Aderald Brixton, pengusaha ternama yang tiba-tiba saja dicegat mobilnya oleh seorang wanita hamil dengan pakaian berlumuran darah.
Raut ketakutan dari wanita itu membuat aderald mau tak mau harus membawa si wanita demi menyelamatkan dua orang nyawa sekaligus.
"Tolong bawa aku Tuan!! Bayi ku harus selamat...!"
Apakah yang terjadi? Dan siapakah wanita tersebut? Akankah peristiwa itu membawa mereka kedalam sebuah kehidupan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersiksa
Sesuai janjinya, Aderald kini tengah berbicara dengan dokter yang menangani Dona dan menceritakan jika wanita itu ingin di rawat di rumah saja. Aderald meminta keputusan dokter terlebih dahulu, jika dokter masih belum bisa membiarkan Dona pulang maka Aderald akan berusaha lebih keras untuk membujuk Dona supaya ia mau dirawat di rumah sakit sampai kondisinya stabil.
"Jadi bagaimana dok, apa Dona boleh di rawat di rumah saja? Saya akan meminta seorang perawat untuk memantau kondisinya" tanya Aderald, pria itu nampak cemas-cemas harap.
"Jika ini menyangkut Nona saja mungkin saya bisa memberi keringanan, namun ini menyangkut dengan bayinya juga. Setidaknya untuk dua hari saja Nona harus di rawat, setelah itu barulah Nona bisa pulang dari sini" cakap dokter yang tidak mengizinkan pasiennya pergi dalam kondisi seperti sekarang.
Aderald mendengar dengan seksama, ketika dokter mengatakan tentang bayinya, Aderald makin serius dalam menanggapi persoalan ini. Dahinya mengkerut dalam setiap pembicaraan itu, Aderald benar-benar tak ingin menganggap remeh hal tersebut.
"Kalau bisa, coba Tuan lebih sering membujuk Nona lagi. Karena emosi Nona yang cenderung labil bisa disebabkan karena faktor kehamilannya, bisa saja itu kemauan bayinya. Jangan takut jika Nona sedikit-sedikit marah, sedih, atau senang karena itu hal yang normal dialami oleh Ibu hamil" lanjut dokter menjelaskan lebih detail.
Aderald mengangguk-anggukkan kepala tanda paham, mungkin Aderald memang terlalu panik ketika menghadapi sikap Dona, wajar saja ia baru pertama kali berinteraksi dengan Ibu hamil, masih kurang paham bagaimana cara menyikapinya.
"Tapi akhir-akhir ini dia memang sedang dilanda banyak musibah, jadi saya pikir karena itu alasan kenapa dia sedikit emosional sekarang. Saya hanya cemas jika saya tidak menuruti keinginannya dia akan semakin stress" ungkap Aderald menyampaikan ketakutannya.
Dokter tersenyum seakan mengerti apa yang kini tengah Aderald rasakan.
"Saya sebagai dokter hanya bisa memberi informasi mengenai apa-apa saja yang baik untuk Nona, selebihnya saya pasrahkan kepada anda, hanya anda yang bisa membujuk Nona" kata dokter tak bisa berbuat banyak.
Aderald menghela nafas panjang, menetralisir pikirannya yang juga bingung saat ini.
"Baiklah kalau begitu, saya akan coba untuk membujuknya lagi. Saya permisi, terimakasih atas waktunya" pamit Aderald bangkit dari kursi.
"Sama-sama Tuan, dengan senang hati saya bisa membantu anda" balas sang dokter yang juga ikut bangkit.
Aderald lantas berlalu dari ruangan dokter dan kembali ke ruang inap dimana Dona berada.
***
Clekkk....
Aderald membuka pintu ruang inap VVIP tersebut, ketika masuk Dona tengah berbaring sembari melamunkan sesuatu ditemani oleh Aksa yang sedari tadi duduk di sofa menjaga Dona selama Aderald tak ada
Bola mata perempuan itu bergerak ke arah lelaki yang memasuki kamar inapnya.
Langkah kaki Aderald memelan kala masuk ke dalam ruangan itu, ia berhenti tepat di ranjang pasien, dari raut wajahnya Aderald terlihat bingung menyusun kata-kata untuk memberitahu Dona seputar percakapannya dengan dokter.
Hening...
Hening ...
"Aderald..." Cicit Dona.
Membuat Aderald menoleh menatap si pemilik suara.
"I-iya?" Sahut Aderald terbata-bata.
"Aku boleh pulang, kan?"
Pertanyaan inilah yang Aderald takuti, jakunnya naik turun menandakan jika pria itu sedang gugup. Bingung harus memulai dari mana, khawatir kalau kalimat yang ia keluarkan membuat Dona menangis kembali.
