Berbagai konflik yang terjadi, mulai dari konflik antara Yanto dan kedua adiknya soal pernikahannya dengan Tina dan beberapa konflik lainnya.
semoga dengan hadirnya karyaku ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan, baik ataupun buruk, suatu saat pasti akan ada balasannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendekar Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hari itu Yanto pulang lebih awal dari biasanya, karena memang pekerjaan yang harus dikerjakan tidak banyak, hanya ada beberapa deadline saja yang diselesaikan. Saat Yanto melangkah masuk, Tina sudah mencegatnya tepat di depan pintu. Yanto senang, saat Tina menyambutnya depan pintu dan hendak mencium Tina. Tapi, Tina langsung menghindar.
"Sayang, kamu kenapa? Kok malah menghindar gitu?" Tanya Yanto yang terlihat keheranan melihat sikap istrinya tersebut. Tina hanya menggeleng.
"Sayang, kamu bilang sama aku kalau ada masalah atau apa" kata Yanto.
"Apa benar, Gita adalah anak dari hubungan gelap mas dengan Andini?" Tanya Tina dengan tatapan serius.
"Maksud kamu apa? Aku gak ngerti!" Yanto terlihat bingung.
"Udahlah, mas, gak usah berpura-pura, Hanun udah cerita semuanya sama aku, kamu tega banget sih khianati aku, emang aku kurang apa, sampai kamu selingkuh dengan si Andini itu dan Gita anak dari hasil hubungan kalian" tangis Tina kembali pecah.
"Sayang, kamu tenang dulu yah, aku benar-benar gak ngerti, kenapa kamu tuduh aku selingkuh dengan Andini dan anak itu bukan Dati hasil hubungan aku dan dia, aku kan sudah bilang sama kamu, anak itu aku temukan di parkiran cafe, tidak jauh dari tempat aku parkir mobil aku, kenapa kamu malah menuduh aku selingkuh dengan Andini" Yanto menjelaskannya pada Tina.
"Tunggu bentar, jadi, maksud kamu tadi, Gita itu anak kandungnya Andini?" Yanto berbalik bertanya. Tina mengangguk.
"Tin, aku gak tahu sama sekali kalau Gita itu anaknya Andini, aku juga tahunya baru ini loh, mana mungkin anak itu anak aku dan Andini, sedangkan aku juga gak tahu apa-apa tentang anak itu" kata Yanto.
"Please, Tin, percaya sama aku, aku gak mungkin lakukan itu ke kamu, aku sayang banget sama kamu, jadi, gak mungkin aku khianati kamu" Yanto berusaha meyakinkan Tina.
"Biar kamu lebih yakin, kita temui Andini langsung, kita minta tolong Yeni untuk bawa kita temui Andini, pasti dia tahu kan" usul Yanto. Tina maupun Yanto saling diam beberapa menit.
"Mas Yanto dan mbak Tina kenapa? Kok diam-diaman begini?" Tanya Yeni, menatap Yanto dan Tina bergantian.
"Kebetulan kamu disini, kita berdua minta kamu untuk bawa kita temui Andini dan selesaikan masalah ini" pinta Yanto.
"Iya, Yen, bawa kita berdua temui Andini dan mencari tahu kebenarannya" Tina menimpali.
"Kalau mas Yanto dan mbak Tina mau tahu yang sebenar-benarnya, aku bakal ceritakan secara lengkap dan gak ada yang aku kurang-kurangin atau aku tambah-tambahin, gimana" Yeni memberi usul. Yanto dan Tina pun mengalah, mereka menyetujui usul Yeni tersebut. Mereka bertiga ngobrol di ruang tengah. Yeni pun mulai menceritakannya. Dimulai dari kondisi Andini yang mengalami kebangkrutan, karena butiknya tidak ada pemasukan selama dua bulan dan terpaksa gulung tikar sampai harus menjual semua asetnya, termasuk rumah dan mobil. Lalu, mengalirlah juga cerita tentang Andini yang diperkosa oleh dua orang asing dirumahnya sampai dia hamil dan akhirnya lahirlah bayi itu, yang diberi nama Gita oleh Yanto dan Tina. Yanto dan Tina akhirnya tahu keadaan sebenarnya.
"Tadi kamu bilang, Andini itu udah jatuh miskin, bangkrut, terus dia masih bisa tuh bergaya layaknya orang kaya, waktu di acara ulang tahunnya Gita waktu itu" kata Yanto.
