Naila S. Ardana, dokter kandungan profesional, terjebak dalam pernikahan perjanjian dengan konglomerat Damar Mahendra selama hampir setahun. Di rumah megah Menteng, ia hanya dianggap orang luar, menghadapi hinaan mertua, dinginnya suami, dan kelicikan wanita yang ingin merebut posisinya. Saat dituduh membocorkan kontrak proyek penting perusahaan suaminya, Naila akhirnya bangkit melawan, tepat saat ia mengetahui dirinya hamil anak kembar. Ia meninggalkan sangkar kemewahan itu, membuktikan kemampuannya di dunia medis, sambil mengungkap misteri kematian ayahnya yang ternyata berkaitan erat dengan keluarga Mahendra. Sementara itu, Damar baru menyadari betapa tidak mengenalnya istrinya, dan mulai belajar melepaskan arogansi untuk melindungi wanita yang telah ia sakiti, sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Pertemuan di Ruang Rapat
Ruang rapat Mahendra Maritime Security ada di lantai dua puluh tujuh.
Empat tahun lalu, Nayla pernah datang ke gedung ini sebagai istri yang diminta menunggu di lounge karena rapat direksi "kurang nyaman" untuknya.
Hari ini ia masuk lewat pintu utama, kartu tamu kehormatan di leher, tablet di tangan, map biru Klinik Janitra di bawah lengan.
Tidak ada yang menyuruhnya menunggu.
Saskia berjalan di sampingnya, blazer abu-abu, sepatu rendah.
"Kalau ada yang menatap terlalu lama, aku tendang kursinya," bisiknya.
"Kamu direktur klinik, bukan preman."
"Aku bisa rangkap jabatan."
Resepsionis berdiri.
"Selamat pagi, Dokter Nayla. Dokter Saskia. Pak Bima sudah menunggu."
Dokter Nayla.
Sebutan itu terdengar jelas di lobi Mahendra. Beberapa karyawan menoleh.
Nayla hanya mengangguk.
Di lift eksekutif, ia melihat pantulan dirinya. Kemeja putih, celana hitam, rambut diikat rendah. Jam kecil pemberian Saskia saat Rafi dan Raina lahir ada di pergelangan.
Saat pintu lift terbuka, napasnya sempat pendek.
Saskia menyentuh sikunya. "Hei."
"Aku baik."
"Aku tahu. Aku cuma memastikan kamu tahu."
Bima berdiri di koridor.
"Dokter Nayla. Dokter Saskia."
"Vania?" tanya Nayla.
"Tidak masuk daftar."
Saskia mengangkat alis. "Kemajuan."
Di ruang rapat, Damar berdiri di ujung meja. Setelan gelap, tanpa dasi. Direktur Mahendra di kanan, konsorsium dan perwakilan kementerian di kiri.
Percakapan berhenti saat Nayla masuk.
Damar melihatnya tidak lama.
Cukup lama untuk membuat ruangan sadar ada sejarah.
Nayla duduk di sisi konsorsium.
"Selamat pagi. Kita mulai?"
Direktur bernama Hendra berdeham.
"Dokter Nayla, mungkin perlu diperjelas. Anda hadir sebagai perwakilan Janitra atau sebagai..."
Saskia tersenyum dingin. "Sebagai apa, Pak?"
Hendra tidak nyaman. "Mengingat hubungan pribadi masa lalu dengan Pak Damar, mungkin ada potensi konflik kepentingan."
Nayla menatap Damar.
Damar tidak mengambil alih.
Ia menunggu.
Nayla membuka map.
"Saya hadir sebagai chief medical consultant Janitra. Konflik kepentingan sudah dilaporkan ke konsorsium sejak awal. Semua rekomendasi saya ditinjau dua panel independen dan Dokter Saskia sebagai direktur."
Ia menggeser dokumen.
"Jika Pak Hendra keberatan, silakan ajukan formal. Rapat bisa ditunda untuk panel ketiga."
Hendra melihat Damar.
Damar berkata datar, "Jangan lihat saya. Jawab Dokter Nayla."
"Tidak perlu," kata Hendra cepat. "Saya hanya memastikan."
"Baik. Kalau begitu kita bicara sebagai mitra, bukan masa lalu."
Layar menyala.
Selama satu jam, Nayla memaparkan protokol akses data pekerja, alur rujukan maternal di area pelabuhan, dan pelatihan lapangan. Suaranya tidak tinggi. Contohnya jelas. Ia menolak usulan Mahendra yang memberi divisi keamanan akses langsung ke riwayat medis pekerja perempuan.
"Kami butuh data cepat," kata direktur operasional.
"Butuh data relevan, bukan seluruh riwayat."
"Kalau pekerja pingsan?"
"Petugas perlu tahu kondisi darurat, kontak medis, dan rujukan. Tidak perlu tahu riwayat keguguran, terapi hormon, atau hasil genetika."
Hendra menyela, "Di lapangan, privasi sulit diterapkan."
"Privasi bukan idealisme. Itu hak pasien."
"Perusahaan juga punya tanggung jawab."
"Tanggung jawab perusahaan adalah membangun sistem yang melindungi pasien, bukan membuka semua data saat panik."
