aku mengenalmu dan aku mencintaimu. hanya kamu yang aku mau dan hanya kamu yang aku inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabiru Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua waktu
Sudah satu pekan sakit gigiku,
Eh bukan sudah satu pekan dari kejadian tersebut, kini Raina pun berangsur membaik dari keterpurukannya.
Ia ingin kembali pada massa kuliahnya, tapi ia masih takut akan kejadian menimpa dirinya. Bahkan untuk bertemu temannya pun ia masih terasa malu.
Bagaimana bisa ia berdiri tegak saat semua mata memandang Raina pada kejadian waktu itu.
Ia bingung, ia dilema.
Ia ingin melanjutkan jenjang sekolahnya dan menuntaskan sarjananya. Tapi, ia masih takut.
Sangat , sangat dan amat takut.
Saat ditengah lamunnya, ia dapat melihat hujan mulai turun membasahi tanah yang lembab di balik jendela kamarnya.
Ia pun mengulur tangannya untuk bisa menyentuh rintikan hujan disana, saat telapak tangannya mulai merasakan sentuhan air hujan, hatinya pun mulai berangsur damai.
Bahkan suasana pun membawanya tenang dalam kedamaian.
Di saat Raina sedang menikmati ketenangan dalam hujannya, seorang gadis berlari tergasa gesa dibawah rintikan hujan.
Ia takut, dan ia merasakan bahwa dirinya tidak baik baik saja.
Ia berlari dan terus berlari, bahkan tidak sedikit ia menoleh ke arah belakang untuk memastikan dirinya aman tidak di ikuti oleh siapapun.
Tapi naas saat di ujung tempat yang sempit, ia terhuyung di tarik paksa oleh seseorang disana.
Tubuhnya terpelanting ke bawah kedalam ruang yang kosong dan pengap penuh debu dan sarang laba laba.
Aaww, begitu jeritnya saat tubuhnya benar benar membentur lantai dengan kasarnya.
Tapi orang yang mendengar itu tidak peduli, ia tidak mendengar. Ia hanya menatap gadis itu dengan tatapan yang mengerikan.
Gadis itu beringsut mundur dari ia berada, dalam takutnya ia terus menjauh dari sosok itu.
Tapi sosok itu, hanya diam dan mengikuti gerakan gadis tersebut sampai akhirnya ia tangkap salah satu kali dari gadis tersebut membuat gadis tersebut kalang kabut dan ingin melepaskan diri.
" to tolong, le lepaskan saya. " ucapnya dengan penuh permohonan ampun.
Bahkan si gadis tersebut rela mengatupkan kedua tangannya untuk meminta bekas kasih pada pria tersebut.
Pria tersebut menarik kaki gadis tersebut dengan kencangnya membuat gadis itu terpelanting jauh mengenai sudut dinding yang lainnya.
Crttt, lengan gadis itu tergores dan terluka akibat terbentur dari dinding yang memiliki tekstur tajam.
Tidak, pria itu tidak berhenti. Ia tidak memberi ampun sedikitpun pada gadis itu. Justru si pria menarik rambut gadis itu dengan kasarnya ke arah tengah ruangan membuat gadis itu mengikuti langkah si pria sambil menjerit kesakitan.
Sampai disana, gadis itu ia tampar berkali kali sampai terlihat jelas diwajahnya memerah serta mengeluarkan cairan kental disana.
Tidak, pria itu tidak puas. bahkan ia tidak peduli dengan jeritan kesakitan gadis itu.
Ia pun dengan paksa membuka seluruh baju yang dikenakan gadis itu dan memulai menjelajahi tubuh gadis tersebut.
Gadis itu menangis, merintih dan menjerit.
ia benar benar hancur lebur di luluh lantakkan oleh apa yang di lakukan pria tersebut.
Setelah usai dengan kegiatan nya, si pria itu pun pergi meninggalkan gadis tersebut seorang diri dengan pakaian yang ia bakar di tengah kobaran api yang ia buat.
ia tidak peduli akan nasib gadis itu selanjutnya. Yang ia tahu untuk saat ini, ia berhasil menghancurkan dunia gadis tersebut.
