Indonesia
NovelToon NovelToon
Tak Semanis Novela

Tak Semanis Novela

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Angst / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:44.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eska'er

Aisyah Khumairah ingin membantu perekonomian rumah tangganya, bersama sang suami –Bayu Laksmana-- ia banting tulang agar mendapat kehidupan yang lebih baik, tetapi di tengah perjuangan mereka, badai kehidupan memorak-porandakan pondasi yang telah mereka bangun. Sikap Bayu yang terlalu cuek pun menjadi salah satu penyebabnya.

Akankah Bayu menyadari kesalahannya, saat Aisyah sudah di titik jenuh dengan permasalahan mereka? Ikuti kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eska'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15_Apa teman-teman kamu lebih penting, Mas?

...Selamat membaca...

...***************...

 

Baru dua jam bekerja, pikiran Aisyah sudah tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Layar komputer yang menampilkan laporan hasil produksi hanya terpampang sia-sia, karena pikirannya hanya tertuju pada hubungannya dengan suaminya. Walaupun tadi pagi sudah membaik, tidak menutup kemungkinan hal ini akan terulang kembali.

 

"Ais!" panggil Witri yang membuat Aisyah berjingat kaget.

 

"Eh! Iya, Mbak?"

 

Witri menyeret kursinya agar lebih dekat dengan Aisyah. "Kamu ngelamun?" tanya Witri.

 

Awalnya Witri mengira Aisyah diam karena terlalu fokus pada pekerjaannya, tetapi ternyata salah. "Aisyah?" ulangnya.

 

"Eh! Enggak, Mbak. Cuma agak banyak pikiran aja," jawab Aisyah jujur sambil mengusap tengkuknya.

 

"Kayaknya kamu waktu berangkat tadi full senyum, deh. Sekarang kok malah kayak suntuk gitu? Emang masalahnya belum selesai?"

 

"Enggak kok, Mbak. Oh ya, OBnya udah lewat belum, ya?"

 

"Belum kayaknya. Kenapa?"

 

"Mau pesen kopi, Mbak. Biar agak fresh," jawab Aisyah. "Eh, itu dia!" tunjuk Aisyah pada salah satu OB yang lewat.

 

"Mbak!" panggil Witri pada salah satu OB.

 

 "Iya, Mbak?" jawab OB saat sudah sampai di depan meja Aisyah.

 

"Minta tolong buatkan kopi dua, ya?" pinta Witri.

 

"Siap, Mbak."

 

"Kamu ada masalah?" tanya Witri sepeninggal OB dari meja Aisyah.

 

"Mbak, menurut Mbak Witri normalkah perilaku suami yang berubah saat sudah berumah tangga dibanding sebelum berumah tangga?"

 

"Sebenarnya sih nggak gitu juga, Dek, konsepnya. Suami kamu berubah?"

 

"Ya gitu deh, Mbak. Kayak kurang perhatian aja sama keadaan rumah tangga kita. Mungkin karena aku lagi banyak pikiran kali ya, mbak, jadi berpikirnya juga yang negatif tentang suamiku."

 

"Coba deh, kamu omongin baik-baik sama suami kamu. Saling bertukar pikiran. Mungkin ada yang belum pernah kamu diskusikan saat sebelum menikah. Coba saling mengutarakan hal-hal apa yang nggak disukai dan yang disukai. Jadi tahu mana yang harusnya dilakukan dan nggak dilakukan."

 

"Em, bener sih, Mbak. Mungkin karena kita dulu lebih fokus pada seneng aja, tanpa berpikir ke arah sana."

 

Belum sempat selesai berbicara, dering telepon di depan meja Aisyah berbunyi. "Halo. Iya, Pak?"

 

"...."

 

 

"Baik, Pak. Akan saya kirim sekarang. Tinggal memasukkan hasil akhir kemudian men-combine beberapa dokumen pendukungnya. Selanjutnya nanti saya emailkan ke Bapak."

 

"...."

 

"Siap, Pak."

 

“Siap, Pak. Mohon ditunggu untuk laporannya. Terima kasih," jelas Aisyah lalu menutup teleponnya.

