Indonesia
NovelToon NovelToon
Diari Depresiku

Diari Depresiku

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Ibu Pengganti / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ina Ambarini (Mrs.IA)

Ini kisahku, semua yang Ku tulis dalam novel ini adalah kisah hidupku. Aku tak tahu harus memulai dari mana, bahkan saat memutuskan untuk menulis cerita ini pun, sempat membuat niatku maju mundur.
Kalian tahu? Sepanjang menulis, tanganku bergetar. Berkali-kali Aku terhenti, dan berkali-kali juga Aku melanjutkan cerita ini hingga selesai.
Semua terjadi karena rasa traumaku di masa kecil, ketika umurku baru tujuh tahun.
Gadis kecil dengan sejuta pertanyaan di benaknya, harus melihat semua kejadian pedih yang menimpa keluarganya.
Gadis kecil, yang harus kehilangan kasih sayang dari orang tua yang utuh.
Gadis kecil, yang untuk sekadar tidurpun Ia tak bisa menetap di satu rumah.
Gadis kecil, yang menahan tangisnya hanya agar terlihat baik-baik saja, dan terlihat "sama" di depan teman-temannya.
Satu pertanyaan yang selalu ada di dalam benakku hingga di usia dewasaku saat ini adalah, Kenapa Harus Aku, Tuhan?

Cerita ini, buah dari sebuah keegoisan dua manusia dewasa. Perceraian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dan Terjadi Lagi

Saat tengah fokus pada sekolahku, fokus dengan kehidupan yang tengah Aku jalani.

Kembali Ku dengar kabar yang tidak mengenakkan, sepulang Ibuku dari Jambi. Aku mendengar bahwa, Ibu dengan Ayah tiriku bercerai.

Aku tidak tahu apa penyebabnya, yang pasti hal itu kembali membuatku terpuruk.

Mengapa Ibu harus kembali mengalami gagal dalam berumah tangga, apa sebenarnya yang salah dari Ibu?

Bukan hanya itu saja, Aku juga harus melihat seorang gadis kecil yang mengalami hal serupa denganku. Adik tiriku hasil buah cinta dari Ibu bersama Ayah tiriku, harus menjadi anak yang tidak memiliki orang tua harmonis sepertiku.

Dia juga sama denganku, Tiara ikut bersama Ayahnya.

Aku seperti merasakan kembali kepedihan untuk kedua kalinya, namun kali ini pemerannya adalah adikku.

Saat bercerai, Adik tiriku masih terlalu kecil.

Jika saat itu Aku ingat bagaimana perpisahan Ibu dan Ayah, mungkin Adik tiriku tidak.

Bertahun-tahun Ibu tak bertemu dengan Tiara, mantan suami Ibu menahan Ibu untuk bertemu dengan Tiara. Hal itu Ia lakukan, beralaskan sakit hati dengan perlakuan Ibu padanya.

Hingga suatu saat, mantan Ayah tiriku luluh. Ia mengizinkan Ibu untuk bertemu dengan Tiara, dan Kami pun mengunjunginya ke kota Sumedang.

Sesampainya disana, jangankan memeluk untuk melepas rindu. Tiara enggan bertemu dengan Ibu, Ia memilih mengurung diri ketika Kami menemuinya.

Usia Tiara saat itu sudah duduk di bangku sekolah dasar, dan mungkin Ia juga sudah tahu tentang perpisahan orang tuanya.

Ku lihat Ibu menangis, Tiara sama sekali tak mau bertemu.

Hal yang mungkin terbalik ketika Ku ingat bagaimana Ibu dulu tak mau menyapaku bahkan untuk sekadar mengenaliku, ketika Ibu pertama kali di pertemukan setelah menghilang beberapa minggu.

Kini Ibu merasakannya, Ia di tolak oleh putri keduanya.

Aku menangis, Aku tahu betul bagaimana perasaan adik tiriku. Ia pasti kecewa, Ia pasti marah. Mungkin Ia juga rindu pada Ibu, namun rasa kecewanya pada Ibu pun begitu besar.

Saat Ku tanya pada Nenek, mengapa Ibu kembali gagal berumah tangga.

Jawaban Nenek, sedikit membuatku kecewa pada Ibu.

Ya, faktor ekonomilah yang membuat Ibu tak tahan dengan suaminya.

Jika Ku perhatikan, Ayah tiriku adalah orang yang taat dalam beribadah. Namun mungkin bukan laki-laki seperti itu yang Ibu cari, mungkin juga uang menjadi hal utama yanh di cari Ibu.

Sepulang menengok adik tiriku, Aku kembali pulang ke rumah Ayah. Aku menceritakan semua yang terjadi pada Ibu, dan Ayah pun tak memahami apa yang di cari oleh Ibu sebenarnya.

"Nana gak tahu, kenapa Ibu harus cerai lagi? Nana malu, tetangga di sana pada bicarain Ibu, Pak." Aku mengeluh.

"Sudah, itu bukan hal yang seharusnya Nana pikirkan. Tugas Nana sekarang hanya sekolah yang benar, buktikan pada orang-orang bahwa Nana akan jauh lebih baik dari kedua orang tua Nana!" Seru Ayah.

Ketika Ku tatap wajah Ayah, Aku teringat akan cerita Bi Amel sewaktu Aku menginap di rumah Nenek.

Bi Amel menceritakan bagaimana usaha Ibu agar bisa bercerai dengan Ayahku dulu, bahkan cerita Bi Amel ini berdasarkan cerita langsung dari Usman, pria yang pergi bersama Ibu waktu itu.