Damar akhirnya berkata, "Ikuti desain Janitra."
Direktur operasional menoleh. "Pak?"
"Kita pernah gagal karena mengira akses luas berarti respons cepat. Kita perbaiki."
Saskia mengetik di tablet dan menggesernya ke Nayla.
Dia mulai bisa diajar. Jangan senyum.
Nayla menekan bibir.
Di akhir rapat, sistem tanda tangan digital macet saat giliran Nayla.
Staf teknis panik. "Maaf, Dokter. Sistem masih membaca nama lama."
Di layar tertulis:
Nayla Safira Mahendra.
Ruangan mendadak terlalu tenang.
"Ubah," kata Saskia.
Staf itu gugup. "Data lama—"
"Ubah sekarang," kata Damar.
"Nama benar, Dokter?"
Nayla menjawab sendiri.
"Nayla Safira Ardhana."
Nama berubah. Nayla menandatangani tanpa ekspresi.
Damar melihat jari Nayla menekan pena digital sedikit terlalu kuat.
Setelah rapat selesai, Saskia bergerak lambat.
"Aku ambil air sebentar," kata Nayla. "Kamu turun dulu."
"Yakin?"
"Ini kantor, bukan hutan."
"Kadang lebih bahaya."
Saskia akhirnya keluar, tapi jelas menghitung waktu.
Ruang rapat tinggal Nayla dan Damar. Bima menunggu di luar.
"Tentang sistem nama tadi—"
"Tidak penting."
"Penting."
"Kalau penting, sudah diperbaiki bertahun-tahun lalu."
Damar menerima itu.
"Aku minta semua data internal diperbarui."
"Untuk akurasi administrasi, bukan untukku."
"Baik."
Nayla memasukkan tablet.
"Terima kasih untuk rapat hari ini."
"Kamu tidak perlu berterima kasih."
"Ini etika kerja."
"Kalau begitu, terima kasih sudah datang."
Nayla hendak pergi ketika Damar bertanya pelan, "Anak-anak baik?"
Langkahnya berhenti.
"Aku tidak menuntut apa pun," tambahnya.
"Mereka baik."
"Rafi masih menganggapku tidak boleh memaksa?"
Nayla hampir tersenyum. "Rafi menganggap banyak orang dewasa perlu pelatihan dasar."
"Dia benar."
"Raina menyebutmu Om Berjas Hitam sekarang."
Wajah Damar bergerak kecil.
"Bukan Om Lampu?"
"Dia mengganti sesuai evaluasi."
Untuk pertama kalinya, Nayla melihat senyum kecil di wajah Damar. Tidak penuh. Tapi ada.
Ia segera mengalihkan pandangan.
"Aku harus pergi."
"Nayla."
"Ya?"
"Aku tidak akan mencari tahu tentang mereka diam-diam. Aku tahu bisa. Aku tahu banyak orang di posisiku akan melakukannya. Tapi aku tidak akan."
"Kenapa mengatakan itu?"
"Karena kamu berhak tahu batas itu aman."
Nayla menggenggam tali tas.
"Jaga ucapanmu."
"Aku akan mencoba."
"Jangan mencoba. Lakukan."
"Baik."
Di koridor, Saskia sudah berdiri.
"Lima menit kurang sepuluh detik."
"Kamu menghitung?"
"Aku punya stopwatch dan dendam."
Pintu lift hampir tertutup ketika suara perempuan terdengar.
"Mbak Nayla?"
Vania Kusuma berdiri di dekat pintu kaca. Gaun kerja hijau tua, rambut tergerai rapi, senyum lembut yang terlalu lama dipoles.
Saskia langsung tegang.
"Kamu tidak ada di daftar rapat," kata Nayla.
"Aku cuma ambil dokumen lama. Nggak menyangka ketemu kamu."
"Jakarta memang kecil."
Mata Vania turun sebentar ke tangan Nayla, lalu naik lagi.
"Kamu kelihatan sehat. Aku dengar... kamu bawa anak-anak."
Koridor terasa dingin.
Saskia maju. "Vania."
Nayla memotong, "Kalau ada urusan proyek, hubungi sekretariat. Kalau tidak, kami permisi."
Vania tersenyum tipis.
"Tentu. Aku hanya senang kamu baik-baik saja."
Nayla masuk lift.
Sebelum pintu tertutup, Vania berkata cukup pelan untuk didengar:
"Anak-anakmu pasti lucu."
Di ruang rapat, Damar keluar beberapa detik kemudian dan melihat Vania.
"Kenapa kamu di lantai ini?"
"Mas, aku hanya mengambil dokumen."
"Mulai hari ini kamu tidak boleh berada di lantai proyek Janitra tanpa izin tertulis."
Senyum Vania membeku.
"Kamu memperlakukan aku seperti ancaman?"
Damar mendekat satu langkah.
"Kalau kamu menyebut anak-anak Nayla sekali lagi tanpa alasan sah, semua aksesmu ke gedung ini dicabut."
Wajah lembut Vania retak.
Saat Damar pergi, ponsel di tangannya menyala. Sebelum datang ke lantai itu, ia sudah menerima foto Rafi dan Raina di bandara.
Di bawahnya tertulis:
Usia mereka empat tahun, bukan?