Bercerita tentang masa-masa SMA. Seorang cewek yang mengejar cita, cinta dan mimpinya. Panggil saja dia, Mila. Aksara Mila. Cewek galak, ketus, dan menarik. Yang direbutkan oleh dua laki-laki yang menyukainya.
Tian si cowok datar, dingin dan menyukai Mila dalam diam.
Bian si cowok pintar, manis dan di sukai Mila.
Mereka berdua selalu membuat hati Mila bingung untuk memilih.
Tidak lupa ada sahabat-sahabat Mila yang selalu berada di sampingnya. Yana sahabat sekaligus tukang ojeknya kemana-mana. Lalu ada Tian, Seno, Amar dan Wahyu. Mereka semua adalah sahabat dan juga pelindung bagi Mila.
Bian bersaing dengan Tian untuk mendapatkan hati Mila. Tapi Bian kalah power karna benteng untuk mendekati Mila terbentang tinggi. Dia harus bisa melewati bodyguard yang selalu berada di samping Mila.
Yap, sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eis Alfiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembar Cerita
Tian datang menghampiri teman-temannya yang sudah berada di basecamp mereka biasa kumpul. Mereka sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Tak ada pembicaraan seperti biasanya di antara mereka. Entah karna memang sibuk atau memang menghindari pembicaraan. Suasana canggung terlihat di antara mereka. Mungkin karna kejadian Mila kemarin. Tian menatap mereka semua dengan tatapan heran. Baru hilang satu personil aja, sudah bisa membuat pertemanan mereka anyep macam ini.
“Baru datang?” tanya Seno melihat kedatangan Tian. Dia balas dengan tersenyum dan duduk di sampingnya. Yana melirik sebentar dan kembali fokus dengan ponselnya.
“Kalian diem-dieman gini?” Tian kali ini bersuara lebih dulu. Dia seperti tidak tahan dengan kecanggungan ini dan mencoba menegur teman-temannya. Wahyu dan Amar hanya melihat kearah Seno dan Yana. “Udahlah Yan, Sen nggak usah di lanjutin lagi urusan yang kemarin. Gak kasian apa sama Mila? Cukup dia aja yang kalian cuekin. Kalian nggak perlu saling cuek juga!” tegurnya kesal.
“Bener kata Tian. Gak asik dah sumpah kek gini,,,!” Wahyu ikut bicara. “Mila lagi nggak ada aja udah bikin ini tempat sepi. Apalagi ditambah lu berdua diem-dieman gini.”
“Gue nggak suka sama sikap Seno ke Mila kemarin. Yaaa, walaupun gue juga nggak suka sama sikap Mila. Gue tau Seno pasti kecewa, kesel, marah. Gue juga sama! Gue diem gini karna nggak mau debat aja sama lu.” tutur Yana sambil membakar rokok.
“Sorry, gue juga nggak bisa kontrol emosi gue kemarin ke Mila. Gue tau dia temen perempuan kita satu-satunya tapi sikap dia kemaren tuh keterlaluan banget sama Tian. Gak mau dengerin kita lagi,,,! Malah dia ngemis-ngemis maaf sama si kampret itu! Brengsek!” suara Seno meninggi mengingat sikap Mila kemarin.
“udah nggak usah dilanjutin lagi. Nanti yang ada kita yang ribut!” Amar menghentikan ucapan Seno.
“Mila berantem sampai lepas kendali begitu kemarin ada alasannya. Ya, karna dia di fitnah.” Tian menjelaskan semua cerita yang sebenarnya pada teman-temannya. Cerita jika Mila di jebak dan di fitnah. Walau Mila gak cerita semua tapi Tian mengambil kesimpulan dari kejadian kemarin.
“SIALAN! Emang kebangetan banget si Cila! Saiko gue rasa tuh cewek!” teriak Seno kesal setelah mendengar cerita dari Tian.
“Panteslah Mila kemarin murka parah! Taunya mereka main fitnah gitu. Kalau gue jadi Mila gue juga bakal ngelakuin hal yang sama.” saut Amar yang sedikit terpancing emosi.