...----------------...
Malam dingin di tengah guyuran hujan, Raina duduk dengan semangkuk mie di depannya.
Ia makan sendiri, tidak ada siapapun di rumah.
Ibunya Sabiru sudah pulang dari dua hari yang lalu. Ia harus pulang untuk mengurus ladang dan peternakan nya.
untuk Sabiru, ia tidak tahu pria aneh itu terbang kemana. Untuk menelepon atau berkirim pesan saja rasanya ia cukup gengsi. Biarkan saja pria itu yang menghubunginya terlebih dahulu.
Saat ini gadis itu cukup menikmati mie rebus dengan taburan bawang goreng serta telur dan sayuran di atasnya, tak lupa gadis itu menambahkan lima buah cabe utuh disana.
Srupp, srupp gadis itu memakan dan menyeruput kuah mie dalam mangkoknya.
Krieett, terdengar pintu terbuka di tengah tengah ia makan.
Sabiru baru kembali, dapat Raina lihat pria itu basah terguyur hujan.
Pria aneh ada mobil lebih memilih motor bututnya itu. Jadi inilah hasilnya. Ia akan mudah kehujanan saat musim hujan.
Sabiru pun melepas satu persatu bajunya yang melekat ditubuhnya di depan mata Raina.
Raina yang melihat hanya terdiam menatap tubuh Sabiru.
Kurang ajar, jerit hati Raina saat melihat otot otot Sabiru yang ingin sekali ia sentuh dan ia belai.
Dan si empunya itu, dengan santainya menghampiri Raina hanya memakai celana boxer saja.
Ia merapatkan tubuhnya di dekat Raina, dan mengambil hak milik Raina.
Srupp, Sabiru melahap mie Raina dengan rakusnya. Ia terus memakan sampai sampai habis tak tersisa.
Raina yang baru menyadarinya itu memukul lengannya Sabiru untuk protes karena mie rebus nya di makan habis oleha Sabiru, padahal Raina sendiri baru makan dua suap saja dan itu suapan kecil karena panas.
Dan sekarang sudah tandas di makan Sabiru.
" Kenapa makan punya gue, Sa ! " kata Raina dengan memasang wajah garangnya.
Sabiru terkekeh kecil dan mengambil gelas di hadapannya untuk ia minum.
" Sa, gue laper. Nanti gue makan apa ! " kata Raina lagi dengan mencibikkan bibirnya.
Dan cup,
Sabiru mencium gemas bibir yang berceloteh manja itu.
Hiss, Raina kesal. Bukan mendapatkan jawaban nya malah ia di cium oleh Sabiru.
" makan gue aja gimana. " goda Sabiru dengan meraih salah satu tangan Raina untuk ia taruh di atas otot otot perut Sabiru.
Raina kaku, Raina tak bisa berkata ataupun menjerit. Sekana suasana menghipnotis dirinya untuk tetap berada di posisinya. sampai akhirnya pun ia mencoba menarik jari jemarinya diatas sana sebelum ia kehilangan kendalinya.
Tapi dasar nakal, Sabiru benar benar menggoda Raina membuat gadis itu pun makin di buat kelimpungan.
" Gue bakalan tangung jawab untuk apa yang gue perbuat. " kata Sabiru membisik ditelinga Raina.
Raina tidak menjawab, ia tidak berkata ia maupun tidak. Ia hanya diam dan membisu sampai akhirnya Sabiru pun menggendong nya menuju kamarnya dengan menautkan bibir mereka satu sama lain tanpa lepas sedikitpun.
Entah ini malam yang ke berapa mereka melakukan sebuah keintiman sesama. Tapi kali ini, ia pastikan bahwa Raina akan menjadi seutuhnya miliknya.
Karena ia sendiri pun sudah amat dan sangat mencintai Raina sehingga ia tidak ingin gadisnya itu kelak pergi meninggalkan dirinya.
Tidak, ia tidak ingin Raina meninggalkan dirinya walaupun sedikit pun.