Airapasy Yuliana adalah seorang siswi gendut biasa, tidak populer dan terkenal disekolah nya, menjadi siswi biasa yang ambivert.
Bully? siapa yang berani? meski ia gendut bukan berarti orang bisa berlaku seenak nya.
Crush? Uang lebih penting soal percintaan itu urusan dudi, namun bagaimana jadi nya jika sikap acuh nya itu justru menarik perhatian preman sekolah?
______
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSOL_12 Bertarung
Lian menatap Gezzy dan Agus dengan mata berbinar, dia jadi penasaran dengan yang terjadi pada mereka berdua 'maklum korban series BL' apalagi saat melihat tanda merah dileher Agus.
Agus merasa risih dengan tatapan binar dari Lian itu, ia menatap tajam Gezzy yang hanya acuh dengan makanan nya, ingin sekali dia mengumpat sudah berapa kali dibilang jangan buat tanda masih saja pemuda itu tidak mendengarkan.
Jay? Dia sedang berusaha membujuk Lian agar percaya jika dia dan Devan tidak punya hubungan apapun.
"Kalian sudah sampai dimana?" tanya Lian dengan mata berbinar.
"Agus, Gezzy main nya kasar ya? Pasti sakit" ujar Lian.
Agus menyemburkan air yang dia minum ke wajah Devan, wajah Agus berubah menjadi merah padam, sedangkan Gezzy hanya tersenyum kecil melihat itu.
"l-lo bicara apa sih An, gue sama Gezzy cuma sahabat biasa" ujar Agus.
"Halah ga usah lo malu-malu,bilang aja Gezzy main nya kasar ya?" tanya Lian lagi.
Agus berdiri dari sana lalu pergi meninggalkan meja dengan wajah merah, Lian beralih menatap Gezzy yang juga menatap punggung Agus.
"Kak" panggil Lian.
Gezzy melihat kearah Lian, ia mengangkat sebelah alisnya bertanya.
"Jangan kasar-kasar, kasian Agus nanti pinggang nya patah" ujar Lian pelan sehingga hanya mereka yang berada dimeja saja yang mendengar.
Devan tertawa ngakak mendengar ucapan Lian sedangkan Gezzy tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
"Gue boleh gabung?" Jay menatap tajam Felix dan langsung memeluk Lian dengan posesif.
Tanpa mendengar jawaban Felix duduk didepan Lian,ia meletakan makanan nya dimeja dan memakan nya.
"An mau?" Felix menyodorkan nugget pada Lian.
Jay melototkan matanya marah.
"Tidak perlu, bini gue udh ken_ Yang!"
Lian menerima suapan itu, nugget adalah kesukaan nya, Jay mengepal tangan nya erat sebelum bicara Lian menarik tengkuk Jay memasukan nugget kedalam mulut Jay, jadilah mereka berdua makan dengan mulut mereka yang bertemu.
Banyak pekikan histeris dari para siswi dan murid, Felix mengepalkan tangan nya dibawa meja.
"Udah jangan marah lagi" ujar Lian.
Lian mengambil air nya lalu meminumnya, setelah nya ia memberikan nya pada Jay.
Jay tersenyum malu-malu lalu mengambil air itu, ia meminum nya lalu memeluk posesif Lian dari samping.
"Yang! Ih nakal" ujar Jay salah tingkah.
"Makasih nugget nya Felix " ujar Lian.
Felix tersenyum paksa lalu mengangguk pelan. "Sama-sama An" ujar nya.
"An nanti pulang bareng gue ya? Nenek mau ketemu sama lo, katanya kangen" ujar Felix.
"GA! Yang gue ga ngijinin lo buat pergi" ujar Jay marah.
"An, nenek lagi sakit dia kangen lo" ujar Felix.
Felix mengambil Hp nya lalu menghubungi seseorang.
"Nenek gimana kabar nenek?" tanya Felix langsung.
^^^"Nenek baik, tapi kapan kamu mau bawa An kemari Nenek kangen banget sama An"^^^
Felix menatap Lian ,lalu memberikan hp nya pada Lian. Lian mengambil hp itu lalu menyandarkan nya di gelas.
"Nenek" panggil Lian.
^^^"An, cucuk nenek"^^^
"Iya nek ini An, nenek apa kabar?"
^^^"Nenek baik An. An kapan kemari sudah lama An tidak main kesini, An marah sama Felix aja jangan sama Nenek"^^^
Lian terkekeh pelan, ia memajukan wajahnya, jujur ia juga merindukan Nenek.
