Indonesia
NovelToon NovelToon
Rian & Ranu: Cinta Di Bangku Sekolah

Rian & Ranu: Cinta Di Bangku Sekolah

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Anak Genius / Obsesi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Suans Kalhira

"Cinta itu datang tanpa aba-aba. Seperti Ranu, yang hadir di hidup Rian lewat sebuah tabrakan kecil di lorong sekolah."

Rian Prasetyo, ketua kelas yang ceria dan sederhana, menjalani hari-harinya seperti biasa di SMA Negeri 10 Bandar Lampung. Sampai akhirnya, muncul Ranu Nabila Anggraeni—siswi pindahan dari Bogor yang datang bersama sikap dingin dan sorot mata tajam.

Awalnya mereka seperti dua kutub yang saling bertolak belakang. Tapi takdir justru terus mempertemukan mereka. Dari obrolan singkat di kantin hingga pertukaran puisi yang menggetarkan hati, Rian mulai merasakan bahwa Ranu bukan gadis biasa.

Di balik sifat juteknya, Ranu menyimpan kelembutan, luka, dan harapan. Dan Rian? Ia belajar bahwa mencintai bukan soal memiliki, tapi tentang menemani... tanpa pamrih.

Mampukah Rian dan Ranu bertahan dalam cinta yang tumbuh di bangku sekolah? Ataukah semua akan berakhir menjadi kenangan pertama yang tak terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suans Kalhira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadirmu Obat Bagiku

Sudah seminggu sejak aku keluar dari rumah sakit. Tubuhku belum sepenuhnya pulih. Kakiku masih terasa nyeri kalau terlalu banyak digerakkan, dan dokter menyarankan untuk tetap istirahat total selama dua minggu ke depan.

Hari-hari terasa lambat. Biasanya aku sibuk di sekolah, main futsal, atau keliling naik belalang tempurku. Tapi kini, aku cuma bisa berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, atau sesekali membaca buku yang cepat membuatku mengantuk.

Tapi ada satu hal—atau lebih tepatnya satu orang—yang membuat hari-hariku tidak terasa membosankan.

Ranu.

Sejak hari pertama aku dirawat di rumah, Ranu selalu datang. Setiap hari. Kadang pagi sebelum sekolah, kadang siang pas istirahat, dan hampir selalu sore menjelang magrib. Dia datang bawa senyum, bawa cerita, dan bawa semangat.

Hari ini pun sama.

Jam menunjukkan pukul empat sore saat suara motor berhenti di depan rumah. Tak lama, terdengar suara pintu pagar dibuka. Mama menyambut seseorang di teras, dan aku tahu pasti siapa itu.

"Rian, itu Ranu datang," teriak Mama dari ruang tamu.

Aku tersenyum meski badan masih terasa berat.

Tak lama kemudian, Ranu masuk ke kamar dengan sebuah kantong plastik di tangannya. "Hayoo, siapa yang kangen aku?" godanya sambil duduk di kursi dekat tempat tidurku.

"Aku sih tiap detik kangen," jawabku sok manja.

"Hahaha lebay banget sih kamu." Dia tertawa sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya—sepiring puding coklat dan beberapa komik. "Aku bawain ini biar kamu gak bosen."

Aku melongo. "Puding buatan kamu?"

"Iyalah. Aku kan calon istri idaman."

Aku tertawa kecil. "Ternyata kecelakaan itu bener-bener bikin aku beruntung. Karena selama sakit, kamu kayak jadi malaikat buatku."

Ranu mendekat, lalu menyendokkan satu suap puding ke arahku. "Ayo buka mulut, pasien manja."

Aku membuka mulut dan memakannya pelan. "Enak banget... rasanya kayak cinta."

"Ya iyalah, itu pake gula asli dari hati aku," balasnya sambil tersenyum geli.

Kami ngobrol lama. Mulai dari kabar sekolah, teman-teman, sampai gosip lucu dari Mang Ujang yang katanya lagi nyoba main TikTok.

Tapi di tengah semua canda tawa itu, aku sadar satu hal cinta Ranu bukan cuma soal kata-kata manis atau puisi indah. Tapi tentang hadir. Tentang duduk di samping orang yang sakit, dan tetap tersenyum walau capek.

Malamnya, sebelum pulang, Ranu menggenggam tanganku dan berkata, “Rian… kamu harus cepat sembuh ya. Aku kangen lihat kamu main bola. Kangen lihat kamu jadi Rian yang semangat. Tapi kalaupun kamu gak bisa lari seperti dulu, aku masih tetap di sini. Karena aku gak jatuh cinta sama kakimu, aku jatuh cinta sama hatimu.”

Aku nyaris menitikkan air mata. Tapi aku cuma bisa genggam tangannya lebih erat.

“Ran... makasih udah jadi alasanku untuk sembuh.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, aku tidur dengan senyuman. Karena aku tahu... cinta itu bukan siapa yang datang saat segalanya mudah. Tapi siapa yang tetap bertahan, saat semuanya terasa berat.

Setelah Ranu pulang sore itu, aku tetap terbaring di tempat tidur, tapi pikiran melayang kemana-mana. Rasanya aneh... dulu aku paling nggak betah diem di rumah. Tapi sekarang, dengan kunjungan Ranu tiap hari, justru ada bagian dari hatiku yang pengen waktu berhenti di sini aja.

Besoknya, seperti biasa, suara motor bebek yang aku kenal berhenti di depan rumah. Tapi kali ini bukan hanya suara motor Ranu. Ada suara tawa pelan. Dan benar saja, beberapa menit kemudian Ranu masuk ke kamarku, ditemani Susi.

