Satu hari Erlanngga jatuh ke dalam sumur yang paling dalam di hutan. Tak menyangka kalau sumur itu membawanya ke dunia lain. Dia ditemukan oleh pemuda yang baik hati bernama Jaka. Kisah Erlangga berlanjut dengan berusaha untuk kembali ke dunia asalnya. Namun tentu saja itu tak jadi persoalan yang mudah, oleh karena itu Erlangga masuk akademi pedang dan berusaha untuk menjadi kuat sehingga bisa kembali ke dunia asalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andipati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaya Bertarung (1)
Teriakan
orang kesakitan, suara-suara ajal menjemput, kobaran api menjilat-jilat udara
malam yang dingin. Dia dengan pedang besar nya terlihat dari bayang-bayang
dinding anyam bambu tengah membantai, suara kematian susul menyusul, jeritan
dan tangisan wanita, gemeretuk api membakar rumah-rumah, suara napas yang
memburu, bagai melodi penghantar mimpi buruk bagi siapapun yang mendengar nya. Lenguhan
panjang nan kelam menusuk langit malam. Merah darah berceceran, mayat
bergelimpangan.
Master
Kliwon membuka mata, kembali tersadarkan dari benaknya. Dia kembali
menghembuskan napas, tiga puluh meter di depannya naga itu meraung menatapnya.
Sepertinya Master Kliwon sudah menjadi target utama nya. Murid-murid nya kini
menjauh menghindar sejauh mungkin, namun sedari tadi Erlangga terus menolak.
Dia tak memikirkan napas nya yang setengah ada, tenaga nya yang bahkan untuk
pertarungan biasa pun tak menyanggupi itu nekat ingin membantu ikut bertarung.
Namun dengan tegas Master Kliwon menyuruhnya pergi sejauh mungkin. Jaka yang
memahami jika teman-teman juga dirinya sudah hampir kehabisan tenaga dan energi
aji, harus mundur dan membiarkan Master Kliwon melawan naga berkepala tiga itu
sendirian. Mereka telah berjalan menjauh menaiki bukit dan menyaksikan
pertarungan yang akan terjadi dari jarak jauh.
Master
Kliwon memutar pergelangan bahu nya, sekali lagi mencabut pedang besar nya dan
menggenggam nya lebih erat. “Kita akan berduel jika kau tak keberatan” naga
berkepala tiga itu mendengus sebagai jawaban. “Bersiap!” Master Kliwon
menderap, naga itu pun dengan kemampuan terbang yang tak sebaik tadi terbang
rendah, dia tidak bisa menyemburkan gelombang sinar listrik terus menerus. Oleh
karena itu begitu berhadapan dengan Master Kliwon, naga itu menggunakan kakinya
untuk menyerang, langsung saja ditahan menggunakan pedang besar Master Kliwon.
Naga setinggi tiga meter berkepala tiga itu menyerang menggunakan kaki nya,
diuntungkan karena dia terbang. Dua kepala sisi kanan dan kirinya ikut
menyerang, mencoba melahap Master Kliwon. Master Kliwon mendorong kaki sang
naga dan menghindari gigitan dari kedua kepala samping sang naga.
Tak
membiarkan Master Kliwon istirahat atau menyusun rencana, naga itu terbang
rendah dan kembali menyerang, kali ini menggunakan ekornya yang panjang dengan sisik
tebal membungkusnya. Master Kliwon menghindar, namun ekor itu terus gencar
mengincar nya. Master Kliwon harus berkelit ke sana ke mari menghindar. Sampai
akhirnya Master Kliwon melompat cukup jauh untuk menghindar. “Sabetan ekor nya
sangat berbahaya” gumam Master Kliwon. “Mungkin hal buruk akan terjadi, aku
akan menyimpan energi aji ku.” pedang besar Master Kliwon mengeluarkan sinar,
Master Kliwon menyabet ke depan dan langsung saja gelombang sabetan itu
mengarah ke sang naga yang langsung menghindar. Ini kesempatan, Master Kliwon
menancapkan pedangnya ke tanah, kemudian tanah itu menonjol dengan cepat dan
mengarahkan Master Kliwon ke sang naga, tanah yang dipijaknya bagai balok kayu
besar yang langsung berguguran ke bawah begitu Master Kliwon melompat,
menyiapkan pedangnya. Dia mengangkat pedangnya, dia yakin sang naga tidak akan
sempat menghindar, pergerakannya tidak dibaca sang naga. Maka begitu saja
Master Kliwon menghantam telak tubuh sang naga dengan pedang besar nya, yang
membuat sang naga jatuh ke tanah, membuat tanah itu remuk dihantam benda besar
nan berat.