“Iya. Mungkin kemarin Mila sebenernya nggak mau juga kita ikut campur tapi dia sendiri juga nggak bisa nahan emosi jadinya ya kelepasan gitu. Tau sendiri dia kalau udah kesel emosinya suka meledak-ledak.” jelas Tian lagi dan diam sejenak mengatur nafas. “Kalau urusan Bian itu jadi urusan Mila. Kita nggak bisa ikut campur karna itu masalah hati. Gue sendiri gak punya kuasa apalagi sampai maksa dia untuk nggak respek sama Bian. Biarin dia tentuin hatinya sendiri.” katanya dengan jujur dari dalam hati. Meski terdengar klise tapi itu kenyataannya yang terdengar getir dan pahit. Mereka yang mendengar juga merasakan hal yang sama. Seno menepuk bahu Tian, menenangkan hatinya. Walapun ini menyakitkan baginya tapi dia yakin semesta akan menyelipkan sedikit kebahagian untuknya.
“Terus kita harus gimana?” tanya Wahyu pada teman-temannya.
“Yan, lu kok diem aja?” Amar menyenggol kaki Yana.
“Sorry Yan, gue salah.” Seno mengulurkan tangannya.
“Gak usah minta maaf. Gue juga salah.” Yana menjabat tangan Seno.
🌻
Kelas dimulai, pelajaran pertama berjalan dengan tentram tanpa suara saling sindir menyindir seperti biasanya. Ada yang hilang dari kursi sebelah Yana. Anak-anak menyimak pelajaran dengan seksama. Entah karna niat belajar atau memang karna hanya ingin diam saja. Cila and the genx menikmati hari ini dengan penuh semangat karna mereka merasa bahagia tidak ada Mila. Cila merasa tidak ada saingan di kelas untuk beberapa hari ke depan. Dia berpikir kalau sudah berhasil membuat teman sekelasnya membenci Mila atas kejadian kemarin. Misinya berjalan sukses menyikirkan Mila.
Hari ini juga terlihat Bian semakin dekat dengan Qila. Mereka duduk sebangku. Entah apa yang membuat mereka semakin lengket. Qila ikut senang karna rencana Cila, dia jadi berhasil menyenggol kedudukan Mila di hati Bian. Yana tak peduli dengan itu. Dia hanya sibuk mengambar di belakang buku catatannya. Pikirannya sibuk mengaitkan cerita Tian di warung tadi dengan ucapan Qila dan Aya kemarin. Yana menelaah masalah yang terjadi dengan Mila. Tian yang hari ini duduk bersamanya melihat dia banyak diam dan sangat cemas. Tian mengerti perasaan Yana sekarang.
Pelajaran berakhir Bu Yanti memberikan tugas untuk minggu depan. Bu Yanti sudah mendengar masalah Mila dari Pak Hamzah pagi ini. Beliau kaget dan juga cemas mendengar hal itu. Apalagi Mila sampai absen dari pelajaran favoritenya karna masalah itu. Pak Hamzah membujuk Bu Yanti untuk bicara dengan Mila agar dia mau memanggil orang tuanya ke sekolah besok karna orang tua Mila tidak bisa dihubungi begitu juga dengan Mila.
Bu Yanti membereskan buku tugas yang telah di kumpulkan dan memanggil Yana untuk membantunya membawakan buku tugas itu ke ruang guru. Yana menutup bukunya dan maju ke depan lalu membawakan buku tugas kelasnya sesuai perintah Bu Yanti. Setelah mereka keluar dari kelas, Cila mulai meracau memprofokasi teman-teman sekelasnya.
“Duhhhhh, tenangnya hari ini. Nggak ada biang masalah di kelas.” racau Cila sambil meregangkan otot-otot tubuh.
“Bener banget, Cil. Tentram banget ya hari ini. Bener kan temen-temen?” saut Diana mulai ikut mengompori.