"An juga kangen sama nenek,pengen cobain kue kering nenek lagi, tapi belakangan ini An tidak bisa Nek, hari ini An tidak bisa jenguk nenek nanti kalo ada waktu An kesana ya_"
^^^"Iya An, tidak papa, jangan lupa seret bocah nakal itu pulang juga ya, oh bantu nenek buat jewer telinga Felix" ujar Nenek.^^^
Lian mengangguk, Lian berdiri dan mendekati Felix,lalu menjewer telinga Felix hingga merah.
"Lain kali kalo nenek suruh pulang itu langsung pulang, jangan keluyuran lagi, tawuran terus udah gede juga, dikasi bini udah 10 dapat anak" omel Lian sembari menjewer telinga Felix.
"aduh aduh iya iya ih sakit tau" ujar Felix saat telinga nya di jewer Lian.
Lian kembali duduk di kursi nya lalu menatap kamera.
"Udah nek, pulang sekolah Dia pulang kerumah nenek, kalo ga pulang telpon An, biar An bakar markas nya" ujar An.
Nenek tersenyum manis lalu mengangguk, telpon dimatikan secara sepihak oleh Nenek, An memberikan hp pada Felix.
"Abis ini langsung pulang,kalo lo berani balik ke markas tanpa pulang, liat aja besok markas lo udah jadi abu ditangan gue" ujar Lian, Felix mengangguk.
Lian berdiri,lalu menarik tangan Jay keluar dari kantin, Pemuda itu sedari tadi diam, Jay sedang marah dengan Lian makanya dia diam.
"Masih mau marah? Kan gue udah ga jadi pergi" ujar Lian.
"Dekat banget sama Nenek nya Felix" ujar Jay.
Lian mengangguk pelan. "Iya dekat kan dulu gue pernah pacaran sama Felix dan hampir tunangan sih," ujar Lian.
Jay menatap cepat kearah Lian. "terus kenapa putus?" tanya Jay.
"Karna Felix selingkuh" jawab Lian.
Mereka duduk ditaman belakang, Lian menatap langit yang mendung lalu tersenyum miris.
Jay membaringkan tubuhnya dengan kepala nya diletakkan di paha Lian, Lian mengusap kepala Jay sembari menatap Jay yang juga menatapnya.
"Yang lo belum bisa move on dari Felix?" tanya Jay.
Lian tersenyum menatap Jay, lalu menggeleng pelan.
"Gue udah move on dari Felix kak, cuma Gue ga mau benci sama Felix karna bagaimana pun gue pernah Sayang sama dia" jawab Lian.
"Lo ga sayang gue?" tanya Jay.
Lian mengusap rahang tegas Jay,ia mencubit pipi Jay.
"Gue sayang sama lo, tapi gue belum bisa cinta sama lo Kak" jawab Lian lagi.
"Gue bakal buat lo cinta sama gue Yang" ujar Jay serius.
Lian terkekeh pelan lalu mengangguk. Jay menarik kepala Lian agar menunduk, Lian menunduk. Jay mengecup singkat bibir nya.
Jay memiringkan posisinya lalu menenggelamkan kepalanya diperut Lian dan tertidur.
________
Lian menatap bingung tempat yang ia kunjungi ini, ia tau ini tempat boxing tapi kenapa Jay membawa kemari.
"Kak kenapa kita kesini?" tanya Lian bingung.
Jay menatap Lian lalu tersenyum manis, ia menarik tangan Lian memasuki salah satu ruangan, Lian tertegun saat melihat nama yang terpajang di dinding.
"Killder" gumam Lian.
Jay membuka lemari yang ada diruang itu, ia mengambil sesuatu dari dalam sana, lalau menghampiri Lian.
Jay menarik tangan Lian lalu memakaikannya gelang kecil dan memberikan tanda tangan nya disana, Lian melototkan matanya saat melihat gelang dan tanda tangan itu.
"Kak" Lian menutup mulutnya syok.
Jay tersenyum manis,lalu mengangguk. Jay membuka seragam nya dan terlihat tatto dengan tulisan Killder disana dan tulisan dengan ukiran indah didada sebelah kiri Jay yang bertuliskan nama nya.
Lian terduduk tak percaya, demi apa? Selama ini Killder adalah Jay? dan Jay adalah pacarnya.
"Kaget ya Yang " ujar Jay terkekeh gemas.
Lian berdiri lalu melompat-melompat seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Lian langsung memeluk tubuh Jay dengan erat.
"AAAKKK akhirnya bisa ketemu Killder!" ujar nya antusias.
Lian melepaskan pelukan nya lalu memutari tubuh Jay, ia masih tak percaya jika selama ini Jay adalah Killder.