"Soal itu, aku gak tahu pasti sih, mas, tapi, bisa jadi, mbak Andini dibiayain deh sama cowok yang dia bawa waktu itu, makanya dia bisa beli baju dan sepatu yang mahal kayak gitu" Yeni menerka.
"Ya udahlah, soal itu gak usah kita pikirkan, yang terpenting semuanya sudah jelas dan terbukti kan, aku tidak pernah punya hubungan gelap dengan Andini, jadi, kita anggap masalah ini selesai dan jangan dibahas lagi, oke" tutup Yanto.
"Iya, mas, maafkan aku yah, sudah curiga sama kamu, aku benar-benar termakan sama omongannya Hanun tadi, makanya kayak gini, aku janji gak akan pernah lagi menuduh kamu, sebelum ada bukti yang benar-benar konkrit" Tina berjanji pada Yanto.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal Hanun, dia mana? Sedari tadi aku belum lihat dia?" Yanto mencari-cari Hanun.
"Hanun minggat, mas" jawab Yeni singkat.
"Loh..! Kenapa? Kalian abis berantem yah?" Terka Yanto. Yeni hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya udahlah, nanti juga dia bakal balik sendiri" kata Yanto, yang seolah tidak peduli. Yanto merasa lelah menghadapi sikap Hanun yang selalu saja mencari masalah dengan Tina ataupun Yeni, yang tidak tahu apa alasan dibalik sikapnya itu.
...*****...
Yeni berniat untuk mencari tempat untuk usaha dan modalnya dari hasil penjualan rumah orang tuanya. Namun, saat Yeni mau mencairkan dana di rekeningnya, dia terkejut, saat teller bank mengatakan padanya bahwa saldo di rekeningnya sudah kosong.
"Haah! Yang bener, mbak! Setahuku uang di rekening aku itu masih utuh 125 juta, gak mungkin habis begitu aja" Yeni sangat terkejut.
"Iya, Bu, ini beneran, di buku rekening ibu tertulis, uang sebesar 125 juta itu sudah ditarik di tanggal 17 Maret dan sisa saldonya tinggal tiga juta" jelasnya.
"Silahkan ibu lihat sendiri buku rekeningnya" katanya dan menyerahkan buku rekening itu pada Yeni. Yeni memperhatikan buku rekeningnya itu dan apa yang dikatakan teller tadi memang benar. Ada penarikan yang dilakukan pada tanggal yang disebutkan, artinya dua hari yang lalu. Sedangkan dia ingat betul, dia tidak pernah melakukan penarikan apalagi dengan nominal sebesar itu. Yeni pun segera beranjak pergi dari bank dan memikirkan siapa yang melakukan penarikan dari rekeningnya itu. Makin lama Yeni memikirkannya, makin yakin dia, bahwa hanya ada satu orang yang melakukannya, Hanun.
"Iya, tidak salah lagi, ini pasti perbuatan Hanun, dia pasti memalsukan tanda tangan aku, agar bisa menarik uang dari rekeningku itu, benar-benar keterlaluan kamu, Hanun" Yeni tampak sangat marah. Yeni pun menghubungi Hanun dan memintanya untuk menemuinya. Tapi, berkali-kali ditelpon, nomor Hanun tidak aktif. Kemungkinannya nomor telponnya sudah diganti.
"Buyar sudah semua rencana yang aku susun tapi, gara-gara Hanun mengambil uang aku secara diam-diam, yah... Mungkin ini pertanda kalau ini bukan rejeki aku atau bisa jadi ini karma buat aku, karena selama ini aku udah berbuat jahat sama mbak Tina, kalau memang karena itu, aku ikhlaskan uang itu" Yeni pasrah dan merelakan uangnya tersebut.
"Insya Allah, kedepannya akan ada rejeki yang lain, yang akan aku dapatkan" batin Yeni dengan penuh keyakinan. Dalam hatinya, Yeni merasa sangat kecewa dan tidak menyangka kalau Hanun sanggup melakukan hal ini padanya. Padahal selama ini, dia tahu betul bagaimana sifat Hanun. Hanun yang dulu, bukanlah Hanun yang sekarang. Dia seperti tidak mengenali Hanun lagi, karena sudah berubah drastis. Dia berharap, suatu saat nanti dia mau berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.
"Hanun, dimanapun kamu berada, semoga kamu senantiasa dalam lindungan Allah SWT dan semoga kamu diberikan hidayah, agar kamu menjadi manusia yang lebih baik" harap Yeni dalam hatinya.