Master
Kliwon mendarat mulus dan langsung saja melesat mengincar sang naga yang tengah
terkapar. Namun sebagai balasan, naga itu meraung dan kembali menghempaskan
gelombang panas yang dapat menghanguskan sekitar. Master Kliwon reflek menunduk
menyentuh tanah “Dadap Bentala!” gumam Master Kliwon, sebongkah tanah muncul
dan melindunginya bagai perisai, itu adalah sebuah ajian. Perisai tanah itu
dilapisi energi aji nya sehingga jauh lebih kuat dari tanah biasa, sanggup
melindunginya dari hawa panas yang dihempaskan sang naga. “Radius nya semakin
sempit” betul yang disampaikan Master Kliwon, radius hempasan hawa panas yang
naga itu hempaskan kini tak selebar yang pertama, ini jauh lebih sempit. “Sudah
ku duga kekuatannya semakin lemah, bahkan kini hawa panasnya tak menyembuhkan
luka-luka nya.” gumam Master Kliwon.
“Master
Kliwon mengimbangi pertarungan!” seru Erlangga mengepalkan tinju dari puncak
bukit— digendong leher Jaka agar lebih tinggi dan melihat pertarungan semakin
jelas.
“Kenapa
kau tak juga turun?!” gumam Jaka melipat wajahnya.
“Aku
ingin melihat lebih jelas!” sentak Erlangga.
“Master
Kliwon memang hebat, dia sanggup melawan naga berkepala tiga” Dinta menimpali.
“Tentu,
Sang Master Kontrol Energi Aji! Julukan itu tentu bukan tanpa alasan!” Widiki
mengangkat tinju ke udara, seolah menonton pertandingan antar kelas.
“Master
Kliwon sepertinya ingin segera mengakhiri ini, oleh karena itu dia menyuruh
kita menjauh.” Ucap Asih. Mereka mengamati jalannya pertarungan dari puncak
bukit yang jauh, daerah ini adalah yang tak terkena hempasan hawa panas naga
berkepala tiga. Di sekitar juga masih hijau meski berserakan jelaga gosong
akibat pembakaran beberapa saat lalu. “Agar kita tidak menghalangi Master
Kliwon.” Asih menjawab pertanyaan dari sorot mata Erlangga yang sepertinya bertanya kenapa Master Kliwon menyuruh kita mundur?
“Lalu
kenapa tadi Master Kliwon menyuruh kita maju?” masih digendong di leher Jaka.
Jaka
yang sudah tak tahan, menjatuhkan Erlangga, Erlangga tersungut-sungut “Karena
Master Kliwon ingin memberikan kita pengalaman. Jarang sekali menemukan monster
dengan jiwa jahat yang murni, apalagi jiwa jahat yang mengambil bentuk naga
yang langka” Asih mengangguk setuju— DOOM!!!! Perhatian Erlangga langsung
kembali ke jalannya bertarungan.
Kini giliran Master Kliwon yang
menghantam tanah, dia salah memperkirakan gerakan sang naga yang berakibat pada
hantaman ekornya yang keras. Master Kliwon bangkit, menyisir rambutnya ke
belakang dengan jemari, menggerakkan bahu nya, menggeram dan kembali menderap
dengan pedang besar di tangannya. RRRRrrrroaaaarrrrr naga itu meraung,
gemeretuk listrik di mulutnya yang terbuka bersiap menyemburkan gelombang sinar
listrik berwarna merah. Ketiga kepala itu serempak menyemburkan, yang kali ini
mudah saja Master Kliwon menangis nya. Naga itu menggeram kesal, dia
mengepakkan sayapnya menciptakan riuh angin kencang yang mengarah ke Master
Kliwon, Master Kliwon dengan sigap mengeluarkan ajian Dadap Bentala dan
melindungi tubuhnya dengan perisai tanah yang dilapisi energi aji dari tanah.
Angin yang dihempaskan tak sekuat yang pertama, kekuatan sang naga benar-benar
menurun setiap waktunya.
