Meraih sebuah impian bukanlah hal yang mudah, semuanya butuh proses dan perjuangan. Arunika, dia biasa dipanggil dengan nama Ara, seorang perempuan yang berjuang untuk meraih cita-citanya. Dalam perjalanan panjangnya dia bertemu dengan seorang Direktur Muda dan tampan yang merupakan pimpinan Ara, tetapi sikapnya sangat dingin. Namun, secara diam-diam Rey sang Direktur menyukainya, tapi setelah menjalin hubungan terpaksa mereka berpisah. Disaat itu muncul Kevin teman kantor Ara, yang sudah lama menyukainya.
Rasa sayang Rey terhadap Ara sangat kuat, Ara adalah cinta pertamanya bahkan dia berjanji untuk tidak pernah meninggalkan Ara.
Suatu hari Ara dan Rey dipertemukan kembali, pada saat Ara launching buku novel terbarunya, dan pada saat itu Ara mengundurkan diri dari kantor Rey. Ara menemukan kebahagiaan ditempat lain, tempat yang sudah lama ia mimpikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ei Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati dan Pikiran tidak Sinkron
"Aku lagi mau sendiri,mobil bawa saja dan besok jangan lupa jemput," pinta Rey ketika sampai didepan rumah.
"Siap," jawab Indra.
Rey kemudian masuk tanpa menoleh lagi kearah Indra. Sampai didalam rumah dia melempar jas nya serta menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Sial, siapa yang lebih cepat datang ke rumah Ara? Pokoknya siapapun itu aku gak mau sampai kalah!" Rey menggerutu dengan tangan yang terkepal.
"Tidak mungkin!" Tiba-tiba dia terperanjat lalu mendekati lemari es dan mengambil sebotol air mineral, dalam posisi masih berdiri dekat lemari es, Rey meneguk airnya hingga hampir habis satu botol.
"Sejak kapan aku peduli sama Ara? Tidak mungkin kalau aku suka sama dia, pegawaiku?" hati dan pikirannya terus bergejolak, seolah sulit sekali menemukan jawaban,karena pada dasarnya jauh dilubuk hatinya Rey mengagumi dan menyukai Ara, tetapi kemungkinan antara hati dan pikirannya tidak selaras sehingga dia mengalami sedikit kekhawatiran, ada rasa ego yang muncul. Sehingga hal itu menjadi sebuah beban berat dalam dirinya yang suatu saat akan meledak seperti bom nuklir,, kebayang kan, gimana dahsyatnya??
"Apa tadi yang dirumah Ara itu Kevin? Ya itu pasti Kevin,"
Rey kembali duduk di sofa, dan menyalakan televisi. Dia merasa acara di TV tidak ada yang sesuai seleranya, kemudian dimatikannya lagi, lalu dia ke kamar dan mengambil handuk. Dikamar mandi Rey membasahi kepalanya dengan shower, matanya terpejam,kedua tangannya dia tempelkan ke dinding sekitar lima belas detik hal itu terjadi. Setelah itu dia membasahi seluruh tubuhnya serta membersihkannya dengan sabun. Selesai mandi dia mengambil t-shirt warna biru muda dan celana pendek. Dia melirik jam dinding yang menempel di atas tv flat yang ukurannya sangat besar, lalu dia ambil gitar didekat tempat tidurnya, mengatur nada dan langsung memetik gitar dengan merdu. Beberapa alunan musik akustik dia mainkan, dan sesekali terdengar suaranya menyanyikan sebuah lagu, andai saja ada perempuan yang saat ini melihatnya, sudah pasti langsung ambyarrrr. Tapi sayangnya ganteng-ganteng jomblo.
Rey kemudian mengambil ponselnya, dia buka galeri nya dan dia melihat sebuah gambar seorang perempuan. Ternyata, foto perempuan itu adalah Ara yang dia ambil tanpa pengetahuan siapapun ketika mereka pergi ke Ciwidey, Rey mengambil gambar Ara secara diam-diam ketika Ara hendak pergi dengan Kevin, tidak jauh dari gazebo tempat Rey menunggu mereka. Rey yang saat itu terpesona melihat Ara yang sedang tertawa ketika bicara dengan Indra dan Kevin, terlintas dipikiran Rey untuk mengabadikannya, dan hasilnya cukup bagus, Ara sedang tersenyum begitu cantik alami menggunakan blus warna putih, dengan rok warna biru, dengan latar belakang perkebunan. Rey tersenyum sambil memandang foto Ara dan sesekali mengusap layar ponselnya. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk di ponselnya.
"Haloo Mam," jawab Rey.
"Lagi apa Rey?" Tanya Mamanya.
"Lagi santai Mam,"
"Gimana kerjaannya lancar?"
"Lancar Mam, dan Rey sekarang lagi ada proyek baru,"
"Luar biasa, proyek apa itu?"