 

"Siapa?" tanya Witri sambil memberikan segelas kopi untuk Aisyah yang diberikan OB saat Aisyah menerima telepon.

 

"Pak Arsen. Laporan hasil produksi bulan ini sudah ditanyakan sama beliau. Sedangkan mau ngerjain aja pikiranku udah nggak nyampek sana," jawab Aisyah.

 

"Ya udah, kamu selesaikan dulu kerjaan kamu. Fokus dulu untuk sekarang. Nanti kita bicarakan lagi saat makan siang. Kita makan di tempat bisa, ya? Lagi malas makan di kantin aku.  Aku yang traktir kali ini." Aisyah hanya menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.

“Ngomong-ngomong, pak Arsen bakal lama nggak, sih, Mbak menggantikan kadiv Quality control?” tanya Aisyah karena mulai pagi ini, Arseno –supervisornya –mendapatkan tugas menggantikan kepala divisi quality control sementara, sehingga sekarang tidak lagi satu ruangan dengan Witri maupun Aisyah.

 

...**************...

 

Dua jam sebelum pulang, Aisyah menyempatkan menghubungi Bayu untuk menanyakan kepastiannya bisa menjemputnya atau tidak. Namun, tidak dijawab. Ia pun mencoba mengirimkan pesan, tetapi baru satu pesan yang ia kirim sudah terlihat centang satu. Aisyah pun menarik napas dan menghembuskannya perlahan.

 

Sembari menunggu pesannya dibalas, Asiyah kembali melanjutkan pekerjaannya.

 

Lewat satu jam, Aisyah kembali mengecek ponselnya untuk melihat balasan dari suaminya. Namun nihil. Asiyah pun resah dengan keadaan Bayu. Berulang kali ia menghubungi Bayu, tetapi tidak tersambung.

 

Witri yang baru keluar dari ruangan supervisor langsung menghampiri Aisyah  "Ais, tadi Pak Arsen bilang, kamu diminta ke ruangannya untuk presentasi laporan kamu. Katanya ada beberapa laporan kamu yang nggak singkron sama laporan di lapangan."

 

"Oh iya, Mbak." Aisyah pun menyiapkan mental untuk presentasi di depan Arsen. Ia tahu, Arsen adalah orang yang sabar, tetapi Arsen pun akan tegas bila ada karyawan yang melakukan kesalahan.

 

"Siang, Pak," sapa Aisyah saat memasuki ruangan Arsen.

 

"Siang, masuk dan duduklah!"

 

Aisyah menuruti perintah Arsen. "Aisyah ... Aisyah ... Kamu hari ini kenapa? Tidak biasanya kamu melakukan kesalahan yang fatal seperti ini," tutur Arsen.

 

Selama setengah jam Aisyah berada di ruangan Arsen untuk mendengarkan nasihatnya. Sedangkan yang Aisyah lakukan hanya meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat. Ia menyadari bahwa kesalahan ini sepenuhnya karena pikirannya yang tidak bisa fokus pada pekerjaan. Seharusnya ia bisa lebih profesional untuk membedakan antara urusan pribadi dan kantor.

 

Akhirnya Aisyah keluar dari ruangan sementara Arseno langsung merevisi hasil laporannya. Witri yang melihat raut wajah Aisyah ikut merasa kasihan. Ia berharap semoga masalah Aisyah cepat terselesaikan.

 

Hasil revisi Aisyah pun selesai tepat satu menit sebelum jam pulang kantor. Setelah ia mengirimkan hasil tersebut, ia langsung mengecek ponselnya dan tertanda sudah terbaca tetapi tidak ada balasan. Tanpa basa-basi lagi, Aisyah pun menghubungi suaminya.

 

"Halo, assalamualaikum, Mas. Jadi jemput aku, kan?" tanya Asiyah saat telepon sudah tersambung.

 

"Maaf, Dek. Kayaknya mas nggak bisa jemput kamu," jawab Bayu.