Mendengar mereka berdua menyindir Mila. Wahyu dan Seno seakan tersulut emosi. Dia tidak tinggal diam. “Weh lu bisa diem gak!” teriak Seno kesal.
“Yang ada elu yang kaya sampah!” teriak Wahyu juga.
“Aduh,,, bodyguardnya marah. Takut!” Netha meledek. Qila hanya menunduk menyembunyikan senyumnya di depan Bian.
“Duhhh, Mba. Kalau nyindir itu pas ada orangnya. Nanti diajak berantem mainnya keroyokan.” Amar yang dari tadi diam ikut buka suara membela Mila.
“Bisa gak sih diem! Berisik tau gak kalian semua. Belom cukup apa kemarin. Lagian orangnya juga nggak ada, masih aja dibahas!” teriak Bian menghentikan perdebatan antar genx itu. Namun malah membuat suasana kelas semakin memanas.
“Santai dong, Slow aja.” Seno maju mendatangi meja Bian. “Lu jaga aja cewek lu baik-baik. Gak usah ikutan ngebacot kaya cewek!” sindirnya di telinga Bian.
“Jaga juga tuan putri lu biar nggak kasar jadi cewek!” Bian tak terima dengan ucapan Seno dan membalas dengan menyindir balik sahabatnya. Mereka lalu saling bertatapan penuh amarah seperti akan ada awan gelap yang datang sebentar lagi dan menyemburkan kilat di mata mereka berdua.
Gani menghampiri mereka yang terlihat mulai sengit. Dia tak mau kelasnya di hancurkan lagi seperti kemarin. Gani melerai mereka yang sudah berdiri dan saling menatap. Seno melepaskan tangan Gani di dadanya dengan keras. Tian datang dan menarik tangan Seno untuk mencegah peperangan ini terjadi lagi.
“Gue jaga tuan putri gue, lu jaga tuan putri lu!” jawab Tian menohok di wajah Bian dan pergi meninggalkan kelas bersama dengan Seno dan yang lainnya.
Cila dan teman-temannya pun bersorak kegirangan karna berhasil menguasai kedudukan di kelas. Aya semakin tak nyaman dengan sikap Cila dan temannya yang lain. Mereka semakin menjadi-jadi setelah berhasil memfitnah Mila. Aya juga keluar kelas dan pergi ke toilet. Qila hanya menatap kepergian Aya karna dia sibuk menenangkan hati Bian.
🌻
Yana menaruh buku di meja Bu Yanti. “Bu, saya pamit ya.” Yana berniat meninggalkan ruang guru.
“Yana, sebentar.” Bu Yanti menahan Yana. “Ibu mau bicara sebentar.”
“Ada apa, Bu?”
“Mila tidak bisa Ibu hubungi dari pagi. Apakah dia baik-baik saja?” tanya bu Yanti cemas.
“Saya juga belum dapat kabar, tapi semoga dia baik-baik aja, Bu.” harapnya.
“Kalau sudah ketemu Mila bilang suruh kabarin Ibu ya. “Ibu akan coba bantu bicarakan dengan Bu Siska.” katanya sambil menepuk-nepuk tangan Yana dan di balas dengan anggukan.
“Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya keluar dulu.” pamitnya karna melihat ruang guru sudah mulai ramai dengan kedatangan guru-guru lain.
“Ya sudah.” Bu Yanti menyudahi pembicaraan mereka.
Yana keluar dari ruang guru dan kembali ke kelas tapi dia tidak melihat teman-temannya di sana. Lalu kemudian dia pergi keluar dan berpapasan dengan Aya yang habis dari toilet. Aya ingin menyapanya tapi Yana pergi begitu saja, tak menghiraukan. Ucapan Bu Yanti membuatnya makin kepikiran dengan keadaan Mila. Yana merogoh saku celana mencari ponsel dan terus mencoba menghubungi Mila tapi ponselnya masih tidak aktif. Yana menghampiri teman-temannya dan melihat Seno sedang mencuci muka dengan air dingin.
