Menjadi pilihan kedua adalah situasi yang paling membuatmu terluka disaat kamu pantas dan layak untuk jadi prioritas.
Almeera Tungga Dewi Hutomo putri tunggal dari pasangan Anita Rosadi mantan penyanyi terkenal dieranya dan Gunawan Tri Hutomo seorang lawyer terkemuka hingga sekarang. Hidup berbekal sendok emas sudah menjadi takdir untuknya. Di dukung wajah ayu serta otak yang bisa dibilang encer membuat gadis 16 tahun tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu manusia beruntung di dunia ini.
Almeera Tungga Dewi Hutomo layaknya cover buku yang begitu menarik untuk dimiliki. Namun terkadang kita lupa, cover memang ditakdirkan untuk dibuat semenarik mungkin tapi isi, terkadang tak semenarik apa yang kita pikirkan. Akan ada banyak catatan serta goresan yang membuatmu tersadar. Hidup tak selamanya berbicara akan kebahagiaan, tangisan serta ratapan juga akan selalu membayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juli Widi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengapa si manusia kutub jadi baik??
Pagi hari di kamar serba putih terdengar suara alarm sudah berbunyi dengan nyaring layaknya bunyi token listrik tetangga yang demo minta diisi. Sang penghuni kamar sudah beberapa kali mencoba menghentikan bunyi alarm tersebut. Kupingnya rasanya mulai berdengung saking nyaringnya. Tangannya perlahan mengambil ponsel yang berada di samping bantal dengan jengkel dan berniat membantingnya. Beruntung kesadarannya mulai terjaga, ayunan tangannya spontan terhenti dan ponselnya selamat dari maut. Cewek itu perlahan melihat layar ponselnya dan matanya seketika terbelalak. Jam menunjukkan pukul setengah enam lebih.
Almeera reflek terbangun dari tidurnya. "Ya ampun bisa terlambat ini,"
Jantung Almeera rasanya sudah jedak-jedug tidak karuan. Gila jam pertama Pak Amir guru matematika sekaligus wali kelasnya yang sialnya tingkat killer beliau itu level pedas gila. Kalau sampai terlambat bisa-bisa berakibat fatal ke nilai. Dulu ada kakak kelas yang terlambat dan konsekuensinya dia harus remidi berkali-kali demi bisa naik kelas.
"Huh...huh...huh," Almeera sejenak mengatur nafasnya dan berpikir jernih apa yang harus dilakukannya agar tidak terlambat.
"Ayo dong otak berfungsi kek!" monolognya pada diri sendiri.
Detik berikutnya Almeera tersenyum smirk, ide brilliant akhirnya muncul di otaknya. Almeera rasanya senang sekali. Apapun kalau keadaannya mepet, jalan keluarnya pasti ada.
"Ya hari ini nggak usah mandi cukup gosok gigi, mencuci wajah, pakai seragam dan tinggal cus." Almeera berseru dengan bangga.
****************
Di dalam kelas Freya beberapa kali menghubungi Almeera tapi tidak ada jawaban. Freya terlihat menggigit kukunya terlihat sedang cemas. Matanya mengabsen semua murid yang sudah di kelas dan ternyata tinggal Almeera yang belum tiba. Matanya kemudian melihat jam di dinding, lima menit lagi kelas akan dimulai.
Freya terus berdoa dalam hati berharap Almeera segera muncul dikelas sekarang, karena jam pertama adalah Pak Amir. Almeera bisa kena masalah kalau sampai terlambat. Freya tidak mau sahabatnya itu kena masalah.
"Fre kemana Almeera?" tanya Dika setengah berbisik karena Pak Amir baru saja masuk ke dalam kelas.
"Nggak tahu," balas Freya sambil menggelengkan kepalanya.
Dika seketika cemas bagaimana kalau Almeera terlambat dia lebih prefer sahabatnya itu sakit atau izin kemana gitu. Kalau sampai terlambat namanya cari penyakit, dan Dika tak rela kalau sahabatnya sampai mengalaminya.
"Apa dia tidak bilang apa-apa?" tanyanya lagi, dan itu membuat Freya haru. Sosok Dika bagaikan malaikat pelindung untuk dirinya dan Almeera. Lihat walaupun Dika kerap kali gelud dengan Almeera, kalau Almeera ada masalah Dika pasti ikut cemas.
"Nggak Dik," jawab Freya sembari memeras jemarinya yang terasa dingin.
"Tet... Tet... Tet...," bel berbunyi pertanda kelas akan dimulai sekarang.
"Anak-anak proses belajar mengajar akan segera dimulai silahkan berdoa terlebih dahulu menurut ajaran agama masing-masing!" suara berat pria paruh baya membuat suasana dikelas mendadak hening.
Dika dan Freya benar-benar tidak tenang sekarang, di detik terakhir seperti ini mereka berharap ada surat keterangan sakit atau apa gitu pokoknya Almeera tidak terlambat.
"Berdoa selesai, kumpulkan ponsel kalian kedepan setelah itu saya akan absen kalian satu persatu!" Beritahu Pak Amir dengan tegas.
Dika dan Freya saling adu pandang bingung apa yang harus mereka lakukan swkarang untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Mereka benar-benar buntu sekarang, tidak ada ide sama sekali.
"Maaf pak, saya menyela sebentar." Izin Bara membuat pak Amir menghentikan proses absensinya.
"Ya silahkan!" pak Amir dengan cepat langsumg mempersilahkan Bara berbicara.