Bi Amel berucap, Usman dan Ibu sempat pergi ke tempat yang namanya 'orang pintar' atau biasa Kita sebut dukun.

Entah perintah apa saja yang di anjurkan, namun salah satunya Usman dan Ibu harus menggali tanah kuburan yang dalamnya hingga sikut.

Setelah mencapai kedalaman yang di tentukan, Ibu dan Usman harus mengambil tanah itu sebesar genggaman tangan Mereka.

Setelah tanah itu di ambil, Ibu menulis nama Ayah di sehelai kertas dan menguburnya. Saat mendengar cerita itu, Kau terkejut. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya Ibu lakukan, dan mengapa Ibu menulis nama Ayah lalu menguburnya dengan tanah kuburan.

Tak sampai situ, kembali Aku di buat terkejut dengan apa yang di lakukan Ibu dan Usman.

Ibu melakukan ritual yang menurutku itu adalah perbuatan sirik, dan hal itu bisa di sebut bersangkutan dengan hal-hal goib.

Bi Amel bercerita bahwa Ibu pernah terbangun tengah malam, dan melakukan perbuatan semacam pesugihan.

Ada benda bundar seperti tampir, di atasnya penuh dengan kembang tujuh rupa. Ada kemenyan yang di bakar, dan yang lebih aneh lagi Ibu duduk di atas benda bulat itu.

Aku tak tahu bacaan apa yang di lafadkan oleh Ibu, yang pasti itu berkaitan dengan keinginan Ibu untuk berpisah dengan Ayah.

Yang lebih parahnya lagi, Bi Amel bercerita bahwa selepas Ibu bercerai dengan Ayah, Ibu menggunakan susuk di salah satu bagian tubuhnya.

Hal itu Ibu lakukan untuk menarik perhatian para pria, saat itu pun Ibu memang banyak memiliki teman pria.

Ingin sekali Aku berucap bahwa itu semua bohong, Aku tak bisa menerima semua pandangan jelek orang lain terhadap Ibu. Namun kenyataannya, prilaku Ibu sendiri yang menunjukkan bahwa Ibu memang melakukannya.

Setelah bercerai dengan suami keduanya.

Tak lama Ibu menikah lagi, kali ini Aku tak tahu kabar tentang pernikahan Ibu.

Hal yang membuatku sakit hati adalah, Aku di beritahu kabar bahwa Ibu menikah oleh suami dari Uwa haji.

"Na. Kok di sini, gak ke rumah Nenek?" Tanya Suami dari Uwaku, Wa Haji Ade.

"Nggak. Kan bukan hari libur," jawabku dengan santainya.

Kala itu, Aku tengah duduk di kursi depan toko elektronik milik Uwaku.

"Kan hari ini si Ibu nikah katanya," ujar Wa Haji Ade.

"Hah, nikah? Uwa kata siapa?" Tanyaku dengan terkaget-kaget.

"Emang Kamu gak di kasih tahu? Uwa tahu dari sodara yang deket rumah Nenek Kamu, Dia bilang tadi pagi Ibu Kamu nikah. Kirain Uwa Kamu tahu," tutur Wa Haji.

Aku terdiam, dadaku seketika terasa sesak. Aku tak menanggapi perkataan Uwa Haji lagi, Aku langsung beranjak dari tempatku dan masuk ke dalam rumah.

Ayah melihatku masuk, namun Aku tak menyapa Ayah sama sekali.

Aku masuk ke dalam kamar, tangisku mulai pecah ketika Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.

Ayah menyadari suatu hal terjadi padaku, dan Ayah menyusulku ke dalam kamar.

"Nana. Kenapa?" Tanya Ayah dengan hati-hati sembari membuka bantal yang menutupi wajahku.

Aku bangun, dan berhambur memeluk Ayah.

"Ibu, Yah." Aku berucap di sela tangisku.

"Ibu kenapa?" Tanya Ayah.

"Tadi pagi Ibu nikah, tapi Aku gak di kasih tahu." Aku kembali menangis, dadaku masih terasa sesak.

"Nikah? Kamu tahu dari siapa?" Tanya Ayah.

"Dari Wa Haji."

Ayah tak menimpal, Ia hanya menenangkan dan berusaha menghentikan tangisanku.

"Udah, gak apa-apa. Mungkin Ibu sibuk, jadi lupa kasih tahu Nana." Ayah mencoba membesarkan hatiku.

"Lupa? Sama anak sendiri lupa?" Aku masih tak bisa terima.

Anak manapun akan merasakan sakit hati sepertiku, ketika Ia di lupakan oleh orang tuanya.

Saat mengetahui kabar pernikahan Ibu, Aku tak berkunjung ke rumah Nenek berminggu-minggu. Namun apa yang Ku harapkan kembali tak Ku dapatkan, Ibu tak kunjung menghubungiku untuk sekadar menjelaskan mengapa Ia tak memberitahu Aku tentang kabar pernikahannya.

Aku benar-benar di buat kecewa, Aku beranggapan bahwa Ibu benar-benar tak menganggapku ada.

1
Esther
kasihan Nana...
Hera sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Nana Kireina
Sangat realistis
Tri Purwanti
semangat thor
Nana Kireina: MasyaAllah, makasih Kak. 🤗
total 1 replies
Heni_Rosma
mampir....😍😍😍😍
Nana Kireina: Wah MasyaAllah, makasih Kak udah mau mampir. Semoga suka ya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!