkan itu. Tapi, hasilnya? Nothing.
...~♥♥♥♥♥~...
SELAMAT HBD DADY ELHAN DAN LAUNC DEBAY OEK OEK Y.. TWINS SEPASANG Y👶👶👶👶. KASIH bunga 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