Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prank Arkan!
Riana terpukul, emosinya naik turun. Segera ia pergi dari rumah Arkan. Ingin rasanya, Riana memberi pelajaran pada Chandra.
Namun sayang, Arkan menghalangi jalan Riana.
"Ku mohon jangan pergi, Riana!" Disana ada Papa ku, lebih baik kamu saya antar saja."
"Tapi, Arkan. Gue harus dari depan, oh ya. Gue harus cepat-cepat pulang."
Riana terburu-buru, hilang semua apa yang ia miliki. Ingin mengambil berapa bunga berada di taman belakang, tapi mendengar acara siaran TV tersebut membuat nadi berdenyut.
Riswan yang mendengar suara orang berbisik dari belakang. Pria paruh baya melangkah, menghampiri apakah ada orang lain di dapur.
Satu kaki melangkah, namun sayang ada seorang mengetuk pintu dari luar. Riswan yang gagal untuk mengetahui anaknya berbicara dengan siapa?
Tok...
Tok...
Seorang dari luar, seorang wanita tua yang tidak lebih dari tua Fatimah. Ia terbungkuk, dengan tidak memakai alas kaki. Wanita tua berpakaian seperti kumuh, memakai baju robek, dan rok panjang yang tak layak dipakai.
"Siapakah wanita ini?" Apakah ada keperluan, tapi mengapa ia terus menatap wajah ku," ucap Riswan ia melihat sekali saja, ia tau ada mata yang harus di jaga.
"Hmm,,,cari siapa, Buk?" Atau ada yang ingin saya bantu."
"Begini, Pak!" kedatangan saya ingin melamar kerja sebagai pembantu rumah tangga. Apakah Bapak bersedia," usulnya wanita itu terus memandangi rumah tersebut, walaupun hanya di luar namun pemandangan sangat indah.
"Ngomong-ngomong, Maaf bukan saya tidak bisa karena ini adalah rumah menantu saya dan istri saya, saya harus minta izin dulu, Buk," jawab Riswan, ia melihat lebih lama namun wanita itu langsung bersikap sinis kepadanya.
"Pelit banget sih, harus ya minta dulu izin istri kamu. Saya tidak diterima kerja juga gpp. Tapi ingat ya Pak, siapa yang sudah ditolong akan dapat karmanya."
Wanita tua terus menginjak kaki dirumah tersebut, ia malah tidak diizinkan untuk menjadi pembantu. Padahal, kata sekitar orang penduduk kota, jika rumah mewah ini sangat membutuhkan tenaga kerja.
Wanita tua pun tak segan juga bisa masuk, alas kaki menjiplak di sela-sela jari keramik. Riswan ingin emosi, tapi ia tahan agar jantung tak kambuh.
"Biarlah ia masuk. Saya takut akan menjadi kesalahan ku gara-gara mengusir ibu itu."
Riana yang menduga langsung terkejut, adik kandung tersebut malah pergi meninggalkan rumah tanpa izin. Riana ingin sekali membuat kegaduhan, agar anak tersebut tidak usil.
Apa yang dimaksud Riana? Semenjak Riana nikah dengan lelaki yang tidak dicintai, kelurga ikut campur masalah rumah tangga. Namun karena orangtua ikut campur, Riana akhirnya pisah dengan mantan suaminya.
Menggugat cerai hasil persetujuan Riana, namun tidak dengan mantan suami ia belum mengikhlaskan kepergian Riana. Mengetahui Riana tengah hamil, mantan suami akan mencari Riana.
Tidak percaya, Riana apakah buta? Jika ada pemandangan sulit baginya. Ibunya Rini datang dengan pakaian compang-camping. Tidak memakai alas kaki, apa yang ibu Riana lakukan disini?
Takut apa yang terjadi, Arkan yang kewalahan menghadapi Riana. Namun karena Arkan duduk di kursi belakang, tak heran jika Riana cepat-cepat bawa Ibunya pergi dari sini.
"Ibu?"
"Yaa Allah, Riana!" ibu kangen kamu, kamu kemana aja," ucap Rani ia tidak pernah bisa tau setelah di pertemukan dengan anak tirinya.
