Saat Cinta Harus Memilih, Saat itulah hati tak mampu lagi menopang beratnya luka tentang cinta.
Entah ada apa dengan diriku?
Dosa apa yang sudah kulakukan?
Sehingga aku selalu di hadapkan pada cinta laki laki beristri.
Tak pernah aku menawarkan sebuah rasa pada mereka, tak pernah sedikitpun terbesit menjadi perempuan ketiga dalam hubungan orang lain.
Namun seolah takdir terus mempermainkan kisah cintaku.
Haruskah aku berhenti dan menutup hati, agar tak lagi ada hati yang tersakiti dengan kehadiran diri ini.
"Lepaskan aku mas, kita tak mungkin menyatukan perasaan, karena ada Andini yang harus kamu jaga hati dan juga hidupnya. Maafkan aku, jika aku memilih mundur dan harus berhenti." kataku saat kami tengah duduk bersama meskipun dengan jarak beberapa meter di sebuah pelataran sekolah tempatku mengajar.
"Apa ini keputusan yang kamu ambil dari hatimu, Ra?
Percayalah!
Andini wanita yang paham agama, dia akan menerima kamu jadi madunya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hawa zaza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak lagi bisa menahan emosi
"Tidak perlu banyak bicara.
Bawa kopermu itu, aku akan mengembalikan kamu kepada orang tuamu.
Hiduplah dengan bahagia bersama laki laki pengangguran itu." Sinis Fahri yang tak mau banyak berkomentar menanggapi Yunita.
Dengan berat hati, akhirnya Yunita mau beranjak dari rumahnya Fahri, takut Vidio perselingkuhannya tersebut tersebar dan membuatnya semakin malu.
Selama dalam perjalanan, Fahri hanya diam saja, fokus dengan jalanan di depannya.
Sedangkan pak Ramzi sibuk dengan pikirannya sendiri, berusaha menenangkan hatinya juga emosi yang sedari kemarin ingin meledak.
Perasaan bersalah dan kasihan terhadap sang putra, benar benar sangat menyiksa batin nya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di kediaman orang tuanya Yunita.
Tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Fahri berhenti di depan rumah besar dengan bangunan sederhana, terlihat ada anak kecil berusia enam tahunan tengah bermain di teras depan rumah mertuanya.
Yunita terlihat sangat pucat, sedari tadi batinnya terus mengumpat, mau memberi kabar pun tak bisa, karena ponselnya sudah diamankan Fahri.
Bahkan chat mesra dari selingkuhannya telah dibaca dan di simpan Fahri sebagai bukti nantinya.
Ibunya Yunita juga sempat mengirim pesan agar Yunita mengirimkan uang dengan jumlah yang lumayan besar untuk membeli motor.
Fahri semakin yakin dan semakin menyadari, jika keputusan untuk membuka borok istrinya tidak salah, perpisahan adalah jalan terbaik. Dari pada terus memelihara ular berbisa di dalam rumahnya.
"Loh ada besan dan Fahri!
Yunita! Kok mau datang gak kasih kabar dulu?" Sambut Bu Linda dengan wajah tegang, matanya menyorot tajam ke arah Yunita meminta penjelasan, namun Yunita hanya menggeleng lemah, membuat Bu Linda seketika lemas, namun berusaha tetap bersikap tenang dan biasa saja.
"Silahkan masuk, pak Ramzi! Nak Fahri!" ucap Bu Linda ramah dengan senyum yang di paksakan.
Kenan yang belum menyadari kehadiran Fahri dan ayahnya, nampak senang saat matanya melihat keberadaan Yunita. Tanpa pikir panjang Fahri langsung menyambut Yunita dengan wajah senang bahkan dengan panggilan layaknya pada sang istri.
"Sayang, pulang kok gak kabar kabar?
Sudah tau saja kalau aku sudah kangen banget.
Kebetulan kamu pulang, uangku juga sudah habis, mau beli bensin saja sampai gak bisa." Kenan terus saja bicara dan meraih tubuh Yunita mau menciumnya, namun Yunita berontak dan menghindarinya dengan wajah pucat. Berusaha memberi kode lewat mata keberadaan suami dan mertuanya, namun Kenan tidak bisa menangkap kode yang Yunita berikan.
"Kenapa sih kamu sayang, dari tadi kelihatan aneh banget, mata kamu terus berkedip-kedip. Kamu Sudah gak kuat ya mau minta jatah, tenang saja, mau berapa ronde sih?
Yuk kita langsung masuk ke kamar kita saja!" cerocos Kenan membuat Pak Ramzi semakin terbakar emosinya. Sedangkan Fahri masih tetap tenang dan terlihat tersenyum miring. Hatinya terus mengucapkan istighfar melihat kelakuan perempuan yang menjadi ibu dari anaknya.
"Apakah seperti ini kelakuan anakmu, Lind?
Dan kamu membiarkan anak kamu bermain sering dengan pemuda pengangguran, sedangkan kamu tau kalau dia wanita bersuami?
