Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah acara minum teh dengan anggota The Sapphire Club selesai, Zara langsung berpamitan dengan Kirana dan anggota lainnya dengan penuh kehangatan.

Namun, ia tidak langsung menyuruh Pak Karta untuk mengantarnya pulang ke kediaman Benedict.

Mobil sedan hitam yang mengawalnya berhenti di area parkiran sebuah supermarket premium.

Zara turun perlahan, dan menyuruh Pak Karta untuk menunggu di dalam mobil saja agar tidak memicu perhatian publik.

Namun, langkah kaki Zara tiba-tiba terhenti.

Tatapan matanya terkunci pada dua orang anak kecil, seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun yang tengah memeluk erat pundak adik perempuannya, mereka duduk bersandar di dekat tiang beton penyangga papan nama supermarket.

Pakaian mereka tampak lusuh dan berdebu, namun mata sang kakak memancarkan binar perlindungan yang begitu hangat saat menatap adiknya yang menyandarkan kepala.

Zara terdiam.

Bayangan masa lalu mendadak berputar cepat di benaknya.

Dulu, jauh sebelum ibunya terbaring sakit, ia dan mendiang ibunya sering menghabiskan waktu di sore hari pergi berkeliling naik sepeda listrik sambil membagi-bagikan makanan untuk anak-anak jalanan atau lansia yang tidak memiliki rumah.

Setelah selesai mereka selalu duduk di taman, ibunya akan mengusap kepalanya dan membelikannya susu kotak favorit Zara.

Satu helaan napas panjang lolos dari bibir Zara.

Ia mengedipkan matanya yang terasa perih, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam supermarket.

Zara menarik sebuah keranjang belanja kecil, lalu menyusuri lorong roti serta biskuit dan memasukannya ke dalam keranjang sampai ia tiba di lorong susu dan memasukkan beberapa kotak susu steril ke dalam keranjang lagi.

Setelah selesai memilih bahan makanan segar untuk dirinya, Zara berjalan menuju kasir.

Ia membayar seluruh belanjaannya, lalu meminta kasir memasukkan makanan dan minuman untuk anak-anak tadi ke dalam kantong kertas terpisah.

Dengan kantong kertas di pelukannya, Zara melangkah keluar dari supermarket. Matahari sudah mulai tergelincir turun, hingga menyisakan pendar jingga di langit.

Zara menghampiri tiang beton itu, ia melipat gaunnya sedikit, lalu berjongkok sejajar dengan dua anak kecil tersebut.

"Hai..." sapa Zara dengan suara yang sangat lembut.

Kedua anak itu mendongak kaget, mereka menatap Zara yang tampak seperti putri kerajaan yang keluar dari buku dongeng. Zara menyunggingkan senyuman manis, ia menyerahkan kantong kertas berisi roti, biskuit dan susu hangat kepada anak laki-laki itu.

"Ini untuk kalian berdua. Dimakan ya, biar adiknya punya energi lagi."

Anak laki-laki itu menatap kantong kertasnya, lalu menatap wajah Zara dengan mata berbinar tak percaya.

"Untuk kami, Kak?"

"Iya, untuk kalian." bisik Zara sambil mengusap lembut rambut anak kecil perempuan yang mulai tersenyum malu-malu.

Tanpa Zara sadari, dari jarak beberapa puluh meter di dalam mobil SUV hitam yang terparkir di pinggir jalan, sepasang mata kelam mengawasi seluruh gerak-geriknya dari balik kaca gelap.

Regantara, yang kebetulan melintas setelah rapat bisnisnya selesai, memperhatikan betapa lembutnya telapak tangan wanita itu saat mengusap anak-anak jalanan.

"Oh ya, siapa nama adik ini?" tanya Zara pada anak perempuan itu.

"Isa-bel-la."

Zara mendadak terpaku, tangannya yang baru saja mengusap lembut rambut anak perempuan itu terhenti di udara.

"Nama adiknya siapa?" tanya Zara pelan, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap stabil.

Anak laki-laki itu tersenyum bangga, ia memeluk adiknya lebih erat seraya menjawab dengan suara nyaring yang polos.

"Isabella, Kak."

Isabella?

Nama itu bagaikan suara lonceng yang langsung bergema kuat di relung hati Zara, nama yang selalu membawa kehangatan sekaligus rasa perih yang teramat dalam.

Isabella adalah nama mendiang ibunya, wanita paling lembut dan penuh kasih sayang.

Mata jernih Zara berkaca-kaca secara refleks. Namun, ia dengan cepat mengedipkan matanya, untuk menyembunyikan genangan air mata itu sebelum sempat menetes ke pipinya.

Senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya.

"Isabella..." ulang Zara dengan suara bergetar halus. "Nama yang sangat indah, Kakak punya orang tersayang yang namanya sama persis seperti kamu."

Anak perempuan bernama Isabella itu tersenyum malu-malu, lalu memegang jari tangan Zara yang terasa hangat.

"Telima kasih ya, Kakak Cantik..."

"Sama-sama, Sayang." bisik Zara.

Ia meraih tas tangannya untuk mengambil beberapa lembar uang tunai secukupnya, lalu menyisipkannya ke dalam kantong kertas makanan mereka agar tidak mencolok di mata orang jahat.

"Ini disimpan baik-baik oleh Kakak ya, dipakai untuk beli makan kalian beberapa hari ke depan."

Anak laki-laki itu mengangguk cepat dengan mata berbinar-binar penuh rasa terima kasih yang sangat mendalam.

"Terima kasih banyak, Kak! Semoga Kakak selalu sehat dan bahagia!"

Zara tersenyum, lalu mengusap pipi mungil Isabella sekali lagi sebelum akhirnya berdiri tegak.

Saat ia berbalik pergi menuju mobilnya, rasa sesak di dadanya perlahan berganti menjadi tekad yang makin membara. Zara harus segera mengambil alih aset milik ibunya, ia tidak boleh terus lemah.

Sementara itu, Regantara masih memperhatikan sosok Zara dari balik kaca gelap.

Ia melihat dengan jelas bagaimana perubahan ekspresi di wajah istrinya, mulai dari senyum lembut, tatapan kaget saat mendengar nama anak kecil itu, hingga kilatan mata bergetar yang sarat akan luka dan kerinduan.

"Isabella..." gumam Regantara pelan di dalam mobilnya, saat tadi Pak Karta memberitahunya nama itu karena Pak Karta mendengar sedikit pembicaraan istrinya dengan anak-anak jalanan itu.

"Alaric." panggil Regantara tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Zara yang kini sudah melangkah masuk ke dalam mobil.

"Ya, Tuan?" sahut Alaric dari kursi depan.

"Percepat pengambilan aset atas nama Isabella Adhitama, aku tidak ingin ada satu pun peninggalan Ibu kandungnya yang masih tersisa di tangan Hendra."

Alaric tertegun sejenak di kursi kemudi.

Ia melirik melalui kaca spion tengah, menatap raut wajah tuannya yang begitu tenang namun memancarkan aura tegas yang sama sekali tak ingin di bantah.

"Anda serius, Tuan?" tanya Alaric memastikan, dengan suaranya yang diwarnai keheranan.

"Ya."

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!