Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah pembicaraannya dengan Regantara tadi pagi, Zara langsung untuk pergi.
Regantara, pria itu sudah berangkat ke perusahaan setelah pembicaraan mereka selesai, jadi satu hal yang Regantara pinta dari Zara yaitu kesetiaan.
Zara tidak tahu mengapa dan untuk apa?
Siang itu Zara melangkah masuk ke sebuah galeri seni mewah. Ia mengenakan gaun berpotongan minimalis berwarna putih gading, tidak ada perhiasan mencolok yang ia pakai.
Di galeri seni itu ada para wanita kelas atas, inia adalah The Sapphire Club, sebuah komunitas eksklusif berisi para wanita sosialita, istri pejabat, dan putri konglomerat dan tentu saja, Selene juga bergabung di sana.
Zara tahu betul, pembalasan dendam ini tidak akan pernah menyenangkan jika hanya dilakukan lewat balik meja.
Menghancurkan musuh secara finansial memang memuaskan, tetapi meremukkan mental dan meruntuhkan panggung sosial yang paling dibanggakan Selene di depan teman-temannya?
Di sudut ruangan, Selene yang sedang memamerkan tas edisi terbatasnya kepada tiga orang temannya seketika membeku.
Mata gadis itu melotot tak percaya saat melihat sosok Zara berjalan masuk dengan tenang.
"Kenapa wanita sialan itu bisa ada di sini?!" bisik Selene kasar, tangannya langsung mencengkeram erat cangkir tehnya hingga cairan di dalamnya sedikit tumpah.
Kirana, istri dari seorang petinggi kementerian sekaligus ketua The Sapphire Club, berdiri dari kursinya dengan senyum merekah lebar. Ia melangkah menghampiri Zara, untuk menyambutnya dengan kehangatan.
KLINK! KLINK!
Kirana mengetukkan sendok kecilnya ke cangkir, untuk memanggil perhatian seluruh anggota.
"Mohon perhatian semuanya." ujar Kirana dengan suara lantang dan ramah. "Siang ini kita kedatangan sosok yang sangat istimewa. Ini adalah Zara Benedict, dia anggota baru kita mulai hari ini." ucapnya.
Kata Benedict yang diucapkan oleh sang ketua club bergema nyaring.
Gelas di genggaman Selene bergetar hebat, teman-teman di sekelilingnya yang tadi mendengarkan bualannya seketika menoleh ke arah Zara dengan tatapan kagum dan penasaran.
Zara menyunggingkan senyuman manis yang sangat anggun, lalu melirik ke arah Selene yang berdiri di sudut ruangan.
"Selamat siang, semuanya. Suatu kehormatan bagi saya bisa bergabung di sini dan bertemu dengan kalian semua." sapa Zara.
Selene mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku-kuku cantiknya menancap dalam di telapak tangan. Rasa panas membakar di dadanya saat melihat bagaimana Kirana, wanita paling berpengaruh di The Sapphire Club yang selama ini selalu ia dekati setengah mati, kini menyambut Zara dengan perlakuan bak seorang ratu.
"Benedict?" bisik salah satu teman sosialita Selene dengan mata berbinar. "Selene, bukankah dia kakak tirimu? Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau dia menikah dengan keluarga Benedict yang itu?" ucapnya.
"Iya, Selene! Astaga, kalung zamrud yang heboh di media sosial semalam itu jadi benar milik dia?" sahut teman yang lain, tatapannya beralih dari Selene ke arah Zara dengan decak kagum. "Dia terlihat sangat berkelas, berbeda sekali dengan rumor yang biasa kamu ceritakan." ucapnya.
Wajah Selene merah padam, menahan malu dan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.
Bibirnya gemetar, tak sanggup menyusun kata-kata untuk membalas pertanyaan teman-temannya. Semua narasi bahwa Zara hanyalah anak buangan yang tak berguna yang selalu ia sebarkan di lingkaran sosialita ini hancur berantakan dalam hitungan detik.
Zara melangkah perlahan mengitari area pameran, untuk menerima sambutan hangat dari para anggota club yang bergantian menyapanya.
Setiap senyuman dan kata santun yang diucapkan Zara terasa bagaikan tamparan tak kasat mata di wajah Selene.
Hingga akhirnya, langkah Zara berhenti tepat di depan meja Selene.
Zara menatap adik tirinya itu dari atas ke bawah dengan rias wajah penuh ketenangan, senyuman tipis terukir di bibirnya.
"Hai, Selene." sapa Zara halus, suaranya terdengar begitu manis di telinga orang lain, namun bagaikan belati bagi Selene.
"Kamu... Jangan berakting di sini, Zara!" geram Selene dengan suara tercekat, ia berusaha keras menahan suaranya agar tidak meledak di depan umum.
"Berakting? Aku hanya menyapa adikku." Zara memiringkan kepalanya sedikit, lalu berbalik dan bergabung kembali bersama ketua club.
Selene mengepalkan tangannya begitu erat, dengan langkah cepat dan napas yang memburu, ia berbalik meninggalkan area pameran, mengabaikan tatapan heran dari beberapa anggota The Sapphire Club.
Selene melangkah masuk ke dalam kamar mandi VIP yang sepi, lalu mengunci pintunya rapat-rapt.
Dengan tangan yang bergetar hebat akibat emosi yang membakar dadanya, ia merogoh tas mewahnya dan dengan cepat menekan nomor ibunya. Hanya dalam dua kali nada panggil, sambungan itu langsung terhubung.
"Mami!" seru Selene dengan suara setengah berbisik namun penuh kepanikan dan amarah yang meledak-ledak.
"Selene? Ada apa, Sayang? Kenapa suaramu seperti itu?" tanya Roselin dari seberang telepon.
"Si anak sialan itu, Mi! Zara!"
Selene memukul pinggiran wastafel di depannya, ia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin yang kini tampak merah padam.
"Dia masuk ke The Sapphire Club! Tante Kirana sendiri yang mengenalkannya ke semua orang sebagai anggota baru!"
"Apa?! Bagaimana bisa wanita tidak tahu diri itu masuk ke club eksklusif seperti itu? Dari mana dia dapat aksesnya?!"
"Pake nama Benedict, Mi! Siapa lagi kalau bukan karena suaminya!" cerocos Selene dengan nada histeris. "Mami tahu? Semua teman-teman Selene sekarang malah mengerubungi dia! Dia berani mempermalukan Selene!"
Roselin menggeram kesal dari sebrang telepon.
"Anak tidak tahu untung! Sudah bagus Papi tidak menyebut namanya semalam di depan media, sekarang dia malah mau merusak reputasi keluarga kita di depan para sosialita!"
"Mami harus lakukan sesuatu! Selene tidak sudi satu ruangan dengan dia! Kalau Mami biarkan, bisa-bisa posisi Selene di club ini digeser. Mami harus beritahu Papi!" tangis Selene frustrasi, ia merapikan riasan matanya yang sedikit luntur.
"Tenang, Selene. Dengarkan Mami." ujar Roselin.
"..."
"Jangan biarkan emosi membuatmu terlihat lemah di depan wanita itu, biarkan dia menikmati angin segar sebentar. Mami akan bicara dengan Papimu sekarang juga, lalu kita lihat sejauh mana dia bisa sombong jika Mami sudah meminta Papimu bertindak!"