Sekali lagi naga meraung marah. Dia
seperti sudah habis ide untuk menyerang. “Hei, untuk apa kita bertarung lebih
lanjut?” Ucap Master Kliwon seakan naga itu paham apa yang ia sampaikan. Master
Kliwon kembali menggunakan ajian yang membuat tanah yang ia pijak menonjol
panjang mengarahkannya kepada kepala naga yang tengah, melihat itu naga mundur
selangkah namun terlambat, Master Kliwon telah berada lurus dengan kepala
tengah nya. Namun yang membuat naga itu heran, Master Kliwon tak menyerang.
“Kau hidup berapa lama?” sekali lagi mengajak bicara sang naga, sekaan
mengerti. “Kau sepertinya sangat membenci manusia, apa yang terjadi sebelumnya
padamu? Kenapa monster dengan jiwa jahat murni seperti mu ada di hutan ini?”
perlahan tanah yang sudah menjadi seperti balok kayu yang Master Kliwon pijak
mendekati sang naga, naga itu justru hanya diam saja masih keheranan. Master
Kliwon menyentuh kulitnya yang babak belur, bekas darah hijau nya akibat
menerima banyak serangan. Sang naga tak merasakan ada ancaman, dia selalu
membenci manusia, selalu berpikir negatif tentang manusia, tapi sekarang dia
merasakan hal yang berbeda dari manusia di hadapannya. Siapa kau? Suara
itu masuk ke dalam pikiran Master Kliwon, suara itu bagai tiga suara yang
berucap sekaligus, berbarengan. “Kau- kau berbicara ke dalam pikiran ku?
Sungguh hebat.” apa yang kau mau dariku!? kembali naga itu berbicara
melalui pikiran Master Kliwon, suaranya terdengar waspada dan juga ketakutan
“Aku tak berniat menyakiti mu, kita bisa sudahi pertarungan ini” ucap Master
Kliwon pelan, kembali mengusap kulit kening sang naga.
Kau membiarkan ku pergi dari
sini? Ragu sang naga dengan tiga suara yang menjadi satu “Tentu, kau bebas
ke mana pun kau pergi, namun dengan wujud besar mu, dan luka yang kau alami.
Kau kemungkinan akan diburu manusia. Tapi, kau boleh menjadi pusaka ku jika kau
mau.” Pusaka? Kau berniat menjadikan ku alat? Sama seperti manusia yang
lain?! Master Kliwon menepuk pelan kulit kening kepala tengah sang naga “Kau
bisa hidup dalam tubuh ku, jika kau mau. Itu lebih aman dan tentram bukan,
daripada kau harus berpindah dari gunung satu ke gunung yang lain?” Kau memperbolehkan
ku merasuki mu? Kau sungguh mau menjadi inang ku? Aku akan mengambil tubuhmu
lho! Tiga suara yang menjadi satu itu kembali ragu. “Jika kau bisa. Asal
kau tahu kontrol energi ajiku selalu berjalan bahkan saat aku tidur. Kau tak
mungkin merasuki ku. Lagipula…” Master Kliwon menggeleng. “Jadi bagaimana, kau
mau atau tidak?” Naga itu terlihat berpikir sejenak dan baiklah.
Tubuh naga berkepala tiga itu
bersinar terang dan sinar itu seperti menelan tubuhnya bulat-bulat, lalu sinar
itu menyusut dan menyambar tubuh Master Kliwon. Master Kliwon merasakan energi
aji yang menderas masuk ke tubuhnya, itu adalah energi aji sang naga. Sinar itu
mengecil sampai seukuran sendok lalu redup dan menyisakan tanda kepala naga di
punggung tangan kanan Master Kliwon. Di dalam tubuh Master Kliwon, benar
yang dikatakan manusia ini, aku tak bisa merasuki nya, aliran energi aji di
sini memiliki banyak cabang dan terlihat aneh. Apa benar dia manusia? Setidaknya
sepertinya aku aman sekarang. Gumam sang naga dalam hati. “Kau yang tenang
di tubuh ku.” ucap Master Kliwon.
“Ah— apa yang terjadi?” Erlangga tiba-tiba
kehilangan pandangan naga berkepala tiga itu. Dia hanya melihat sinar lalu
hilang begitu saja sang naga.
“Sepertinya
sudah selesai” Jaka menghembuskan napas pelan. “Mari kita pulang”
“Eh
tunggu dulu, apa yang terjadi?” Erlangga butuh jawaban, namun tak ada yang
menjawab, justru dia ditinggalkan teman kelompoknya.
apakah anda pemula?
anda pasti menjadi author hebat.....
kosakata anda bagus.....
aku menyukainya