Rey kemudian menceritakan rencana yang akan dia kerjakan dalam waktu dekat.
"Bagus itu Rey, Mama sama Papa sangat setuju,"
"Makasih Ma, doakan saja semoga lancar ya," pinta Rey.
"Pasti sayang, Mama sama Papa pasti doakan, jaga kesehatan ya?"
"Siap Ma, kapan Mama sama Papa pulang ke Indo?"
"Masih belum pasti sayang, kerjaan Papa belum selesai tuh, tapi Mama lebih tenang disini sekarang, karena Mama yakin kamu bisa mengurus perusahaan disana,"
"Semoga Rey bisa menjaga kepercayaan ya Ma,"
"Kapan mau ngenalin Mama sama pacar kamu?"
Tiba-tiba Mamanya membahas soal pacar, Rey tidak pernah mengenalkan satu cewek manapun ke keluarganya, beda dengan Nadine adiknya sering jalan bareng temen cowoknya,makanya Mama nya sering menanyakan hal itu.
"Rey kan fokus dulu kerjaan Ma,"
"Mama pengen gendong cucu,"
"Ya elah Ma, kayak minta apa,"
"Mama sama Papa akan cepat pulang kalau kamu mau ngenalin sama pacar kamu,"
"Tidak ada Ma, nanti juga kalau ada pasti dikenalin,"
"Iya, ya udah Mama tutup telponnya, bye,"
Rey meletakan ponselnya diatas tempat tidur, dan kembali memainkan gitarnya. Namun kali ini suaranya begitu terdengar jelas. Rey menikmati alunan musiknya.
Terus melangkah melupakanmu
Belah hati perhatikan sikapmu
Jalan pikiranmu buatku ragu
Tak mungkin ini tetap bertahan
Perlahan mimpi terasa mengganggu
Kucoba untuk terus menjauh
Perlahan hatiku terbelenggu
Kucoba untuk lanjutkan itu
Sebait lagu terdengar sangat merdu, suaranya begitu indah, tidak kalah jika bersanding dengan penyanyi aslinya. Suaranya begitu lantang, tak takut akan membuat orang lain terganggu, karena rumah itu cukup jauh dengan rumah penduduk lainnya. Setelah beberapa menit Rey merasa suaranya agak sedikit serak, dia pergi mencari sebotol air mineral, dan dia menemukan sekotak anggur yang dibeli sama Bi Imah dari pasar beberapa hari lalu, langsung mencicipnya, namun hari ini bi Imah gak masuk karena Rey yang menyuruhnya istirahat.
"Duh lapar," keluh nya sambil memegangi perut.
Lalu dia keluar berjalan beberapa meter menemui pak satpam yang berjaga didepan gerbang. Meskipun ada kendaraan disana, atau bahkan bisa melalui ponsel tetapi Rey memutuskan untuk berjalan ke depan.
Pak Yadi kaget ketika melihat majikannya sudah ada didepannya dan dia langsung menghampiri Rey.
"Pak Rey kenapa datang kesini, kan bisa telpon,"
"Pak Yadi tolong belikan makanan didepan sana, kalau gak salah ada ayam bakar biasanya udah buka jam segini," suruh Rey.
"Tapi pak, gak ada yang jaga disini," jawab pak satpam.
"Gak apa-apa, kunci saja dulu dari luar, nanti saya tunggu didalam ya,"
"Baik Pak," jawab Pak Yadi, dia sudah bekerja di rumah keluarga Rey selama hampir lima belas tahun, di usianya hampir melebihi dari usia masa produktif, Pak Yadi selalu setia terhadap keluarga Rey, karena hal itu keluarga Rey pun tidak pernah menggantinya selama dia masih kuat bekerja , selain itu keluar Rey selalu membantunya dalam hal apapun, terutama terkait masalah biaya sekolah anaknya. Pak Yadi ditugaskan untuk jaga siang sampai jam 7 malam, nanti digantikan oleh kawannya yang usianya masih muda.
"Sekalian beli juga buat Pak Yadi ya,"
"Baik Pak," dengan sigap Pak Yadi langsung mengambil sepeda motornya.
Rey bukan tidak bisa berangkat sendiri untuk membeli makanan itu, tetapi supaya Pak Yadi mau makan juga, karena jika Rey yang membelikan Pak Yadi gak pernah mau menerimanya. Entah kenapa, tapi pernah suatu saat ditanya, alasannya karena dia tidak mau menerima sesuatu tanpa dia bekerja dulu, Pak Yadi memang cukup unik. Jaman sekarang orang malah cenderung mau selalu diberi, selalu berharap belas kasih dari orang lain.
Bersambung...
salam What I think❤
#penaautoon
#penaautoon
#penaautoon
#penaautoon