Indonesia
NovelToon NovelToon
Luka Luna

Luka Luna

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Angst / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Apriria

Menikah dengan pria yang dicintai, tak lantas membuat hidup Luna bahagia. Nyatanya, ia harus menelan pil pahit kehidupan setelah menikah dengan Arfan.

Semua disebabkan oleh toxic-nya sikap sang ibu mertua. Bukan hanya sok kuasa terhadap sang putra, ia juga selalu menyiksa batin Luna dengan segala tingkah absurdnya.

Akankah Luna kuat bertahan seatap dengan mertua yang begitu rupa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Apriria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menenangkan Diri

Sesi pamit yang berlangsung tanpa banyak basa-basi dan diiringi tatapan sinis Bu Tiwi mengantar kepergian Bu Ainun dan Luna untuk pulang ke rumah mereka di desa. Bahkan, Bu Tiwi sempat keberatan kala Arfan juga pamit untuk mengantar istri dan ibu mertuanya.

“Kamu kan baru pulang, Arfan. Nanti kamu capek loh di jalanan terus,” larang Bu Tiwi dengan tatapan menghunjam justru ke arah Luna karena merasa bahwa gara-gara Luna anaknya jadi harus susah payah baru pulang kerja sudah pergi lagi.

“Nggak, Bu. Cuma nyetir ke sana nggak akan capek,” jawab Arfan kemudian. Nanti Arfan juga izin sekalian menginap semalam saja, ya. Besok pagi-pagi sekali baru pulang,” kata Arfan tanpa meminta persetujuan pada Bu Ainun karena menurutnya Bu Ainun pasti akan senang kalau Arfan menginap dulu.

“Jangan! Ibu takut kalau di rumah sendirian, Arfan. Kamu kan tahu di sini sekarang tidak aman. Kalau malam banyak maling berkeliaran. Kamu aoa nggak kuatir sama keselamatan Ibu?” Bu Tiwi mulai merepet karena ia memang tak pernah mau kalau ditinggal sendirian di rumah hingga malam hari. Entah asli ketakutan atau memang sengaja bertingkah sok manja terhadap anaknya itu. Luna mendengkus kesal di belakang Bu Ainun. Ia tahu betul tidak ada kabar maling berkeliaran di sekitar lingkungan mereka itu. Kompleks perumahan mereka justru sangat aman dan tentram kecuali kegaduhan ibu-ibu tukang ghibah saja yang adalah teman ngerumpinya Bu Tiwi sendiri. Huh!

Arfan tak dapat membantah karena segan terhadap Bu Ainun. Ia lantas membawakan tas Luna dan mempersilakan istri serta ibu mertuanya untuk masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan, Arfan berusaha memulai obrolan dengan menawari oleh-oleh ini itu yang bisa dibeli di jalanan menuju desa. Tapi Bu Ainun tentu saja menolak. Karena segan, Arfan memutuskan memberhentikan mobilnya did epan sebuah toko pusat oleh-oleh dan mengajak Luna turun untuk membelikan sesuatu bagi keluarga besar Luna di desa. Akan tampak tak pantas kalau mereka datang hanya dengan berkosong tangan.

Sesampai di rumah Bu Ainun, Arfan singgah sebentar dan sempat diseduhkan kopi serta beberapa makanan kecil yang ada di stok cemilan rumah itu.

“Maaf ya, nak Arfan. Kalau makanan belum ada karena tadi Ibu dari pagi sibuk siap-siap ke rumah kamu makanya nggak sempat masak. Biar dimasakin Luna dulu ya? Tunggu sebentar,” kata Bu Ainun yang ditolak dengan halus oleh Arfan.

“Biar Arfan dan Luna keluar sebentar untuk beli makan malam kita bertiga, Bu.” Arfan langsung bangkit lagi dan mengajak Luna dengan menaiki motor matic yang biasa Luna pakai bepergian dulu semasa masih di rumah itu.

Di jalanan, Arfan mencari tahu kepada istrinya soal ada apa sebenarnya kenapa mendadak Bu Ainun mengajaknya pulang.Kalau ada acara keluarga besar seharusnya sudah terjadwal sejak lama hingga ia pun tahu rencananya, kan.

“Ibu ... punya feeling buruk tentangku katanya, Mas,” ungkap Luna mengaku.

Arfan segera menghela napas panjang. “Punya feeling atau kamu yang mengadu pada Ibu?” tanya Arfan menyelidik.

Luna terperangah atas tuduhan sang suami.