“Kenapa lu, kepanasan?” tegur Yana dan tak dijawab oleh Seno.
“Ribut dia sama Bian.” Wahyu yang menjawab.
“Kenapa lagi dia?” Yana meneguk air.
“Tadi genx kampak itu ngebacot nyindir Mila terus di sahutin sama Seno. Eh si Bian malah ikut-ikutan ngebela mereka. Nyuruh si Seno diem lagi. Ya sdah jadi adu bacot mereka. Eh di pisahin sama si Gani sama Tian.” jelas Wahyu.
“Tapi tadi keren sih.” Amar menyelang pembicaraan. “Gue jaga tuan putri gue, lu jaga tuan putri lu!”, ANJAY!” Amar mengulang kata-kata Tian lalu tersenyum bersama dengan Wahyu.
Mendengar itu membuat Yana semakin muak dengan Bian. Dia menenggak air sampai habis lalu meremas botolnya. Tian hanya diam tak berkata apa-apa sedangkan Seno jalan mondar-mandir mengontrol emosinya yang tak kesampaian.
“Mending kita temuin Mila deh pulang sekolah.” kata Seno yang mulai sedikit lebih tenang.
“Sampai sekarang aja dia nggak bisa dihubungin. Hp nya mati!” Yana kesal tak dapat menghubungi Mila. “Kalau kita kerumahnya gue takut nyokap bokapnya curiga.”
“Sama gue juga nggak bisa hubungin dia.” saut Amar dan Wahyu bersamaan.
“Tapi sekarang dia nggak masuk aja, pasti udah bikin orang tuanya curiga! Atau bisa juga dia alasan sekolah tapi pergi ketempat lain?” kata Seno menerka-nerka.
“Engga. Orang tuanya lagi pergi ke luar kota.” Tian bersuara.
“Kok lu tau?” Yana menengok ke arah Tian.
“Iya dia kemarin ke rumah gue sampai sore. Gue yang ngajak trus,,,,,” Tian melanjutkan ceritanya yang tadi pagi belum sempat selesai juga. Bercerita tentang si Kakek yang bisa jadi salah satu bukti mereka tapi Tian tak cerita tentang hal pribadi mereka. “Gue sih masih mau cari tau kebenarannya lagi tapi tanpa sepengetahuan Mila. Mumpung dia lagi nggak di sini. Gue usul untuk bantu dia kemarin tapi di tolak sama dia. Mila nggak mau dibantu sama sekali kali ini karna dia ngerasa kita ribut kemarin gara-gara dia.”
“Pasti gara-gara ucapan gue kemarin!” Seno terlihat menyesal.
“Gue sih kemarin sempet dengar pembicaraan Aya sama Qila kemarin,,,,,” Yana menceritakan kecurigaaanya tentang genx kampak.
“Gimana kalau kita tanya Qila langsung?” Amar memberi ide.
“Lu gimana sih! Lu tau kan dia rapet mulu sama si Bian. Gimana kita mau nanyanya?” kata Wahyu mengingatkan.
“Kayanya kita harus berharap sama Aya. Dia satu-satunya di genx itu yang kelihatan masih punya hati sedikit.” ujar Yana. Dia berpikir Aya sedikit berbeda dari yang lain.
“Bagaimana cara nanyanya?” kata mereka semua bersamaan.
🌻
Di saat teman-temannya mencari cara menemukan bukti untuk membelanya. Mila masih tertidur manis di kasur empuknya. Benar kata Tian, ini benar-benar extra libur untuknya. Mila membuka mata karna sorot matahari yang masuk dari celah jendela kamar. Mila menutupi wajah dengan tangan dan sekuat tenaga bangun dari tidur. Mila melihat jam dan membuatnya panik.
“ASTAGA! Jam 10.00 ! Mampus gue kesiangannn!” Mila bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Namun beberapa detik kemudian dia keluar lagi sambil menggaruk-garuk kepala. “Gue kan di skors yak!” dia berjalan ke kasur dan merebahkan tubuhnya lagi.