"Euhhh.... D-dokter bilang, kau harus dirawat minimal dua hari disini" pungkas Aderald jujur.
Mengetahui hal tersebut sorot mata Dona berubah kecewa, ia tak lagi bersitatap dengan Aderald, perempuan itu menatap lurus langit-langit kamar.
"Dokter bilang kau harus mendapat perawatan yang maksimal, dokter juga bilang ini demi kebaikan bayinya pula. Tidak akan lama, hanya dua hari. Kau mau kan? Dona?" Lanjut Aderald seadanya, Aderald akui ia tak pandai membujuk seorang wanita. Apa tindakannya sudah benar? Apa reaksi Dona selanjutnya?
Dona bergeming, masih dengan ekspresi kecewa. Meski Dona sadar jika ini bukan salah Aderald, namun hanya pria itu yang bisa menjadi pelampiasan suasana hati Dona yang naik turun sekarang.
Aderald menghembuskan nafas berat, tak ada respon dari Dona membuatnya kalang kabut namun sebisa mungkin Aderald tetap bersabar.
Ia pun duduk di kursi menggeser posisi lebih dekat dengan brangkar, tak lepas memandang wanita di dihadapannya.
"Apa yang kau khawatirkan? Kau bisa mengatakannya padaku" ungkap Aderald halus, disisi lain juga terdengar sendu.
Tapi sepertinya Dona masih terlalu canggung untuk bertukar cerita dengan Aderald.
"Jangan sungkan untuk memberitahu ku hal yang mengganjal pikiranmu, aku tak akan merasa keberatan. Justru dengan begitu aku bisa lebih mudah memberi solusi untukmu" tutur Aderald berusaha membuat Dona terbuka padanya, meski belum tentu Dona mau dalam situasi demikian.
Tatapan Dona perlahan melemah, di situasi yang sulit seperti ini Dona butuh sosok suaminya! Dona butuh Jarvis! Ia rindu suaminya! Seolah kini Dona berada ditengah-tengah ketakutan yang menyiksa dirinya!
Ia takut...
Ia lemah...
Ia lelah...
Dan menderita....
"Hiksss..... Hikssss......" Belum sempat Dona menjawab, tangisnya sudah pecah hingga membuat Aderald dan Aksa bangkit dari kursi.
Aderald seketika kelabakan melihat reaksi Dona, apakah ia salah bicara? Apa seharusnya ia tak bertanya seperti itu?!! Arrggh.... Aderald mengutuk dirinya yang bodoh ini!
"A-ada apa Dona? Kenapa tiba-tiba menangis hmm? Mana yang sakit? Beritahu aku? A-apakah pertanyaan ku tadi mengganggumu? Maaf.... Maafkan aku... Aku menyesal, kau boleh memarahi ku tapi tolong jangan menangis" Aderald menyerbu Dona dengan berbagai pertanyaan, terlalu panik kala melihat wanita didepannya menangis setelah mendapat pertanyaan dari Aderald.
"Hikssss..... ! Hikssss....." Tangis Dona makin kencang, Aderald pun makin linglung disana.
"Ada apa Dona? Katakan padaku, jangan menangis...." Melihat Dona yang terus-terusan mengeluarkan air mata membuat Aderald tak tega, pria itu lantas membungkukkan badannya meraih tubuh lemah Dona dan memeluk wanita tersebut guna memberikan Dona sedikit ketenangan.
Pelukan itu terasa hangat, membuat Dona lebih leluasa mengeluarkan keluh kesahnya.
"Hiksss..... Aku takut..... Hiksss..... Aku lelah seperti ini terus!! Aku lelah.... Hiksss.... Aku rindu Jarvis" Dan akhirnya Dona pun mengadu akan kesedihannya pada Aderald, menangis kencang di pelukan lelaki yang baru ia kenali tak peduli seberapa rendah harga dirinya. Dona terlalu letih dengan hal tersebut.
Mendengar itu entah kenapa Aderald merasa hatinya seolah tercubit, suara Dona menyayat hati Aderald yang terbilang keras. Lelaki itu memejamkan mata ketika mendengar penderitaan wanita ini. Begitu sakitkah Dona? Kenapa Tuhan memberikan cobaan begitu banyak padanya? Tidak cukupkah hanya kehilangan orang tersayang saja?
"Ada aku! Aku disini...."
"Aku akan menjagamu, menjaga bayimu, aku akan memberikan apapun yang kau inginkan asalkan itu yang terbaik untukmu"
"Lari padaku, peluklah aku, aku akan selalu ada disisimu. Jadi, jangan takut lagi"
•
•
•
•
Selamat Hari Senin 😁🎉
Jangan Lupa Vote Mingguannya Ya Readers Biar Mamie Tambah Semangat Nulis🥰😘
Mamie Tunggu Vote Dari Kalian🤗
Love❤️