JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Markas Black Cobra
suara mesin motor gede hitam milik Eksan membelah jalanan kota yang mulai temaram oleh lambaian lampu jalanan sore hari. Nasya mencengkeram erat sisi jaket kulit hitam yang dikenakan Eksan, menempelkan wajahnya di punggung tegap pemuda itu demi menghalau terpaan angin malam yang mulai menusuk tulang. Kecepatan motor yang dikendarai Eksan tidak brutal saat ia datang menyelamatkannya tadi siang, seolah pemuda itu sadar bahwa gadis di boncengannya sedang ketakutan setengah mati.
Motor tersebut akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan industri tua yang terbengkalai di pinggiran kota. Di ujung jalan yang sepi, berdiri sebuah gudang kontainer raksasa dengan pagar besi tinggi yang tertutup rapat. Dari luar, tempat itu tampak mati dan tidak berpenghuni. Namun, begitu Eksan membunyikan klakson motornya dengan irama khusus sebanyak tiga kali, pagar besi itu perlahan bergeser terbuka dari dalam.
Begitu motor Eksan melesat masuk ke halaman dalam gudang, pemandangan di hadapan Nasya langsung berubah total. Di sana terparkir puluhan motor gede dengan berbagai model, semuanya memiliki logo mawar berdarah yang sama. Di sudut-sudut ruangan yang diterangi lampu neon remang-remang, tampak belasan pemuda bertubuh tegap beberapa di antaranya mengenakan jaket kulit hitam, sedang merokok, memodifikasi mesin motor, atau sekadar berkumpul di sekitar meja biliar.
Suasana riuh dan gelak tawa yang tadinya menggema di dalam gudang raksasa itu mendadak berhenti total dalam satu detik. Matinya suara obrolan mereka terjadi tepat setelah ban motor Eksan berhenti berdecit di tengah ruangan. Semua pasang mata beringas yang ada di tempat itu langsung tertuju ke arah motor sang ketua, lebih tepatnya ke arah sosok gadis sekolah bermata jernih yang duduk gemetar di boncengan belakang.
"Bos Eksan?!" seru seorang pemuda berambut gondrong dengan tindik di telinga kirinya, yang tampaknya merupakan salah satu orang kepercayaan Eksan di geng tersebut. Pemuda bernama Raka itu langsung melangkah maju mendekat dengan wajah penuh keterkejutan. "Kau... kau sudah kembali? Bagaimana dengan lukamu setelah pengeroyokan semalam? Dan... siapa gadis sekolah yang kau bawa ini, Bos?"
Eksan tidak langsung menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari anak buahnya. Ia menurunkan standar motornya secara perlahan, lalu melompat turun dengan sedikit meringis saat luka di perutnya kembali berdenyut perih. Eksan berbalik, mengulurkan kedua tangan kasarnya untuk membantu Nasya turun dari atas jok motornya yang tinggi.
Nasya menerima uluran tangan itu dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Ia merasa sangat terintimidasi oleh tatapan menyelidik dan heran dari belasan anggota berandal jalanan yang kini mulai berkumpul mengelilingi mereka dalam lingkaran besar. Refleks, Nasya menyembunyikan tubuh mungilnya di balik punggung tegap Eksan, mencari perlindungan dari satu-satunya orang yang ia kenal di tempat mengerikan ini.
Melihat tindakan protektif gadis itu, Eksan melirik ke arah Raka dan seluruh anak buahnya dengan tatapan mata elang yang sangat tajam, mengisyaratkan peringatan keras agar tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertindak tidak sopan.
"Mulai hari ini, dia akan tinggal di kamar atas markas ini untuk sementara waktu," ucap Eksan dengan nada suara yang berat, dingin, dan penuh dengan otoritas mutlak seorang pemimpin tertinggi. "Namanya Nasya. Dan aku tidak mau mendengar ada satu pun dari kalian yang berani mendekatinya, mengganggunya, atau bahkan menatapnya dengan pandangan yang macam-macam. Jika aku tahu ada yang berani menyentuhnya seujung kuku... kalian tahu sendiri apa konsekuensinya dari tanganku."