Mila menghidupkan ponselnya namun ternyata habis baterai. Dia meraih charger lalu mengisi daya ponsel. Setelah beberapa persen terisi dia mengaktifkan ponsel dan meninggalkannya di kamar. Mila turun ke bawah untuk mengambil air minum, tenggorokannya terasa kering bagai savana. Saat ponselnya sudah aktif, langsung saja diserbu dengan suara chat yang masuk dan beberapa panggilan tak terjawab. Mila pergi ke dapur dan merasa rumah tampak sepi tanpa Ayah, Ibu dan Lana. Dia membawa air dari kulkas dan pergi lagi ke kamar. Mila menenggak air sambil berjalan masuk ke kamar. Dia melihat ponsel sudah hidup dan lantas membukanya.
“Gila banyak banget! Siapa coba yang kerajinan telepon sampai sebanyak ini?” katanya dengan wajah kaget melihat banyak notif di ponsel. Hampir saja dia menyemburkan air dari mulutnya. Mila melihat daftar panggilan, ternyata itu semua dari teman-temannya, Bu Yanti, Ayah, Ibu dan yang bikin dia makin kaget adalah Bian. Tak hanya telepon mereka juga mengirim banyak pesan padanya. Yang membuatnya terharu tapi tidak dengan pesan Bian.
“Mila, sudah tidur yaa?” Ayah.
“Mila, sudah bangun belum? Nak bangun jangan sampai terlambat ke sekolah ya.” Ibu.
“Mila udah bangun? Jangan lupa makan yang banyak, kemarin udah banyak nangis 😊 “ Tian.
“Mil, gue pengen ngomong! Mila. Mil aktifin HP-nya!” Yana.
“Mila, gue minta maaf ya. Mil kita kerumah lo yaa...? Mil tongkrongan sepi gak ada lo!” Seno.
“Mila, angkat telepon kita.” Amar.
“Mil, angkat dong! Mila,,,,, cemilan gue utuh gak ada lo yang bantuin.” Wahyu.
“Mila sayang, kamu baik-baik saja? Bisa kabarin Ibu ya kalau butuh teman cerita” Bu Yanti.
“Mila, lu dimana? Si Cila berulah lagi gak ada lo di kelas.” Arsya.
“Mila, kamu di cariin Pak Hamzah?” Gani.
Mila senang melihat teman-temannya masih peduli dengannya. Begitu juga dengan Bu Yanti yang tak pernah absen memberikan perhatiannya jika dia sedang ada masalah. Namun ada satu pesan yang merusak semuanya. Pesan dari Bian. Rasa pedulinya pada Bian tiba-tiba hancur dan seketika memudar dengan ucapnya kemarin dan juga hari ini yang dia baca lewat pesan.
“Gue kecewa banget kemarin. Seharusnya lu bisa tahan emosi. Gak kelewatan dan bikin orang lain jadi tersakiti atas sikap lu!” Bian.
Mila berdecak kesal. “Dia kira gue kemarin kasar itu gara-gara siapa? Dia pikir gue peduli sama dia! Cehhhhhh...!” decaknya. “Lihat aja nanti, dia sendiri yang bakal malu karna udah ngebelain orang yang jelas-jelas salah!” katanya dengan sangat kesal. “Dia kira si Qila itu lebih baik dari gue? Malahan dia yang jauh lebih busuk dari gue! Dasar cewek muka dua! Sekarang gue sudah gak peduli lu mau belain dia atau engga. Gue juga nggak peduli kalau mereka sampai jadian! Pokoknya gue gak peduliiiiiiii....! Bian brengsek! Cila iblis!” teriak Mila sekencang-kencangnya. Dia melemparkan bantal mengungkapkan kekesalannya pada Bian dan juga genx kampak.
Benarkah Mila sudah tak memikirkan Bian sepenuhnya? Atau sekarang hanya Tian yang ada di hatinya?