Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13. Sentuhan dibalik Gelap
"Clarissa, tunggu!"
Di lorong utama hotel yang megah, cengkeraman jemari Dominic berhasil mendarat di pergelangan tangan Clarissa, menghentikan langkah anggun wanita itu. Langkah sepatu mereka bergaung di atas marmer yang sepi. Dominic menatap istrinya dengan rahang rapat dan mata yang memancarkan rasa bersalah yang campur aduk.
Clarissa tidak mengamuk, tidak pula mencoba menghempaskan pegangan itu secara kasar. Ia hanya memutar tubuhnya perlahan, menatap Dominic dengan sepasang mata jernih yang teramat tenang—tanpa cela, tanpa emosi berlebih.
"Aku ingin pulang sekarang," tutur Clarissa singkat. Suaranya datar namun sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah.
Dominic tertegun sejenak, menatap mata istrinya yang tak memancarkan amarah sama sekali, justru keheningan itu terasa jauh lebih mengintimidasi. Perlahan, cengkeraman tangan Dominic melonggar. Tanpa mengumbar kata, pria itu mengangguk dan menuntun Clarissa menuju kendaraan mereka.
Sepanjang perjalanan menuju mansion utama Pratama Group, keheningan tegang melingkupi kabin mobil mewah tersebut. Suara rintik hujan yang menghantam kaca depan menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian.
Dominic beberapa kali melirik Clarissa melalui kaca spion tengah. Istrinya hanya bersandar anggun, menatap keluar jendela memandangi gemerlap lampu kota yang basah. Tidak ada satu pun kalimat yang terucap di antara mereka hingga kendaraan berhenti di pelataran rumah.
Begitu sampai, Clarissa langsung melangkah menuju kamar pribadinya. Sejak awal pernikahan, kamar mereka memang terpisah—sebuah batasan dingin yang dulu ditetapkan oleh klan Pratama.
Di kamar utama, Dominic berdiri kaku di depan cermin. Rasa bersalah menggerogoti pikirannya bagai benalu. Pipi Clarissa yang memerah akibat tamparan Helena terus membayang di kelopak matanya. Didorong oleh rasa sesal yang mendalam dan keberanian yang dipaksakan, Dominic mengambil wadah berisi kompres air dingin dan handuk halus, lalu melangkah mantap menuju kamar Clarissa.
Tok. Tok.
Tanpa menunggu jawaban yang jelas, Dominic mendorong pintu kayu tebal itu. Clarissa sedang duduk di depan meja rias, merapikan gaun tidurnya yang terbuat dari sutra tipis. Ia menoleh sedikit dari cermin, memperhatikan Dominic yang berjalan mendekat dengan canggung.
Dominic duduk di tepi tempat tidur di samping meja rias. Tanpa bersuara, jemarinya yang tegap mengarahkan kompres dingin itu perlahan ke pipi mulus Clarissa yang menampakkan bekas kemerahan.
Satu menit berlalu.
Dua menit berlalu.
Keheningan melilit mereka berdua. Hanya ada desir napas teratur dan sentuhan lembut kompres di kulit pipi Clarissa. Tidak ada suara, hanya tatapan mata yang saling mengunci di dalam keremangan lampu tidur.
Akhirnya, Dominic menghela napas berat, memecah kesunyian. "Maaf."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.
Clarissa memiringkan kepalanya sedikit, sudut bibirnya terangkat menyunggingkan senyuman jahil yang amat memikat. "Apa? Tidak terdengar?"
Dominic mengernyit pelan, menatap mata istrinya.
"Hah? Coba ulangi lagi?" goda Clarissa dengan raut pura-pura polos yang sangat menggemaskan.
"Maaf, Clarissa," ulang Dominic lebih jelas, suaranya sedikit lebih berat.
"HA-HA-HA-HA!"
Tawa renyah dan anggun pecah dari bibir Clarissa. Ia menutupi mulutnya dengan jemari lentiknya. "Ya ampun... Seorang Dominic Pratama meminta maaf padaku? Sungguh sebuah keajaiban dunia."
Clarissa menggelengkan kepalanya pelan, menyandarkan punggungnya pada kursi rias.
"Lagipula ini bukan salahmu, tidak apa-apa. Dan ini juga bukan pertama kalinya aku dirundung oleh Helena. Apa kau lupa?"
Clarissa menatap Dominic dengan binar mata yang berubah makin tajam dan sarat intrik.
"Oh iya, dulu kan aku tak kasat mata di hadapanmu."
Wajah Dominic berubah serba salah. "Bukan seperti itu, Clarissa, aku hanya—"
"Huuus."
Dengan gerakan yang teramat sensual dan tiba-tiba, Clarissa meletakkan jari telunjuknya yang halus tepat di atas bibir tegap Dominic, membungkam kalimat pria itu seketika.
"Sudah cukup, Sayang," bisik Clarissa sangat lembut, matanya berkilat penuh dominasi yang membuai. "Terima kasih... Terima kasih untuk hari ini."
Sebuah ide jahil sekaligus panas mendadak terbersit di dalam benak Victoria. Mempermainkan perasaan fana pria tegap di hadapannya ini terasa terlalu menyenangkan untuk dilewatkan.
Tanpa aba-aba, tanpa meminta persetujuan, dan sebelum Dominic sempat menyadari apa yang terjadi, Clarissa maju mencondongkan tubuhnya. Ia langsung meraup bibir tegap Dominic, melumatnya dengan ciuman lembut yang memabukkan.
Pupil mata Dominic melebar shock, tubuhnya membeku seketika. Namun sentuhan bibir sutra Clarissa dan aroma harum tubuh istrinya membakar seluruh pertahanan diri pria itu dalam hitungan detik.
Lama-kelamaan, ciuman lembut itu bertransformasi menjadi perpagutan yang makin dalam, panas, dan liar. Keheningan kamar seketika riuh oleh desah napas mereka yang saling memburu. Dominic bergerak secara refleks, tangannya mulai merengkuh pinggang Clarissa, menarik tubuh wanita itu makin rapat ke dadanya.
Tepat saat suasana makin panas dan napas mereka berdua terengah-engah hebat—
Brak!
Clarissa secara mendadak mengerahkan tenaganya, mendorong dada tegap Dominic menjauh hingga perpagutan bibir mereka terputus kasar.
Dominic terhuyung sedikit ke belakang di atas kasur, matanya sayu dan gelisah, dadanya naik turun dengan napas yang memburu liar, sama sekali tak menyangka akan didorong secara tiba-tiba.
Clarissa berdiri dari kursinya, menyeka tepi bibirnya dengan jemari lentiknya. Senyuman kemenangan yang teramat dingin, anggun, dan penuh teka-teki terkembang di wajah cantiknya.
"Ini hadiah dariku, Dominic," tutur Clarissa dengan nada suara yang masih sedikit terengah-engah, namun memancarkan kekuasaan mutlak. "Sekarang pergilah... aku ingin istirahat."
Dominic memandangi istrinya dengan tatapan tak percaya dan rasa dahaga emosional yang tertahan di puncaknya.
Dengan napas yang masih belum stabil, ia menatap Clarissa yang kini menunjuk pintu keluar dengan Isyarat dagunya yang tegas.
Tanpa mampu membantah, Dominic akhirnya berdiri dengan tubuh tegangnya, melangkah keluar dari kamar Clarissa dengan pikiran yang sepenuhnya kacau dan terbakar oleh sosok sang istri.
Di balik pintu yang tertutup rapat, Clarissa menyandarkan tubuhnya, menyunggingkan senyum Ratu yang paling mematikan.
sangat menarik sekali