Seluruh anggota Black Cobra di dalam ruangan itu menelan ludah mereka secara bersamaan dengan wajah yang mendadak tegang. Mereka tahu betul bahwa ancaman Eksan bukanlah sekadar gertakan sambal. Eksan adalah monster jalanan yang tak kenal ampun jika wilayah kekuasaannya diusik, dan kini tampaknya gadis polos itu telah resmi dimasukkan ke dalam daftar wilayah terlarang yang paling sakral bagi sang ketua.
"Tapi Bos..." Raka mencoba angkat bicara dengan nada suara yang ragu sambil melirik kalung kobra bermata merah yang melingkar di leher Nasya. "Geng Red Wolf... informan kita baru saja memberi kabar bahwa si keparat bertato itu mengamuk besar siang ini karena motornya dihancurkan di depan SMA Tunas Bangsa. Mereka bersumpah akan meratakan markas kita jika kita tidak menyerahkan gadis itu. Apakah... apakah gadis ini yang menyebabkan pertempuran di sekolah tadi siang?"
Eksan berjalan melangkah mendekati Raka, mempersempit jarak hingga aura kepemimpinannya yang menindas membuat Raka terpaksa menundukkan kepalanya sedikit. Eksan menyentuh kerah jaket kulit Raka dengan satu tangan, sementara tangan kanannya yang terluka mengepal kuat hingga urat-urat birunya menyembul menegang.
"Dengar baik-baik, Raka. Begitu juga kalian semua yang ada di sini," suara Eksan mendadak merendah, namun memiliki gaung intimidasi pekat yang menggema di setiap sudut gudang tua itu. "Aku tidak peduli jika seluruh aliansi geng Red Wolf datang mengepung tempat ini malam ini. Geng musuh itu mengira mereka bisa menyentuh Nasya untuk menjatuhkan. Mereka mengira gadis ini adalah kelemahanku."
Eksan melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Raka dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Nasya yang sedang menatapnya dengan sepasang mata jernih yang berkaca-kaca penuh kecemasan.
Sebuah senyuman tipis yang dingin namun dipenuhi tekad yang absolut perlahan terukir di wajah tegas Eksan. Ia kembali berjalan mendekati Nasya, lalu dengan gerakan posesif yang sangat protektif, ia merangkul pundak kecil gadis itu di hadapan seluruh anggota gengnya, mendekapnya erat ke dalam perlindungannya.
"Biar sejarah jalanan kota ini mencatat..." Eksan mengedarkan pandangan matanya yang berkilat haus darah ke seluruh anak buahnya, memberikan perintah perang yang tak bisa diganggu gugat. "...Nasya bukan kelemahanku. Dia adalah harga diriku. Dan jika Red Wolf berani melangkah satu jengkal saja masuk ke kawasan industri ini demi merebutnya dari tanganku, maka pastikan seluruh anggota Black Cobra sudah bersiap untuk mematahkan setiap leher dari mereka tanpa sisa."
Mendengar pidato penuh amarah dan perlindungan mutlak dari sang ketua, seluruh rasa heran di benak para anggota geng Black Cobra seketika menguap, digantikan oleh gelora semangat tempur yang membara. Mereka serentak mengangkat kepalan tangan mereka ke udara, meneriakkan nama faksi mereka dengan riuh yang memekakkan telinga, siap bertempur habis-habisan demi harga diri sang ketua tertinggi.
Di tengah riuhnya sorak-sorai para berandal jalanan itu, Nasya hanya bisa terdiam membeku di dalam dekapan hangat Eksan. Jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan rasa haru yang asing. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia telah resmi masuk ke dalam pusat badai, menjadi ratu di sarang kobra yang paling mematikan di kota ini.