Anak tiri? Riana adalah anak dari hubungan terlarang, sepupu dari Rani datang langsung ke rumah Rani di desa. Entah mengapa, jika sepupu Rani berat membesarkan Riana.
Sepupu lebih perduli dengan kondisinya yang mungkin tidak akan berlangsung lama hidup. Maka dari itu, Riana dititipkan kepada Rani untuk mengadopsinya.
Riana lebih disayang kan oleh kedua pasutri tersebut, pasangan dari Erwin dan Rani. Kedua pasangan itu tak menyukai kelahiran bayi seorang anak laki-laki. Maka dari itu, Erwin dan Rani lebih mengutamakan anak dari sepupunya.
Sampai sekarang, Riana tidak mengetahui siapa dia sebenarnya? sering sekali, Riana mendapati jika adiknya mengatakan jika Riana anak haram.
Nasib seorang tak akan ada yang tahu, kecuali bukan aib dari Allah yang akan turun. Tapi, setelah kita pahami. Jika Allah sangat baik kepada kita, maka kita harus mengingat kebaikan nya juga.
Riana menggenggam tangan ibunya kuat, Riana yang tidak tahu jika Riswan ada di tengah luar. Ia sedih jika penghuni banyak, tapi kelurga sangat hancur.
Saat Riana sedang berbicara dengan seseorang di luar, Arkan juga kecarian Riana.
Namun sayang, ia melihat Riswan tengah tersenyum kepada anaknya.
"Sekarang kita ke RS. Tolong antarkan, Papa. Papa ingin tau kondisi menantu, Papa. Ayo Nak."
Sebenarnya Arkan menolak, namun ajakan Riswan yang takut jika terjadi sesuatu pada Arkan, ia pasti akan di cabut jabatan sebagai CEO. Takut jika Riswan murka, apalagi adiknya terus menerus mengancamnya.
"Baik, Pa. Tapi Papa tidak akan pernah mencabut Arkan diposisi yang sekarang?"
"Bicara apa kamu, Nak!" Selama kamu memprioritaskan Istri mu, Papa tidak akan mempermasalahkan hal itu, tapi jika itu terjadi, mungkin Papa akan bertindak secepat mungkin," Tegas Riswan, ia menatap dengan senyum miring seolah itu bagian awal terjadi.
Deg!
"Bagaimana ini, jika benar Hasan bicara sejujurnya. Tapi si Hasan kan ga ada disini, atau Mama."
Riswan menyenggol lengan tangan anaknya, Riswan melirik sekilas dari sudut pandang wajah anaknya, jika Anaknya memiliki banyak masalah.
"Ar, kenapa bengong!"kamu ga mau mengantar kan, Papa. Lagian dirumah juga ada pembantu," ucap Riswan ia melihat wanita tua sudah tidak ada didalam rumahnya.
"Pembantu?" Riana, maksud Papa," batin Arkan sudah kehilangan arah.
"Tadi itu namanya Iyem. Tadi juga ada yang menawarkan jasa pembantu. Sekarang, kita ke RS CENDANA HARAPAN."
"CENDANA HARAPAN?" Bukanya itu Dokter yang menyukai Istriku. Jangan semoga, Fahri melupakan Istriku."
Karena ucapan Riswan tak kunjung di gubris, Riswan mengentak kaki, lalu ia berkata sekuat mungkin. Mungkin ada orang lewat pun terkejut.
"Kamu dengarkan, Papa bicara. Sikap kamu harus berubah. Kalau kamu ga suka, Hanum ada disini, bawa koper dan baju saja. Papa ga sudi lihat kamu, CEO tapi tidak becus," bentak Riswan, ia meninggalkan anaknya, tapi hatinya mendadak sakit.
Arkan berlari menghampiri Riswan, begitu berat sekarang yang dihadapi oleh Arkan. Ia harus menerima kenyataan jika memang adiknya terus terang dengan Riswan.
Berlutut dihadapan Riswan, memohon segala sesuatu agar Arkan tak mengulangi kesalahan yang sama.
Padahal Riswan hanya mengode anaknya, agar belajar lebih mandiri tidak bergantung kepada orang lain.
Selama ini Riswan belum mengenal jauh sifat baik pada Arkan. Masih saja lemah, tidak seperti adiknya yang cekatan dalam urusan bisnis.