Keempat elemen yang sengaja di pisahkan, tanpa sengaja bertemu sebelum waktunya tiba. Mulai dari sini juga, mereka akan memulai perjalanan. Menjalankan setiap misi yang selalu datang.
Airy, perempuan dengan elemen airnya. sifat yang sedikit cuek namun peduli dapat membuat semua orang yang berada didekatnya merasa nyaman. Mempunyai kembaran yang tidak identik.
Arva, lelaki dengan elemen air. Dan juga kembaran dari Airy, sifat yang bertolak belakang dengan kembarannya, dingin, cuek membuatnya mempunyai teman sedikit.
Jenggala, yang berarti hutan. Kemampuan yang dimiliki adalah mengendalikan tanah.Umurnya jauh lebih tua dari ketiga lainnya.
Dan yang terakhir ada Zinnia, sang bunga. Cantik, indah dan manis, yang mampu membuat siapa saja terpikat.
⚠️picture:pinterest⚠️
⚠️DILARANG KERAS PLAGIAT⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raamiran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(XIII) Misi Kedua
"baru sehari aja gue udah kangen sama Airy," ujar Zinnia yang sedang duduk di area taman sekolah,
"Airy atau Arva?" suara itu membuat Zinnia menoleh ke belakang, ternyata itu suara Jenggala.
"ya, pokoknya si kembar lah. Emangnya Lo gak kangen mereka?" tanya Zinnia memasang wajah penasaran,
"kangen, tapi.. Gue lebih kangen cahaya." jawab Jenggala dengan tersenyum malu,
"cahaya? Siapa itu? Gue kenal dia?" tanya Zinnia kembali,
"Nuri, dia cantik ya Zi?" pertanyaan itu membuat Zinnia heran, dan tertawa. "ada yang lucu?" Jenggala merasa aneh dengan gadis di sampingnya itu.
"Lo suka cewek juga ternyata," ujar Zinnia dan tertawa kembali.
Jenggala memilih meninggalkan Zinnia yang masih tertawa untuk hal yang tidak lucu menurut Jenggala.
Waktu antara Jakarta dengan daerah Madiun sedikit berbeda, walaupun begitu tidak membuat si kembar bermalas malas san.
"udah, kalian mending bersih bersih, inget ya besok kalian udah harus sekolah. Bukdeh sama pakde mau lanjut ini dulu," ujar kedua perempuan berumur yang merupakan kakak dari ayah si kembar,
"seharusnya Lo gak perlu lakuin ini untuk gue Va," seru Airy kepada Arva, tentu saja Airy merasa kali ini dia egois dengan apa yang diputuskan oleh Arva.
Arva mengelus lembut rambut Airy, "gue gak papa, ayo pulang!" mereka segera menuju kerumah untuk beristirahat.
Namun sebelum benar benar istirahat, Arva menyiapkan makanan untuk orang rumah selagi mereka benar benar pulang.
"ada yang perlu gue bantu gak?" tanya Airy,
"gak perlu, Lo istirahat aja. Ini juga sebentar lagi kok." jawab Arva, lalu menoleh ke Airy yang tepat berada di sampingnya, namun wajah Airy saat itu cukup masam, "kenapa?" tanya Arva
"gue udah gede, Lo gak perlu perlakukan gue layaknya bocah umur lima tahun. Sekarang bilang sama gue, apa yang perlu di bantu?" tegas Airy,
Arva hanya tersenyum mendengar itu dari Airy, "Lo emang masih kicik, udah Sono istirahat." dan jangan lupa mereka kembar, jika Airy keras kepala, sudah pasti juga dengan Arva.
Tetapi kali ini Airy tidak diam saja, dia melihat ada cucian piring di wastafel dan mulai untuk mencucinya, namun kali ini bukan dengan tenaganya langsung, melainkan elemennya.
Sekali gerakan tangannya yang seperti menari mampu menggerakkan air untuk menuruti perintahnya. Dan semua selesai.
Arva yang ingin menuju ke wastafel, bingung kemana perginya piring kotor itu, "kok?" dan dirinya menoleh ke arah Airy,
"lihat kan, gue bukan bocah lima tahun!"seru Airy, lalu pergi ke kamarnya, sedangkan Arva hanya tersenyum dengan tingkah saudarinya itu.
"kalian hati-hati ya, kalo sampai ada yang ganggu bilang sama pakde, oke?!" seru pakde Airy dan Arva,
"siap pakde!" sahut Airy dan Arva kompak.
Lalu mereka menuju ke ruang kepala sekolah untuk melaporkan bahwa mereka sudah datang dan menanyakan perihal kelas.
Setelah selesai, mereka di ajak ke kelas yang akan mereka tempati, dan kali ini mereka berada dalam satu kelas yang sama.
"baik, perkenalkan diri kalian!" seru guru bahasa Indonesia, Aminah.
Arva dan Airy mulai bergantian untuk memperkenalkan diri mereka masing masing.
"kalian kembar?" tanya salah satu siswa
"iya, beda berapa menit doang." sahut Arva singkat,
"baik, kalian berdua silahkan duduk dibangku yang kosong ya." perintah Bu Aminah,
Airy dan Arva hanya mengangguk dan segera menuju ke bangku yang kosong.