“Mas! Aku nggak pernah ya ngadu sama Ibu soal ibu kamu. Aku juga kasihan sama ibuku sendiri. Lebih baik kupe4ndam sendiri semua luka hati. Bahkan sampai sekarang juga aku belum bicara apa pun.”

“Tapi lalu bagaimana bisa Ibu kamu jadi mikir yang aneh-aneh coba?”

“Ya Mas juga lihat sendiri kan gimana sikap ibu kamu sama ibuku tadi? Udah kelihatan sendiri dari situ, Mas. Aku jadi merasa percuma aja kututup-tutupi kalau ibu kamu sendiri aja nggak mau jaga sikap. Minimal di depan ibuku lah!” Luna marah-marah di jok belakang motor.

Ryan jadi kebingungan sekarang. Karena apa yang dikatakan oleh Luna itu memang benarlah adanya. Memang keterlaluan sekali sikap Bu Tiwi tadi terhadap Bu Ainun, sungguh tidak selayaknya sikap terhadap besan yang datang dari jauh.

Usai membeli makanan di kedai ayam bakar pilihan Ryan, mereka kembali pulang dan makan bertiga dengan akrabnya. Obrolan panjang mengenai banyak hal berlangsung selama beberapa waktu setelahnya.

Ah, setidaknya sikap Ryan tak seburuk ibunya, begitu pikir Bu Ainun menghibur pikirannya sendiri. Ia jadi lumayan tenang karena Luna ada di tangan suami yang benar. Ryan tampak menyayangi, peduli dan juga bersikap baik serta melindungi terhadap putrinya itu.

Ryan mengutarakan keseganannya karena tak bisa turut menginap bersama Luna di situ karena permintaan Bu Tiwi. Dan sebagai jawaban, Bu Ainun tentu saja menyatakan pemaklumannya. Meskipun dalam hati Bu Ainun juga sedikit keberatan pada sikap manja Bu Tiwi yang tak bisa sendirian walau hanya semalam itu. Dirinya sendiri saja selalu di rumah sendiri semenjak Luna dipersunting dan diboyong oleh Ryan. Mau bagaimana lagi, anak-anak mereka kan sudah memiliki keluarganya sendiri, membangun rumah tangganya sendiri.

Sepeninggal Ryan, Bu Ainun mengajak Luna untuk tidur saja bersama dalam satu kamar. Ia sungguh ingin mendnegar cerita selengkapnya dari sang putri. Yah, meskipun seharusnya ia tak boleh lagi turut campur dalam urusan rumah tangga Luna, tetapi kalau melihat putrinya yang bertingkah seolah dia tak baik-baik saja itu membuatnya cemas dan khawatir kalau ada hal buruk yang terjadi di luar sepengetahuannya selama ini.

“Cerita aja yang sejujurnya pada Ibu, Luna. Barangkali ibumu yang tua ini punya pengalaman lebih untuk bantu mencarikanmu solusi,” bujuk Bu Ainun sekali lagi. Beberapa kali Luna hanya bungkam atau menjawab dengan jawaban klise bahwa semuanya baik saja dan dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi, tentu itu saja tak cukup untuk meredam keingintahuan Bu Ainun yang sedang memuncak. Bukan kepo, lebih kepada prihatin dan ingin menyelamatkan hidup sang putri.

Akhirnya karena mengorek info dari putrinya ternyata begitu sulitnya, Bu Ainun coba memancing-mancing dengan obrolan santai keesokan harinya.

“Kamu biasa masakin Bu Tiwi apa, Luna Apa dia selalu cocok sama masakan kamu?”

Luna berdehem. “Apa ya yang kesukaan ibunya Mas Arfan? Kayaknya sih kesukaannya ada banyak, Bu. Kadang beliau minta menu ini, besoknya itu. Ganti-ganti sih,” jawab Luna tanpa kendali.

“Jadi kamu yang masak sendirian, atau berdua saling kerja sama?” pancing Bu Ainun lagi.

“Ya Luna sendiri yang belanja lalu masak, Bu. Tapi penentu menunya aja beliau,” jawab Luna keceplosan. Dan nada kesal dalam suaranya barusan pun tak dapat disembunyikan.

Bu Ainun menganggukkan kepalanya paham. Sementara Luna baru tersadar kalau jawabannya mulai melantur dan justru mengusiknya untuk bercerita semuanya kepada sang ibunda.

“Bu, menurut ibu gimana sih aku jadi menantu? Apa aku kurang apa gitu, Bu? Kok Bu Tiwi rasanya selalu aja musuhin aku,” cerocos Luna akhirnya tak terkendali lagi.

