Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 : Obsesifmu pada Diana
"Sekarang merenunglah disini sampai kau mengerti apa kesalahanmu."
Victor melangkah keluar dari kamar mandi, membiarkan pintunya tetap terbuka. Ia baru sempat menarik napas lega, sebuah jeda pendek yang ia anggap kemenangan, semuanya hilang ketika suara kecil itu terdengar.
Tawa. Bukan jeritan. Bukan isak tangis seperti biasanya. Hanya tawa pelan, serak, datang dari lantai kamar mandi.
Langkah Victor terhenti.
Alisnya mengerut. Ia menoleh perlahan, sorot matanya mengeras ketika melihat wanita itu masih terbaring di lantai, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah. Bahunya bergetar, bukan karena tangis, melainkan karena tawa yang terus keluar dari bibirnya.
Perlahan, wanita itu mengibaskan rambutnya ke belakang. Wajahnya terangkat, mata menyipit, kepala dimiringkan sedikit dengan senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul.
“Jadi…” ucapnya ringan, hampir terdengar geli, “ternyata kau memang benar-benar memilikinya.”
Victor menegang.
Tubuh wanita itu yang sebelumnya terlihat rapuh, mulai bergerak. Ia bangkit perlahan, menggerakkan bahunya seolah sedang menguji rasa nyeri, lalu melangkah keluar dari kamar mandi. Setiap langkahnya mantap, senyum itu tak pernah pudar.
Ia mendekat.
Alisnya terangkat samar saat ia berhenti tepat di hadapan Victor.
“Apa obsesifmu pada Diana terlalu besar,” katanya lembut,
“sampai kau lupa melihat dengan jelas siapa yang berdiri di depanmu?”
Victor menelan ludah. Matanya menyipit, berusaha fokus. Ada sesuatu yang salah, cara berdiri itu, tatapan itu, suara yang terlalu tenang.
Bukan Diana.
Langkahnya goyah setengah langkah ke belakang.
“kau...hakim...B–Blair?” suaranya pecah, jarinya terangkat menunjuk wanita di depannya.
Blair tertawa kecil.
Dalam sekejap, ia melesat maju. Tinju Blair menghantam wajah Victor dengan keras, membuat tubuh pria itu terpental dan membentur dinding dengan suara berat. Nafasnya terhenti seketika.
Blair mencengkram kerah bajunya, mendekatkan wajahnya ke telinga Victor.
“Ya benar, ini aku." bisiknya tajam, "Tapi berani sekali,"
“kau menyebut nama suci ini… dengan mulutmu yang kotor itu."
Mendengar kata-kata itu, tubuh Victor menegang.
Ia bahkan tidak sempat mundur ketika Blair menarik kerah bajunya dan membanting tubuhnya ke lantai. Punggungnya menghantam ubin dengan suara berat, udara seolah terhempas keluar dari paru-parunya.
Blair berdiri tepat di hadapannya. Bayangannya jatuh menutupi tubuh Victor yang terkapar.
“Kau bilang aku milikmu, bukan?” ucap Blair datar.
Ia menatap ke bawah, matanya dingin tanpa emosi.
“Kalau begitu… malam ini, tuan Victor...”
Ia melangkah setapak lebih dekat.
“...kaulah yang menjadi milikku.”
Blair membungkuk, mengambil tongkat besi yang tergeletak di lantai. Logam itu beradu pelan dengan ubin saat ia menyeretnya, bunyinya memanjang, pelan, cukup untuk membuat bulu kuduk Victor berdiri.
Victor bergeser mundur dengan siku, wajahnya memucat.
“A-apa yang kau lakukan?” suaranya gemetar. “Jauhkan...jauhkan tongkat itu dariku!"
Dia menunjuk kearah Blair. "Kau tidak bisa melakukan ini dibelakang hukum. Kau juga yang mengatakan bahwa Sidang… sidangnya sudah selesai, bukan?"
Langkah Blair berhenti tepat di depan kakinya. Ia memiringkan kepala, senyum sinis terukir tipis di bibirnya.
"Ya, sidang resmi,” katanya tenang, “memang sudah berakhir.”
Ia mengangkat tongkat besi itu perlahan.
“Tapi...siapa bilang, sidang milikku sudah selesai?”
Tongkat itu menghantam tulang kering Victor dengan keras.
Jeritan pecah memenuhi ruangan, memantul di dinding apartemen yang sunyi tanpa saksi, tanpa catatan, tanpa palu hakim.