"nama gue Ella." salah satu ada yang memperkenalkan diri kepada Airy, lebih tepatnya yang akan menjadi teman sebangku Airy.
"Hai!" balas Airy,
Sedangkan mata Arva seperti mengawasi Airy yang tidak jauh dari dirinya,
"selow aja kali, saudara Lo gak bakal ilang bro!" seru Diran, teman sebangku Arva.
"kira kira, mereka lagi apa ya Jeng?" tanya Zinnia sembari menikmati ice cream di tangannya,
Jenggala tidak menjawab apapun, matanya lebih tertarik ke arah terang dekat pohon mangga didepannya.
Zinnia yang merasa tidak ada balasan dari Jenggala pun ikut menoleh, mengikuti arah mata milik Jenggala, "apaan itu?" betapa terkejutnya Zinnia saat melihat itu,
Jenggala pun berjalan lebih dekat ke arah terang itu.
"Jeng! Tunggu!" Zinnia ikut menyusul Jenggala yang berjalannya cukup cepat.
Saat mereka berdua lebih dekat, mereka melihat seseorang yang tidak asing di mata mereka.
"Nuri?" satu kalimat yang keluar dari mulut Jenggala,
"Lo kan yang waktu itu?" sahut Zinnia,
"akhirnya aku bertemu kalian, maaf jika kedatanganku cukup mengejutkan bagi kalian." ujar Nuri
"ada apa sampai kamu datang ke bumi?" Jenggala kembali bertanya,
"aku ingin bertemu keluarga ku di bumi, aku ingin sekali menyapa mereka, dan hanya kalian yang dapat membantu ku." jelas Nuri
"dimana Arva dan Airy?" tanya Nuri
"mereka sudah pindah ke kampung." jawab Zinnia,
Kemudian wajah Nuri berubah menjadi murung, Zinnia dan Jenggala saling bertatap, "ada apa Nuri?" tanya Jenggala,
"aku perlu kalian, namun bukan hanya kalian berdua tetapi berempat seperti nama kalian, Elemen December." jelas Nuri,
Wajah Zinnia terlihat bersemangat saat mengetahui jika dia akan bertemu dengan seseorang yang dirinya rindukan, "ayo! Kebetulan gue tau daerah yang mereka tempati!" seru Zinnia.
"Lo mau makan apa?" tanya Arva kepada Airy yang sedang duduk menatap anak kelas lain bermain bola di lapangan,
"gue gak laper Va, Lo aja gih sana yang makan." sahut Airy tanpa menoleh ke arah Arva
"yaudah, tunggu di sini ya," setelah mengucapkan itu Arva pergi ke arah kantin.
"hai, gue Raya! Lo anak baru kan ya?" ucapnya menyapa Airy,
Saat itu Airy menoleh, "hai, Airy. Iya gue anak baru, kenapa?" jawab Airy membalas sapaan Raya,
"gue denger denger Lo gak sendiri yang anak pindahan, yang satunya itu kembaran Lo ya?" tanya Raya,
Airy mengangguk, lalu tersenyum, "kita cuman beda berapa menit doang."
Kemudian Airy dan Raya melanjutkan obrolan mereka sampai, ada satu anak yang menyiramkan es batu ke arah Airy,
"Fani!!" seru marah Raya
"kenapa? Lo mau marah? Denger ya Raya, Lo itu gak akan bisa berkuasa di sekolah ini, jadi Lo gak usah sok baik sama anak baru!" ujar Fani yang baru saja menyiramkan es batu kepada Airy.
Di sisi lain, tubuh Airy sudah menggigil. Tubuhnya seketika lemah, wajahnya pucat seperti orang sakit.
"Airy!" dari arah jauh, Arva yang melihat kembarannya sudah terduduk lemas segera berlari secepat mungkin,
"Ry, Lo kenapa? Es batu? Ry gue mohon tahan sebentar ya kita ke UKS sekarang," Arva langsung menggotong tubuh Airy tanpa perduli di sekitarnya,
Sesampainya di UKS, suhu dan kondisi pada tubuh Airy kembali normal, "Va, maaf ya gue tau gue berat," ujar Airy
Arva menunduk, "seharusnya gue gak ninggalin Lo sendiri kayak tadi, gue bodoh banget ya Ry," ucap Arva
"sutt, gue gak papa Va, Lo gak usah ngerasa bersalah kayak gini." sahut Airy,
"Alay banget sih, gitu aja kok udah pingsan!" seru dari arah pintu masuk UKS,
"Lo yang kasih es batu ke saudara gue?" tanya Arva yang masih mengontrol emosinya,
Perempuan itu tersenyum miring, seakan menantang orang yang ada dihadapannya, "iya, kenapa?"
"Fani! Cukup! Tolong maafkan saudara gue ya, dia emang–" ucapan Raya terpotong oleh Fani,
"cuih, saudara? Bahkan anggap Lo hidup aja gue ogah!" tegas Fani, kemudian dia pergi meninggalkan ruang UKS,
...-Raya Puputan-...
...-Fani Oktora-...
mampir di karyaku juga yuks!
Dukung jg novelku /Smile/