"Siswi atas nama Almeera Tungga Dewi Hutomo ada sedikit masalah diperjalanan menuju ke sekolah, jadi bisa dipastikan pagi ini dia terlambat datang ke sekolah. Almeera menghubungi saya beberapa menit yang lalu pak." Jelas Bara panjang lebar.
"Baiklah." Respon pak Amir santai.
Bara akhirnya bernafas lega karena dirinya sempat khawatir akan respon pak Amir yang tak terprediksi. Dirinya kali ini seperti sedang uji nyali, kalau sampai pak Amir mengajukan pertanyaan yang tak bisa ia buktikan kebenarannya dia pasti akan tamat sekarang.
Proses absensi kemudian dilanjutkan kembali oleh Pak Amir. Dika dan Freya spontan menghela nafas lega namun mereka juga mendadak cemas takut Almeera kenapa-napa. Mereka heran tumben Almeera pinter memilih menghubungi Bara, si ketua kelas sekaligus tangan kanan pak Amir. Apapun yang dikatakan Bara pasti pak Amir akan mengiyakan.
Tak lama kemudian Almeera muncul dengan muka berantakan. Tubuhnya gemeteran dengan sanksi apa yang akan diterimanya karena terlambat. Dia sudah pasrah dengan nasibnya kali ini. Almeera hanya berharap kalaupun diberi sanksi setidaknya tidak berimbas dengan syarat kenaikan kelas.
"Maaf pak saya terlambat." Ucap Almeera dengan gugup.
"Silahkan ketempat duduk kamu, lain kali hati-hati kalau berangkat ke sekolah!" perintah pak Amir kemudian.
Almeera sontak melongo, dia tak langsung duduk sebaliknya malah membeku ditempatnya. Apakah ini april mop. Almeera kemudian mengedarkan pandangan ke Freya dan Dika. Dia bingung dan tidak bisa berpikir jernih saking kagetnya.
"Almeera sini cepetan duduk!!!" Suruh Freya sembari melambaikan tangannya.
Dengan sedikit linglung Almeera berjalan ke tempat duduknya disamping dikursi samping Freya. Almeera kepo sekali ingin bertanya kepada Freya kenapa pak Amir hari ini jinak sekali. Apakah yang di depan kembaran pak Amir yang lagi nyamar sekarang. Baru saja ingin membuka mulut Freya lebih dulu membungkam mulut Almeera agar fokus mengikuti pelajaran pak Amir sekarang. Freya takut kena tegur, apalagi sahabatnya ini baru saja lolos dari sanksi maut.
****************
Selepas pulang sekolah mereka Dika, Almeera, dan Freya tidak langsung pulang. Mereka bercengkrama terlebih dahulu di gazebo sekolah sambil nyemilin makanan ringan. Dika tengah menunggu Leo yang masih ngapel diruang BK sedang Almeera dan Freya menunggu jemputan pak Ujang sopir keluarga Almeera. Pak Ujang menghubungi Almeera kalau ada sedikit masalah fengan mobilnya jadi jemputnya agak terlambat.
"Mir tumben otak lo hari ini pinter?" celetuk Dika sambil mencibir.
"Emang dari dulu pinternya." Balas Almeera Penuh percaya diri.
"Ck." Dika berdecak sebal mendengarnya.
"Kamu hari ini tumbet telat masuk kelas menghubungi Bara bukan kita?" tanya Freya penasaran.
Almeera mengerutkan keningnya heran."Hah, siapa yang menghubungi si manusia kutub itu."
"Jadi kamu sama sekali nggak menghubungi Bara kalau akan terlambat masuk kelas?" tanya Freya sekali lagi.
"Nggak."
"Terus pas berangkat sekolah kamu nggak ada masalah diperjalanan?" Freya jadi kepo.
"Nggak, tunggu sebenarnya gimana sih ceritanya aku nggak faham deh?" Almeera juga ikut-ikut bingung disini.
"Jadi gini-" Freya menceritakan semua yang dilakukan Bara tadi pagi menyangkut dirinya, sehingga ia bisa terhindar dari murka pak Amir.
"Kok tumben," Almeera mendadak cengo.
"Gila, lo harus sungkem sama si Bara Mir kalau bukan karena dia gue nggak bisa bayangin nasib lo saat kenaikan kelas. Lo tahu sendiri pak Amir itu killernya minta dirukyah. Dia paling benci namanya murid terlambat, kamu ingat moto beliau disiplin adalah kunci naik kelas tidak disiplin adalah kunci tinggal kelas. Bahkan kuping sampai akrab dengan kalimat itu saking seringnya Pak Amirberbicara." Cerocos Adit panjang lebar.
"Kenapa si Bara melakukan itu ya," gumam Almeera tanoa sadar.
"Jangan-jangan dia nasksir lo Mir." Tebak Dika membuat Almeera berjengkit kaget.
"Sembarangan," Almeera spontan melempar cikinya ke arah Dika.
"Iya juga sih selera Bara pasti bukan kayak lo. Badannya krempeng, mulutnya cempreng, orangnya cengeng." Goda Dika sembari terkekeh geli.
"Dika kamu bisa aku laporin ke polisi karena body shaming." Ancam Almeera sebal.
"Nggak takut." Dika semakin bersemangat jika dia berhasil membuat sahabatnya emosi.
"Lagian gini-gini, ceng-cengannya ganteng nggak kayak kamu jomblo keabadian." Almeera tampak mebalas godaan Dika.
"Apapun itu kamu harus berterimakasih kepada Bara Mir." Suruh Freya kepada Almeera.
"Iya." Almeera menyetujui usulan Freya.