"Senang banget" kekeh Jay sembari mencubit hidung Lian gemas.
Lian mengangguk semangat dan kembali'memeluk Jay dengan erat.
Jay membalas pelukan Lian dengan erat, ia mencium lembut dahi Lian.
"Sebentar lagi gue latihan, Lo temani gue Yang " ujar Jay.
Lian mengangguk semangat, tentu saja ia mau.
Jay mengambil pakaian nya lalu mengganti nya dikamar ganti, ia keluar dan langsung menarik tangan Lian menuju tempat latihan nya.
Lian menatap takjub latihan Jay, namun tatapan nya beralih pada sarung tinju yang terletak didekat nya, Lian menatap sekeliling namun tidak menemukan orang lain, Lian memakainya lalu mengikuti gerakan Jay, tentu saja dia tau karna selama ini selain menonton Lian juga memperhatikan setiap gerakan yang dikeluarkan Jay ataupun lawan.
Jay mengelap dahinya yang berkeringat, ia menoleh kearah tempat Lian duduk namun tidak menemukan Lian disana, Jay panik namun tatapan nya jatuh pada seorang gadis yang sedang fokus pada kantung tinju.
Jay tersenyum miring saat melihat bagaimana Lian meninju, dia memang tidak pernah salah pilih dan Lian adalah pilihan yang tepat.
"Cewek gue mamang harus ganas dan tidak mudah untuk ditindas" ujar nya.
Jay menghampiri Lian dan langsung memeluk nya dari belakang.
"eh Kak Jay udah selesai latihan?" tanya Lian kaget saat Jay memeluk nya dari belakang.
Jay mencium rakus leher Lian, ia membisikkan sesuatu yang membuat Lisn tersenyum miring.
"Lawan gue Yang, Kalo lo menang lo bisa minta apapun dan kalo gue menang lo kasi semua yang gue minta" bisik Jay.
Lian mendorong tubuh Jay, ia menatap tersenyum miring.
"Ok" jawab nya lalu pergi dari sana.
Lian membuka seragam nya dan menyisakan kaos hitam ditubuh nya, Lian langsung masuk kedalam ring.
"Gue terima tantangan lo Kak" ujar Lian.
Jay tersenyum miring, ia masuk kedalam ring.
Mereka menatap satu sama lain, senyum miring terpatri dikedua bibir mereka. Lian berlari dan langsung menyerang Jay, Jay sendiri terkejut saat mendapat serangan tiba-tiba, tenaga Lian memang tidak bisa diremehkan bahkan serangan nya juga cepat dan tidak berbayang.
Jay membalas serangan Lian hingga mereka berdua sama-sama menyerang.
Bugh!
Satu tinjuan Lian berhasil mengenai Jay, gelap. Mata Jay menggelap saat menerima pukulan itu, ia menatap nyalang Lian kesadaran nya direnggut habis Jay menyerang Lian dengan membabi-buta. Lian melototkan matanya tidak, Jay kehilangan kendali bisa hilang nyawanya jika Jay seperti ini.
Bruk!
Bugh!
Jay terjatuh saat Lian mengulurkan kaki nya hingga membuat Jay terjatuh dan dengan refleks Jay menarik tangan Lian hingga Lian terjatuh tepat diatas tubuh Jay. Lian tak menyia-nyiakan kesempatan itu Lian menahan tangan Jay diatas kepala.
"Kak sadar ini gue" ujar Lian pelan.
Perlahan kesadaran Jay kembali, ia melihat Lian diatas tubuh nya.
"Lagi Yang ?" tanya Jay lirih.
Lian mengangguk lalu tersenyum, ia melepaskan tangan Jay lalu mengusap wajah Jay.
"Gue menang" ujar Lian tersenyum manis
Seakan tersadar Jay langsung mendengus tak suka, Lian menyingkir dari atas tubuh Jay lalu ikut duduk didepan nya.
"hehehhe, seperti janji lo kak" ujar Lian.
Jay mendengus. "Lo curang Yang, lo sengaja nyandung kaki gue kan" ujar Jay.
Lian menganggukan kepalanya.
"Kalo gue ga nyandung kaki lo, gue bakal mati ditangan lo_" Jay langsung menutup mulut Lian dengan tangan nya.
"Jangan ngomong gitu Yang " ujar Jay lirih.
Lian memegang tangan Jay laku menurunkan nya.
"Lo mau apa dari gue,?" tanya Jay.
Lian menatap dalam mata Jay. "Kakak yakin mau nurutin apapun yang gue minta?" tanya An.
"Apapun buat lo Yang gue akan berusaha buat nepatin janji Gue" ujar Jay.