Bu Ainun mendesah kini, ia sudah menduga mungkin memang hal serupa itu yang terjadi. Didekatinya putri semata wayangnya itu dan diajaknya mengobrol di teras di mana mereka bisa memandang ke kebun mangga sebelah rumah yang menghijau dan mulai bermunculan bakal buah mangga dari ranting-rantingnya itu.

“Berceritalah, Nak ....” dorong sang ibu yang membuat Luna semakin yakin untuk menumpahkan segala keluh kesahnya terhadap Bu Tiwi selama ini. Diceritakannya semua hal yang pernah dikatakan ataupun diperbuat oleh mertuanya itu yang menyakiti hatinya hingga kini.

“Apa menurut Ibu aku memang pantas diperlakukan seperti itu, Bu? Memangnya di sebelah mana sih salahku?” cecar Luna sambil sudah ada isakan tertahan yang keluar.

Sepanjang cerita Luna, Bu Ainun banyak sekali beristighfar dan terkejut dengan apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin Bu Tiwi sampai hati menyiksa batin Luna sampai sedemikian rupa? Ia ikut merasai sakit hati yang Luna rasakan tentu saja. Tanpa sadar bahkan air matanya turun berlinangan kini.

***

1
angel
klu dah kaya gini ngapain nikah ..klu gaji suami ibu nya yg pegang ...istilah dari mana ya
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣
baguss bangettt karyamu, Thor.. penulisannya keren dehhhhh😻😻
Yosnia Figi
lanjuut thor
BillyBabe lover's
keren bgt.. sabar ya Luna... hidup emg penuh tantangan..
Liana Lia504
semangat kak up nya, dan buat luna pergi dari rumah mertua nya aja thor daripada gak dianggap sama mertua nya
Dian Apriria: masih dinego-in ke Arfan, Kak🥲
total 1 replies
Liana Lia504
ditunggu up nya kak
Sifa Azahra
gemess sma mertua ny...
kl aku punya mertua kaya gtuu pastii udh aku ajakiin gulet
Dian Apriria: Hihihi, Bu Tiwi emang gemesin banget buat diajak gelud, ya, Kak🤭
total 1 replies
Liana Lia504
lanjut thor ditunggu up nya
Dian Apriria: ahsiyapp, Kak😍Kalau ada yg komen gini jadi semangat nulisnya. Sedang kutulis lanjutannya, ya, Kak.

makasih banyak udah mampir baca dan komen🧡
total 1 replies
Liana Lia504
lanjut thor
Not Found
Bikin nagih
semangat kak updatenya 🌹
Not Found
jadi takut nikahh :'
ʀɦʊ¢ɦǟռ
semangat ya kak, aku hadir bersama bintang di langit 😂
Dian Apriria: makasiii banyak, Kak🧡
total 1 replies
ʀɦʊ¢ɦǟռ
sabar Luna, semua ada hikmahnya 🤗
Dian Apriria: Ho oh, Kak. semoga pelangi di akhir buat Luna🧡
total 1 replies
👑Ajudan Tante Lele💣
kwkwkw cb kalau aku jadi si tiwi. udh aku pecat itu si emak jadi mertua. ak tinggalin semua perabotan kotor biar dia yang bersihin semua. aku rekam omongan nyinyirnya. aku kirim ke semua orang yg tau soal pernikahan kita berdua biar tau kelakuan si ulet bulu.

itulah cara menghargai dan menghormati diri sendiri. kita idup bukan utk dihina. merdeka💪 cucian mana cucian, rasanya mau gue remes2😤😤😤
Dian Apriria: wkwkwkwk, noted, Kak. Luna kudu gitu juga kayaknya nih😍
total 1 replies
👑Ajudan Tante Lele💣
jeng ini ke-enter jeng mataku jadi ikutan lompat bacanya😆
Dian Apriria: ahsiyaapp ediiit, maaciiih remindnya, Kak🧡
total 1 replies
Yosnia Figi
lanjut thor
Dian Apriria: Siap, Kak, otewe ngetik. Makasi udah mampir🧡
total 1 replies
Amethyst Moon
Hay, Kak. aku mampir, semangat dan terus berkarya.

masukan dariku kata tegur di ganti kritikan saja 😁
Dian Apriria: siapp, Kak, noted😍 makasiiii
total 1 replies
PengkhayalMalam
Semangat Luna pasti kamu bisa lewati cobaan hidup
Dian Apriria: Semoga, ya, Kak😍
total 1 replies
Tebe'e
Semangat Up, Thor 🤗
Dian Apriria: Siap, Kak🧡Makasih udah mampir
total 1 replies
Tebe'e
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!