Benar benar keluarga menjijikkan kalian!" tekan pak Ramzi penuh amarah, sorot matanya terlihat tajam dan wajahnya terkesan kaku. Aura kebencian terlihat jelas di wajah tegas pemilik tubuh tinggi tegap laki laki paruh baya itu.
Mendengar suara pak Ramzi, seketika Kenan langsung menoleh. Matanya membulat dengan mulut terbuka, saat pandangannya melihat kehadiran suami dan mertua selingkuhannya.
"Fahri sudah menjatuhkan talak tiga pada Yunita. Itu artinya, Yunita bukan tanggung jawab Fahri lagi.
Mereka sudah sah bercerai menurut agama. Dan untuk surat cerainya akan kami kirim berikutnya, kalian tidak perlu khawatir." sambung pak Ramzi lancar namun seperti petir di siang bolong buat Yunita dan keluarganya.
"Saya gak terima anakku di perlakukan seenaknya.
Bisa bisanya kalian mengembalikan Yunita dengan tangan kosong dan tidak sopan seperti ini.
Kami akan buat laporan ke kantornya Fahri. Yunita harus mendapatkan haknya sebagai istri, termasuk pembagian harta gono-gini." sanggah Bu Linda tidak terima dan dengan pedenya meminta harta Gono gini.
"Gugat saja dan laporkan. Itu justru akan mempermalukan diri kalian sendiri.
Karena perselingkuhan Yunita sudah terbukti. Serta bukti bukti kebusukan kalian pun sudah dikumpulkan Fahri. Dan satu lagi, jangan mimpi mendapatkan harta dari kami. Karena Fahri anakku juga bukan laki laki bodoh saat dia mengetahui kelicikan kalian.
Rumah yang Fahri tempati masih atas namaku, mobil milik Fahri justru di beli atas nama Siska adiknya. Mini market milik Fahri di bangun juga atas nama ibunya. Jadi tidak ada yang bisa kalian gugat. Lebih baik kalian pikirkan bagaimana caranya kalian makan untuk besok dan seterusnya.
Karena gaji Fahri sudah tidak akan mengalir di rekening perempuan penipu ini." ucap pak Ramzi panjang lebar bahkan dengan nada dingin.
Sedangkan Fahri memilih diam, karena emosinya sudah dipuncak, takut tak bisa mengendalikan diri.
"Loh ada Ramzi. Kok gak disuruh masuk Bu?" pak Samsul baru datang entah dari mana, turun dari motornya dan langsung menghampiri pak Ramzi dan Fahri dengan wajah sumringah tanpa dosa sedikitpun.
"Kebetulan kamu datang, Samsul!
Aku dan Fahri kesini ingin mengembalikan anak perempuan kamu. Fahri sudah menjatuhkan talak tiga pada Yunita. Untuk kesalahan Yunita tidak perlu aku jelaskan lagi, pasti kamu sangat paham kelakuan anakmu itu.
Itu, selingkuhan dan juga anaknya sudah jadi bukti nyata di depan mataku sendiri. Memalukan!" Pak Ramzi menatap tajam ke arah pak Samsul yang nampak mematung, senyum sumringahnya lenyap seketika dari wajahnya, berganti wajah tegang dan salah tingkah.
"Ini hanya salah paham, aku bisa jelaskan!
Harusnya tidak perlu ada perceraian. Keterlaluan ini namanya. Masalah kecil saja kalian besar besarkan. Harusnya Fahri beruntung punya istri seperti Yunita, sudah cantik, baik dan nurut.
Apa kurangnya anakku, dasar Fahri nya saja yang tidak tau di untung!" bentak pak Samsul dengan lantangnya, wajah tegangnya berubah jadi amarah yang tidak bisa di cerna dengan akal sehat.
"Apa saya tidak salah dengar, pak Samsul?
Anda bilang Yunita istri yang baik dan nurut?
Itu buat pak Samsul dan sekeluarga saja, karena sikap dan otak kalian sama semuanya, gak ada yang beres selain uang.
Maaf, saya sudah terlanjur menjatuhkan talak pada Yunita dan gak bisa di tarik kembali.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, saya kembalikan putri pak Samsul yang baik ini kepada bapak sekeluarga. Dia sudah bukan jadi tanggung jawabku lagi. Permisi, Asalamualaikum!" balas Fahri penuh dengan penekanan di setiap kalimatnya, kesal dan juga emosi mendengar kata kata dari mertuanya yang bahkan tidak menyadari kesalahannya.
Pak Ramzi dan Fahri berjalan menuju mobilnya.
Namun tiba tiba pak Samsul menghentikan langkah mereka dengan suara lantangnya.
"Tunggu!
Kalian tidak bisa seenaknya saja anakku!
Yunita masih berhak mendapatkan haknya sebagai seorang istri, yaitu hartamu, Fahri!" teriak pak Samsul tanpa malu sedikitpun.
Membuat pak Ramzi dan Fahri menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah pak Samsul sekeluarga.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
#Bidadari salju
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️