“Surprise!” Susi langsung masuk duluan sambil bawa satu kantong plastik besar. “Kami datang membawa vitamin hati!”

Ranu nyengir. “Bukan vitamin, tapi bubur ayam Mang Gino. Kakak belum sarapan kan?”

Aku ketawa kecil. “Pantesan aromanya semerbak... beneran kalian niat banget.”

“Ya iyalah. Masa cowok kesayangan sahabat aku gak dijaga,” celetuk Susi sambil duduk di kursi rotan dekat kasurku.

Mereka bertiga—Mama, Ranu, dan Susi akhirnya ngobrol di ruang tengah, dan aku cuma denger obrolan mereka dari dalam kamar. Suara Ranu sesekali bikin aku senyum sendiri. Gak tau kenapa, tapi sejak kecelakaan itu, aku jadi makin ngerasa… Ranu itu rumah.

---

Hari-hari berlalu. Luka di kaki mulai mengering, dan tubuhku mulai bisa digerakkan perlahan. Aku udah bisa duduk di teras walau masih pakai tongkat.

Sore itu, Ranu datang lagi. Kali ini dia bawa kertas lipat warna-warni.

“Mau ngapain?” tanyaku penasaran.

“Buat origami bareng. Kata guru Seni, bikin origami bisa melatih fokus dan relaksasi. Jadi… yuk kita latihan sabar bareng,” ucapnya sambil menyodorkan kertas.

Akhirnya kami duduk berdua di lantai teras, melipat-lipat kertas sambil ngobrol ringan. Kadang bentuknya jadi, kadang gagal total dan malah ketawa bareng.

“Kalau bentuk ini jadi hati, berarti hati kamu buat aku aja ya,” godaku.

“Ya ampun...,” Ranu nyengir, “Tapi iya sih, udah dari dulu juga buat kamu.”

Aku tersenyum lebar. “Ran… kamu sadar gak, belakangan ini kamu tuh penyembuhku. Tanpa kamu, mungkin aku masih terpuruk ngerasa gak berguna karena kecelakaan itu.”

Dia menoleh dan menatapku lembut. “Dan kamu sadar gak, Kak... aku gak butuh alasan buat terus ada di samping kamu.”

Mata kami saling bertemu. Gak perlu kata apa-apa lagi.

Angin sore berhembus pelan. Kertas origami berserakan di antara kami. Tapi yang paling penting bukan bentuk lipatannya, tapi maknanya.

Bahwa dalam sakit, dalam masa lemah... cinta yang sederhana bisa jadi kekuatan paling besar.

Hari itu aku tahu, cinta kami bukan cuma tentang senyum di sekolah atau rayuan manis di bawah hujan. Tapi tentang kehadiran. Tentang sabar. Tentang dua hati yang saling jadi rumah.

Sudah dua minggu sejak kecelakaan itu. Luka di kakiku memang belum sepenuhnya sembuh, tapi hatiku justru terasa lebih utuh dari sebelumnya. Semua berkat Ranu. Dia gak pernah absen datang, setiap sore. Kadang cuma duduk nemenin aku, kadang bawa camilan, kadang hanya diam tapi cukup buat membuatku merasa hidup.

Hari itu, dia datang lagi. Kali ini gak sendiri, dia bawa gitar kecil.

“Kak, aku mau nyanyi, tapi jangan diketawain ya,” katanya waktu duduk di bangku kayu samping tempat tidurku.

Aku tersenyum. “Kamu mau nyanyi lagu cinta ya? Jangan bilang liriknya tentang cowok ganteng yang lagi sakit?”

Dia ketawa kecil. “Bukan. Tapi... bisa aja cocok.”

Ranu mulai memetik senar gitarnya. Suaranya lembut, gak sempurna, tapi jujur. Lagu itu tentang harapan. Tentang seseorang yang tetap tinggal meski dunia terasa berat. Dan sepanjang dia bernyanyi, aku gak bisa berhenti memandang wajahnya.

“Gila... kamu tuh beneran anugerah buat aku, Ran,” ucapku pelan setelah lagu selesai.

Dia menunduk malu. “Kakak yang ngajarin aku gimana rasanya sayang sama seseorang tanpa banyak kata. Sekarang giliranku ngajarin kamu kalau cinta itu... tetap datang bahkan di saat kamu gak bisa ngapa-ngapain.”

Aku narik nafas pelan. “Ran... makasih udah gak ninggalin aku.”

“Karena aku gak pernah ada niat buat ninggalin,” jawabnya pelan, tapi penuh makna.

Sore itu langit gak terlalu cerah, tapi rasanya hati kami hangat. Dan di tengah proses pemulihan itu, aku belajar sesuatu kadang, tubuh bisa lemah, tapi hati yang dikuatkan cinta gak akan pernah benar-benar jatuh.

Aku belum sembuh sepenuhnya. Tapi aku yakin, selama Ranu terus di sisiku, aku akan baik-baik saja.

Karena Ranu adalah alasanku sembuh. Dan aku akan berjuang lebih cepat, karena aku tau… masih banyak cerita yang harus kami jalani, bersama.

1
Duniaku membaca
kocak kocak sih Rian ini
Suans Kalhira: hehehe 😂😂 emang boleh sekocak itu
total 1 replies
Duniaku membaca
lucu juga kisah Rian ranu
Suans Kalhira: terimakasih kak ☺️☺️
total 1 replies
Nani Septi Ani
bagus nian
Nani Septi Ani
lumayan bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!