 

"Katanya tadi Mas mau jemput, loh. Kenapa sekarang nggak bisa?" tanya Aisyah.

 

"Maaf, ini mas sekarang lagi nongkrong sama temen-temen mas. Soalnya tadi ada yang traktir. Nggak enak juga kalo mas nolak, ini sama temen-temen mas, kok."

 

"Apa nongkrong sama mereka itu lebih penting daripada jemput aku, Mas?"

 

"Aisyah ... jangan mulai lagi, deh. Kita baru aja baikan. Apa kita harus berdebat karena masalah sepele aku yang nggak jemput kamu? Lagipula kamu bisa naik angkot, kan? Kenapa kamu jadi manja seperti ini?" Bayu pun tak mau dikalahkan. Ia tetep kekeh dengan pilihannya.

 

"Terserah, deh, Mas. Aku pulang naik angkot aja. Aku juga capek kalo bertengkar terus." Aisyah langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Bayu.

 

Aisyah yang sudah capek bekerja dan masalah di dalam pekerjaannya bertambah kesal saat mendengar Bayu lebih memilih nongkrong bersama teman-temannya daripada menjemputnya. Sebenarnya ia bisa saja naik angkot, tetapi apa salahnya saat ia meminta suaminya sendiri untuk menjemputnya? Paling tidak rasa capek yang ia rasakan bisa tergantikan dengan rasa bahagia saat ia bisa bersama suaminya.

 

Kini, Aisyah kembali merasa tersisihkan. Ia pun kembali berpikir tentang arti kehadirannya saat ini. Mengapa dirinya semakin tidak terlihat setelah ijab terucap? Sekarang, apa perlu ia menyesali keputusannya? Tidak. Aisyah harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia pilih. Benar kata Witri, Aisyah perlu berdiskusi dengan Bayu. Semua perlu dibicarakan dengan serius, karena pertengkaran yang timbul saat ini karena satu penyebab, kurangnya komunikasi.

 

Aisyah pun terpaksa pulang dengan naik angkot. Dari pada membiarkan hatinya kesal, lebih baik ia bersabar untuk menghadapi suaminya. Yang harus ia lakukan saat ini memang tetap sabar, dan setelah ini ia harus membicarakan perihal apa yang ia rasakan.

...**************...

...to be continued...

Jangan lupa like, komentar dan gift 🙏

 

1
vi
jadi kasihan sama ajeng
vi
cerita nya bagus
deandra syahfitri
Luar biasa
Dyah Rachmawati
ceritanya sangat bagus, merakyat. jarang-jarang ketemu novel yang ceritanya seperti ini...
Dyah Rachmawati
Luar biasa
hidagede1
kaya nya sifat anak" nya bu ambar nurun dari suami nya
hidagede1
ih aish punya laki kaya gitu bukan nya di pukul sama gepokan uang, biar lagsng pingsan
Mila Khayla Di
erina perlu di bina mulutnya tuh
Mila Khayla Di
like father like daughter
Mila Khayla Di
bikin esmoni si Erina
Yusma Aryandi
Sudah tamat kah, atuh Dian sama Tian gimana selanjutnya
°ammy🌾👉ig: amih_amy
udah tamat 🥺🥺
lanjut, dong 🥰
angie widya
lho ko di tamatin 😅😅
angie widya
cieeee bentar lagi kondangan kita yaa 😅😅😅
°ammy🌾👉ig: amih_amy: Barengan, teh 😂
total 1 replies
Yusma Aryandi
Semoga mereka berdua berjodoh
Diana dan Septian
angie widya
kata " mengusir" nya kesannya kasar ya
mohon maaf sebelumnya 🙏🏻🙏🏻🥰
U_Line
widih, ada aroma romantis yang tersembunyi, nih. Pepet terus, Di, jangan sampai lepas. 😂
Yusma Aryandi
Wah, akankah Tian dan Diana atau Tian kembali ke mantan istrinya si Ajeng, jadi makin kepo nih 🤭🤭
angie widya
😁😁😁😅
tuh dengerin apa kata diana , pak tian
Mila Khayla Di
finally brojol
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!